TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Konsep Pembangunan Ekonomi
Pembangunan adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir (Subandi, 2012). Proses pembangunan adalah merupakan suatu perubahan sosial budaya. Pembangunan dapat menjadi suatu proses yang dapat bergerak maju atas kekuatan sendiri tergantung kepada manusia dan struktur sosialnya. Pembangunan ekonomi dapat didefenisikan sebagai suatu rangkaian proses kegiatan yang dilakukan oleh suatu negara untuk mengembangkan kegiatan atau aktivitas ekonomi untuk meningkatkan taraf hidup/kemakmuran (Income per-kapita) dalam jangka panjang. Kemakmuran itu sendiri ditunjukkan dengan meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat dan adanya keseimbangan antara supply dan
demanddi pasar.
Berdasarkan kedua sifat tersebut, maka Arsyad (1999) mendefenisikan ekonomi pembangunan sebagai suatu cabang ilmu ekonomi yang menganalisa masalah-masalah yang dihadapi oleh negara sedang berkembang dan mencari cara-cara untuk mengatasi masalah-masalah itu agar negara-negara tersebut dapat membangun ekonominya lebih cepat lagi. Definisi pembangunan ekonomi menurut pendapat Meier (Kuncoro, 1997) adalah suatu proses dimana pendapatan per kapita suatu negara meningkat selama kurun waktu yang panjang, dengan catatan bahwa jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan absolut tidak meningkat dan distribusi pendapatan tidak semakin timpang.
Proses pembangunan menghendaki adanya pertumbuhan ekonomi yang diikuti dengan perubahan (growth plus change) dalam: pertama, perubahan struktur ekonomi, dari pertanian ke industri jasa; dan kedua, perubahan kelembagaan, baik lewat regulasi maupun reformasi kelembagaan. Ada 3 (tiga) kategori masyarakat secara sosiologis, yaitu masyarakat yang masih bersifat tradisional; masyarakat yang bersifat peralihan; dan masyarakat yang sudah maju. Perubahan dalam masyarakat yang bersifat menyeluruh dapat dikembangkan secara sadar oleh pemerintah, yang sebaiknya pula mewakili kekuatan-kekuatan perubahan yang ada. Pembangunan yang dilakukan secara terencana adalah suatu usaha yang lebih rasional dan teratur bagi pembangunan masyarakat yang belum atau baru berkembang.
Todaro (2000) mengartikan pembangunan sebagai fenomena yang tidak dapat sepenuhnya ditangkap dengan kasat mata, melainkan melampaui sisi materi dan keuangan kehidupan manusia. Untuk itu, pembangunan idealnya merupakan
proses yang akan melibatkan pengorganisasi dan peninjauan kembali terhadap keseluruhan sistem ekonomi dan sosial, bahkan sikap-sikap, kebiasaan, adat istiadat, sistem kepercayaan dan aspek sosial lainnya. Selanjutnya Simanjuntak dan Muklis (2012), mengartikan pembangunan ekonomi sebagai suatu proses multidimensional yang bukan saja mencakup pertumbuhan ekonomi melainkan juga terjadinya perubahan struktur, sikap hidup dan kelembagaan, dimana hasil konkritnya ditunjukkan dengan terjadinya penurunan ketimpangan distribusi pendapatan, berkurangnya kemiskinan absolut dan mengecilnya tingkat pengangguran. Sukirno (2010), mendefinisikan pembangunan ekonomi sebagai terjadinya pertumbuhan ekonomi dalam suatu negara yang dibarengi dengan terjadinya perkembangan dalam berbagai aspek kegiatan ekonomi lainnya, seperti: pendidikan, kesehatan, infrastruktur, teknologi, pendapatan dan kemakmuran masyarakat.
Pembangunan pada hakekatnya harus mencerminkan adanya perubahan total atau penyesuaian sistem sosial masyarakat secara keseluruhan, tanpa mengabaikan keragaman kebutuhan dan keinginan individual maupun kelompok sosial yang ada di dalamnya untuk bergerak maju menuju kehidupan yang lebih baik secara material maupun spiritual. Oleh karena itu, indikator pembangunan ekonomi tidak saja diukur dengan indikator ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi, melainkan dilengkapi juga dengan indikator sosial lainnya, seperti: ketenagakerjaan, pendidikan, distribusi pendapatan dan penduduk miskin. Melengkapi dengan indikator sosial, pembangunan ekonomi sudah mengarah kepada paradigma pembangunan modern yang mulai mengedepankan
pengentasan kemiskinan, penurunan ketimpangan distribusi pendapatan, serta penurunan tingkat pengangguran (Todaro & Smith, 2006).
