BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
E. Konsep Pemberdayaan Masyarakat
Sebagaimana disampaikan dimuka bahwa proses belajar dalam rangka
pemberdayaan akan berlangsung secara bertahap. Tahap-tahap yang harus dilalui tersebut adalah meliputi:
1. Tahap penyadaran dan pembentukan perilaku menuju perilaku sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan peningkatan kapasitas diri.
2. Tahap transformasi kemampuan berupa wawasan pengetahuan, kecakapan keterampilan agar terbuka wawasan dan memberikan keterampilan dasar sehingga dapat mengambil peran di dalam pembangunan.
3. Tahap peningkatan intelektual, kecakapan keterampilan sehingga terbentuklah inisiatif dan kemampuan inovatif untuk menghantarkan pada kemandirian.
E. Konsep Pemberdayaan Masyarakat
Friedman (1994:76) mengemukakan bahwa pendekatan pemberdayaan pada intinya memberikan tekanan pada otonomi pengembilan keputusan dan dari suatu kelompok masyarakat yang berlandaskan pada sumber yang pribadi, langsung melalui partisipasi demokratis dan pembelajaran sosial melalui pengalaman langsung.
Friedman dalam hal ini menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak hanya sebatas ekonomi saja, tetapi juga secara politis sehingga pada akhirnya masyarakat akan memiliki posisi tawar menawar (berganing position) baik secara nasional maupun secara internasional
F. Strategi Pemberdayaan Masyarakat
Anwas (2013:87-88). Dalam pemberdayaan masyarakat ditujukan untuk mengubah prilaku masyarakat agar mampu berdaya sehingga ia dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraannya. Namun keberhasilan pemberdayaan tidak sekedar menekan pada hasil, tapi juga pada prosesnya melalaui tingkat partisipasi yang tinggi, yang berbasis pada kebutuhan dan potensi masyarakat. Untuk meraih keberhasilan itu, agen pemberdayaan dapat melakukan pendekatan (buttom-up), dengan cara menggali potensi masalah dan kebutuhan masyarakat.
1. Pendididkan dan Pelatihan
Dalam rangka menyukseskan pembangunan peternakan Dinas Peternakan melalui kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Balai Pelatihan Peternakan yang merupakan salah satu unit pelaksana teknis Dinas Peternakan, membangun dunia peternakan yang berkesinambungan. Balai Pelatihan Peternakan berusaha meningkatkan sumber daya manusia baik secara kualitas maupun kuantitasnya.
sumber daya manusia dapat dilihat dari dua aspek, yaitu : kuantitas dan kualitas.
Kuantitas adalah Sumber daya Manusia. Kuantitas sumber daya manusia tanpa disertai dengan kualitas yang akan menjadi beban bagi pembangunan suatu bangsa.
sedangkan kualitas Sumber Daya Manusia adalah mutu Sumber Daya Manusia yang menyangkut kemampuan, baik kemampuan fisik, maupun non fisik. Untuk kepentingan akselarasi suatu pembangunan di bidang apapun, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia merupakan salah satu syarat utama. Oleh sebab itu untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan. (Abdurrahman, 2010)
2. Penyuluhan dan Pendampingan
Penyuluhan sebagai proses bimbingan dan pendidikan nonformal bagi peternak memiliki peran yang sangat penting dalam mencapai tujuan pembangunan di sub sektor peternakan. Penyuluhan berperan untuk menyampaikan informasi terbaru tentang inovasi di bidang peternakan. Penyuluh berkewajiban untuk membantu peternak yang mengalami masalah di lapangan, membimbing peternak dan sebagai sumber informasi bagi peternak. Kinerja PPL sangat penting dalam membantu peternak menyelesaikan masalah-masalah yang ada pada peternak tersebut. Semakin baik kinerja PPL dalam menjalankan tugasnya maka akan semakin baik pula hasil yang diperoleh oleh peternak. Untuk memperoleh kinerja yang baik PPL harus didukung oleh beberapa faktor. Untuk meningkatkan kinerja PPL dalam melakukan penyuluhan di antaranya adalah motivasi, penghargaan dari pemerintah, fasilitas yang diberikan kepada PPL dan juga pelatihan yang dilakukan oleh PPL tersebut. (Abdurrahman, 2010)
3. Pengembangan Sistem Sarana dan Pemasaran Hasil Peternakan
Untuk mewujudkan Pasar Hasil Peternakan dan memenuhi standar keamanan pangan meningkatkan produksi dan produktifitas ternak serta terpenuhinya konsumsi pangan asal ternak, bahan baku industri dan ekspor.
