METODOLOGI PENELITIAN
D. Konsep Ibnu Miskawaih Tentang Pendidikan Agama Islam Pada Anak-Anak Dalam Pendidikan Agama Islam pada anak-anak Ibnu Miskawaih bertumpu
pada pembiasaan akhlak yang baik dan pemberian contoh yang baik.
Ibnu miskawaih memandang bahwa pendidikan akhlak pada anak harus ditanamkan sejak anak usia dini karena perkembangan mental anak berevolusi, berkembang menuju kesempurnaan menyimpaan pesan-pesan masa lalu dan
merasuk ke dalam jiwa berfikir.49
Ibnu Miskawaih menaruh perhatian besar terhadap pendidikan akhlak pada anak-anak. Pemikiran Ibnu Miskawaih tentang pendidikan akhlak pada anak-anak
tertuang dalam kitabnya Tahdzibul Akhlak.
48
Sudarsono, Etika Islam Tentang Kenakalan Remaja, (Reneka Citra, 1991), h. 118-119
49
Ibnu Miskawaih mengawali pembahasan tentang pendidikan akhlak pada anak-anak dengan urutannya tentang kejiwaan anak-anak. Menurutnya kejiwaan anak-anak adalah mata rantai antara jiwa
Adapun pemikiran Ibnu Miskawaih tentang konsep pendidikan akhlak pada anak-anak adalah sebagai berikut:
1. Akhlak kepada Allah
Ibnu Miskawaih menjelaskan hendaklah anak-anak dididik membiasakan
diri melaksanakan kewajiban agama.50
Dengan demikian jelaslah bahwa anak-anak harus dibiasakan untuk melaksanakan kewajiban agama sehingga akan tumbuh rasa senang melaksanakan ibadah tersebut. Anak-anak yang terlatih untuk melaksanakan kewajiban agama, kelak akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang taat terhadap perintah Allah .
2. Akhlak Kepada Orang Tua
Ibnu Miskawaih menegaskan biasakan anak-anak supaya taat pada kedua
orang tuanya, guru-guru serta para pendidiknya dan menghormati mereka.51
Sebaliknya bagi orang tua Ibnu Miskawaih memberikan nasehat sebagai berikut:
“Setelah itu hormati dan pujilah dia sekiranya dia menunjukkan moral dan perilaku yang baik. Bila suatu ketika anda dapati dia melakukan perbuatan yang bertolak belakang dengan apa yang kami ungkapkan ini, maka yang pertama sekali harus anda lakukan adalah jangan cerca dia ! jangan anda katakan terus terang padanya bahwa dia telah melakukan perbuatan buruk. Pura-puralah tidak memperhatikannya, seolah-olah dia tak sengaja melakukan hal itu, atau bahkan katakan saja sebetulnya hal itu bukan kehendaknya. Ini khususnya diperlukan bila anak menutup-nutupinya atau bersikeras menyembunyikan dari mata umum apa yang telah dilakukannya lagi maka diam-diam celalah. Tunjukkan betapa fatal apa yang telah dia lakukan itu dan peringatkan agar tak lagi mengulanginya. Karena kalau anda terbiasa mencela dan membeberkan kesalahannya secara terang-terangan, maka secara tidak langsung anda telah menyeretnya ke dalam keburukan. Tanpa sengaja anda telah menyudutkannya untuk mengulangi kembali
50
Ibnu Miskawaih, Op.Cit, h. 76
51
perbuatan buruk yang telah dilakukannya. Akibatnya, dia tak mau
mengindahkan nasihat dan cercaan anda”.52
3. Akhlak Kepada Diri Sendiri
a. Adab Makan
Menurut Ibnu Miskawaih mendidik jiwa harus dimulai dengan membentuk sikap makan yang baik. Pertama-tama harus ditegaskan bahwa tujuan makan adalah demi kesehatan. Bukan demi kenikmatan semata-mata dan bahwa seluruh makanan yang diciptakan dan disediakan untuk kita hanyalah sarana agar badan kita sehat dan demi kelangsungan hidup kita. Maka lapar dan nyeri yang diakibatkan lapar, sebagaimana tujuan obat, bukanlah untuk sekedar bersenang-senang atau pemuas hawa nafsu. Demikian halnya maka yang tidak sepantasnya dimakan kecuali