• Tidak ada hasil yang ditemukan

III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.2 Konsep Kemiskinan

Pengertian kemiskinan sangat erat kaitannya dengan tiga konsep penting (Krisnamurthi, 2006)5. Pertama, kemiskinan itu sendiri (poverty) yang menggambarkan ketidakmampuan seseorang atau suatu keluarga atau suatu kelompok masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Kedua, ketidakmerataan dan ketidakadilan (inequality) dalam distribusi sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ketiga, kerentanan (vulnerability) seseorang atau sekelompok orang untuk dapat menjadi miskin atau menjadi lebih parah kemiskinannya.

Kemiskinan dapat terdiri dari dua pengertian yaitu kemiskinan relatif dan kemiskinan absolut. Kemiskinan relatif adalah suatu kemiskinan yang terjadi pada seseorang, keluarga, atau masyarakat yang tingkat pendapatan atau pengeluarannya relatif lebih rendah dibandingkan dengan pendapatan atau pengeluaran masyarakat sekitarnya . Kemiskinan absolut adalah kemiskinan yang terjadi apabila seseorang, keluarga, atau masyarakat yang tingkat pendapatan atau pengeluarannya berada di bawah batas minimal tertentu untuk hidup layak. Batas tersebut sering disebut sebagai garis kemiskinan (poverty line).

5

Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan. 2006. 22 Tahun Studi Pembangunan, Pengurangan Kemiskinan Pembangunan Agribisnis dan Revitalisasi Pertanian dalam tulisan berjudul Penanggulangan dan Pengurangan Kemiskinan, halaman 175-176.

Berdasarkan kondisi kemiskinan yang dihadapi, kemiskinan juga dapat dibagi menjadi dua pengertian yaitu kemiskinan kronis atau struktural serta kemiskinan sementara. Kemiskinan kronis dapat terjadi apabila kondisi kemiskinan yang terjadi berlangsung terus menerus dalam jangka waktu yang lama. Kemiskinan sementara ialah kemiskinan yang terjadi akibat adanya perubahan atau ’shock’ yang menyebabkan seseorang, keluarga, atau masyarakat berubah dari tidak miskin menjadi miskin. Kemiskinan dapat juga dibagi menjadi kemiskinan massal dan kemiskinan individual. Kemiskinan massal adalah kemiskinan yang terjadi jika sebagian besar masyarakat mengalami kemiskinan. Kemiskinan individual adalah jika hanya beberapa orang atau sebagian kecil masyarakat yang mengalami kemiskinan.

Selain itu, BPS mendefinisikan kemiskinan sebagai suatu kondisi seseorang yang hanya dapat memenuhi makanannya kurang dari 2100 kalori per kapita per hari. Dalam pengertian World Bank, kemiskinan didefinisikan sebagai keadaan tidak tercapainya kehidupan yang layak dengan penghasilan USD 1,00 per hari, di negara kategori pendapatan rendah. Sementara di negara maju batas kemiskinan adalah USD 14,00 per hari dan negara pendapatan sedang USD 2,00 per hari.

Terdapat sembilan dimensi penting mengenai kemiskinan (Smeru dalam Krisnamurthi, 2006), yaitu :

1. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (pangan, sandang, papan).

2. Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air bersih, dan transportasi)

3. Tidak adanya jaminan masa depan, terutama karena tidak adanya investasi pendidikan dan keluarga.

4. Kerentanan terhadap guncangan yang bersifat individual maupun massal. 5. Rendahnya kualitas SDM dan keterbatasan SDA.

6. Tidak dilibatkan dalam kegiatan sosial masyarakat.

7. Tidak adanya akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.

8. Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik atau mental. 9. Ketidakampuan dan ketidakberuntungan sosial.

A. Faktor Penyebab Kemiskinan

Selama ini, banyak sekali teori atau konsep dalam menjelaskan penyebab kemiskinan. Pemahaman mengenai penyebab kemiskinan akan sangat menentukan penetapan strategi penanggulangan kemiskinan yang berfokus pada faktor utama penyebab kemiskinan. Teori yang pada umumnya digunakan dalam menjelaskan penyebab kemiskinan yaitu:

1. Teori Lingkaran Setan Kemiskinan

Salah satu konsep mengenai penyebab kemiskinan ialah teori lingkaran setan kemiskinan (World Bank dalam Krisnamurthi, 2006)6. Teori ini menegaskan bahwa kemiskinan terjadi karena suatu kondisi yang dihadapi oleh masyarakat miskin yang sedemikian sehingga membuat kemiskinan tersebut tetap akan berada dalam masyarakat tersebut seperti yang terlihat dalam Gambar 2.

