• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Kerjasama Tim dalam Penatalaksanaan Gangguan Tumbuh Kembang

Dalam dokumen Departemen Ilmu Kesehatan Anak - FKUI (Halaman 88-92)

Tim yang efektif berperan penting dalam program penatalaksanaan ganggun tumbuh kembang. Diharapkan akan menghasilkan luaran yang lebih baik bagi pasien dalam berbagai macam kondisi kesehatan.

Kerja tim yang efektif adalah bagaimana menyepakati tujuan, dan saling memahami bagaimana mencapai tujuan tersebut. Tim multi profesional dengan berbagai macam pengtahuan dan ketrampilan harus dapat bekerja sama saling

Tabel 5. Tim yang tergabung dalam pematauan tumbuh kembang berkala bayi risiko tinggi No Anggota tim Peran SDM

1 Neonatolog

Dokter anak spesialis Tumbuh Kembang

Dokter anak spesialis saraf

Psikolog

Dokter mata

Dokter THT

Ahli gizi

Pekerja sosial

Dokter spesialis Kedokteran Fisik dan

Rehabilitasi

Fisioterapi

Terapi wicara / terapi okupasi

Sebagai ketua tim

Pemantauan berkala pertumbuhan, perkembangan, dan perilaku

Penanganan jangka panjang penyakit neurologi seperti kejang Menilai masalah psikologis, deteksi dan intervensi masalah perilaku

Pemantauan ROP deteksi dan tata laksana. Menilai tajam penglihatan dan deteksi adanya masalah seperti strabismus, nistagmus, refraksi, dll

Penilaian fungsi pendengaran (OAE, BERA) dan penanganan gangguan pendengaran

Edukasi pemberian ASI dan MP ASI, penanganan bayi dengan gagal tumbuh atau berkebutuhan khusus

Mengurus masalah sosial

Merencanakan program intervensi pada bayi dengan masalah keterlambatan perkembangan

Melakukan program latihan sesuai kondisi bayi Mengajarkan orangtua untuk melakukan terapi di rumah Intervensi pada bayi dengan gangguan / disabilitas wicara

Tabel 6. Protokol penanganan jangka panjang sesuai intervensi program

Level 1 Level 2 Level 3 Level 4

Telephone interview to screen: developmental screeners;

Ages and Stages92 and CAT/CLAMS93

In-clinic single visit: growth; neurologic exam; screen; developmental screeners;

Ages and Stages92 and CAT/ CLAMS93 Developmental screeners: BINS87 Singel visit: comprehensive assessment; growth; neurologic exam; developmental assessment (Tabel 2 and 3) (behavior, other reduced comprehension or comprehension)

Serial comprehensive assessments:

Growth; neurologic exam; developmental

assessment, behavior (may include videotapes, MRIs, actigraphy, parent IQ, telemedicine, biochemical parameters, genetics Refer for diagnostic

orIntervention

services asneeded

Collect data Clinical

Refer for diagnostic or Intervention services as

needed

Collect data Clinical

Refer for diagnostic or Intervention services as

needed

Collect data Clinical/Research

Refer for diagnostic or Intervention services as

needed

Collect data Clinical/Research

menguntungkan dan saling menghormati, termasuk berbagi pengetahuan dan keahlian.

Koordinator tim diharapkan berperan penting dalam alur komunikasi di antara anggota tim, oleh karena itu pertemuan tim merupakan hal penting. Koordinator tim diharapkan dapat mengkoordinasikan program pelayanan di dalam tim termasuk komunikasi dan konsultasi dengan tenaga ahli lain mengenai penyakit dasarnya. Pertukaran informasi dan pembahasan harus dilakukan secara profesional, rahasia, dan disetujui oleh pasien.

Kementerian Kesehatan RI bekerja sama dengan berbagai profesi kesehatan, yaitu dokter anak, dokter kesehatan fisik dan rehabilitasi, dokter mata, dokter THT, dokter kesehatan jiwa anak, rekan-rekan fisioterapi, okupasi terapi, dan terapi wicara menyusun buku Kurikulum dan Modul Pendukung Pedoman Penanganan kasus rujukan kelainan tumbuh kembang Balita.7 Buku

ini berisi petunjuk dan pelatihan bagi tim multi disiplin dalam sebuah Klinik Tumbuh Kembang. Selain teori, buku ini memuat modul pelatihan dan praktik lapangan terhadap kasus gangguan tumbuh kembang. Diharapkan buku ini dapat dipakai sebagai acuan pelayanan paripurna bayi risiko tinggi.