sekedar menjaga kesehatan badan, menolak nyeri lapar, dan agar tidak sakit. Bila ini sudah diyakininya dengan sendirinya dia akan memandang rendah nilai makanan yang biasa diagungkan oleh orang-orang yang rakus. Dia juga akan memandang hina mereka yang rakus yang jika makan selalu di luar batas yang diperlukan tubuh dan tenggelam dalam apa yang tidak cocok bagi mereka. Dengan demikian dia akan merasa puas dengan makanan sekedarnya. Bila ia duduk bersama orang lain. Dia bukan yang pertama makan atau terus menerus memperhatikan bermacam-macam makanan tetapi akan puas dengan makanan di dekatnya. Jangan sampai terburu-buru kalau makan. Jangan besar-besar kalau memotong, dan jangan ditelan sebelum dikunyah dengan baik jangan diperbolehkan mengotori tangan dan bajunya, jangan sampai dia memandangi gerakan lengan mereka yang tengah makan. Latihlah supaya dia membiasakan diri memberi orang lain makanan yang ada di dekatnya walau itu lebih di dekatnya. Didiklah agar ia mengekang hawa nafsunya, hingga dia puas dengan makanan yang sedikit dan rendah nilainya sekalipun, dan kadang-kadang roti kering saja. Sikap
52
seperti ini, jika dimiliki orang miskin terpuji, tetapi bahkan lebih terpuji bila diperlihatkan orang kaya .
Disarankan agar anak makan berat di waktu malam, sebab kalau di waktu siang, dia menjadi malas, ngantuk dan otaknya menjadi lamban. Kalau dia dilarang agar tidak sering makan daging itu bermanfaat baginya sehingga dia aktif dan penuh perhatian berkurang kebodohannya, serta bangkit semangat hidupnya.
Usahakan anak-anak tidak memakan kue-kue permen dan buah-buahan. Karena kue-kue, permen dan buah-buahan mempercepat proses peruraian, dan sekaligus membiasakan pemakannya menjadi rakus, dan suka makan banyak. Biasakan anak-anak supaya tidak minum air di sela-sela
makannya.53
Jadi menurut Ibnu Miskawaih yang pertama kali harus dilakukan adalah memberikan penjelasan kepada anak-anak tentang manfaat makan sekaligus menanamkan nilai-nilai kesederhanaan dalam hal makan, sehingga anak-anak tidak terbiasa makan berlebih-lebihan, tetapi sekedarnya saja sesuai dengan kebutuhan. Selain itu Ibnu Miskawaih juga menganjurkan kepada para orang tua untuk mendidik anak-anaknya agar menjauhi arak dan minuman keras, seperti yang dikatakannya:
“Hendaklah orang tua menjauhkan anak-anaknya dari arak dan
jenis-jenis minuman yang memabukkan karena selain sangat berbahaya bagi tubuh, juga membuat peminumnya cepat marah, ceroboh senang berbuat buruk. Cegahlah jangan sampai ia berada di antara orang-orang yang minum-minuman keras. Tetapi buatlah dia berada di antara banyak orang saleh dan mulia . Hal ini dimaksudkan agar dia tidak
mendengarkan perkataan keji dan melihat perbuatan rendah mereka”.54
b. Adab Berpakaian 53 Ibid., h. 77-78 54 Ibid, h. 78
Ibu Miskawaih menjelaskan: hendaklah anak-anak diajarkan bahwa warna pakaian paling baik dan terhormat adalah putih, atau yang serupa dengan itu, hingga tampak seperti layaknya orang yang mulia. Pakaian warna-warni penuh aksesoris hanya cocok untuk perempuan yang berhias demi tampil baik dan menarik. Di depan laki dan di mata pelayan laki-laki dan perempuan. Jika seorang anak dibesarkan dengan ajaran-ajaran ini cegahlah jangan sampai ia bergaul dengan orang-orang yang menyatakan kepadanya hal sebaliknya, lebih-lebih kalau itu teman sebaya,
sepermainannya.55