(Abdurrahman, 2010)
Dalam melaksanakan pemberdayaan perlu di lakukan melalui berbagai pendekatan. Menurut Suharto (2005:53), penerapan pendekatan pemberdayaan dapat di lakukan melalui 5 pendekatan yaitu:
1. Pemukiman: menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang secara optimal. Pemberdayaan harus mampu
membebaskan masyarakat dari sekarat-sekarat kultural dan stukturak yang
menghambat.
2. Penguatan: memperkuat pengetahuan dan kemampuan yang di miliki masyarakat dalam memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
3. Perlindungan: masyarakat terutama kelompok-kelompok lemah agar tidak tertindas oleh kelompok kuat, manghindari terjadinya persaingan yang tidak seimbang (apalagi tidak sehat) antara yang kuat dan lemah, dan mencegah terjadinya eksploitasi kelompok kuat terhadap kelompok lemah.
4. Penyokongan: memberikan bimbingan dan dukungan agar masyarakat mampu menjalankan perannya dan tugas-tugas kehidupannya.
5. Pemeliharaan: memelihara kondusi yang kundusif agar tetap terjadi keseimbangan distribusi kekuasaan antara berbagai kelompok dalam masyarakat.
G. Peternak Sapi Potong
Peternakan sapi potong merupakan salah satu usaha yang dilakukan para petani peternak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan sebagai tambahan pendapatan bagi para peternak dan juga untuk mmenuhi kebutuhan gizi msyarakat.
Peternakan sapi potong mayoritas masih dengan pola tradisional dan skala usaha sambilan. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi jika dilakukan secara besar dan modern, dengan skala usaha kecilpun akan mendapatkan keuntungan yang baik jika dilakukan dengan prinsip budidaya moderen.
Pada sapi potong perlu dilakukan pemberian tanda , vaksinasi, dan palpasi
rectal agar dapat mengetahui jenis sapi tersebut dan dapat mendeteki apakah sapi tersebut bunting atau tidak. Untuk mengetahui bagaimana cara dalam pemberian tanda, vaksinasi, palpasi rektal dan pemagaran pada lahan ternak sapi potong maka hal inilah yang melatar belakangi dilakukannya praktek manajemen ternak sapi potong. (Anonim, 2010)
H. Pemberdayaan Peternak Sapi Potong.
Pemberdayaan merupakan suatu kekuatan dalam diri manusia dan merupakan suatu sumber kreativitas yang ada dalam diri setiap orang secara luas tidak ditentukan oleh orang lain. Menurut Hikmat (2001), bahwa pemberdayaan peternak merupakan sebuah metode pemberdayaan masyarakat yang memungkinkan orang atau masyarakat dapat meningkatkan kualitas hidupnya serta mampu memperbesar pengaruhnya terhadap proses-proses yang mempengaruhi kehidupannya atau suatu usaha dalam membantu orang biasa untuk meningkatkan lingkungannya dengan melakukan aksi kolektif dalam bidang ekonomi, penguatan social atau pengembangan sektor non profit.
I. Tujuan Pemeberdayaan Peternak Sapi Potong
Tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berfikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut. Kemandirian masyarakat adalah merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai oleh kemampuan untuk memikirkan, memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan
masalah yang dihadapi dengan mempergunakan daya kemampuan yang terdiri atas
kemampuan kognitif, psikomotorik, afektif, dengan mengerahkan sumberdaya yang di miliki oleh lingkungan internal masyarakat tersebut.
