• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Dalam dokumen UIN ALAUDDIN MAKASSAR (Halaman 56-0)

BAB III METODE PENELITIAN ............................................................ 38-45

F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Proses pengolahan data dimulai dengan mengelompokkan data yang telah diperoleh dari penelitian dilapangan, yaitu dari hasil observasi yang telah dituliskan dalam bentuk catatan lapangan, hasil wawancara serta dokumentasi berupa buku, gambar, foto, dan sebagainya untuk diklasifikasikan dan dianalisa dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber.

Proses analisis data ditempuh yaitu proses reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan, akan dijelaskan lebih rinci berikut ini:

1. Mereduksi Data

Ketika peneliti mulai melakukan penelitiantentu saja akan mendapatkan data yang banyak dan relatif beragam dan bahkan sangat rumit. Itu sebabnya, perlu dilakukan analisis data melalui reduksi data.Data yang diperoleh ditulis dalam bentuk laporan atau data terperinci. Laporan yang disusun berdasarkan data yang diperoleh, dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disederhanakan bahwa sejumlah data yang terkumpul melalui teknik observasi, teknik wawancara, dan dokumentasi

44

digabung menjadi satu kemudian dicoba untuk dibakukan dan dolah serta dipilah-pilah menurut jenis atau golongan pokok bahasannya. Karena data yang diperoleh masih bentuk uaraian panjang maka sangat perlu untuk direduksi.

2. Penyajian Data

Langkah selanjutnya sesudah mereduksi data adalah menyajikan data (data display). Teknik penyajian data dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan dalam berbagai bentuk seperti tabel, grafik dan sejenisnya. Lebih dari itu, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya.

Adapun fungsi penyajian data disamping untuk memudahkan memahami apa yang terjadi, juga untuk merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut.

3. Kesimpulan dan Verifikasi

Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Dengan demikian kesimpulan dalam penelitian kualitatif dapat menjawab rumusan maslah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena seperti telah dikemukakan bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti berada dilapangan. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat

beruba deskripsi atau gambaran suatu objek yang sebelumnya masih belum jelas atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas.45

Verifikasi dilakukan untuk memeriksa dan mencocokkan kebenaran data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi. Setelah itu menarik kesimpulan dari hasil penelitian tentang aktivitas komunikasi organisasi pada Kantor Urusan Agama Kecamatan Malunda Kabupaten Majene

45Djam’an Satori dan Aan Komariah, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2009), h. 218-220

46

BAB IV

AKTIVITAS KOMUNIKASI ORGANISASI PADA KANTOR URUSAN AGAMA KECAMATAN MALUNDA KABUPATEN MAJENE A. Gambaran Umum Kantor Urusan Agama Kecamatan Malunda

Kantor Urusan Agama Kecamatan Malunda merupakan instansi yang menangani program pemerintah di bidang keagamaan yang berpusat di ibu kota kecamatan. Selama ini, ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa KUA hanya bertugas dan mengurusi pernikahan. Padahal sesuai dengan tugasnya KUA melaksanakan tugas-tugas Kementerian Agama di tingkat kecamatan yang mencakup seluruh aspek pelayanan terhadap masyarakat khususnya di bidang keagamaan.

Sebagai pelayan masyarakat, KUA dituntut untuk selalu melakukan terobosan-terobosan berupa program-program yang orientasinya pada pembinaan dan pengembangan kehidupan keagamaan, baik yang sifatnya individu maupun sosial. Hal tersebut mutlak dilakukan mengingat perkembangan masyarakat dewasa ini yang begitu cepat. Dampaknya adalah munculnya harapan-harapan bahkan desakan untuk mendapatkan pelayanan yang prima. Fenomena tersebut sangatlah logis, oleh karena itu pelayan (aparat kua) harus memiliki kemampuan dan profesioonalisme dalam melaksanakan tugas pelayanan.