Jadi jelaslah bahwa Ibnu Miskawaih sangat menganjurkan untuk berpakaian sederhana, tetapi tetap menjaga wibawa (kemuliaan). Di samping itu ia juga mengajurkan untuk menjauhi emas dan perak seperti yang dikatakannya:
“Didiklah agar mereka membenci emas dan perak, dan agar mereka
takut pada keduanya melebihi takutnya pada harimau, ular, kalajengking atau binatang berbisa lainnya sebab mencintai emas dan
perak lebih berbahaya dari pada racun.”56
c. Kesederhanaan Tidur
Ibnu Miskawaih berpendapat bahwasannya anak-anak jangan dibiarkan tidur terlalu lama, karena menyebabkan otak menjadi bebal, serta mematikan pikirannya jangan dibiasakan tidur siang, dan jangan dibiasakan dengan tempat tidur yang empuk dan sarana mewah lainnya. Supaya dia
terbiasa dengan kehidupan yang sulit.57
Tidur terlalu lama menyebabkan anak-anak menjadi bodoh, sedangkan tidur pada waktu siang membuat anak menjadi pemalas, karena waktu siang bagi anak-anak adalah waktu bermain dan bergaul dengan teman-teman sebayanya atau bahkan digunakan untuk belajar atau dilatih kerja. Maka
55 Ibid, h. 76 56 Ibid. h. 79-80 57 Ibid, h 78-79
Ibnu Miskawaih menganjurkan para orang tua untuk melarang anak-anaknya tidur terlalu lama dan mencegah anak-anak-anaknya tidur pada waktu siang. Selain itu Ibnu Miskawaih juga menganjurkan untuk tidak memanjakan anak-anak dengan tempat tidur yang empuk dan sarana-sarana mewah lainnya.
d. Adab Berjalan
Ibnu Miskawaih menjelaskan hendaklah anak-anak jangan
diperbolehkan berjalan tergesa-gesa, jangan diperbolehkan bersikap angkuh,
tetapi supaya mensedekapkan tangannya ke dada.58
e. Adab Berbicara
Ibnu Miskawaih menegaskan hendaklah anak-anak dibiasakan untuk diam, tidak banyak berbicara selain menjawab pertanyaan, jika bersama-sama dengan orang yang lebih dewasa. Hendaklah dia mendengarkan kata-katanya, jangan diperbolehkan bicara kotor, hina sumpah serapah menuduh yang bukan-bukan dan bicara tidak senonoh, biasakan dia dengan kata-kata
yang baik dan anggun.59
Dengan demikian jelaslah, hendaknya anak-anak dibiasakan untuk
berbicara yang baik–baik saja, hendaklah dijaga agar tidak membuang-
buang waktunya untuk pembicaraan yang sia-sia, tetapi dilatih untuk bisa memanfaatkan waktu dengan hal-hal berguna. Ibnu Miskawaih juga sangat menganjurkan agar anak-anak didik untuk berbicara dengan orang-orang yang lebih tua darinya.
f. Hal-hal Yang Dilarang Dipelajari Oleh Anak-anak
Ibnu Miskawaih menegaskan, perintahanlah anak-anak untuk menghafalkan tradisi-tradisi yang baik dan syair-syair yang bisa
58
Ibid, h. 79
59
membuatnya terbiasa melakukan moral terpuji.60 Salain itu Ibnu Miskawaih juga menegaskan hal hal yang dilarang untuk dipelajari seorang anak, seperti yang dikatakannya:
“Upayakan agar anak-anak jangan sekali-kali memilih syair-syair cengeng murahan yang cuma melontarkan kata-kata buaian yang melafalkan, dan jangan sampai mengenal penulis-penulisnya dan ungkapan-ungkapan palsu yang oleh penulisnya ditampilkan seakan itu suatu bentuk keanggunan dan kemuliaan karena syair itu bakal merusak
jiwanya”.61
g. Bersikap Mandiri
Menurut ibnu Miskawaih, anak-anak haruslah dilatih untuk belajar
melayani diri sendiri, gurunya atau orang lain yang lebih dewasa dari dia.62
Selain mendidik akhlak anak-anak dengan membiasakan perbuatan-perbuatan yang baik, Ibnu Miskawaih juga menganjurkan agar mendidik anak dengan pembiasaan dan latihan untuk menghindarkan dari perbuatan yang tercela, serta tidak sesuai dengan norma-norma masyarakat atau ajaran agama Islam.