2.3.1 Teori Pertumbuhan dan Pembangunan Ekonomi
Setelah Perang Dunia II, teori pertumbuhan dan pembangunan ekonomi didominasi oleh empat pendekatan dalam pemikiran pembangunan ekonomi. Empat pendekatan tersebut antara lain; 1) pertumbuhan linear atau klasik, seperti teori Adam Smith, David Ricardi, dan Arthur Lewis; 2) perubahan struktural, seperti teori Roy F. Harrod dan Evsey D. Domar, Nicholas Kaldor, dan Simon Kuznets; 3) teori ketergantungan; dan 4) neo klasik, seperti teori Robert Solow dan Trevor Swan (Todaro dan Smith, 2006). Mulai tahun 1970, pendekatan model pertumbuhan linear diganti dengan pendekatan model perubahan struktural dan teori ketergantungan. Dalam model perubahan struktural, teori dan materi perubahan struktural menggunakan teori ekonomi modern dan analisis statistik sehingga dapat dianalisis bagaimana upaya suatu negara dalam melakukan proses pembangunan ekonomi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Selanjutnya, mulai tahun 1980 dan awal tahun 1990, pendekatan model perubahan struktural dan teori ketergantungan diganti dengan model neo klasik melalui peran perdagangan bebas, keterbukaan ekonomi, dan privatisasi perusahaan-perusahaan publik. Model neo klasik memandang bahwa ketergantungan suatu negara menjadi semakin bertambah karena ketidakmampuan aspek teori ketergantungan dalam mengelola eksploitasi faktor eksternaldan internal, sepeti negara luar serta struktur sosial-budaya dan pola perilaku masyarakat setempat yang mengakibatkan intervensi pemerintah berupa regulasi dalam perekonomian.
Beberapa teori pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, antara lain. 1) Adam Smith dalam bukunya An Inquiry into the Nature and Causes of the
Wealth of Nations pada tahun 1776 mengemukakan tentang proses pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang secara sistematis. Menurut Adam Smith, ada dua aspek utama pertumbuhan ekonomi, yaitu pertumbuhan output total dan pertumbuhan penduduk. Unsur pokok dalam pertumbuhan output total adalah sumber daya alam yang tersedia (faktor produksi tanah), sumber daya insani (jumlah penduduk), dan stok barang modal yang ada (Arsyad, 2010). Ada lima hal penting dalam teori pertumbuhan dan pembangunan ekonomi menurut Adam Smith, yaitu: a) tingkat perkembangan suatu negara tergantung jumlah penduduk, jumlah stok barang modal, luas tanah dan teknologi; b) pendapatan nasional masyarakat meliputi pendapatan dari sewa tanah, upah bekerja dan keuntungan pengusaha; c) kenaikan upah menyebabkan pertambahan penduduk; d) pembentukan modal dipengaruhi tingkat keuntungan sehingga apabila tidak ada tingkat keuntungan maka perekonomian mengalami stationary state; dan e) the law of diminishing return mengakibatkan pertambahan penduduk menurunkan tingkat upah, menurunkan tingkat keuntungan, meningkatkan tingkat sewa tanah apabila tidak ada kemajuan teknologi.
2) David Ricardo dalam bukunya The Principles of Political Economy and Taxation pada tahun 1917 menyatakan bahwa teori pertumbuhan dan pembangunan ekonomi bertumpu pada laju pertumbuhan output dan lau pertumbuhan penduduk. Laju pertumbuhan output tergantung dari faktor
produksi yang tersedia. Faktor produksi tanah (sumber daya alam) tidak dapat bertambah, karena tidak semua faktor produksi tanah merupakan faktor produksi yang produktif. Oleh karena itu, faktor tanah menjadi faktor pembatas dalam proses pertumbuhan ekonomi. Jumlah faktor produksi tenaga kerja atau penduduk tergantung pada tingkat upah yang diperolehnya apakah lebih tinggi atau lebih rendah daripada tingkat upah minimal atau tingkat upah alamiah. Akumulasi faktor produksi modal terjadi apabila tingkat keuntungan yang diperoleh pemilik modal lebih besar daripada tingkat keuntungan minimal yang diperlukan untuk menarik investor melakukan investasi. Selanjutnya, David Ricardo menambahkan bahwa kemajuan teknologi terjadi sepanjang waktu dan sektor dominan dalam perekonomian adalah sektor pertanian (Sukirno, 2010).