Pelayanan paripurna yang dilakukan untuk bayi risiko tinggi meliputi penilaian (assesment), skrining pertumbuhan dan perkembangan, penentuan intervensi, dan evaluasi kemajuan intervensi. Pada awal penilaian dapat dilakukan oleh dokter umum, dokter anak umum maupun dokter ahli tumbuh kembang. Setelah itu dilakukan penilaian terhadap pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia anak dan menggunakan berbagai perangkat skrining perkembangan. Pada penentuan intervensi, dapat bekerja sama dengan ahli lain, seperti dokter ahli rehabilitasi medis beserta para terapis yang berkaitan. Bila dijumpai morbiditas lain, dapat dilakukan konsultasi dengan ahli lainnya. Bila tidak ada ahli lainnya, dokter anak dapat melakukan penilaian awal, skrining, dan penentuan intervensi serta evaluasi kemajuan intervensi yang dilakukan.

Setelah intervensi dilakukan antara 2-3 bulan, tergantung kasus yang dijumpai, lakukan evaluasi kemajuan tumbuh kembang anak. Selanjutnya akan ditetapkan kembali program intervensi serta target capaian yang harus berhasil dilakukan. Kurun waktu intervensi pada gangguan tumbuh kembang dan perilaku sangat bervariasi. Hal ini tergantung dari masalah yang ada, faktor keluarga yang mendukung tindakan intervesi, dan keterlibatan orangtua atau keluarga untuk melakukan rehabilitasi dalam keluarga.

Ringkasan

Pelayanan paripurna bayi risiko tinggi akan memberikan luaran yang baik untuk bayi-bayi yang memiliki risiko tinggi terhadap gangguan tumbuh kembang. Sebagai dokter anak, kemampuan untuk melakukan penilaian awal, skrining masalah tumbuh kembang diharapkan dapat mengatasi masalah keterlambatan intervensi terhadap gangguan tumbuh kembang anak. Keterlibatan tim ahli secara menyeluruh merupakan awal pelayanan secara paripurna, sehingga meningkatan luaran yang lebih baik bagi bayi risiko tinggi.

Daftar pustaka

1. Kumar P, Sankar MJ, Sapra S, Agarwal R, Deorari A, Paul V. Follow-up of High Risk Neonates. Diunduh dari www.newbornwhocc.org. Diakses tanggal 1 Oktober 2013.

2. Sobaih BH. Neonatal follow-up program: Where do we stand ? Sudan J Paediatr 2012::21-6.

3. American Academy of Pediatrics. Follow-up care of High-risk Infants. Pediatrics 2004;114: 1377-97.

4. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Penanganan Kasus Rujukan Kelainan Tumbuh Kembang Balita, 2010: 4-64.

5. Kementerian Kesehatan RI. Data dasar Riset Kesehatan Dasar 2010. 6. Data Kunjungan Poli Klinik Tumbuh kembang – Pediatri Sosial tahun 2013. 7. Kementerian Kesehatan RI. Kurikulum dan Modul pendukung Pedoman

Penanganan Kasus Rujukan Kelainan Tumbuh Kembang Balita, 2013.

8. Pandit A, Mukhopadhyay K, Suryawanshi P. Follow up of High risk newborn. Diunduh dari www.nnfpublication.org. Diakses pada tanggal 5 Oktober 2013. 9. Kementerian Kesehatan RI. Stimulasi, Deteksi dini dan Intervensi masalah

tumbuh kembang

10. Cunningham M, Cox EO. Hearing assesment in infants and children : Recommendations beyond neonatal screening. Pediarics, 2003:436-9.

pada Bayi Bermasalah

Dalam dokumen Departemen Ilmu Kesehatan Anak - FKUI (Halaman 88-92)