Terjadinya keberdayaan pada tiga aspek tersebut (afektif, kognitif dan psikomotorik) akan dapat memberikan kontribusi pada terciptanya kemandirian masyarakat yang dicita-citakan, dalam masyarakat akan terjadi kecukupan wawasan, yang dilengkapi dengan kecakapan, keterampilan yang memadai, diperkuat oleh rasa memerlukan pembangunan dan perilaku sadar akan kebutuhan tersebut. (Sulistiyani, 2004:80).
J. Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat.
Kekurang tepatan pemilihan strategi pembangunan terhadap Negara dan masyarakatnya telah menghasilkan paradoksi dan tragedi pembangunan seperti yang terjadi pada Negara sedang berkembang sebagai berikut :
1. Pembangunan tidak menghasilkan kemajuan, melainkan justru semakin menurun meningkatkan keterbelakangan (the development of underdevelopment).
2. Melahirkan ketergantungan (dependency) Negara sedang berkembang terhadap Negara maju.
3. Melahirkan ketergantungan (dependency) pheriphery terhadap center.
4. Melahirkan ketergantungan (dependency) masyarakat terhadap Negara/pemerintah.
5. Melahirkan ketergantungan (dependency) masyarakat kecil (buruh, usaha kecil, tani, nelayan, dan lain-lain) terhadap pemilik modal.
Pada pokoknya, pendekatan konvensional ini ditandai oleh transplantatif
planning, top down, inductive, capital intensive, west-biased technological transfer, dan sejenisnya. Beberapa paradigma pendekatan pembangunan mulai mengalami pergeseran dari yang konvensional menuju pembangunan alternatif, yaitu :
1. Pembangunan wilayah (regional development)
2. Pembangunan berwawasan lingkungan (environmental development).
3. Pembangunan berbasis komunitas (community-based development).
4. Pembangunan berpusat pada Rakyat (people-centered development).
5. Pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
6. Pembangunan berbasis kelembagaan (institution-based development)
Ciri mencolok yang membedakan pendekatan alternatif ini adalah penekanannya terhadap lokalitas, baik dalam pengertian kelembagaan, komunitas, lingkungan, maupun kultur. Implikasi kebijakan pendekatan ini adalah penekanan pada transformative and transactive planning, bottom up, community empowerment, dan participative, semuanya ini terkenal dengan pembangunan komunitas (community development) Strategi pembangunan yang bertumpu pada pemihakan dan pemberdayaan dipahami sebagai suatu proses transformasi dalam hubungan sosial, ekonomi, budaya, dan politik masyarakat. Perubahan struktural yang diharapkan adalah proses yang berlangsung secara alamiah, yaitu yang menghasilkan harus menikmati. Begitupula sebaliknya, yang menikmati haruslah yang menghasilkan.
Pemberdayaan masyarakat dapat dipandang sebagai jembatan bagi konsep-konsep pembangunan makro dan mikro. Dalam kerangka pemikiran itu berbagai
input seperti dana, prasarana dan sarana yang dialokasikan kepada masyarakat
melalui berbagai program pembangunan harus ditempatkan sebagai rangsangan untuk memacu percepatan kegiatan sosial ekonomi masyarakat. Proses ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat (capacity building) melalui pemupukan modal yang bersumber dari surplus yang dihasilkan dan pada gilirannya dapat menciptakan pendapatan yang dinikmati oleh masyarakat. Dengan demikian, proses transformasi itu harus digerakkan oleh masyarakat sendiri.