Pelayanan dan pembinaan keagamaan pada masyarakat yang dilakukan oleh kua kecamatan bertujuan agar kualitas kehidupan beragama dapat tercapai dan diharapkan sifat dasar keyakinan beragama akan semakin dewasa sehingga tidak mudah teerpengaruh oleh proses modernisasi yang terus berjalan.

Pemahaman agama masyarakat perlu semakin diperkuat agar dapat berperan dalam pembinaan dan pengembangan akhlak serta moralitas bangsa.

Di Kecamatan Malunda dimana penduduknya seratus persen beragama islam, merupakan peluang yang strategis dalam rangka pengembangan keagamaan, di samping itu dengan kondisinya, Kecamatan Malunda memiliki organisasi-organisasi keagamaan yang tentunya dapat membantu tugas-tugas KUA di lapangan, misalnya BAZ, LPTQ, BP-4 dan lain-lain.

Dalam menjalankan kiprahnya, KUA Kecamatan Malunda telah menetapkan visi, misi dan motto yang akan menjadi acuan dalam mencapai tujuan yang inginkan, yaitu terwujudnya pelayanan prima dan kualitas kehidupan umat beragama yang kondusif.

1. Sejarah Singkat KUA Kecamatan Malunda

Warga Kecamatan Malunda merupakan warga yang agraris dan mayoritas beragama islam, sehingga sebagian daeri praktek kehidupan masyarakat menggunakan hukum islam. Praktek ini telah terjadi sejak islam masuk di wilayah malunda. Berlakunya hukum perkawinan islam bagi pemeluknya mengakibatkan munculnya lembaga yang mengatur bidang perkawinan di desa-desa pada saat itu adalah imam/p3n sebagai pemuka agama setempat. Namun tentu saja pengaturan ini tidaklah seperti sekarang karenasaat itu belum dilakukan pencatatan.

Setelah Indonesia merdeka dan lahir UU No. 22 th. 1946 tentang pencatatan nikah. Talak dan rujuk untuk wilayah jawa dan Madura, kemudian disusul dengan UU No. 32 tahun 1954 tentang pemberlakuan undang-undang 22 tahun 1946 untuk wilayah luar jawa dan Madura, sehingga setelah berlakunya

48

undang-undang tersebut maka praktis hukum perkawinan produk hindia belanda tidak berlaku lagi dan undang-undang yang berlaku di seluruh warga Negara Indonesia baik yang beragama islam maupun non isslam adalah uu no. 22 tahun 1946 itu. Lalu disempurnakan lagi dengan UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan, yang semakin mengukuhkan eeksistensi lembaga pencatatan nikah di masing-masing wilayah kecamatan, yaitu Kantor Urusan Agama.

Kantor Urusan Agama Kecamatan Malunda yang juga merupakan balai nikah Kecamatan Malunda dengan gedung yang berada di lingkungan Sasende Kelurahan Malunda mulai dibangun tahun 1982.

Adapun gedung KUA Kecamatan Malunda berdiri di atas tanah seluas 572 m2 dengan luas bangunan 108 m2 dan luas halaman 480m2, sedangkan status tanahnya adalah tanah berdasarkan akta jual beli yang sudah disertifikasi.

dari tahun ke tahun sejak berdirinya yakni sekitar tahun 1982, KUA Kecamatan Malunda mengalami peningkatan frekuensi pernikahan seiring dengan pertumbuhan dan perkenbangan penduduk. Disamping itu guna memaksimalkan tugas pokok dan fungsi KUA maka masing-masing pegawai memiliki tugas di bidang masing-masing yang terintegrasi dalam suatu prinsip memberikan pelayanan dan pembinaan kepada masyarakat secara maksimal, sehingga dengan demikian diharapkan KUA Kecamatan Malunda sebagai salah satu ujung tombak kantor Kementerian Agama Kabupaten Majene dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan memuaskan.46

