• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Keselamatan Konstruksi Menurut OHSAS 18001:1999

Dalam dokumen BAB IV STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN (Halaman 39-44)

Suraji dan Bambang Endroyo (2009) menyatakan bahwa keselamatan konstruksi adalah keselamatan orang yang bekerja (safe for people) di proyek konstruksi, keselamatan masyarakat (safe for public) akibta pelaksanaan proyek konstruksi, keselamtan property (safe for property) yang diadakan untuk pelaksanaan proyek konstruksi dan keselamatan lingkungan (safe for environment) di mana proyek konstruksi dilaksanakan.

Menurut OHSAS 18001;1999 kecelakaan adalah kejadian yang tidak diharapkan yang dapat menimbulkan kematian, sakit, luka, kerusakan dan kerugian lainnya (Efansyah, 2007). Di samping pengertian tentang keselamatan dan kecelakaan, ada beberapa istilah antara lain hazard, incident dan near-miss.Hazard (sumber bahaya) adalah sumber atau situasi dengan suatu potensi untuk merugikan manusia dalam hal luka-luka, sakit, kerusakan pada property, kerusakan pada tempat pekerjaan.Lingkungan atau kombinasi dari semua itu.Incident(insiden)

Skripsi : Penerapan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) IV - 40 adalah peristiwa yang mempunyai potensi menyebabkan kecelakaan. Termasuk pengertian incidentadalah near-miss (hampir celaka), yaitu suatu kejadian yang cenderung celaka tetapi tidak/belum mengakibatkan luka-luka, sakit, kerusakan pada property, dan kerusakan lainnya.

Keselamatan konstruksi pada hakekatnya adalah untuk melindungi pekerja dan orang-orang yang ada di tempat kerja, masyarakat, peralatan da mesin, serta lingkungan agar terhindar dari kecelakaan.Untuk itu semua dapat dilakukan dengan usaha-usaha preventif, kuratif dan rehabilitative.Usahapreventuf biasa dengan mengadakan peratutan dan perundangan yang harus ditaati oleh semua penyelenggara kegiatan (konstruksi). Usaha kuratif dilakukan apabila ternyata terjadi kecelakaan sehingga untuk penanganannya diperlukan usaha dan dana.

Dalam hal ini manfaat asuransi tenaga kerja maupun asuransi teknik (asuransi engineering) menjadi sangat berarti.Usaha rehabilitative adalah pemulihan kembali korban-korban kecelakaan (manusia maupun bukan manusia) agar dapat kembali berfungsi sebagaimana sebelumnya.Khusus untuk manusia, dimungkinkan adanya perpindahan posisi/job disesuaikan dengan kondisi fisik dan psikis yang bersangkutan setelah terjadi kecelakaan.

Salah satu usaha yang perlu dilakukan dalam meminimalisir terjadinya kecelakan pada proyek konstruksi antara lain melalui pembuatan peraturan perundangan dan pengawasannya. Peraturan dan perundangan adalah ketentuan yang mengikat agar terjadi keteraturan. Dengan kata lain adalah ketentuan untuk

“memaksa” berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan keselamatan konstruksi agar beraktivitas sesuai dengan aturan tertentu. Menurut Yassin (2003), dalam suatu kontrak kerja pekerjaan keinsinyuran perlu dibuat pasal-pasall yang mengatur secara preventif keselamatan kerja dengan menujuk UU dan peraturan yang berlaku. Kontrak-kontak internasional (FIDIC, SIA, JTC) telah mencantumkan article atau pasal tentang K3 secara mendalam.

Skripsi : Penerapan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) IV - 41 4.8 Pelaksanaan dan Penerapan Sistim K-3 Pada Proyek Plaza Oleos Tower 1 di Jakarta.

1. Macam – Macam Pekerjaan Berwawasan K-3 yang Dilaksanakan PT. PULAUINTAN BAJAPERKASA KONSTRUKSI Pada Proyek Plaza Oleos Tower 1 di Jakarta.

Dalam penerapannya di lapangan Keselamatan dan Kesehatan kerja (K-3) pada proyek Plaza Oleos Tower 1 melaksanakan macam – macam pekerjaan yang berwawasan K-3, pekerjaan tersebut antara lain adalah :

Tabel 4.4Pelaksanaan dan Penerapan Pekerjaan Berwawasan K-3 / Job Analysis

NO. TAHAP PEKERJAAN BAHAYA RESIKO PENGENDALIAN RESIKO PIC

1 Galian Tanah Galian dalam Tanah longsor Penerapan Prosedur Kerja PM / SM

Genangan air pada permukaan tanah

Air masuk lagi ke dalam galian dan bisa menjadi erosi dan longsor

Dibuatkan saluran untuk sementara ke selokan terdekat dan dibersihkan secara berkala

SPV Kurangnya rambu-rambu Pekerja bisa celaka Pemasangan rambu di setiap

sudut area galian SFT

Kurang disiplinnya para pekerja akan APD

Kepala bisa tertimpa serpihan batu dan barang dari atasnya dan juga kaki bisa terkena paku

Diadakan Safety Officer dan memberikan peringatan kepada pekerja yang tidak memakai APD