Pendekatan utama dalam konsep pemberdayaan adalah bahwa masyarakat tidak dijadikan objek dari berbagai proyek pembangunan, tetapi merupakan subjek dari upaya pembangunannya sendiri. Berdasarkan konsep demikian, maka pemberdayaan masyarakat harus mengikuti pendekatan sebagai berikut; pertama, upaya itu harus terarah. Ini yang secara populer disebut pemihakan. Upaya ini ditujukan langsung kepada yang memerlukan, dengan program yang dirancang untuk mengatasi masalahnya dan sesuai kebutuhannya. Kedua, Program ini harus langsung mengikut sertakan atau bahkan dilaksanakan oleh masyarakat yang menjadi sasaran.
mengikut sertakan masyarakat yang akan dibantu mempunyai beberapa tujuan, yakni agar bantuan tersebut efektif karena sesuai dengan kehendak dan mengenali kemampuan serta kebutuhan mereka. Selain itu, sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dengan pengalaman dalam merancang, melaksanakan, mengelola, dan mempertanggungjawabkan upaya peningkatan diri dan ekonominya. Ketiga, menggunakan pendekatan kelompok, karena secara sendiri-sendiri masyarakat miskin sulit dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Juga lingkup bantuan menjadi terlalu luas jika penanganannya dilakukan secara individu.
Pendekatan kelompok ini paling efektif dan dilihat dari penggunaan sumber daya
juga lebih efisien.
Implementasi program pembangunan yang menerapkan strategi pemberdayaan masyarakat tersebut merupakan suatu konsekuensi dari pergeseran paradigma pembangunan nasional yang mengarah pada tercapainya upaya pembangunan yang berpusat pada manusia (people centered depelopment).
K. Kerangka Pikir
Konteks ketahanan pangan, peternak adalah salah satu komponen penting yang harus diperhatikan dan diberdayakan agar dapat diperoleh hasil yang maksimal.
Upaya pemberdayaan peternak yang mulai terlihat dari paradigma baru program ketahanan pangan, tentunya bukanlah merupakan hal yang mudah untuk dilakukan, akan tetapi merupakan suatu hal yang sudah selayaknya dilakukan agar program ketahanan pangan dapat berjalan dengan baik, sehingga kesejahteraan masyarakat peternak khususnya dapat semakin meningkat.
Sektor peternak, peternak sangat layak untuk dijadikan sebagai sektor andalan ekonomi nasional, dan termasuk sebagai sektor yang berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat peternak. Namun yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah kondisi sumberdaya sektor peternak saat ini mampu menangkap peluang tersebut. Seperti diketahui sampai saat ini sektor peternakan masih menghadapi beberapa kendala dalam memanfaatkan secara optimal sumber daya peternakan sendiri seperti lemahnya sumber daya manusia, kelembagaan dan sebagainya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka strategi ke depan minimal dapat dilakukan meningkatkan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia masyarakat
peternakan, dan pengembangan kelembagaan peternak dengan mengoptimalkan
peran pemerintah dalam proses pemberdayaannya Seperti dengan adanya peran pemerintah dalam bidang Pendidikan dan pelatihan, penyuluhan dan pendampingan, pengembangan sistem sarana hasil peternakan, Kemudahan akses ilmu pengetahuan, Teknologi dan Informasi, pengendalian penyakit.
Bagan Kerangka Pikir
L. Deskripsi Fokus
Peran Pemerintah Daerah
a. Pendidikan dan pelatihan yaitu, meningkatkan keahlian dan keterampilan peternak.
b. Penyuluhan dan pendampingan yaitu agar peternak dapat melakukan tata cara budidaya, pengelolahan, dan pemasaran yang baik, kemudian menganalisis kelayakan usaha dan kemitraan dengan pelaku usaha.