3) Arthur Lewis pada tahun 1954 membahas bahwa proses transformasi industrialisasi pada tahap awal pembangunan kapitalis di Eropa dengan melihat hubungan antara sektor pertanian (tradisional) dan industri (modern) dalam perekonomian yang terjadi antara daerah pedesaan dan perkotaan dengan memasukkan proses urbanisasi yang terjadi di daerah tersebut. Asumsi teori pembangunan dan pertumbuhan Arthur Lewis adalah sektor pedesaan merupakan sektor pertanian (tradisional) yang subsisten dengan jumlah penduduk yang berkelebihan yang ditandai dengan produktivitas marginal tenaga kerja sebesar nol dan tingkat upah riil yang rendah, sedangkan sektor perkotaan merupakan sektor industri (modern) yang produktivitas marginalnya tinggi dan menjadi tempat penampungan tenaga
kerja yang dialihkan sedikit demi sedikit dari sektor pertanian yang terjadi kelebihan jumlah tenaga kerja (Sukirno, 2006).
4) Harrod-Domar yang dikembangkan oleh Roy F. Harrod dan Evsey D. Domar. Harrod mengemukkan teorinya pada tahun 1939 dalam jurnal Economic Journal sedangkan Domar mengemukakan teorinya pada tahun 1947 dalam jurnal American Economic Review. Teori pertumbuhan dan pembangunan ekonomi Harrod-Domar merupakan perluasan dari analisis John Maynard Keynes mengenai kegiatan ekonomi secara nasional dan masalah tenaga kerja. Teori Harrod-Domar ini menganalisis syarat-syarat yang diperlukan agar perekonomian dapat tumbuh dan berkembang dalam jangka panjang. Dengan kata lain, teori Harrod–Domar berusaha menunjukkan syarat yang dibutuhkan agar perekonomian dapat tumbuh dan berkembang dengan mantap (Badrudin, 2012).
5) Menurut Solow-Swan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi tergantung pada pertambahan penyediaan faktor-faktor produksi (penduduk, tenaga kerja, dan akumulasi modal) dan tingkat kemajuan teknologi. Peran kemajuan teknologi di dalam pertumbuhan ekonomi sangat tinggi. Pandangan ini didasarkan pada anggapan yang mendasari analisis Klasik, yaitu perekonomian tetap mengalami tingkat pengerjaan penuh dan kapasitas modal tetap sepenuhnya digunakan sepanjang waktu. Dengan demikian, seberapa perkembangan perekonomian akan tergantung pada pertambahan penduduk, akumulasi modal, dan kemajuan teknologi.
6) Simon Kuznets mendefenisikan pertumbuhan ekonomi sebagai peningkatan kemampuan suatu negara untuk menyediakan barang-barang ekonomi bagi penduduknya. Pertumbuhan kemampuan ini disebabkan oleh kemajuan teknologi dan kelembagaan serta penyesuaian idiologi yang dibutuhkan. Ada tiga komponen pokok penting yaitu kenaikan otuput nasional secara terus menerus, kemajuan teknologi sebagai prasyarat pertumbuhan ekonomi, dan penyesuaian kelembagaan, sikap, dan ideologi. Simon Kuznets memisahkan enam karakteristik proses pertumbuhan pada hampir semua negara maju, yaitu a) tingginya tingkat pertumbuhan output per kapita dan penduduk; b) tingginya tingkat kenaikan produktivitas faktor produksi secara keseluruhan terutama produktivitas tenaga kerja; c) tingginya tingkat transformasi struktur ekonomi; d) tingginya tingkat transformasi sosial dan ideologi; e) kecenderungan negara-negara maju secara ekonomis untuk menjangkau seluruh dunia untuk mendapatkan pasar dan bahan baku; dan f) pertumbuhan ekonomi ini hanya terbatas pada sepertiga populasi dunia.
7) Joseph Schumpeter dalam bukunya The Theory of Economics Development
pada tahun 1934 danBusiness Cycletahun 1939 menjelaskan dua hal penting, pertama sistem kapitalisme merupakan sistem yang paling baik untuk menciptakan pembangunan ekonomi yang pesat dan kedua faktor utama yang mengakibatkan perkembangan ekonomi adalah proses inovasi yang dilakukan oleh inovator atau entrepreneur. Lima macam kegiatan yang dimasukkan sebagai proses inovasi adalah a) diperkenalkannya produk baru yang sebelumnya tidak ada; b) diperkenalkannya cara berproduksi baru; c)
pembukaan daerah pasar baru; d) penemuan sumber bahan mentah baru; dan e) perubahan organisasi industri sehingga menjadi industri yang efisiensi. Menurut Schumpeter, perkembangan ekonomi diartikan sebagai peningkatan output total masyarakat terdiri dari pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi.
