KECAMATAN SUSUKAN YANG MAJU DDAN SEJAHTERA”
F. Latar Belakang dan Duduk Perkara Gugatan Perceraian
1. Ibu Mutia
Pada tahun 1993 Ibu Mutia melangsungkan pernikahannya dengan suaminya yang dicatatkan oleh Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali. Setelah pernikahan Ibu Mutia memutuskan untuk tinggal bersama keluarga suaminya di Desa Gentan, Kecamatan Susukan selama tiga tahun. Kemudian Ibu Mutia dan suami membangun rumah di wilayah tersebut yang kemudian menjadi rumah kediaman bersama selama 20 tahun. Selama pernikahan Ibu Mutia telah dikaruniai 2 orang anak laki-laki, yang mana anak tersebut sekrang ikut bersama Ibu Mutia. Seiring berjalannya waktu hubungan suami istri antara Ibu Mutia dengan suaminya mulai goyah yang disebabkan perselisihan dan perbedaan pendapat, hingga pada bulan Januari 2016 antara Ibu Mutia dengan suaminya pisah rumah, dia tetap tinggal di rumah kediaman
bersama dan suaminya tinggal bersama orang tuanya. Selama pisah rumah suaminya tidak pernah memperdulikan atau mengurusi Ibu Mutia, suami pun juga tidak memberikan nafkah kepada Ibu Mutia yang masih menjadi kewajibannya.
2. Ibu Siti Puji Astutik
Pada bulan Mei 2015 Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Susukan telah mencatat pernikahan yang dilangsungkan oleh Ibu Puji dengan suaminya. Setalah menikah Ibu Puji bersama suamiya tinggal secara berpindah-pindah, terkadang tinggal di rumah orang tua suaminya dan kadang juga tinggal di rumah orang tuanya sendiri. Terakhir tinggal bersama yaitu di rumah orang tua Ibu Puji selama 6 bulan. Selama perkawinannya telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang ikut bersama Ibu Puji. Terjadinya kesalahapahaman anatara suaminya dengan Ibu Puji mengakibatkan goyahnya hubungan rumah tangga mereka, hingga pada bulan November tahun 2015 Ibu Puji dan suami pisah rumah, suami pulang kerumah orang tuanya di Ampel dan Ibu Puji tetap tinggal di rumah orang tuanya di Susukan. Selama pisah rumah suaminya tidak pernah memperdulikan atau mengurusi Ibu Puji, suami pun juga tidak memberikan nafkah kepada Ibu Puji yang masih menjadi kewajibannya.
Ibu Sulis melangsungkan pernikahannya dengan suaminya yaitu pada bulan Maret tahun 2012 yang dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Susukan. Setelah melangsungkan pernikahan, Ibu Sulis tinggal bersama suaminya di Lampung selama kurang lebih satu tahun, kemudian pindah ke rumah orang tua Ibu Sulis di Susukan selama tiga tahun, selama perkawinannya telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang lahir pada tahun 2014 dan sekarang anak tersebut ikut bersama Ibu Sulis. Pada pertengahan tahun 2016 ketentraman rumah tangga Ibu Sulis mulai goyah, hingga pada bulan Januari tahun 2017 antara Ibu Sulis dan suaminya pisah rumah, suami berada di Lapas II A Ambarawa dan Ibu Sulis tinggal bersama orang tuanya. Akibat suaminya berada di Lapas maka secara otomatis suami tidak dapat mengurusi dan memberi nafkah kepada Ibu Sulis, keberadaan suami di Lapas II A Ambarawa merupakan kedua kalinya, sebelumnya suami Ibu Sulis berda di Lapas II A Boyolali.