46 KUA Kecamatan Malunda, “Dokumen Kantor Urusan Agama Kecamatan Malunda Kabupaten Majene”, h. 3-5.

2. Struktur organisasi

50

3. Visi, Misi dan Motto Kua Kecamatan Malunda a. Visi

Terwujudnya keluarga muslim Kecamatan Malunda bahagia dan sejahtera yang mampu memahami, mengamalkan dan menghayati nilai-nilai keimanan, ketaqwaan dan akhlaqul karimah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

b. Misi

1. Meningkatkan pelayanan prima dan pelayanan nikah rujuk 2. Meningkatkan pengembangan keluarga sakinah

3. Meningkatkan pengembangan zakat, wakaf dan shadaqah 4. Meningkatkan pengembangan lembaga keagamaan 5. Meningkatkan pengembangan organisasi kemasjidan

6. Meningkatkan pengembangan BP-4 (badan Penasehat Pembinaan dan Pelestarian Perkawinan) kecamatan malunda

7. Meningkatkan pengembangan personil kua kecamatan malunda dalam pelayanan prima pada masyarakat

c. Motto

Cermat (cepat, Efisien, Ramah, Mudah, Aktif dan Tepat) 4. Tugas Pokok

Berdasarkan PMA No. 39 tahun 2014 disebutkan bahwa Kantor Urusan Agama yang selanjutnya disingkat KUA adalah unit pelaksanaan teknis direktorat jenderal bimbingan masyarakat islam yang bertugas melaksanakan

sebagian tugas Kantor Kementerian Agama kabupaten/kota di bidang urusan agama islam, diantaranya adalah:

“Melaksanakan Sebahagian Tugas Kementerian Agama Tingkat Kecamatan, Khususnya Pernikahan, Kehidupan Beragama Serta Pendidikan Agama pada Masyarakat Berdasarkan Kebijakan Pelaksanaan Yang Ditetapkan Oleh Kementerian Agama”

5. Fungsi KUA Kecamatan Malunda

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana tersebut di atas, kua menyelenggarakan beberapa fungsi, diantaranya :

a. Pelaksanaan pelayanan, pengawaasan, pencatatan dan pelaporan nikah dan rujuk

b. Penyusunan statistik dokumentasi dan pengolahan system informasi manajemen KUA

c. Pelaksanaan tata usaha dan rumah tangga KUA d. Pelayanan bimbingan keluarga sakinah

e. Pelayanan bimbingan kemasjidan

f. Pelayanan bimbingan pembinaan syari’ah

g. Penyelenggaraan fungsi di bidang agama islam yang ditugaskan oleh kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/kota

6. Komitmen Pelayanan

Melayani dengan 5 s (Senyum, Salam, Sapa, Santun, Selesai) Melayani dengan cepat, tepat, professional dan proporsional

52

7. Jenis Pelayanan a. Pernikahan dan rujuk

1. Pencatatan nikah dan rujuk 2. Duplikat buku nikah 3. Rekomendasi nikah 4. Legalisir buku nikah

5. Surat keterangan untuk nikah ke luar negeri 6. Surat keterangan perwakilan

7. Surat keterangan belum nikah b. Perwakafan dan zakat

1. Pembuatan AIW/APAIW 2. Pengesahan nadzir

3. Mengajukan sertifikasi tanah dan wakaf ke bpn melalui kankemenag kabupaten

4. Penyaluran zakat, infak dan sadaqah 5. Konsultasi pembayaran zakat

c. Badan penasehat pembinaan dan pelestarian perkawinan (bp4) 1. Kursus calon pengantin (suscatin)

2. Konsultasi perkawinan dan keluarga 3. Pendataan keluarga sakinah

d. Pelayanan Kemasjidan dan Pembinaan Dan Syari’ah 1. Data kemasjidan

2. Konsultasi pembangunan dan pemeliharaan rumah ibadah

3. Penentuan arah kiblat tempat ibadah 4. Pembinaan penyelenggaraan jenazah 5. Pangan halal

e. Pelayanan Ibadah Sosial dan Kemitraan Umat 1. Bimbingan agama islam untuk muallaf 2. Bimbingan dan informasi haji

3. Pembinaan majelis taklim 4. Pembinaan dakwah 5. Pembinaan TK/TPA47

B. Proses Komunikasi Organisasi pada Kantor Urusan Agama Kecamatan Malunda Kabupaten Majene

1. Komunikasi Vertikal

a. Proses komunikasi organisasi

Proses komuniasi organisasi yang berlangsung di KUA Kecamatan Malunda tidak terlepas dari tugas dan tanggung jawab sebagai pelayan dan Pembina keagamaan di Kecamatan Malunda. Keberlangsungan komunikasi yang terjalin menyangkut hal-hal apa saja yang sering dikomunikasikan baik antara pimpinan dengan bawahan maupun antar sesama pegawai.

