TINJAUAN UMUM PERNIKAHAN DAN GUGATAN PERCERAIAN
E. Konsep Perkawinan dalam Kompilasi Hukum Islam
Dalam kamus-kamus dan ensiklopedi Indonesia tidak dapat menemukan istilah “kompilasi” di dalamnya yang menunjukkan bahwa hingga sekarang kata tersebut masih belum diterima secara meluas dalam bahasa Indonesia. Kompilasi berasal dari bahasa Latin yaitu “compilare” yang berarti mengumpulkan bersama-sama. Kompilasi merupakan suatu kegiatan pengumpulan dari berbagai bahan tertulis yang diambil dari berbagai buku atau tulisan mengenai suatu persoalan tertentu. Jadi konsep perkawinan Kompilasi Hukum Islam yaitu konsep perkawinan yang disusun dari berbagai sumber buku atau tulisan hukum Islam (kitab-kitab
fiqh) (Abdurrahman, 11:1992).
Di dalam menghimpun sumber-sumber hukum Islam, Kompilasi Hukum Islam merujuk pada kitab-kitab fiqh sebagai pedoman, di antaranya:
1. Al Bajuri
2. Fathul Muin dengan Syarahnya 3. Syarqawi Alat Tahrir
4. Qulyubi atau Muhalli
5. Fathul Wahab dengan Syarahnya 6. Tuhfah
7. Targhibul Musytaq
8. Qawaninusy Syar’iyah Lissayyid Usman bin Yahya 9. Qawaninusy Syar’iyah Lissayyid Shodaqah Dakhlan 10.Syamsuri lil Fara’idl
11. Bughyatul Mustarsyidin
12.Al Fiqh ‘Alal Madzahibil Arba’ah 13. Mughnil Muhtaj
Dalam Kompilasi Hukum Islam hukum perkawinan diatur dalam buku 1 yang terdiri dari 19 bab dan 170 pasal keseluruhan. Ditinjau dari materi muatan dalam Kompilasi Hikum Islam banyak duplikasi dengan apa yang diatur dalam Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 atau Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 mengingat Kompilasi Hukum Islam juga mengatur ketentuan-ketentuan yang bersifat prosedural. Namun di sisi lain juga terdapat hal-hal baru yang belum termuat dalam Undang-Undang Perkawinan namun ditemukan dalam Kompilasi Hukum Islam.
Pengertian perkawinan dalam pasal 1 Kompilasi Hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqan gholiidhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. Pengertian tersebut tentunya berbeda dengan pengertian perkawinan dalam Undang-Undang Perkawinan, dalam Kompilasi Hukum Islam pengertian perkawinan lebih ditekankan kepada suatu akad atau perjanjian ikatan lahir batin yang sangat kuat, yang mana akad ini akan menyatukan dua insan manusia antara laki-laki dan perempuan untuk menjadi pasangan suami istri yang sah. Dalam pengertian perkawinan juga disebutkan untuk mentaati perintah Allah dan sebagai bentuk ibadah kepada-Nya, hal ini menunjukkan bahwa
perkawinan dilaksanakan sebagai wujud rasa taqwa atau ketaatan seorang hamba kepada pencipta-Nya yang dinilai sebagai salah satu bentuk ibadah kepada-Nya.
Tujuan perkawinan disebutkan dalam pasal 3 Kompilasi Hukum Islam yaitu perkawinan bertujuan untuk membentuk rumah tangga yang
sakinah, mawaddah dan rahmah. Dalam hal pelaksanaan perkawinan, di dalam Kompilasi Hukum Islam menyebutkan beberapa hal teknis yang harus diperhatikan, yaitu:
a. Perkawinan dapat dikatakan sah apabila dilakukan sesuai dengan hukum Islam. Hal ini menunjukkan suatu penegasan yang sangat aspiratif dan cukup tepat, mengingat bahwa hukum Islam sebagai salah satu acuan dalam menentukan keabsahan suatu perkawinan (Abdurrahaman, 1992: 68).
b. Perkawinan harus dicatat dan dilangsungkan dibawah pengawasan Pegawai Pencatat Nikah, ini dimaksudkan untuk terjaminnya ketertiban perkawinan bagi masyarakat. Kata “harus” dalam pencatatan perkawinan menunjukkan suatu kewajiban menurut pengertian hukum Islam, dengan demikian perkawinan tersebut mempunyai kekuatan hukum dan dengan dilangsungkannya perkawinan tersebut di bawah Pegawai Pencatat Nikah maka perkawinan tersebut dapat dibuktikan dengan Akta Nikah. Oleh karena itu mencatatkan perkawinan merupakan suatu kewajiban bagi mereka yang akan melangsungkan perkawinan.
