BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
D. Konsep peranan perempuan
Pada umumnya masyarakat di Indonesia, pembagian kerja antara lelaki dan perempuan menggambarkan peran perempuan. Basis awal dari pembagian kerja menurut jenis kelamin ini tidak diragukan lagi terkait dengan kebedaan peran lelaki dan perempuan dalam fungsi reproduksi. Dalam masyarakat mempresentasikan peran yang ditampilkan oleh seorang perempuan. Analisis peran perempuan dapat dilakukan dari perspektif posisi mereka dalam berurusan dengan pekerjaan produktif tidak langsung (domestik) dan pekerjaan produktif langsung (publik), yaitu sebagai berikut;
1. Peran Tradisi menempatkan perempuan dalam fungsi reproduksi (mengurus rumahtangga, melahirkan dan mengasuh anak, serta mengayomi suami).
Hidupnya 100% untuk keluarga. Pembagian kerja sangat jelas, yaitu perempuan di rumah dan lelaki di luar rumah.
2. Peran transisi mempolakan peran tradisi lebih utama dari peran yang lain.
Pembagian tugas mengikuti aspirasi gender, tetapi eksistensi mempertahankan keharmonisan dan urusan rumahtangga tetap tanggungjawab perempuan.
3. Dwiperan memposisikan perempuan dalam kehidupan dua dunia, yaitu menempatkan peran domestik dan publik dalam posisi sama penting.
Dukungan moral suami pemicu ketegaran atau sebaliknya keengganan suami
akan memicu keresahan atau bahkan menimbulkan konflik terbuka atau terpendam.
4. Peran egalitarian menyita waktu dan perhatian perempuan untuk kegiatan di luar. Dukungan moral dan tingkat kepedulian lelaki sangat hakiki untuk menghindari konflik kepentingan pemilahan dan pendistribusian peranan. Jika tidak, yang terjadi adalah masing-masing akan saling berargumentasi untuk mencari pembenaran atau menumbuhkan ketidaknyamanan suasana kehidupan berkeluarga.
5. Peran kontemporer adalah dampak pilihan perempuan untuk mandiri dalam kesendirian. Jumlahnya belum banyak. Akan tetapi benturan demi benturan dari dominasi lelaki atas perempuan yang belum terlalu peduli pada kepentingan perempuan mungkin akan meningkatkan populasinya (Aida Vitalaya, 2010 :145).
Menurut Soerjono Soekanto( 2002), Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakn hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka hal ini berarti ia menjalankan suatu peranan. Keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan dan saling bertentangan satu sama lain. Setiap orang mempunyai macam- macam peranan yang berasal dari pola- pola pergaulan hidupnya. Hal tersebut sekaligus berarti bahwa peranan menentukan apa yang diperbuatnya bagi masyarakat kepadanya.
Peranan lebih banyak menekankan pada fungsi penyesuaian diri dan sebagai suatu proses.
Peranan merupakan hal yang sangat penting bagiseseorang,karena dengan
peranan yang dimilikinya ia akan dapat mengatur perilaku dirinya dan orang lain. Seseorang dapat memainkan beberapa peranan sekaligus pada saat yang sama, seperti seorang perempuan dapat mempunyai peranan sebagai isteri, ibu, karyawan kantor sekaligus.
Menurut Soerjono Soekanto (2002), unsur- unsur peranan adalah : a. Aspek dinamis dari kedudukan
b. Perangkat hak-hak dan kewajiban
c. Perilaku sosial dari pemegang kedudukan d. Bagian dari aktivitas yang dimainkan seseorang
Menurut Soleman B.Taneko (1994) peranan dapat dikatakan sebagai suatu bagian dari satu status yang terdiri dari sekumpulan norma-norma sosial.
Norma- norma tersebut terintegrasi dan membentuk suatu peranan.