Berdasarkan analisis, dapat diketahui bahwa proses komunikasi yang dilaksanakan di Kantor Urusan Agama Kecamatan Malunda Kabupaten Majene secara umum membahas tentang pekerjaan, dalam hal ini bagaimana keberlangsungan pembinaan keagamaan dan pelayanan yang berjalan di KUA.

47KUA Kecamatan Malunda, “Dokumen Kantor Urusan Agama Kecamatan Malunda Kabupaten Majene”, h.8-10

54

Dari hasil wawancara yang diperoleh dari informan sebanyak enam orang termasuk kepala KUA, semuanya mengungkapkan bahwa aktivitas komunikasi antar pegawai secara umum yaitu masalah pekerjaan. Seperti yang diungkapkan Kepala KUA Kecamatan Malunda,

“kami di kantor tentunya lebih banyak mengkomunikasikan tentang pekerjaan seperti, pelayanan kepada masyarakat dalam hal pernikahan, pembinaan keagamaan peningkatan kinerja dan tentunya masih banyak lagi, yang pasti kita lebih menfokuskan agar pekerjaan berjalan dengan baik”48

Komunikasi organisasi yang dilakukan seperti Komunikasi terkait dengan hal koordinasi pekerjaan, tentunya untuk menjawab tujuan atau fungsi dari Kantor Urusan Agama yaitu pelayanan, pengawasan serta pencatatan administrasi demi keberlangsungan organisasi secara teratur.

Sedangkan pelaksanaan komunikasi ke atas yang dilaksanakan di Kantor Urusan Agama Kecamatan Malunda secara umum juga membahas tentang pekerjaan. Misalnya, pembahasan tentang kebijakan pernikahan, hal ini dilakukan oleh bagian kepenghuluan. seperti pada hasil wawancara dengan penghulu KUA,

“komunikasi dengan Kepala KUA biasanya membahas perkembangan pernikahan, karena banyak fenomena-fenomena yang terjadi dalam pernikahan, misalnya pernikahan di bawah umur atau rujuk, karena terkadang banyak permasalahan yang ditemui di sana. Namun saat santai atau istirahat kita juga sering membahas hal-hal di luar pekerjaan”49

Hal yang sama juga disampaikan oleh salah satu penyuluh Kantor Urusan agama Kecamatan Malunda bahwa komunikasi yang terjalin dengan kepala KUA lebih

48 Samsul (47 tahun), Kepala Kantor Urusan Agama, wawancara, Malunda, 4 Oktober 2019

49 Hanapi (57 tahun), Penghulu Agama Kecamatan Malunda, Wawancara, Malunda, 2 Oktober 2019

banyak membahas tentang koordinasi pekerjaan. Seperti, membahas tentang bimbingan dan penyuluhan agama islam. Hasil wawancara bapak abdul kadir,

“Kebanyakan yang dikomunikasikan dengan kepala KUA biasanya pelaporan pekerjaan, atau hal-hal yang masih belum diketahui dengan jelas, kita kadang-kadang bertanya. Untuk mengkomunikasikan di luar pekerjaan pasti ada, tapi kalau dengan kepala KUA kita lebih banyak komunikasi tentang pekerjaan.”50