c. Sebelum melangsungkan perkawinan, dalam Kompilasi Hukum Islam disebutkan adanya peminangan, meskipun di dalam Undang-Undang Perkawinan tidak diatur perihal peminangan, namum peminangan merupakan suatu hal yang telah menjadi suatu hukum adat, selain itu peminangan cukup banyak dibicarakan dalm kitab-kitabFiqh. Seorang perempuan yang telah dalam pinangan seorang laki-laki, maka laki- laki lain dilarang untuk meminang perempuan tersebut. Dalam pasal 13 Kompilasi Hukum Islam disebutkan bahwa peminangan belum menimbulkan akibat hukum, dengan kata lain kedua belah pihak masih berhak untuk memutuskan hubungan peminangan.
d. Hal lain yang perlu diperhatikan selain memenuhi rukun dan syarat perkawinan yaitu adanya persetujuan dari kedua calon mempelai, hal ini tentunya selaras dengan ketentuan dalam pasal 6 Undang-Undang Perkawinan, namun dalam kompilasi diatur secara lebih lengkap dan lebih teknis.
e. Dalam perkawinan ada kaitannya dengan mahar atau banyak dikenal dengan istilah mas kawin, ketentuan ini diatur tersendiri dalam kompilasi, meskipun dalam Undang-Undang Perkawinan tidak mengaturnya. Mahar merupakan suatu kewajiban calon mempelai laki- laki untuk menyerahkan dan membayarkan mahar kepada calon mempelai istri yang mana jumlah, bentuk dan jenisnya berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Mahar merupakan pemberian wajib seorang laki-laki kepada calon istrinya, bukan suatu pembelian atau
ganti rugi (Sabiq, 1982: 44). Dalam kompilasi ditekankan bahwa kewajiban memberikan mahar kapada calon istri bukanlah merupakan rukun dalam perkawinan.
f. Perjanjian perkawinan merupakan persoalan yang juga diatur ketentuannya dalam Kompilasi Hukum Islam, yaitu dalam pasal 45 sampai 52 yang mana ketentuan ini lebih banyak jika dibandingkan dengan Undang-Undang Perkawinan. Dalam pasal 45 Kompilasi dijelaskan bahwa kedua calon mempelai dapat mengadakan perjanjian perkawinan dalam bentuk:
1. Taklik talak.
2. Perjanjian lain yang tidak bertentangan dengan Hukum Islam. Perjanjian taklik talak bukanlah perjanjian yang wajib diadakan dalam setiap perkawinan, namun apabila perjanjian taklik talak diadakan dalam suatu perkawinan maka perjanjian tersebut tidak dapat dibatalkan atau dicabut kembali.
Perjanjian perkawinan selain taklik talak yaitu berkenaan kedudukan harta dalam perkawinan. Kedua belah pihak diberi kebebasan untuk membuat perjanjian perkawinan dengan ketentuan tidak bertentangan dengan hukum Islam, perjanjian tersebut kemudian hanya disahkan oleh Pegawai Pencatat Nikah, perjanjian perkawinan tersebut dapat dicabut atas kesepakatan suami dan istri serta harus didaftarkan kepada Kantor Pegawai Pencatat Nikah tempat perkawinan dilangsungkan.
g. Akibat hukum dalam sebuah perkawinan yaitu timbulnya hak dan kewajiban antara suami dan istri, untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga tentunya hak dan kewajiban harus dapat terpenuhi satu sama lain. Hak dan kewajiban antara suami istri terdiri atas:
1. Hak istri atas suami 2. Hak suami atas istri 3. Hak bersama
Masing-masing suami istri jika menjalankan kewajibannya dan memperhatikan tanggung jawabnnya maka terwujudlah ketentraman dan ketenangan hati sehingga sempurnalah kebahagiaan suami istri tersebut (Sabiq, 1982: 43). Hak bersama suami istri merupakan hak yang dapat digunakan secara bersama-sama atau hak istri yang juga merupakan haknya suami. Hak bersama tersebut di antaranya yaitu halal untuk saling bergaul dan mengadakan hubungan kenikmatan, haram melakukan pernikahan, hak saling mendapatkan waris akibat dari ikatan perkawinan yang sah, sahnya menasabkan anak kepada suaminya, dan hak untuk saling berlaku baik. Hak istri terhadap suami meliputi hak kebendaan (mahar dan nafkah) serta hak rohaniah yaitu hak untuk mendapatkan keadilan serta tidak boleh membahayakan istri. Dalam memenuhi hak dan kewajiban, seorang suami ataupun istri harus mendahulukan kewajibannya untuk dapat menuntut haknya.
Ketentuan yang ada dalam Kompilasi Hukum Islam mengenai hak dan kewajiban pasangan suami istri lebih luas ketentuannya dari pada apa yang diatur dalam Undang-Undang Perkawinan, ketentuan tersebut diatur dalam pasal 77 sampai 86 Kompilasi Hukum Islam.
Konsep perkawinan dalam Hukum Kompilasi Islam mempunyai ketentuan yang lebih kompleks, hal ini dikarenakan Hukum Kompilasi Islam bersifat ketentuan khusus yang mengatur perkawinan bagi orang yang beragama Islam, berbeda halnya dengan Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 yang bersifat umum.