6

Sumber : World Bank, (2000)7

Teori ini menyatakan bahwa tingkat pendapatan yang rendah akan menyebabkan reinvestasi yang rendah karena sebagian besar pendapatan habis digunakan untuk konsumsi. Reinvestasi yang rendah ini (baik dalam bentuk aset fisik maupun aset SDM) akan menyebabkan tingkat produktivitas dan kemampuan bersaing yang rendah, dan produktivitas yang rendah akan menyebabkan pendapatan yang tetap rendah, dan seterusnya.

2. Teori Kemiskinan Struktural

Kemiskinan juga dapat dikonsepkan sebagai kondisi logis dari persaingan (bebas) yang tidak sehat (World Bank dalam Krisnamurthi, 2006). Kegiatan produksi masyarakat (negara) miskin yang terbatas teknologi, terbatas modal, terbatas kemampuan SDM, dan berbagai keterbatasan lain. Persaingan yang tidak sehat ini akhirnya akan membuat kegiatan masyarakat miskin bertambah miskin.

7

World Bank. 2000. Beyond Economic Growth chapter VI (poverty). www.worldbank.org . Gambar 2. Lingkaran Setan Kemiskinan

Produktivitas rendah Tabungan rendah Konsumsi rendah Pendapatan rendah Investasi rendah

Fenomena yang digambarkan teori ini terlihat dari pemiskinan daerah pertanian subur dan konversi lahan pertanian. Teori ini kemudian berkembang dengan unsur ketergantungan (dependency theory).

3. Teori Ketidakmampuan Mengatasi Kemiskinan

Kemiskinan yang berkembang juga disebabkan oleh ketidakmampuan para pengambil keputusan dalam mengatasi kemiskinan yang sudah ada (World Bank dalam Krisnamurthi, 2006). Ketidakmampuan tersebut muncul karena kurangnya komitmen dalam penanggulangan kemiskinan maupun berbagai keterbatasan dalam kemampuan menanggulangi kemiskinan, atau gabungan dari keduanya. Teori ini kemudian berkembang dengan mengedepankan ketidakmampuan birokrasi dan banyaknya aspek moral hazzard dalam berbagai organisasi pemerintah yang melaksanakan usaha penanggulangan kemiskinan tersebut.

4. Teori Eksploitasi

Kemiskinan dapat dipandang sebagai hasil dari eksploitasi suatu kelompok masyarakat atas masyarakat lain (World Bank dalam Krisnamurthi, 2006). Pada awalnya, teori ini menyertai kondisi kemiskinan yang terjadi pada negara-negara terjajah. Pada saat era kolonialisme berakhir, eksploitasi masih tetap dipandang terjadi pada hubungan kapitalis dan buruh, hubungan ekonomi tidak seimbang antara desa dan kota, kondisi hubungan asimetri industri dan pertanian, serta eksploitasi sumberdaya alam yang berakibat pada tereksploitasinya sumberdaya masyarakat.

B. Pengukuran Kemiskinan

Dalam mengukur suatu kemiskinan dapat digunakan beberapa indikator kemiskinan (Foster-Greer-Thorbecke dalam BPS, 2005)8 yaitu:

1. The incidence of poverty (the poverty headcount index atau Rasio H) yang menggambarkan persentase dari populasi yang hidup dalam keluarga dengan pengeluaran konsumsi per kapita di bawah garis kemiskinan.

2. The depth of poverty (the poverty gap index) yang menggambarkan dalamnya kemiskinan di suatu wilayah. Indeks ini merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap batas miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin besar rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap kemiskinan.

3. The severity of poverty yang menunjukkan kepelikan kemiskinan di suatu wilayah dengan memperhitungkan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.

Selain indikator-indikator di atas, kemiskinan relatif dapat diukur dengan kurva Lorentz dan Gini Ratio. Gini Rasio berkisar antara 0 – 1. Bila rasio Gini = 0 maka kemerataan yang sempurna. Bila rasio Gini = 1 berarti ketidakmerataan yang sempurna dalam distribusi pendapatan. Rasio Gini tersebut terletak antara kurva Lorentz dengan garis kemerataan sempurna. Semakin jauh dari garis kemerataan sempurna, semakin besar tingkat ketidakmerataan distribusi pendapatan.

8

Badan Pusat Statistik. 2006. Analisis dan Penghitungan Tingkat Kemiskinan 2005, halaman 64-66.