SFT

2 Timbunan / tanah urugan Penumpukan bekas galian yang ada di pinggir bekas galian

Longsor dan dapat menimbun pekerja penggalian di bawahnya

Timbunan di batasi dan segera di buang dengan menggunakan baket tanah yang ada

SM 3 Bobok Bore pile Pancang ambruk secara tiba-tiba Tertimpa pancang yang di bobok Penerapan metode kerja SM

4 Pembesian Pekerja kurang memahami

fungsi alat kerja

Alat cepat rusak Sosialisasikan cara pemakaian

alat MEK

Alat kurang memadai Hasil kerja kurang maksimal Cek alat sebelum bekerja atau

digunakan MEK

Kurang peduli terhadap APD Luka ringan pada tubuh Memberi teguran dan melarang bekerja bagi yang tidak menggunakan APD

SFT Kurangnya area fabrikasi dan

penempatan material besi

Hasil kerja kurang maksimal Beri area khusus untuk

fabrikasi besi SPV

Skripsi : Penerapan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) IV - 42

5 Pengecoran Pekerja naik di atas Bucket cor Jatuh Larangan dan sanksi bagi yang

melanggar SFT

Bucket cor kurang bersih Jalan beton kurang lancar dari dalam baket cor

Selesai melakukan pengecoran

baket segera dibersihkan MANDOR 6 Dewatering Pompa rusak / tidak layak

digunakan

Air dapat menggenangi area kerja

Segera diperbaiki atau diganti

SUB / MEK Saluran buang tersumbat Penumpukan sisa pasir pada

jalur buangan

Segera di keruk / di gali sisa pasir tersebut agar jalur buangan lancer

SPV 7 Pembuangan Tanah Terlalu banyak muatan dalam

bak truk

Tumpah di jalan Kurangi muatan dan tutup bak

truk dengan terpal MANDOR

Tanah menempel pada ban truk Mengotori jalan raya Ban dibersihkan atau dicuci

terlebih dahulu SFT

8 Kebersihan Sampah ada dimana – mana Dapat menyebabkan sarang penyakit dan pandangan tidak sedap

Pembersihan area proyek dan penempatan tong sampah di area kerja

SFT 9 Begisting Sampah kayu dan paku ada

dimana – mana

Kaki pekerja bisa terkena paku tersebut

Sampah kayu dan paku dikumpulkan dan dibuang di tempat yang telah disediakan

SUB / Mandor Banyak pekerja yang kurang

peduli terhadap APD

Kepala bisa luka dan kaki terkena paku

Beri pengarahan kepada para pekerja akan gunanya APD tersebut

SFT Alat kerja berserakan dimana –

mana

Mengganggu pekerjaan yang lain dan juga akses jalan ke area kerja

Dirapikan dan dipindahkan

ketempat yang telah disiapkan SUB

Keterangan :

PIC : Penanggung Jawab MEK : Mekanik SM : Site Manager SFT : Safety Patrol

PM : Project Manager SUB : Sub Kontraktor SPV : Supervisor

Skripsi : Penerapan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) IV - 43 2. Prosedur jika Terjadi Kecelakaan Kerja di Proyek

Untuk mempermudah dalam menanggulangi bila terjadi kecelakaan kerja di proyek maka dibuat prosedur dahulu.Di bawah ini adalah prosedur apabila terjadi kecelakaan kerja di proyek Plaza Oleos Tower 1adalah :

RINGAN : P3K ( KANTOR K-3)

BERAT : P3K ( KANTOR K-3) RUMAH SAKIT

MENINGGAL DUNIA : RUMAH SAKIT

KEPOLISIAN KELUARGA KORBAN

DISNAKERTRANS JAMSOSTEK

Dari prosedur diatas maka dapat dijelaskan sebagai berikut : Kecelakaan kerja dibagi menjadi 3 bagian :

1. Kecelakaan ringan

Bila terjadi kecelakaan ringan dalam proyek konstruksi hanya perlu dibawa ke kantor K-3 dan diobati dengan P3K yang ada.

Karena kecelakaan ringan tidak mengakibatkan seseorang terluka yang cukup parah.

2. Kecelakaan sedang

Bila terjadi kecelakaan ringan dalam proyek konstruksi pertama – tama harus dibawa ke kantor K-3 kemudian dibawa ke Rumah Sakit. Karena kecelakaan sedang mengakibatkan seseorang tersebut terluka cukup parah dan harus ditangani oleh pihak Rumah Sakit.

3. Meninggal dunia

Bila terjadi kecelakaan kerja dan orang tersebut meninggal dunia maka perlu dibawa ke Rumah Sakit dan dilaporkan ke pihak Kepolisian, kemudian memberitahukan kepada keluarga korban dan kepadaDISNAKERTRANS, kemudian melaporkan ke KECELAKAN

KERJA

Skripsi : Penerapan Sistem Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) IV - 44 JAMSOSTEK bila di proyek terjadi korban meninggal agar mendapatkan asuransi dari JAMSOSTEK.

4.9 Komitmen Top Management terhadap K3 Berpengaruh terhadap

Dalam dokumen BAB IV STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN (Halaman 39-44)

Dokumen terkait