Berdasarkan beberapa hasil temuan yang peneliti peroleh melalui wawancara dan observasi tersebut, dapat diketahui bahwa kegiatan komunikasi ke atas yang dilaksanakan di KUA Kecamatan Malunda secara umum terkait dengan hal pekerjaan. Beberapa hal yang membedakan pesan komunikasi vertikal keatas ini, yaitu komunikasi yang dilaksanakan oleh kepenghuluan yaitu tentang laporan pekerjaan dan kebijakan di bidang pernikahan. Sedangkan komunikasi vertikal ke atas yang dilaksanakan oleh penyuluh kepada atasan yaitu meliputi laporan pekerjaan, pekerjaan rutin harian, koordinasi pekerjaan, dan hal-hal baru mengenai pembinaan keagamaan. Selain mengkomunikasikan perihal pekerjaan, jika ada waktu senggang, pegawai tersebut juga terkadang mengkomunikasikan hal diluar pekerjaan. Jadi dapat disimpulkan bahwa pesan yang dikomunikasikan dengan atasan yaitu terkait dengan hal pekerjaan masing-masing pegawai, namun terkadang juga mengkomunikasikan hal-hal di luar pekerjaan.

b. Jenis komunikasi

Jenis komunikasi ke bawah yang dilaksanakan di KUA Kecamatan Malunda secara umum dilaksanakan secara formal dan informal, hanya saja yang

50Abd. Kadir ( 42 tahun), penyuluh Agama, Wawancara, Malunda, 2 Oktober 2019

56

sering kali dilaksanakan yaitu menggunakan informal, komunikasi formal tidak selalu digunakan dalam kegiatan kerja sehari-hari. Seperti yang dikemukakan oleh bapak Abd. Kadir, S.Pd. Penyuluh Agama,

“bapak kepala KUA dalam berkomunikasi dengan bawahannya itu dengan santai, artinya tidak ada perasaan tertekan, hanya saja kita pasti tetap segan dan hormat denga beliau. Paling tidak komunikasi kita tidak begitu formal tetapi mengalir apa adanya, biasanya formal ketika dalam rapat atau ada hal yang serius untuk disampaikan”51

Dari pernyataan di atas menunjukkan bahwa komunikasi ke bawah dilakukan dengan formal dan informal, namun lebih banyak menggunakan komunikasi informal.

Berdasarkan hasil penelitian dengan KUA Kecamatan Malunda bahwa jenis komunikasi yang dilakukan saat berkomunikasi dengan atasan adalah informal, sangat jarang berkomunikasi dengan formal. Wawancara dilakukan dengan salah satu staf,

“Jenis yang dapat kami sampaikan formal, namun tidak menutup kemungkinan informal, melihat pekerjaan atau informasi yang ingin dikomunikasikan.Pekerjaan itu sangat urgent atau tidak, kalau urgen disampaikan secara formal saat itu juga.”52

Pelaksanaan komunikasike atas yang dilakukan menggunakan jenis formal dan informal, sesuai dengan situasi dan kondisi, serta menyesesuaikan dengan keperluan yang dikomunikasikan. Komunikasi formal yang dilaksanakan yaitu menggunakan media tertulis melalui surat maupun laporan pekerjaan atau komunikasi melalui rapat organisasi serta biasa disebut dengan meeting, selebihnya untuk kegiatan komunikasi sehari-hari biasa dilakukan dengan

51Abd. Kadir ( 42 tahun), Penyuluh Agama, Wawancara, Malunda, 2 Oktober 2019

52 Aslan (41 tahun), Staf Kantor Urusan Agama, Wawancara, Malunda 4 Oktober 2019

komunikasi informal, dilakukan secara langsung tanpa ada aturan yang membatasi, dilaksanakan dengan bahasa sehari-hari, dan komunikasi lebih bersifat santai.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat diketahui bahwa pelaksanaan komunikasi vertikal yang dilakukan di KUA Kecamatan Malunda baik komunikasi dari atasan kepada bawahan ataupun sebaliknya menggunakan jenis formal dan informal, sesuai dengan situasi dan kondisi pada saat itu, dan sesuai dengan keperluan hal yang dikomunikasikan. Komunikasi formal yang dilaksanakan yaitu menggunakan media tertulis melalui surat maupun laporan pekerjaan dan komunikasi melalui rapat organisasi atau biasa disebut dengan meeting, selebihnya untuk kegiatan komunikasi sehari-hari biasa dilakukan dengan komunikasi informal, dilakukan secara langsung tanpa ada aturan yang membatasi, dilaksanakan dengan bahasa yang tidak terlalu formal, dan komunikasi lebih bersifat santai.

