• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Perubahan Struktur Ekonomi

Telah lama disadari bahwa dalam proses pembangunan ekonomi, struktur ekonomi akan mengalami perubahan. Djojohadikusumo (1993) mengatakan bahwa perubahan struktur ekonomi merupakan bagian dari proses pembangunan yang ditandai oleh adanya transformasi yang bersifat multidimensial dari keadaan ekonomi tertentu ke arah keadaan yang mengandung gerak kekuatan dinamika dalam perjalanan pembangunan. Berkaitan dengan hal itu, Kuznet dalam Todaro (2000) mengatakan bahwa percepatan perubahan struktur ekonomi adalah salah satu syarat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi maju (modern economic growth). Tulisan Kuznet yang lain seperti yang dikutip oleh Ghatak dan Ingersent (1984) dan Djoyohadikusumo (1993) menyebutkan bahwa perubahan struktur ekonomi dapat dilihat dari dua sisi, yaitu perubahan kontribusi relatif suatu sektor dalam pembentukan Produk Nasional Bruto (PNB) atau perubahan penyerapan tenaga kerja sektor-sektor ekonomi terhadap total penyerapan tenaga kerja nasional. Perubahan struktur total output dapat disebabkan oleh adanya perubahan teknologi produksi. Pengkajian mengenai perubahan struktur perekonomian adalah untuk mengetahui dampak dari perubahan struktur PNB terhadap pendapatan per kapita serta perubahan struktur PNB dan teknologi terhadap perubahan struktur total output.

Tabel 2.1

Cara-cara yang Digunakan untuk Menunjukkan Corak Perubahan Struktur Ekonomi dalam Proses Pembangunan

FAKTOR-FAKTOR YANG DIANALISIS

PENDEKATAN PERHITUNGAN UNTUK MENUNJUKKAN PERUBAHAN YANG TERJADI I. PROSES AKUMULASI 1. a. b. c. 2. a. b. 3. a. b. Pembentukkan Modal Tabungan Domestik Bruto

Pembentukkan Modal Domestik Bruto

Aliran masuk Modal (di luar Impor Barang dan Jasa) Pendapatan Pemerintah

Pendapatan Pemerintah Pendapatan dari Pajak Pendidikan

Pengeluaran untuk pendidikan

Tingkat Pemasukan anak-anak ke sekolah dasar dan sekolah menengah

Dengan melihat perubahan nilai-nilainya dan dinyatakan sebagai persentase dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Dengan menunjukkan perubahan persentase GDP untuk pendidikan. Dengan menunjukkan perubahan persentase anak-anak yang bersekolah di sekolah dasar dan sekolah menengah.

II. PROSES ALOKASI SUMBER DAYA 4. a. b. c. d. 5. a. b. c. d. 6. a. b. c. d.

Struktur Permintaan Domestik Pembentukan modal domestik bruto Konsumsi rumah tangga

Konsumsi pemerintah

Konsumsi atas bahan makanan Struktur Produksi

Produksi sektor primer Produksi sektor industri Produksi perusahaan utilities Produksi sektor jasa

Struktur Perdagangan Ekspor

Ekspor bahan mentah

Ekspor barang-barang industri Impor

Dengan melihat perubahan nilai-nilainya dan dinyatakan sebagai persentase dari Produk Domestik Bruto (GDP).

III. PROSES DEMOGRAFIS DAN DISTRIBUSI 7. a. b. c. 8. 9. a. b. 10. a. b.

Alokasi Tenaga Kerja Dalam sektor primer Dalam sektor industri Dalam sektor jasa Urbanisasi

Penduduk daerah urban Transisi Demografis Tingkat kelahiran Tingkat kematian Distribusi Pendapatan

Bagian dari 20 persen penduduk yang menerima pendapatan paling tinggi.

Bagian dari 40 persen penduduk yang menerima pendapatan paling rendah.

Dengan melihat perubahan jumlahnya dan dinyatakan sebagai persentase dari keseluruhan jumlah tenaga kerja. Dengan melihat perubahan jumlahnya dan dinyatakan sebagai persentase dari keseluruhan jumlah penduduk. Dengan melihat perubahan persentase Produk Nasional Bruto (GNP) yang diterima oleh masing-masing golongan pendapatan tersebut.

Perubahan atau transformasi struktural lebih tepat ditunjukkan oleh perubahan komposisi struktur produksi sektoral, jumlah, dan macam sektor yang membentuk ekonomi nasional seperti yang dikemukakan. Di samping itu, hal yang penting dalam menganalisis perubahan struktur ekonomi adalah proses atau tahap-tahap dari perubahan tersebut. Perubahan produksi sektoral dapat diakibatkan oleh perubahan permintaan, perdagangan, dan penggunaan faktor-faktor produksi. Interaksi dari faktor-faktor-faktor-faktor tersebut selanjutnya akan mempengaruhi produktivitas ekonomi.