2.3.2 Kinerja Pembangunan Ekonomi
Pembangunan selalu menimbulkan dampak positif dan negatif. Oleh karena itu, diperlukan indikator sebagai tolak ukur terjadinya pembangunan. Pembangunan adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha tanpa akhir. Proses pembangunan sebenarnya adalah merupakan suatu perubahan sosial budaya. Pembangunan agar dapat menjadi suatu proses yang dapat bergerak maju atas kekuatan sendiri tergantung kepada manusia dan struktur sosialnya (Kuncoro, 2010).
Proses pembangunan sendiri menghendaki adanya pertumbuhan ekonomi yang diikuti dengan perubahan dalam: pertama, perubahan struktur ekonomi: dari pertanian ke industri atau jasa; kedua, perubahan kelembagaan, baik lewat regulasi maupun reformasi kelembagaan itu sendiri. Proses pembangunan ekonomi sering diartikan sebagai kemajuan ekonomi atau kenaikan kesejahteraan ekonomi. Peningkatan pendapatan riil per kapita hanyalah merupakan sebagian dari indeks kesejahteraan ekonomi. Kesejahteraan ekonomi mengandung pertimbangan nilai mengenai tingkat distribusi pendapatan yang diinginkan. Dengan demikian, indikator-indikator kunci pembangunan secara garis besar pada
dasarnya diklasifikasikan menjadi dua, yaitu indikator ekonomi dan indikator sosial (Kuncoro, 2013).
Penetapan indikator kinerja atau ukuran kinerja akan digunakan untuk mengukur kinerja atau keberhasilan negara/organisasi. Indikator kinerja daerah sebagai alat untuk menilai keberhasilan pembangunan secara kuantitatif maupun kualitatif, merupakan gambaran yang mencerminkan capaian indikator kinerja program (outcomes/hasil) dari kegiatan (output/keluaran). Indikator kinerja program adalah sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada jangka menengah (efek langsung). Pengukuran indikator hasil lebih utama daripada sektor keluaran, karena hasil (outcomes), menggambarkan tingkat pencapaian atas hasil lebih tinggi yang mungkin mencakup kegiatan banyak pihak. Indikator kinerja akan dapat dijadikan sebagai media perantara untuk memberi gambaran tentang prestasi organisasi yang diharapkan di masa mendatang.
Kinerja pembangunan pada dasarnya digambarkan melalui tingkat capaian sasaran dan tingkat efisiensi dan efektivitas pencapaian sasaran. Dengan demikian, makna penetapan kinerja pembangunan tersebut untuk dapat mengukur tingkat capaian kinerja pelaksanaan pembangunan daerah diperlukan penetapan indikator kinerja daerah dalam bentuk penetapan indikator kinerja program pembangunan daerah sebagai indikator kinerja utama. Untuk mengukur kinerja pembangunan ekonomi ada beberapa indikator yang dapat digunakan antara lain: PDB; pertumbuhan ekonomi; pendapatan per kapita; inflasi; kependudukan;
ketenagakerjaan; pengangguran; distribusi pendapatan; dan tren ketimpangan (Kuncoro, 2013).
2.3.3 Pengangguran
Sebelum mendefinisikan tentang pengangguran, ada baiknya didefinisikan terlebih dahulu penduduk usia kerja. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), konsep dan definisi penduduk usia kerja adalah mereka yang berdasarkan golongan umurnya sudah bisa diharapkan untuk bekerja dan untuk di Indonesia batasan umur 15 tahun digunakan sebagai batas seseorang diangap mulai bisa bekerja. Jadi penduduk usia kerja adalah penduduk yang telah berusia15 tahun atau lebih. Penduduk usia kerja terbagi menjadi dua kelompok besar yakni angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Penduduk bukan angkatan kerja adalah penduduk usia kerja (15 tahun ke atas) yang tidak termasuk ke dalam angkatan kerja. Golongan ini secara ekonomi memang tidak aktif (non-economically active population). Kegiatan mereka biasanya adalah sekolah, mengurus rumah tangga, pensiun, dan cacat jasmani. Sementara angkatan kerja didefinisikan sebagai jumlah orang yang bekerja dan orang yang menganggur.