Menurut Soerjono Soekanto (2002), hubungan-hubungan sosial yang ada dalam masyarakat, merupakan hubungan antara peranan-peranan individu dalam masyarakat. Sementara peranan itu sendiri diatur oleh norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Jadi seseorang menduduki suatu posisi dalam masyarakat serta menjalankan suatu peranan. Peranan mencakup tiga hal yaitu :
a. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat sesorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan- peraturan.
b. Membimbing seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu
dalam masyarakat sebagai organisasi.
c. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat.
Maka dapat disimpulkan bahwa peranan adalah kedudukan seseorang untuk mengatur perilaku dirinya untuk mencaapai status tertentu.
Berdasarkan uraian sebelumnya mengenai “peranan” dan “perempuan” maka yang dimaksud dengan “peranan perempuan” dalam penelitian ini adalah
“manusia yang bersikap halus melakukan serangkaian perilaku yang menduduki posisi tertentu baik dalam organisasi maupun dalam kelompok”.
Al-Qur’an memposisikan perempuan pada posisi yang terhormat, melindungi hak-haknya, ,menjelaskan peran dan kewajibannya, sekaligus memuliakan kedudukannya. Hal ini menunjukkan bahwa islam telah memberikan posisi yang mulia bagi perempuan. Kedudukan yang diberikan islam kepada perempuan itu merupakan kedudukan yang tidak pernah diperoleh pada syariat agama samawi dahulu dan tidak pula ditemukan dalam masyarakat manusia manapun.
Adapun peran pemimpin perempuan menurut Gibson (2003:299) yaitu sebagai berikut:
a. Pemimpin Sebagai Fasilitator
Seorang pemimpin harus dapat mendorong dan menumbuhkan kesadaran para kelompok di suatu organisasi yang dipimpinnya supaya kesadaran para kelompok di suatu organisasi yang dipimpinnya supaya melakukan perubahan yang diharapkan untuk meningkatkan perkembangan suatu organisasinya.
Pemimpin harus dapat memberikan berbagai kemudahan bagi para kelompoknya dengan cara Mengorganisasikan kegiatan para kelompok untuk memudahkan organisasi mencapai tujuannya Serta Membuat keputusan yang mengacu kepada penyusunan skala prioritas tugas-tugas yang hendak dikerjakan oleh organisasi dan para kelompoknya.
Adapun fasilitas yang yang digunakan oleh para pegawai yaitu:
No Fasilitas jumlah
1 Komputer 51
2 Meja kantor 67
3 Parkir 2
4 Bangunan kantor 1
5 Transportasi 2
b. Pemimpin sebagai artikulator
Seorang pemimpin harus mampu menampung dan menjelaskan kembali kepada pegawai/staffnya dalam membangun komunikasi dengan para pegawa/staff, sebagai perempuan mampu menjadi pendengar yang baik bagi orang-orang disekitarnya, seperti mampu menampung dan menyerap setiap aspirasi-aspirasi yang diberikan kepadanya serta mampu memberikan feedback atas masukan yang ada.
c. Pemimpin sebagai motivator
Peran pemimpin sebagai motivator adalah motivasi yang diberikan oleh seorang pemimpin sangatlah penting untuk menjalin hubungan baik dengan
karyawan dalam sebuah organisasi.
Dalam prinsip Ing Madyo Mangun Karso, Para pemimpin terbaik adalah mereka yang memotivasi. Memotivasi memberikan keuntungan bagi semua orang. Siapa yang tidak akan termotivasi dan merasa lebih aman ketika pemimpinnya percaya pada mereka, mendorong mereka, berbagi dengan mereka, dan memercayai mereka. Orang-orang menjadi lebih produktif ketika dimotivasi. Bahkan yang lebih penting, motivasi akan memberikan dorongan, menciptakan dasar emosional dan profesional didalam diri para pegawai.