4. Ibu Sri Rahayu
Pada bulan Maret 2015 Ibu Sri melangsungkan pernikahan dengan suaminya yang dicatatkan oleh Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Susukan. Setelah menikah Ibu Sri bertempat tinggal secara berpindah-pindah, baik di rumah orang tua suaminya maupun di rumah orang tuanya sendiri, sebelum berpisah dengan suaminya terakhir bertempat tinggal di rumah orang tua Ibu Sri
selama kurang lebih tiga bulan. Selama perkawinannya Ibu Sri dan suami telah hidup bersama-sama selayaknya suami istri dan telah dianugerahi seorang anak laki-laki, anak tersebut sekarang berada di bawah asuhan Ibu Sri. Pada masa-masa awal penikahannya, ketentraman dan keharmonisan rumah tangga antara beliau dengan suaminya tidak terwujud, yang mana sering terjadi perselisihan dan pertengkaran yang secara terus menerus yang disebabkan karena Ibu Sri merasa bahwa suaminya kurang memberikan rasa tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan tidak bisa mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Hal tersebut terjadi secara terus menerus hingga pada puncaknya antara Ibu Sri dan suaminya pisah rumah, suami pulang ke rumah orang tuanya yang berada di Desa Badran sedangkan Ibu Sri tetap berada di rumah orang tuanya, pisah rumah tersebut berlangsung selama dua tahun hingga pada akhirnya dia memutuskan untuk menggugat cerai suaminya. Selama pisah rumah suami Ibu Sri sudah tidak memperdulikan dan mengurusi serta tidak memberikan nafkah wajib kepadanya.
5. Ibu Ida Nur Janah
Pada bulan Januari 1988 antara Ibu Ida dan suaminya melangsungkan pernikahannya di Kecamatan Susukan yang telah dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama setempat. Setelah menikah Ibu Ida ikut bersama suami tinggal di rumah orang tua suaminya di Kendal kurang lebih selama satu tahun, kemudian Ibu
Ida dan suaminya memutuskan untuk pindah ke rumah orang tua Ibu Ida yang berada di Kecamatan Susukan kurang lebih selama 18 tahun, namun selama berada di rumah orang tua Ibu Ida, suami jarang berada di rumah, hingga puncaknya pada pertengahan tahun 2007 suami Ibu Ida pergi tanpa izin, tidak diketahui kemana perginya, tidak diketahui keberadaannya serta tidak kembali. Ibu Ida telah berusaha untuk mencari keberadaan suaminya baik di tempat kerja maupun di rumah orang tuanya, namun tidak berhasil. Selama perkawinannya Ibu Ida telah dianugerahi tiga orang anak laki-laki yang lahir pada tahun 1989, 1991, 1994. Mengingat anak-anaknya yang masih kecil pada saat itu Ibu Ida memutuskan untuk bertahan dan mengharap suaminya dapat kembali, namun pada akhirnya di tahun 2016 Ibu Ida mengajukan gugatan perceraian kepada suaminya yang tak kunjung kembali. 6. Ibu Ayu Anis Utmawati
Ibu Ayu dan suaminya melangsungkan pernikahannya dihadapan dan dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Banyumanik pada tahun 2012. Setelah menikah antara Ibu Ayu dan suaminya hidup secara rukun, harmonis dan tinggal bersama di rumah orang tua suami di Banyumanik selama kurang lebih lima tahun. Selama pernikahannya Ibu Ayu dikaruniai seorang anak laki-laki yang telah berumur lima tahun, anak tersebut sekarang bersama Ibu Ayu. Semenjak anak lahir, mulailah terjadi perselisihan dan percekcokan secara terus menerus yang disebabkan
oleh berbagai faktor, hingga pada awal tahun 2017 Ibu Ayu diusir dari rumah dan dalam keadaan terpaksa Ibu Ayu pun pulang kerumah kakaknya yang berada di Desa Tawang Kecamatan Susukan. Keadaan yang seperti ini membuat rumah tangga Ibu Ayu semakin tidak membaik, beliau semakin mengalami tekanan batin dan menderita, selama pisah rumah suami sudah tidak memperdulikan dan mengurusi serta tidak memberi nafkah wajib kepada Ibu Ayu, setelah lima bulan berlalu akhirnya Ibu Ayu memutuskan untuk menggugat cerai suami karena merasa sudah tidak sanggup lagi untuk meneruskan hubungan rumah tangganya dan tidak ada jalan lain kecuali bercerai, meskipun kedua pihak keluarga sudah berulang kali untuk menasehati namun tidak berhasil.