Menurut BPS (2012) bekerja didefinisikan sebagai kegiatan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan selama paling sedikit satu jam dalam seminggu yang lalu dan tidak boleh terputus. Seseorang dikatakan menganggur atau mencari pekerjaan apabila termasuk penduduk usia kerja yang (1) tidak bekerja, atau (2) sedang mencari pekerjaan baik bagi mereka yang belum pernah bekerja sama sekali maupun yang sudah
mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin untuk mendapatkan pekerjaan, atau (5) yang sudah memiliki pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Secara skematis konsep tersebut digambarkan dalam Gambar 2.4.
Gambar 2.4
Skematis Konsep Ketengarakerjaan di Indonesia
Sumber : BPS Jakarta, 2012
Dari sisi ekonomi, pengangguran merupakan produk dari ketidakmampuan pasar kerja dalam menyerap angkatan kerja yang tersedia. Ketersediaan lapangan kerja yang relatif terbatas, tidak mampu untuk menyerap para pencari kerja yang senantias mengalami peningkatan setiap tahunnya seiring dengan terjadinya peningkatan jumlah penduduk (BPS, 2012).
Samuelson dan Nordhaus (1992), menyebutkan bahwa para ahli ekonomi menggolongkan pengangguran dalam tiga kelompok berikut.
1) Pengangguran friksional, pengangguran terjadi karena berpindahnya orang-orang dari satu daerah ke daerah lainnya, dan dari satu jenis pekerjaan ke pekerjaan lain atau melalui berbagai tingkat siklus kehidupan yang berbeda.
2) Pengangguran struktural, pengangguran yang terjadi karena ketidaksesuaian antara penawaran dan permintaan. Seringkali terjadi peningkatan permintaan terhadap satu pekerjaan dan penurunan permintaan terhadap pekerjaan yang lainnya, sedangkan penawaran tidak dapat menyesuaikan dengan cepat atas situasi yang terjadi tersebut.
3) Pengangguran siklis, pengangguran yang timbul karena terjadinya kemerosotan pada beberapa faktor produksi sehingga kegiatan produki mengalami penurunan.
Ada dua pendekatan yang lazim dipergunakan untuk mendefinisikan pengangguran, yaitu.
1) Pendekatan angkatan kerja (labor force approach)
Pendekatan ini mendefinisikan pengangguran sebagai angkat kerja yang tidak bekerja.
2) Pendekatan pemanfaatan tenaga kerja (labor utilization approach)
Indikator pengangguran menurut pendekatan ini adalah berdasarkan pada tingkat pemanfaatan tenaga kerja, yaitu diantaranya adalah menggunakan jam kerja, produktivitas dan pendapatan yang diperoleh.
Menurut Sadono Sukirno (2011) pendekatan pemanfaatan tenaga kerja juga menggolongkan angkatan kerja kedalam tiga kelompok, yaitu : (1) menganggur (unemployed) merupakan keadaan di mana orang sama sekali tidak bekerja atau sedang mencari pekerjaan, atau sering juga disebut sebagai pengangguran terbuka (open unemployment), (2) setengah menganggur (underemployed), merupakan suatu keadaan di mana orang bekerja tetapi belum
dapat dimanfaatkan secara penuh, dan keadaan ini lebih lanjut digolongkan menjadi dua yaitu: setengah menganggur kentara (visible underemployed) merupakan suatu keadaan di mana orang yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu dan setengah menganggur tidak kentara (invisible underemployed) merupakan orang yang produktivitas dan pendapatannya rendah, dan (3) Bekerja penuh (employed) merupakan orang yang cukup dimanfaatkan. Menurut para ahli-ahli ekonomi, pada masa ini pengangguran terselubung di daera-daerah pertanian telah menjadi sangat memburuk sebagai akibat dari perkembangan penduduk yang sangat pesat. Perkembangan penduduk yang sangat besar tersebut tidak diikuti oleh pertambahan luas tanah yang ditanami. Oleh karenanya, pertambahan penduduk yang tetap berada di daerah pedesaan terutama berada di daerah-daerah pertanian yang sudah lama dikembangkan. Terbatasnya pertambahan luas area pertanian menyebabkan perbandingan antara luas tanah yang ditanami dengan jumlah tenaga kerja di sektor pertanian bertambah kecil. Keadaan ini memperburuk masalah pengangguran terselubung dan masalah underemployment
yang dihadapi oleh penduduk di sektor pertanian.