Pada dasarnya setiap orang memiliki kemampuan untuk memotivasi diri sendiri (intrinsic motivation), sehingga ada atau tidak ada stimuli tetap saja akan termotivasi. Hanya saja, kadar motivasi dari diri sendiri sering tidak stabil kehadirannya. Untuk itulah maka motivasi dari luar dirinya (extrinsic motivation) tetap diperlukan. Disinilah seorang pemimpin dapat mengambil peran. Kehadirannya membuat orang tergerak untuk bertindak.
Setelah memotivasi, seorang pemimpin juga perlu memberdayakan (empowering) pegawainya secara memadai, agar efek dari termotivasinya mereka dapat berlanjut secara efektif dalam wujud pencapaian target-target kinerja.
Dalam motivasi material ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan bagi usaha peningkatan kreativitas kerja bawahan. Menurut Siagian (2008:67) jenis-jenis dari motivasi material itu ada 6 yaitu :
1. . Kenaikan Gaji
Seorang karyawan yang merasakan gajinya kurang memadai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya cenderung menginginkan penghasilan yang lebih baik untuk menutupi kekurangan yang terjadi. Apabila seorang karyawan dimotivasi dengan memberikan kenaikan gaji apabila hasil kerjanya meningkat dan memuaskan, maka ia akan berusaha untuk meningkatkan gaji yang diinginkannya.
2. Kompensasi
Kompensasi yaitu segala sesuatu yang diterima oleh pegawai sebagai balas jasa untuk kerja mereka. Besar kecilnya kompesasi merupakan pencerminan atau ukuran nilai pekerjaan karyawan itu sendiri. Sebaliknya besar kecilnya kompensasi dapat mempengaruhi kerja.
3. Piece Work
Yaitu pemberian motivasi yang biasa digunakan untuk mendorong para karyawan meningkatkan produktivitas kerjanya dengan jalan memberikan insentif financial berdasarkan jumlah hasil pekerjaan karyawan yang dinyatakan dalam unit produksi, maksudnya makin besar banyaknya unit yang mereka hasilkan maka semakin tinggi pula insentif yang diterimanya.
4. Pemberian bonus
Insentif dalam bentuk bonus diberikan pada karyawan yang mampu bekerja sedemikian rupa sehingga tingkat kreativitas kerja yang baku bisa terlampaui.
5. Pemberian Komisi
Komisi adalah upah atas jasa yang telah dilakukan perantara (seseorang atau perusahaan).
6. Tunjangan
Motivasi material, yang bisa dijadikan pertimbangan yaitu dengan memberikan tunjangan-tunjangan untuk keluarga pegawai ataupun tunjangan jabatan, hal ini ditujukan agar karyawan tidak perlu merasa cemas untuk memikirkan keadaan ekonomi rumah tangganya dan agar mereka lebih berkonsentrasi dalam menyelesaikan pekerjaannya.
Thomas Lickona (2014: 55) menjelaskan bahwa nilai terdapat dua jenis nilai yaitu nilai moral dan nonmoral. Lebih lanjut dijelaskan oleh Lickona (2014) mengenai nilai moral dan nonmoral adalah nilai moral mengandung kewajiban yang harus dilaksanakan sementara nonmoral tidak mengandung kewajiban yang harus dilaksanakan.
Nilai moral contohnya yaitu nilai kejujuran, bertanggung jawab serta keadilan yang mengandung kewajiban bagi setiap orang untuk memenuhinya.
Nilai nonmoral yaitu berkaitan dengan yang ingin atau suka dilakukan oleh seseorang. Contoh dari nilai nonmoral misalnya kesukaan mengenai jenis musik, atau kesukaan terhadap hal lain yang tidak mewajibkan atau memaksa orang lain untuk memiliki kesukaan yang sama
Ada berbagai pendapat berkembang ditengah–tengah masyarakat mengenai peran perempuan. Adapun persepsi masyarakat umum mengenai peran perempuan dalam sektor domestik dan sektor publik.
