TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pernikahan Dini
2.2 Konsep Perkawinan
Definisi perkawinan menurut undang–undang perkawinan nomor I tahun 1974 adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Berdasarkan undang-undang tersebut dapat diketahui bahwa hubungan seksual yang sah berdasarkan norma agama, masyarakat dan hukum adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan suami isteri yang telah disahkan dalam lembaga perkawinan.
WHO (2010) telah menetapkan bahwa usia 10-24 tahun merupakan batasan remaja yang masih mendapat perhatian dan perlindungan oleh orang tua. Oleh karena itu perkawinan dini dan kehamilan dini merupakan praktik yang merugikan dan membahayakan perempuan dari segi medis maupun psikis. Konvensi Hak-Hak Anak menentukan 18 tahun sebagai usia minimum untuk menikah bagi laki-laki maupun perempuan. Adapun Undang-Undang Perlindungan Anak menganggap siapa saja di bawah usia 18 tahun sebagai anak dan orang tua bertanggung jawab untuk mencegah pernikahan di bawah umur (Pasal 26). Undang-Undang Perkawinan juga bertentangan dengan komitmen Internasional dan undang-undang yang menghendaki hak-hak yang sama untuk menikah dan menetapkan 18 tahun sebagai usia minimum untuk menikah baik laki-laki maupun perempuan.
Pernikahan dipandang sebagai suatu yang harus dipatuhi dan dapat menyebabkan kondisi dan posisi perempuan menjadi lemah. Budaya setempat membatasi ruang gerak perempuan. Bentuk pernikahan dini dapat pula sebagai pola
yang melindungi atau lebih tepatnya mengekang perempuan untuk dapat berkembang dalam segala bentuk. Pernikahan dini dapat meningkat pada daerah-daerah krisis perang dengan alasan untuk peningkatan ekonomi dan untuk menghindari bahaya pelecehan dan perkosaan (UNICEF, 2010).
Mathur (2010) juga mengemukakan beberapa penyebab-penyebab lain yang menimbulkan pernikahan dini. Penyebab tersebut antara lain yaitu peran gender dan kurangnya alternatif (gender roles and lack ofalternatives). Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan peran yang diharapkan pada anak laki-laki dan terhadap anak perempuan, serta kurang kesempatan-kesempatan yang diberikan pada pihak wanita seperti kesempatan pendidikan, olahraga, dan pekerjaan. Penyebab kedua adalah nilai virginitas dan ketakutan mengenai aktivitas seksual pranikah (value of virginity and fears about premarital sexual activity). Berkaitan dengan penyebab kedua, penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa pernikahan dini terjadi sebagai solusi kehamilan di luar nikah (premarital pregnant) (Bannet, 2010).
Dalam UU PA pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa “perlindungan anak” adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Dalam deklarasi hak asasi manusia, dikatakan bahwa pernikahan harus dilakukan atas persetujuan penuh kedua pasangan. Namun kenyataan yang dihadapi dalam pernikahan usia dini ini, persetujuan menikah seringkali merupakan akumulasi dari paksaan atau tekanan orangtua/wali anak, sehingga anak setuju untuk menikah
seringkali merupakan rasa bakti dan hormat pada orangtua. Orangtua beranggapan menikahkan anak mereka berarti suatu bentuk perlindungan terhadap sang anak, namun hal ini justru menyebabkan hilangnya kesempatan anak untuk berkembang, tumbuh sehat, dan kehilangan kebebasan dalam memilih.
Pernyataan senada juga dikeluarkan oleh International Humanist and Ethical Union, bahwa pernikahan anak merupakan bentuk perlakuan salah pada anak (child abuse). Dalam hal ini, mengingat berbagai konsekuensi yang dihadapi
anak terkait dengan pernikahan dini sebagaimana telah dibahas, maka pernikahan anak tentunya menyebabkan tidak terpenuhinya prinsip “yang terbaik untuk anak”, sehingga hal ini merupakan pelanggaran terhadap hak asasi anak. Dalam UU Perlindungan Anak dengan jelas disebutkan pula mengenai kewajiban orang tua dan masyarakat untuk melindungi anak, serta kewajiban orang tua untuk mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak (pasal 26). Sanksi pidana berupa hukuman kurung penjara dan denda diatur dalam pasal 77-90 bila didapatkan pelanggaran terhadap pasal-pasal perlindungan anak.
Terkait dengan kesehatan reproduksi dan pernikahan dini, maka dokter anak berperan serta dalam memberikan penyuluhan pada remaja dan orang tua mengenai pentingnya mencegah terjadinya pernikahan di usia dini serta membantu orangtua untuk dapat memberikan pendidikan kesehatan reproduksi kepada anak sesuai tahapan usianya. Dokter anak juga berperan membantu remaja untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi juga alat kontrasepsi, menilai kemampuan orang tua berusia remaja dalam mengasuh anak untuk mencegah
terjadinya penelantaran atau perlakuan salah pada anak, serta berpartisipasi dalam masyarakat untuk mencegah terjadinya pernikahan di usia dini.
2.3 Remaja
Masa remaja merupakan masa transisi antara masa remaja-remaja ke masa dewasa. Pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang pesat dari tubuh termasuk fungsi reproduksi. Pertumbuhan dan perkembangan ini mempengaruhi perubahan fisik, mental maupun sosial, sehingga masa ini sering disebut sebagai masa-masa kritis dalam kehidupan manusia (Hurlock, 2003).
Pubertas merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak menuju dewasa. Tidak ada batasan tajam antara akhir masa kanak-kanak sampai masa awal pubertas pada remaja putri. Secara klinis pubertas dimulai dengan tumbuhnya ciri-ciri kelamin sekunder dan diakhiri jika sudah ada kemampuan bereproduksi. Masa pubertas diawali dengan berfungsinya ovarium yang biasanya terjadi pada umur 8-14 tahun dan berlangsung kurang lebih selama 4 tahun. (Widiyastuti dkk, 2009)
Manusia secara biologis mempunyai kebutuhan seksual, begitu juga dengan remaja. Terjadinya kematangan seksual atau alat-alat reproduksi merupakan suatu bagian penting dalam kehidupan remaja sehingga diperlukan perhatian khusus, karena jika timbul dorongan-dorongan seksual yang tidak sehat akan menimbulkan perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab dan bisa mengakibatkan kehamilan. Banyaknya remaja putri yang menikah di usia muda memicu kasus kehamilan dan persalinan yang tidak aman. Pernikahan usia muda hingga saat ini masih menjadi
persoalan yang serius secara global. Selain menyebabkan putusnya akses pendidikan, pernikahan usia muda juga berdampak secara psikologis, ekonomis, dan juga kesehatan reproduksi.
Pernikahan dini menimbulkan dampak bagi remaja laki-laki dan remaja putri. Salah satu dampak pernikahan dini cukup signifikan adalah kesehatan reproduksi. Berdasarkan Penelitian Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM pada tahun 2010 hampir di semua wilayah Indonesia, remaja putri yang menikah pada usia muda berpotensi mengalami kehamilan beresiko tinggi. Kehamilan remaja meningkatkan risiko kematian dua hingga empat kali lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan yang hamil pada usia lebih dari 20 tahun. Demikian pula dengan risiko kematian bayi 30% lebih tinggi pada ibu yang melahirkan pada usia muda dibandingkan pada ibu yang melahirkan pada usia lebih dari 20 tahun (National Geographic, 2011).