7. Ibu Erna Mulyani
Ibu Erna telah melangsungkan pernikannya dengan suaminya di Kecamatan Mangkang, Kota Semarang dan telah dicatat oleh Pegawai Pencatatn Nikah Kantor Urusan Agama setempat, pernikahan tersebut berlangsung pada pertengahan tahun 2010. Setelah menikah Ibu Erna dan suami bertempat tinggal di rumah orang tuanya Ibu Erna kurang lebih selama dua tahun, selama perkawinan Ibu Erna dikaruniai seorang anak laki-laki. Namun sejak awal tahun 2013 mulailah terjadi perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus yang sulit untuk didamaikan, Ibu Erna yang terkadang mengingatkan suaminya agar tidak lalai dalam tanggung jawab, namun terkadang menimbulkan
pertengkaran, hingga pada puncaknya pertengahan tahun 2014 suami meninggalkan rumah kediaman bersama tanpa sepengetahuan Ibu Erna, Ibu Erna pun juga memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya di Desa Kenteng. Selama pisah tersebut suami tidak memperdulikan dan tidak pernah memberikan apapun sebagai nafkah kepada Ibu Erna yang masih menjadi istrinya. Ibu Erna telah berusaha untuk mengajak suami kembali ke rumah kediaman bersama dan membina rumah tangga kembali namun suami selalu menolak. Akhirnya Ibu Erna mengajukan gugatan perceraian kepada suami pada tahun 2016.
8. Ibu Dwi Lestari
Pada awal tahun 2005 Ibu Dwi dan suami melangsungkan pernikahan dihadapan dan dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Susukan. Setelah menikah Ibu Dwi ikut bersama suami tinggal di rumah orang tua suami di salah satu desa di Kecamatan Kaliwungu selama kurang lebih 10 tahun 1 bulan hidup secara rukun dan harmonis. Selama waktu tersebut telah dianugerahi seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki, kedua anak tersebut sekarang tinggal bersama Ibu Dwi. Ketentraman rumah tangga Ibu Dwi mulai goyah yaitu pada awal tahun 2015 yang mana sering terjadi pertengkaran dan perselisihan yang dikarenakan suami kurang memberikan tanggung jawab kepada keluarga. Hal tersebut terjadi terus menerus hingga pada puncaknya yaitu bulan September 2015,
Ibu Dwi memutuskan untuk pisah rumah dengan suaminya dan kembali ke rumah orang tuanya di Desa Kemetul dan suaminya tetap tinggal di Kaliwungu. Hal tersebut berlangsung selama dua tahun hingga Ibu Dwi mengajukan gugatan perceraian yaitu pada akhir 2017 dan masih dalam keadaan pisah rumah. Selama pisah rumah tersebut suami tidak pernah memperdulikan dan mengurusi keluarganya serta tidak memberikan nafkah wajib kepada beliau.
Tabel 13
Kutipan Nomor Akta Nikah dan Nomor Salinan Putusan
No Nama Kutipan Akta Nikah Nomor
Salinan Putusan Nomor 1 Ibu Mutia 134/43/VI/1993
Kec. Simo
0709/Pdt.G/2017/P A. Sal 2 Ibu Siti Puji Astutik 0174/43/V/2015
Kec. Susukan
0707/Pdt.G/2017/P A. Sal
3 Ibu Sulistyowati 122/50/III/2012 Kec. Susukan
0644/Pdt.G/2017/P A. Sal 4 Ibu Sri Rahayu 0083/12/III/2015
Kec. Susukan
0806/Pdt.G/2017/P A. Sal 5 Ibu Ida Nur Janah 31/431/I/1988
Kec. Susukan
0996/Pdt.G/2016/P A. Sal 6 Ibu Ayu Anis. U 0567/042/IX/201
2 Kec. Banyumanik
0484/Pdt.G/2017/P A. Sal
7 Ibu Erna Mulyani 679/16/VII/2010 Kec. Mangkang
1197/Pdt.G/2016/P A. Sal 8 Dwi Lestari 71/02/II/2005 0972/Pdt.G/2017/P
Kec. Susukan A. Sal
BAB IV
ANALISIS PEMAHAMAN ISTRI PELAKU GUGAT CERAI