1. Peranan perempuan sektor domestik
kehadiran perempuan baik dari segi pembagian kerja maupun melaksanakan peran, baik dari segi ekonomi maupun dari segi sosiologi mengalami
marjinalisasi, karena wilayah domestik adalah wilayah pribadi. Dalam wilayah ini perempuan tidak mempunyai hak yang sama dengan laki–laki untuk mengenyam pendidikan dan mengembangkan karir atau mencari nafkah di luar rumah.
Kebanyakan perempuan mengetahui bahwa masyarakat mengharapkan mereka menjadi istri dan ibu. Peran umum ini dipertahankan oleh banyak orang tua-tua dan berpegang teguh pada tradisi yang mereka pertahankan bahwa menjadi ibu yang baik membutuhkan seluruh tenaga seorang perempuan.
Seperti digambarkan dalam konsep peperangan yang menjadikan suatu kekuatan pria dengan sikap rela berkorban, dimana perempuan berada pada barisan yang paling belakang bahkan sebagai lambang yang dipertaruhkan yang akhirnya maju berperang membela tanah air dan keluarga yang mencakup istri dan anak.
2. Peran perempuan Sektor Publik
Dalam kenyataannya tidak mudah bagi perempuan untuk memasuki sektor publik karena selama ini masyarakat menganggap bahwa perempuan hanya cocok berkecimpung disektor domestik. Jika kaum perempuan bekerja diluar rumah dan mereka berkeluarga, maka mereka diharapkan mempertahankan citra perempuan sebagai ibu rumah tangga sepenuhnya. Karena ada perubahan yang terjadi dalam keluarga yang kemudian berakibat perubahan peran perempuan dalam keluarga. Meski dalam hal ini perempuan telah berperan dalam pencarian nafkah, ada kecenderungan fungsi laki-laki sebagai pemegang dan pengendali ekonomi keluarga tetap jelas kelihatan, sehingga ada anggapan
untuk memisahkan peran ayah sebagai pencari nafkah dan anggota keluarganya sebagai konsumen belaka. Hal ini mengakibatkan adanya kenyataan yang kurang adil antara peranan ayah dan ibu, dimana ayah dianggap lebih penting dari pada ibu.
Keterlihatan perempuan disektor publik membawa dampak terhadap peranan perempuan dalam kehidupan berkeluarga. Disatu pihak, perempuan bekerja dapat berperan membantu ekonomi keluarga, disisi lain perannya dalam urusan rumah tangga (domestik) menjadi berkurang karena lamanya waktu yang digunakan untuk beraktivitas diluar rumah (publik).
Sejarah indonesia sendiri mencatat akan perjuanga dan kegigihan ibu Kartini yang memiliki kegigihan dan semangat juang tinggi dalam melawan penjajahan sehingga dari sejarah itulah bangsa ini tidak lagi membedakan antara kekuatan sosok perempuan dan sosok laki-laki.
Sejak Kartini memperjuangkan keduduka perempuan setara dengan kaum lelaki maka sejak itu emansipasi bergulir. Emansipasi adalah suatu gerakan ynag dimaksud agar perempuan memliki kedudukan dan setara dengan kaum lelaki. Artunya setar dalam kehidupan di sektor publik dan sektor domestik.
Pada zaman Kartini yang diperjuangkan adalah perempuan memperoleh pendidikan setara dengan laki-laki. Ia berpendapat pendidikan perempuan merupakan hal penting untuk mengangkat derajat bangsanya, karena ibu-ibu yang terdidik dapat membesarkan anak mereka dengan baik.
Oleh sebab itu, peranan perempuan sangat penting baik di sektor publik maupun di sektor domestik, karena perempuan tidak hanya mampu untuk
memposisikan dirinya sebagai ibu rumah tangga yang merawat keluarga dan anak-anayanya akan tetapi perempuan juga mampu bekerja di sektor publik untuk menjalankan perannya serta dapat bertanggung jawab pada pekerjaanya.