Peran Pemerintah Daerah Dalam Pemberdayaan Masyarakat Peternak Sapi Potong
Pendidikan dan
Pelatihan Penyuluhan dan
Pendampingan
Pengembangan Sistem dan Sarana Pemasaran Hasil
peternakan
Peternak Sapi
Kesejahteraan Peternak
c. Pengembangan sistem dan sarana pemasaran hasil peternakan
yang dapat mewujudkan pasar hasil peternakan yang memenuhi standar keamanan pangan, senantiasa memperhatikan ketertiban umum, mewujudkan terminal agribisnis dan subterminal agribisnis untuk pemasaran hasil peternakan, kemudian mewujudkan pasilitas pendukung pasar hasil peternakan itu.
d. Kesejahteraan peternak merupakan keberhasilan seorang peternak dalam mengembangkan hasil usaha peternak, baik di bidang pangan, dan peternakan
BAB III
METODE PENELITIAN A. Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi di Kabupaten Enrekang dan Penelitian dilaksanakan, di Desa Janggurara Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang. Alasan peneliti memilih lokasi ini karenakan peneliti ingin mengetahui Bagaimana Peran Pemerintah Daerah khususnya Dinas Peternakan dalam melakukan Pemberdayaan Masyarakat Peternak Sapi Potong. Dan alasan peneliti memilih lokasi di Desa Janggurara, Kecamatan Baraka, Kabupaten Enrekang karena salah satu mata pencaharian masyarakat Desa Janggurara adalah dibidang Peternakan itulah alasannya kenapa peneliti mengambil lokasi di Desa Janggurara.
B. Jenis Dan Tipe Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deksriptif kualitatif. Hal ini dikarenakan penelitian ini berupaya untuk memahami bagaimana Peran Pemerintah Daerah dalam Pemberdayaan Masyarakat Peternak Sapi Potong di Desa Janggurara Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang
Tipe penelitian ini adalah survei yaitu turun langsung kelokasi penelitian hal ini dimaksudkan untuk mengumpulkan data dan informasi di lapangan sesuai dengan kenyataan yang ada
C. Sumber Data
Sumber data yang mendukung penelitian ini berasal dari pemerintah Kabupaten Enrekang itu sendiri terkhususnya pada instansi pemerintah yang terkait selain itu, untuk lebih melengkapi penelitian atau pendukung penuh adalah masyarakat peternak sapi yang ada di Desa Janggurara.
Adapun yang menjadi sumber data penelitian ini adalah :
1. Sumber data primer adalah kata-kata dan tindakan orang yang diamatin atau diwawancarai. Sumber data primer memperoleh penelitian melalui pengamatan atau observasi secara langsung yang didukung oleh wawancara terhadap informan yang terkait. Pencacatan sumber data primer melalui pengamatan atau observasi dan wawancara merupakan hasil usaha gabungan dari kegiatan melihat, mendengar, dan bertanya yang dilakukan secara sadar, terarah, dan bertujuan memperoleh informasi akurat yang diperlukan.
2. Sumber data sekunder adalah sumber data utama yang memerlukan data-data tambahan seperti dokumen dan lain-lain sebagai sumber data-data sekunder.
Jadi, data sekunder digunakan untuk mendukung data primer dalam penelitian ini diperoleh melalui buku-buku, arsip atau dokumen, dan sumber data sekunder lain yang relevan dengan penelitian ini.
D. Informan Penelitian
Informan dalam penelitian ini adalah : 1. Kalangan aparat desa dan masyarakat
Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini meliputi
a. Kepala Desa Janggurara = 1 orang
b. Sekretaris Desa = 1 orang
c. Masyarakat Peternak Sapi Potong = 3 orang 2. Pemerintah Daerah :
a. Staf Dinas Peternakan Kabupaten Enrekang = 1 0rang b. Koordinator Penyuluh Peternakan Kabupaten Enrekang = 1 orang
c. Penyuluh Peternakan Kecamatan Baraka = 1 orang
d. Kecamatan/ Sekretaris Camat Baraka = 1 orang Jadi Jumlah Seluruh Informan 5 + 4 = 9 Orang Informan
E. Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan:
1. Metode Wawancara dengan melakukan komunikasi secara langsung untuk mendapatkan informasi secara mendalam dengan mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan pada informan dengan melakukan interview yang telah di rumuskan peneliti.
2. Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data berdasarkan data-data dan laporan tertulis yang tersimpan sebagai arsip yang berkaitan dengan penelitian ini dengan kenyataan yang terjadi.