h. Larangan Bersumpah
Ibnu Miskawaih menjelaskan anak-anak jangan diperbolehkan bersumpah, baik sungguh-sungguh maupun bohong-bohongan, sebab bersumpah itu buruk bagi orang dewasa, kendati pada saat saat tertentu mereka membutuhkannya juga, tetapi tidak diperlukan anak-anak
Selain melarang anak-anak bersumpah Ibnu Miskawaih juga melarang
anak-anak untuk berbohong seperti yang dikatakan “anak-anak hendaklah
dibiasakan untuk tidak berbohong.63
60 Ibid, h. 76-77 61 Ibid h, 77 62 Ibid 63 Ibid, h.79
i. Larangan Meminta
Ibnu Miskawaih menjelaskan, hendaklah orang tua memberikan hadiah bagi anak-anaknya jika mereka berbuat baik agar anak tidak meminta-minta
pada temannya.64
Jadi anak harus dibiasakan untuk tidak meminta minta, ia harus terbiasa mencukupkan diri dengan apa yang dimilikinya, bahkan dibiasakan untuk suka memberi jika hal ini dilatih terus-menerus sehingga dewasa nanti akan terbentuk pribadi yang sederhana sekaligus dermawan.
j. Larangan Bersikap Sembunyi-Sembunyi
Ibnu Miskawaih menegaskan, anak-anak jangan diperbolehkan untuk melakukan sesuatu yang dia sembunyikan sebab tidak mungkin berbuat begitu kecuali bisa dipastikan bahwa perbuatannya buruk.
k. Larangan Bersikap Lemah
Ibnu Miskawaih berpendapat biasakan anak-anak untuk tidak mengaduh atau mengeluh apabila dihukum oleh gurunya, dan jangan diperbolehkan meminta perlindungan orang lain, karena tindakan seperti itu cuma pantas dilakukan para budak, hamba sahaya serta orang-orang lemah.
Menganjurkan anak-anak untuk bersikap sabar dan tabah dalam menjalani hukuman dari gurunya, selain itu Ibnu Miskawaih mengingatkan para orang tua untuk tidak selalu sering menakut-nakuti anak kecil.
4. Akhlak kepada orang lain
a. Adab Duduk Bersama Orang Lain
Ibnu Miskawaih menjelaskan anak-anak harus diajarkan untuk tidak membuang ingus ketika sedang bersama-sama orang lain, atau menguap dan menggeliat ketika datang orang lain dan mengangkat sebelah kaki lalu
64
meletakannya di atas sebelah kaki yang lain, dan jangan diperbolehkan bertopang dagu dan menyandarkan kepala pada kedua tangannya. Sebab itu menunjukkan bahwa dia pemalas dan secara tidak langsung tidak
menghormati orang yang di hadapannya.65
Dengan demikian di samping mengajarkan tentang kesopanan duduk dengan orang lain, Ibnu Miskawaih juga mengajarkan anak-anak untuk menjaga kebersihan
b. Bersikap tawadhu’
Ibnu Miskawaih menegaskan hendaklah jangan diperbolehkan membanggakan harta orang tuanya, makanannya, pakaiannya dan lain-lainnya jangan diperbolehkan sombong dan keras hati akan tetapi upayakan agar dia menundukkan kepala pada setiap orang dan menghormati mereka yang bergaul dengannya.
Dengan demikian jelaslah bahwa konsepsi Ibnu Miskawaih tentang pendidikan akhlak pada anak-anak bertujuan untuk mendidik anak untuk cinta pada kebajikan dan kemuliaan, serta untuk tumbuh berkembang dengan kebajikan dan kemuliaan tersebut. Sehingga mereka mudah untuk menjauhi kehinaan dan keburukan, terbiasa mengekang diri dari rayuan
hawa nafsu dan mudah mengikuti ajaran filsafat dan syari’at agama.
E. Analisis Pemikiran Al-Ghazali dan Ibnu Miskawaih Tentang Pendidikan