c. Metode komunikasi

Dari hasil analisis, menunjukkan bahwa pelaksanaan komunikasi ke bawah yang dilaksanakan di KUA Kecamatan Malunda cenderung menggunakan metode Persuasive, metode ini merupakan suatu metode komunikasi yang dilakukan agar orang lain bersedia menerima suatu paham, keyakinan, maupun bersediamelakukan suatu kegiatan maupun yang lainnya. Seperti yang disampaikan oleh Kepala KUA Kecamatan Malunda:

“Kita lebih demokratis, kita tidak ada yang modelnya otoriter, kita membina, mengarahkan dan kita berkomunikasi jika ada tugas kita langsung mengkoordinasikan dengan pegawai, saling komunikatif, tidak ada yang harus tertekan dalam menjalankan pekerjaan. Intinya kita

58

membangun komunikasi dengan santai tapi pekerjaan tetap berjalan, ini juga demi menjaga hubungan emosional tetap terjaga dengan baik”53 Jadi, hasil wawancara di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar pelaksanaan komunikasi ke bawah yang berlangsung di KUA Kecamatan Malunda secara umum menggunakan metode Persuasive untuk kegiatan komunikasi sehari-hari

Sedangkan, Komunikasi dengan atasan lebih kepada komunikasi informatif, komunikasi informative yang dimaksud, biasanya seperti pelaporan, pendataan dan lain-lain, seperti yang diungkapkan oleh Sabrina,

“kita biasanya sering bertanya dan juga menyampaikan sesuatu.

bertanya bila ada sesuatu yang tidak diketahui mengenai pekerjaan, meminta solusi misalnya bagaimana untuk mengatasi pendataan yang kurang lancar dan lain-lain”54

Dari pendapat tersebut, dapat diketahui bahwa metode yang digunakan untuk berkomunikasi dengan atasan menggunakan metode Informative, karena lebih banyak bawahan melaporkan pekerjaan kepada atasan, menanyakan sesuau, dan sharing tentang apa yang dibutuhkan oleh bawahan. Metode lain yang digunakan yaitu metode Persuasive, namun disini Persuasive yang dimaksud tidak pada mempengaruhi atasan untuk melakukan sesuatu atau menuruti apa yang diminta oleh bawahan, hanya sebatas memberi penjelasan untuk lebih meyakinkan atasan tentang apa yang telah dilaksanakan bawahan, dan juga memberi masukan kepada atasan, metode ini pun jarang digunakan untuk kegiatan komunikasi sehari-hari.

53 Samsul (47 tahun), Kepala Kantor Urusan Agama, wawancara, Malunda, 4 Oktober 2019

54 Sabrina ( 35 tahun), Staf KUA Kecamatan Malunda, wawancara, Malunda 2 Oktober 2019

c. saluran komunikasi

Komunikasi yang digunakan di Kantor Urusan Agama Kecamatan Malunda dalam berkomunikasi baik secara vertikal maupun horizontal secara umum menggunakan lisan, tertulis, dan elektronik sesuai dengan situasi dan kondisi. wawancara

“komunikasi kita di kantor biasanya dengan tatap muka, lewat sms juga bisa, telpon juga bisa, dengan whatsapp juga, kalau kita ingin menginformasikan beberapa hal yang sifatnya sangat segera kita menggunakan elektronik Hanya saja komunikasi secara tertulis biasa dilaksanakan apabila ada hal-hal mengenai pekerjaan seperti laporan secara tertulis, laporan, disposisi surat, surat tugas ”55

Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu staf mengungkapkan bahwa komunikasi yag terjalin dengan atasan lebih banyak bertatap muka secara langsung. Wawancara dengan Sabrina,