3. Observasi adalah pengamatan dan pencatatan sistematik tentang gejala-gejala yang diamati. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara observasi langsung (direct observation) dan sebagai peneliti yang menempatkan diri, sebagai pengamat (recognized outsider) sehingga interaksi peneliti dengan subjek penelitian bersifat terbatas. Dengan melakukan observasi, peneliti mencatat apa saja yang dilihat dan mengganti dari dokumen tertulis untuk memberikan gambaran secara utuh tentang objek yang akan di teliti.
F. Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data dalam penelitian ini penulis menggunakan metode data kualitatif, yang tanpa menggunakan alat bantu rumus statistik, penelitian ini bersifat deskriptif dengan tujuan memberikan gambaran mengenai situasi atau kejadian yang terjadi.
G. Pengabsahan Data
Teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Teknik seperti itu juga menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama
1. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek pada sumber lain keabsahan data yang telah diperoleh sebelumnya.
2. Triangulasi metode bermakna data yang diperoleh dari satu sumber dengan menggunakan metode atau teknik tertentu, diuji ketidak akuratan atau keakuratan data yang didapat.
3. Triangulasi waktu yaitu berkenaan dengan waktu pengambilan data.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian
Sebelum memulai pembahasan hasil penelitian mengenai Peran Pemerintah Daerah dalam Pemberdayaan Masyarakat Peternak Sapi Potong di Desa Janggurara Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang, penulis akan memaparkan profil lokasi penelitian yaitu :
1. Batas - Batas Desa Janggurara Kec.Baraka Kabupaten Enrekang. Munurut monografi Desa Janggurara Kec. Baraka memiliki batas-batas sesuai daftar tabel yang telah disajikan.
Tabel 1
Batas - Batas Desa Kabupaten Enrekang
Sumber data: Kantor Desa Janggurara, 2015.
Seperti yang digambarkan pada tabel diatas bahwa dibagian Utara berbatasan dengan Desa Parinding dan disebelah Barat berbatasan dengan Desa Banti dibagian Timur Desa Eran Batu dan dibagian Selatan Desa Kadinge.
a. Luas Desa Janggurara
Secara geografis, Desa Janggurara memiliki luas wilayah seluas 11,7 Km2 (11,7 Ha) dan 4 (empat) Dusun.
No Batas Desa/Kelurahan
1 Utara Desa Parinding
2 Barat Desa Banti
3 Timur Desa Eran Batu
4 Selatan Desa Kadingeh
b. Jumlah Penduduk Desa Janggurara
Jumlah penduduk yang ada di Desa Janggurara Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang yang tercantum dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 2
Jumlah Penduduk Di Desa Janggurara Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang
Penduduk Desa Janggurara Kabupaten Enrekang tahun 2015 berjumlah 1.340 jiwa yang terbagi menjadi 4 (empat) Dusun. Yang pertama adalah Dusun Pangbarani 1 yang memiliki jumlah penduduk 340 jiwa kemudian dusun Pangbarani 2 memiliki jumlah penduduk 353 jiwa kemudian Dusun Pangbarani 3 memiliki jumlah penduduk 317 jiwa, kemudian dusun Pangbarani 4 memiliki jumlah penduduk 357 jiwa.
c. Tingkat pendidikan Desa Janggurara
Tabel 3
Tingkat pendidikan Masyarakat Desa Janggurara sebagai berikut :
Pra Sekolah SD SMP SLTA Sarjana
53 96 637 500 72
Sumber data : Kantor Desa Janggurara 1.358
d. Potensi Sumber Daya Alam
Sumber daya alam Desa Janggurara Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang yang mendominasi adalah bawang merah yang bisa dikelolah masyarakat seluas 150 ha/m².