Hollis B. Chenery yang menyelidiki pola-pola pembangunan dan melakukan pengkajian empiris tentang proses perubahan struktural di sejumlah Negara-negara Dunia Ketiga selama kurun waktu pasca Perang Dunia Kedua menyimpulkan bahwa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kelancaran proses pembangunan pada umumnya. Faktor-faktor yang dimaksud adalah jumlah dan jenis sumber daya alam yang dimiliki tiap-tiap negara, ketepatan rangkaian kebijakan dan sasaran yang ditetapkan oleh pemerintah setempat, tersedianya modal dan teknologi dari luar, serta kondisi-kondisi di lingkungan perdagangan internasional. Banyak di antara faktor-faktor tersebut berada di luar jangkauan kendali negara-negara berkembang (Todaro, 2000).

Sukirno (2011) dan Suyana (2006) menyatakan secara lengkap faktor-faktor yang dianalisis oleh Chenery dan Syrquin pada tahun 1975 menunjukkan corak sepuluh jenis perubahan dalam struktur perekonomian yang terjadi dalam proses pembangunan negara-negara berkembang. Perubahan-perubahan tersebut dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu: (1) perubahan-perubahan dalam struktur

ekonomi yang dipandang sebagai perubahan dalam proses akumulasi, (2) perubahan-perubahan dalam struktur ekonomi yang dipandang sebagai perubahan dalam proses alokasi sumber-sumber daya, dan (3) perubahan-perubahan dalam struktur ekonomi yang dipandang sebagai perubahan dalam proses demografis dan distributif. Kegiatan-kegiatan ekonomi yang termasuk sebagai proses akumulasi adalah pembentukkan modal atau investasi, penerimaan pemerintah, dan usaha menyediakan pendidikan bagi masyarakat. Yang tergolong sebagai alokasi sumber daya adalah struktur permintaan domestik, struktur produksi, dan struktur perdagangan. Dalam golongan ketiga, yaitu proses demografis dan distributif termasuk proses perubahan dalam faktor alokasi tenaga kerja dalam berbagai sektor, urbanisasi, tingkat kelahiran dan kematian, serta distribusi pendapatan.

Secara lengkap faktor-faktor yang dianalisis oleh Chenery dan Syrquin untuk menunjukkan perubahan-perubahan dalam struktur ekonomi dalam proses pembangunan, dan cara-cara yang digunakan untuk menunjukkan corak perubahan tersebut dapat dikemukakan dalam Tabel 2.1.

2.2.1 Sumber-sumber Perubahan Struktur Ekonomi

Perubahan struktur ekonomi disebabkan oleh adanya ketidakseimbangan pertumbuhan sektor-sektor ekonomi. Oleh karena itu diperlukan penelusuran mengenai faktor-faktor yang menjadi sumber pertumbuhan dan selanjutnya mempengaruhi kondisi transformasi. Tambunan (2009) mengatakan bahwa perubahan struktur ekonomi dapat disebabkan oleh adanya perubahan dari sisi permintaan dan dari sisi penawaran di samping secara langsung atau tidak

langsung dipengaruhi oleh intervensi pemerintah. Kalau digambarkan akan tampak seperti Gambar 2.3.

Gambar 2.3

Faktor-faktor yang Mengakibatkan Perubahan Struktur Ekonomi

Sumber: Tambunan, 2009

Berdasarkan Gambar 2.3 dapat dijelaskan bahwa dari sisi permintaan perubahan struktur ekonomi disebabkan oleh adanya pertumbuhan ekonomi yang selanjutnya menyebabkan meningkatnya pendapatan per kapita atau daya beli masyarakat. Di samping memperbesar permintaan barang-barang yang ada juga memperbesar pasar bagi barang-barang baru non makanan. Perubahan ini selanjutnya akan menggairahkan pertumbuhan industri-industri baru di satu pihak dan di pihak lain meningkatkan laju pertumbuhan output industri-industri atau sektor-sektor ekonomi.

Dari sisi penawaran, faktor-faktor penting yang dapat mempengaruhi perubahan struktur ekonomi di antaranya adalah pergeseran keunggulan

komparatif, perubahan/kemajuan teknologi, peningkatan pendidikan atau kualiatas sumber daya manusia (SDM), penemuan material-material baru untuk produksi, dan akumulasi modal. Hal ini menambah koleksi jenis-jenis industri yang tumbuh dan selanjutnya menyebabkan semakin besar kontribusi output industri terhadap pembentukkan PDB.

Berkaitan dengan sisi penawaran Djojohadikusumo (1993) mengatakan bahwa upaya perubahan sruktur ekonomi atau pendobrakan terhadap keadaan stagnan yang dihadapi penduduk negar-negara berkembang ketika mulai melaksanakan pembangunan pada umumnya taraf hidup diukur dengan rata-rata pendapatan per kapita jauh lebih rendah dibandingkan dengan keadaan di negara-negara maju, yaitu pada tahap awal industrialisasi pada akhir abad kedelapan belas atau awal abad kesembilan belas. Upaya pokok yang dilakukan adalah untuk meningkatkan kemampuan berproduksi supaya tersedia lebih banyak barang dan jasa dengan mutu yang memadai (artinya pendapatan riil meningkat). Hal ini berarti usaha untuk menanggulangi kekakuan penawaran (supply rigidities and supply constraints).