2.3.4 Kemiskinan
Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, antara lain: tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi, geografis, gender, dan kondisi lingkungan. Mengacu pada strategi nasional penanggulangan kemiskinan defenisi kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan
mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Definisi ini dimulai dari pendekatan berbasis hak yang mengakui bahwa masyarakat miskin mempunyai hak-hak dasar yang sama dengan anggota masyarakat lainnya. Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi sesorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Hak-hak dasar yang diakui secara umum meliputi terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumber daya alam, dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki.
Menurut Perpres Nomor 13 Tahun 2009 tentang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan, pemahaman mengenai kemiskinan semestinya berawal dari pendekatan berbasis hak (right based approach). Pendekatan right based approach memiliki arti bahwa negara berkewajiban untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak-hak dasar masyarakat miskin secara bertahap. Hak-hak dasar yang diakui secara umum antara lain meliputi terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan, dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial politik, baik bagi perempuan maupun bagi laki-laki. Hak-hak dasar tidak berdiri sendiri tetapi saling mempengaruhi satu sama lain sehingga tidak terpenuhinya satu hak dapat mempengaruhi pemenuhan hak lainnya.
Friedman mendefinisikan kemiskinan (Usman, 2001) sebagai ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasikan basis kekuatan sosial. Basis kekuatan sosial tidak terbatas hanya pada (1) modal produktif atau aset (misalnya organisasi sosial politik yang dapat digunakan untuk mencapai kepentingan bersama, partai politik, sindikasi, koperasi, dan lain-lain); tetapi juga pada (2)net work atau jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan, barang-barang dan lain-lain; (3) pengetahuan dan keterampilan yang memadai; dan (4) informasi yang berguna untuk memajukan kehidupan mereka.
Scott menerangkan (Usman, 2001) bahwa kemiskinan setidaknya memiliki kondisi-kondisi yang pada umumnya didekati dengan (1) dari segi pendapatan dalam bentuk uang ditambah dengan keuntungan-keuntungan non material yang diterima oleh seseorang sehingga secara luas kemiskinan meliputi kekurangan atau tidak memiliki pendidikan, keadaan sehat yang buruk atau kekurangan transportasi yang dibutuhkan masyarakat; (2) kadang-kadang didefenisikan dari segi kepemilikan aset yakni tanah, rumah, peralatan, uang, emas, kredit dan lain-lain; (3) kemiskinan non materi meliputi berbagai macam kebebasan, hak untuk memperoleh pekerjaan yang layak, hak atas rumah tangga dan kehidupan yang layak.
United Nations Development Program (UNDP) mendefinisikan kemiskinan sebagai ketidakmampuan untuk memperluas pilihan-pilihan dalam
hidup, antara lain dengan memasukkan penilaian “tidak adanya partisipasi dalam
pengambilan keputusan publik” sebagai salah satu indikator kemiskinan (Chayat, 2007). Selanjutnya Chayat (2007) juga menambahkan bahwa di penghujung abad
ke 20 muncul pengertian terbaru mengenai kemiskinan yaitu bahwa kemiskinan juga mencakup dimensi kerentanan, ketidakberdayaan, dan ketidakmampuan untuk menyampaikan aspirasi (voicelessness). Jadi dikatakan sebagai kemiskinan berwajah majemuk atau bersifat multidimensi.
Definisi kemiskinan menurut Kuncoro (1997) adalah sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi standar hidup minimum. Permasalahan standar hidup yang rendah memiliki keterkaitan dengan tingkat pendidikan, kesehatan dan pelayanan kesehatan yang buruk, sehingga berakibat pada rendahnya sumber daya manusia dan tentunya akan bermuara kepada jumlah pendapatan yang sedikit. Beberapa indikator sederhana yang seringkali dipergunakan untuk mengukur tingkat standar hidup dalam suatu negara antara lain Gross National Product (GNP) per capita, pertumbuhan relatif nasional dan pendapatan per kapita, distribusi pendapatan nasional, tingkat kemiskinan, dan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Menurut Todaro (2000), kemiskinan dapat diukur dengan atau tanpa mengacu kepada garis kemiskinan (proverty line). Konsep pengukuran kemiskinan yang mengacu pada garis kemiskinan disebut kemiskinan absolut, sedangkan konsep pengukuran kemiskinan yang tidak didasarkan pada garis kemiskinan disebut kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut adalah derajat kemiskinan di bawah, dimana kebutuhan-kebutuhan minimum untuk bertahan hidup tidak dapat terpenuhi. Hal ini merupakan suatu ukuran tetap (tidak berubah)