e. Mata Pencaharian
Desa Janggurara sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai Petani rinciannya sebagai berikut :
Jumlah kepemilikikan ternak oleh penduduk Desa Janggurara adalah sebagai berikut:
Tabel 5
Populasi Peternakan
Ayam Kambing Sapi Kerbau Bebek Lain-lain 340 49 360 2 50 - Sumber Data : Kantor Desa Janggurara 2015
Tabel 6
Ketersediaan Hijauan Pakan Ternak Luas Tanaman Pakan Terak (rumput gajah,dll) 25 Ha Produksi hijauan makanan ternak 3 Ton/Ha
Luas lahan gembalan 7 Ha
Sumber Data : Kantor Desa Janggurara 2015
b. Perkebuna
Tabel 10
Hasil Produksi Perkebunan Di Kabupaten Enrekang
Sumber data : Desa Janggurara 2015
B. Peran Pemerintah Daerah Dalam Pemberdayaan Masyarakat Peternak Sapi Potong Di Desa Janggurara Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang
Provinsi Sulawesi Selatan menjadi salah satu provinsi yang menjadi perhatian dalam produksi ternak karena berpotensi melihat kondisi lahan yang cocok untuk peternakan. Di wilayah Kecamatan Baraka Kabupaten Enrekang menjadi salah satu daerah sektor penghasil ternak yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan.
dimana Kecamatan Baraka memiliki Luas 15.915 H.
Saat ini pemerintah Kabupaten Enrekang sudah melakukan upaya untuk pencapaian produksi peternakan dibeberapa wilayahnya seperti di Kecamatan Baraka Desa Janggurara. Pemerintah Daerah melakukan pemberdayaan melalui Dinas Peternakan dan Pertanian melakukan pengadaan bantuan kepada peternak sapi baik berupa sarana dan prasarana seperti Sarana produksi.
Sarana Produksi (Saprodi) adalah input yang dibutuhkan dalam peternakan untuk mencapai tingkat produktivitas yang diinginkan yang terdiri dari sarana untuk memulai beternak, perawatan sampai penjualan, yakni:
a) Saprodi untuk memulai beternak adalah bibit unggul dan kesehatan.
b) Saprodi untuk perawatan atau pemeliharaan berupa pakan dan kesehatan.
c) Saprodi untuk pemeliharaan dan kesehatan.
Unit Pengolah hasil (UPH), pemerintah Provinsi dan pemerintah Daerah.
Stakeholder yang paling berperan dalam rantai Saprodi adalah pedagang saprodi baik eceran maupun grosir dan UPH. Kedua Stakeholder ini yang berinteraksi langsung dengan peternak dalam penyediaan sarana produksi seperti perawatan, perkembangan, kesehatan. Sedangkan pemerintah provinsi maupun pemerintah Daerah berperan menyediakan bantuan kesehatan ternak dengan cara memberikan vaksinasi dan mengajarkan kepada peternak tentang cara menyuntikan insominasi buatan. Permasalahan yang terjadi pada rantai saprodi adalah masih banyaknya peternak yang tidak mengetahui cara menjaga kesehatan ternak dan suntikan insominasi buatan. Sistem tersebut disebabkan oleh ketidak mampuan peternak secara pengetahuan dalam memenuhi kebutuhan perawatan ternaknya. Dengan sistem ini, pada saat terjadi penyakit ternak, belum mempunyai pengetahuan tentang penjagaan kesehatan ternak maka ternak biasa mengalami kematian tanpa sebab yang di ketahaui.
Dalam rantai nilai budaya, posisi sentral adalah kegiatan-kegiatan onfarm antara lain perawatan sapi seperti perawatan sampai kepada penjualan. Stakeholder lain di dalam rantai budidaya ini adalah Pemerintah Daerah (PEMDA), tenaga pendamping dan juga peternak. Maka dari itu ada beberapa peran pemerintah dalam
Dalam rantai nilai budaya, posisi sentral adalah kegiatan-kegiatan onfarm antara lain perawatan sapi seperti perawatan sampai kepada penjualan. Stakeholder lain di dalam rantai budidaya ini adalah Pemerintah Daerah (PEMDA), tenaga pendamping dan juga peternak. Maka dari itu ada beberapa peran pemerintah dalam