Dalam hal menonjolkan sisi penawaran (supply side) bukan berarti bahwa sisi permintaan tidak memegang peranan. Sisi permintaan dan pengelolaan tentang permintaan agregatif (management of aggregate demand) tetap penting untuk menjaga kestabilan dalam proses pembangunan. Upaya pendobrakan terhadap stagnasi ekonomi dan usaha mengatasi kekakuan dan kendala pada sisi penawaran dalam tata susunan ekonomi dilakukan untuk mewujudkan akumulasi mengenai sumber daya produksi. Akumulasi itu harus disertai dengan penggunaan

(alokasi) yang tepat mengenai sumber daya produksi. Proses dasar yang menyangkut segi akumulasi dan alokasi harus dilengkapi dengan pembagian hasil produksi yang lebih wajar (lebih merata) terhadap ekonomi masyarakat (Djojohadikusumo, 1993).

Dalam rangka mencapai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, perubahan struktur ekonomi memberikan interaksi yang berantai terhadap perkembangan atau pertumbuhan ekonomi. Seperti yang dikemukakan oleh Lewis (Todaro, 2000) bahwa dengan teori dualisme ekonomi dan penawaran tenaga kerja yang tidak terbatas beranggapan pembangunan ekonomi akan berlangsung apabila modal yang terakumulasi sebagai akibat dari adanya peralihan surplus tenaga kerja dari sektor subsisten ke sektor kapitalis. Dengan penawaran tenaga kerja yang tidak terbatas pada sektor pertanian, maka sifat kurva penawarannya adalah elastis. Pada kondisi demikian, tenaga kerja dapat ditarik tanpa batas berdasarkan upah yang berlaku dari sektor pertanian yang subsisten. Sektor pertanian yang ditinggalkan tidak akan kehilangan produktivitasnya, sedangkan sektor industri yang menampung kelebihan tenaga kerja dari sektor pertanian akan terus dapat meningkatkan outputnya. Hal ini dimungkinkan dengan meningkatnya investasi dan akumulasi modal di sektor modern. Pada awalnya memang terjadi hambatan dalam penarikan tenaga kerja dari sektor pertanian ke industri, tetapi hal itu bersifat hambatan semu. Hal ini dapat segera ditanggulangi dengan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan.

Studi empiris yang dilakukan oleh Chenery dan Clark menganalisis proses industrialisasi di Jepang tahun 1914-1954 dengan menggunakan analisis

input-output menyimpulkan bahwa pada periode tersebut perekonomian Jepang telah mengalami transformasi dari ekonomi negara terbelakang menjadi ekonomi negara maju. Simpulan penting lainnya dari studi tersebut menunjukkan bahwa hampir 25 persen dari peningkatan kemampuan sekotr-sektor produksi dalam perekonomian disebabkan oleh peningkatan ekspor dan perubahan permintaan domestik. Sementara itu tiga perempat sisanya ternyata dipengaruhi oleh perubahan supply, termasuk peningkatan aktivitas manufaktur domestik untuk substitusi impor dan memproduksi produk-produk primer.

2.2.2 Hubungan Perubahan Struktur Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi Pembangunan ekonomi dalam periode jangka panjang mengikuti pertumbuhan pendapatan per kapita, akan membawa suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonomi, dari ekonomi tradisional dengan pertanian sebagai sektor kunci ke ekonomi modern yang didominasi oleh sektor-sektor non primer, khususnya industri pengolahan dengan skala hasil yang meningkat (relasi positif antara pertumbuhan output dan pertumbuhan produktivitas), perdagangan dan jasa sebagai motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi. Ada kecenderungan bahwa semakin cepat proses peningkatan per kapita, semakin cepat perubahan struktur ekonomi, dengan asumsi ketersediaan tenaga kerja, bahan baku, dan teknologi. Pola dari perubahan struktur ekonomi seperti ini memang merupakan suatu evolusi alamiah seiring dengan proses pembangunan dan industrialisasi (Tambunan, 2009).

Menurut Chenery (Suyana Utama, 2006) pertumbuhan ekonomi telah mengakibatkan perubahan struktur ekonomi. Transformasi struktural sendiri

merupakan proses perubahan struktur perekonomian dari sektor pertanian ke sektor industri, perdagangan dan jasa, dimana masing-masing perekonomian akan mengalami transformasi yang berbeda-beda. Pada umumnya transformasi yang terjadi di negara sedang berkembang adalah transformasi dari sektor pertanian ke sektor industri. Perubahan struktur dan transformasi ekonomi dari tradisional menjadi modern secara umum dapat didefenisikan sebagai suatu perubahan dalam ekonomi yang berkaitan dengan komposisi penyerapan tenaga kerja, produksi, perdagangan, dan faktor-faktor lainnya yang diperlukan secara terus menerus untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan sosial melalui peningkatan pendapatan per kapita.

Dokumen terkait