“Komunikasi yang biasa dilakukan dengan dialog, lisan. Terkadang kita itu kalau menyampaikan kepada pimpinan melihat kondisinya, terkadang Kepala KUA biasa ada kepentingan atau pekerjaan di luar, misalkan ada dinas keluar, atau ada undangan kemana, atau dapat surat tugas di luar, mestinya kita komunikasi dengan menggunakan media elektronik”56

Dari hasil wawancara di atas menunjukkan bahwa komunikasi organisasi yang terjalin di kantor urusan agama kecamaan malunda kabupaten majene berkomunikasi sesuai situasi dan kondisi. Namun komunikasi yang terjadi lebih umum dengan tatap muka atau komunikasi secara langsung. Komunikasi dengan tertulis ketika itu berkaitan dengan pekerjaan misalnya, laporan, disposisi surat, surat tugas, dan memo dari atasan kepada bawahan,

55 Samsul (47 tahun), Kepala Kantor Urusan Agama, wawancara, Malunda, 4 Oktober

56 Sabrina ( 35 tahun), Staf KUA Kecamatan Malunda, wawancara, Malunda 2 Oktober 2019

60

2. Komunikasi Horisontal a. proses komunikasi organisasi

Proses komunikasi horisontal adalah komunikasi yang terjalin antar sesame pekerja yang berada pada level struktur yang sama. Di Kantor Urusan Agama Kecamatan Malunda, Pelaksanaan komunikasi horizontal yang dilaksanakan yaitu terkait dengan hal pekerjaan, saling membantu dan bekerjasama dalam hal pekerjaan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Talma S.Pd.I

“sesama pegawai yang berada pada pekerjaan yang sama tentunya kita komunikasi dengan apa adanya seperti layaknya komunikasi di luar namun tidak melupakan koridor tugas kita sebagai pekerja di KUA. biasanya kita bekerja jasama, kebersamaan tetap dijalin, mengerjakan sesuatu tidak harus fokus sama kerjaannya, kita sesama penyuluh misalnya saling membantu pekerjaan, misal kita ada masalah ketika mengerjakan pekerjaan, kita bisa minta bantuan dengan teman kita di kantor”57

Berdasarkan beberapa hasil temuan yang peneliti peroleh melalui hasil wawancara dan observasi tersebut, semakin meyakinkan untuk menarik sebuah kesimpulan bahwa kegiatan komunikasi horisontal yang dilaksanakan di kua kecamatan malunda umum membahas terkait dengan hal pekerjaan, baik berupa pengkoordinasian pekerjaan, kerja sama dalam pekerjaan, maupun sharing pekerjaan. Selain mengkomunikasikan perihal pekerjaan, jika ada waktu senggang, pegawai tersebut juga terkadang mengkomunikasikan hal diluar pekerjaan.

b. jenis komunikasi

57 Talma (33 tahun), Penyuluh Agama, Wawancara, 2 Oktober 2019

Komunikasi horizontal antar sesaama pegawai kantor urusan agama lebih banyak menggunakan jenis komunikasi informal. Alasannya komunikasi dengan santai itu lebih mempererat hubungan di dalam kantor, sehingga dalam menjalankan tugas lebih mudah.

“hubungan diantara pegawai ini lebih familiar, karena kami sudah mengenal karakter satu dengan yang lain, sehingga rasa keterbukaan, malu, malah tidak terjaga, kadang setiap pekerjaan semuanya terbuka, dan pekerjaan itu juga dibagi sesuai dengan kapasitasnya, sehingga memiliki tanggung jawab masing-masing demi kelancaran tugas”58

Pernyataan senada juga disampaikan oleh Talma, penyuluh agama Kecamatan Malunda,

“biasanya kita di kantor berkomunikasi dengan formal dan informal, tapi

“biasanya kita di kantor berkomunikasi dengan formal dan informal, tapi

Dalam dokumen UIN ALAUDDIN MAKASSAR (Halaman 56-0)

Dokumen terkait