C. Pendekatan Teoritis dalam Identifikasi Kemiskinan

1. Penentuan Kemiskinan Absolut : Garis Kemiskinan

Pengukuran kemiskinan secara absolut dapat dilakukan dengan berbagai metode, antara lain dengan konsep garis kemiskinan Sayogyo dan konsep garis kemiskinan yang dikeluarkan oleh BPS. Pada konsep Sayogyo dinyatakan bahwa untuk perdesaan kelompok masyarakat dikatakan miskin bila pengeluarannya kurang dari 320 Kg per kapita per tahun setara beras : miskin sekali jika pengeluaran tersebut kurang dari 240 Kg per kapita per tahun; dan paling miskin bila kurang dari 180 Kg per kapita per tahun. Sedangkan untuk perkotaan, masing-masing kriteria tersebut memiliki tolak ukur 480, 360, dan 270 Kg per kapita per tahun.

2. Penentuan Kemiskinan Relatif : Gini Rasio

Gini Rasio merupakan salah satu metoda untuk melihat ketidakmerataan pendapatan. Pengukuran ketidakmerataan pendapatan dapat dibagi atas dua pendekatan, yaitu (a) pengukuran yang dilakukan pada suatu waktu tertentu untuk mengetahui ketimpangan pendapatan antar wilayah dan (b) pengukuran yang bersifat intemporal atau antar waktu. Pengukuran ini bermanfaat untuk melihat ke arah mana terjadinya perubahan distribusi pendapatan pada wilayah tertentu.

D. Hubungan antara Pertumbuhan dan Kesenjangan : Hipotesis Kuznets

Literatur mengenai evolusi atau perubahan kesenjangan pendapatan pada awalnya didominasi oleh Hipotesis Kuznets (Tambunan, 2003). Dengan memakai data lintas negara dan data deret waktu dari sejumlah survei/observasi di setiap negara, Simon Kuznets menemukan adanya suatu relasi antara kesenjangan pendapatan dan tingkat pendapatan per kapita yang berbentuk U terbalik. Hasil ini

diinterpretasikan sebagai evolusi dari distribusi pendapatan dalam proses transisi dari suatu ekonomi pedesaan ke suatu ekonomi perkotaan, atau dari ekonomi pertanian (tradisional) ke ekonomi industri (modern).

Teori ini menjelaskan bahwa pada awal proses pembangunan, ketimpangan pendapatan bertambah besar sebagai akibat dari proses urbanisasi dan industrialisasi. Setelah itu pada tingkat pembangunan yang lebih tinggi atau akhir dari proses pembangunan ketimpangan menurun. Ketimpangan menurun pada saat sektor industri di perkotaan sudah dapat menyerap sebagian besar dari tenaga kerja yang datang dari perdesaan (sektor pertanian).Ketimpangan juga mengalami penurunan pada saat pangsa pertanian lebih kecil di dalam produksi dan penciptaan pendapatan.

Sumber : Tambunan (2003)

Hipotesis U terbalik ini didasarkan pada argumentasi teori Lewis mengenai perpindahan penduduk dari perdesaan (pertanian) ke perkotaan (industri). Daerah perdesaan yang sangat padat penduduknya mengakibatkan tingkat upah di sektor pertanian sangat rendah dan membuat suplai dari pertanian ke industri tidak terbatas. Pada fase terakhir, pada saat sebagian besar dari tenaga

Tingkat kesenjangan

Tingkat pendapatan per kapita

kerja yang berasal dari pertanian telah diserap oleh industri, perbedaan pendapatan per kapita antara perdesaan dan perkotaan menjadi kecil atau tidak ada lagi.

E. Tinjauan mengenai Aset dan Kapabilitas Masyarakat Miskin

World Bank (2002) telah membahas suatu hubungan antara aset, kapabilitas, serta kesejahteraan. Masyarakat miskin baik pria maupun wanita membutuhkan aset dan kapabilitas untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Aset merujuk pada aset berupa material baik fisik maupun finansial. Aset dapat berbentuk lahan, tempat tinggal, ternak, tabungan, dan perhiasan. Kepemilikan aset yang terbatas oleh masyarakat miskin dapat membatasi mereka untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Kapabilitas ialah sesuatu yang memungkinkan masyarakat untuk memberdayakan aset yang mereka miliki untuk meningkatkan kesejahteraan. Kapabilitas sumberdaya manusia dapat berupa kesehatan yang baik, pendidikan, produksi, serta kemampuan lainnya yang dapat menunjang kehidupan masyarakat. Kapabilitas sosial dapat berupa kepemimpinan, kepercayaan, kemampuan berorganisasi, dan sebagainya. Suatu masyarakat dengan kesehatan yang baik, berkemampuan tinggi, dan berpendidikan relatif lebih mudah dalam mendapatkan pendapatan yang layak. Dengan pendapatan yang layak, masyarakat dapat meningkatkan keadaan ekonomi mereka sehingga kepemilikan aset meningkat.

Dokumen terkait