KONSEP KEKERASAN
D. Konsep PerlawananTerhadap Kekerasan
77
6. Self victimizing victims, adalah para korban ini terlibat dalam perilaku
menyimpang dan kriminal di mana mereka bermitra dengan pelaku. Para
korban ini secara mutlak bertanggung jawab. Contohnya adalah pelacur,
pengguna narkoba, pemabuk, dan penjudi.
7. Political victims, adalah para korban ini termasuk sebagai orang-orang yang
menentang pelaku yang memiliki kekuatan politik agar korban tidak
mengganggu dominasi politiknya. Para korban tidak bertanggung jawab atas
kejahatan yang terjadi.29
D. Konsep PerlawananTerhadap Kekerasan
Korbandapat melakukan beberapa bentuk perlawanan sebagai strategi untuk
melindungi hak-haknya. Korbanatau pihak yang kalah akan melakukan beberapa
tindakan dengan bentuk apapun. Tindakan ini disebut dengan perlawanan atau
resistance. Pihak yang kalah melakukannya untuk mengurangi atau menolak
klaim (sewa lahan pertanian, pajak tinggi) yang dibuat oleh kelas atas atau kelas
yang lebih dominan (seperti tuan tanah, Negara).30
Korban dapat melakukan perlawanan karena berangkat dari konsep
perampasan, yakni apabila korban merasa memiliki sesuatu yang “berharga” lalu
dia merasa bahwa sesuatunya itu dirampas oleh pihak lain maka dia akan
melakukan perlawanan. Perasaan dirampas ini disebut dengan relative
deprivation, perasaan ini dapat muncul ketika dia memiliki hak atau keinginan
namun tidak sesuai dengan kemampuannya. Dia merasa memiliki kemampuan
29 Janet K. Wilson (ed.), The PraegerHandbook ofVictimology (California: ABC-CLIOLLC,
2009), 238.
30 James C. Scott, Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance (New Haven
78
dalam meraih hak atau keinginannya, namun dia merasa pihak lain telah
menggagalkan atau menghambatnya. Kondisi inilah yang pada akhirnya memicu
tindak kekerasan maupun perlawanan karena dia menganggap sebagai korban
ketidakadilan.31
Korban dapat melakukan perlawanan dalam menghadapi kekerasan yang dialaminya. Mereka melakukan perlawanan baik secara internal maupun
eksternal. Perlawanan internal merupakan bentuk perlawanan dengan
menggunakan kekuatan dalam dirinya sendiri. Korban berupaya untuk
membendung maupun meredam kontrol dan kekerasan dari pelaku (terutama
laki-laki) melalui serangkaian tindakan. Korban berupaya mempertahanan diri,
mencoba membalas dendam, menantang kendali keuangan dari pelaku.32
Perlawanan eksternal merupakan bentuk perlawanan dengan menggunakan
kekuatan dari luar. Korban berusaha mengakses bantuan formal dan / atau
informal. Korban berusaha mencari bantuan informal melalui teman dan keluarga,
dan mencari bantuan formal melalui badan-badan sosial yang dibentuk oleh
Negara. Korban melakukannya karena penolakannya terhadap kekerasan yang
diterimanya. Korban memilih keluarga maupun teman-temannya sebagai
tempatnya untuk mencari bantuan informal, tindakan ini menunjukkan bahwa
korban dapat mengekspresikan ketidaksetujuannya terhadap perilaku pelaku
tersebut.33
31 Ted Robert Gurr, Why men rebel (New Jersey: Princeton University Press, 1971), 13.
32 Margaret Abraham, Speaking the Unspeakable: Marital Violence among South Asian
Immigrantsin the United States (New Brunswick, New Jersey and London: Rutgers University,
2000), 138.
79
Korban dapat menggunakan konsep perlawanan sehari-hari (every day
forms of resistence) sebagaimana yang terjadi pada perlawanan petani. Petani
menganggap biasa ketika melakukan perlawanan terhadap tuan tanah yang
dianggapnya telah merampas hak dan keinginannya. Petani melakukannya secara
kontinyu, namun tidak sampai melakukan pembangkangan atau mogok masal
secara terang-terangan. Mereka hanya melakukan tindakan-tindakan seperti
menyeret-nyeret kaki (malas-malasan), dissimulation (berlagak seolah-olah tidak
tahu dan tetap menjaga rahasia), membelot, berpura-pura patuh, mencuri
kecil-kecilan, mengumpat di belakang, membakar, melakukan sabotase, menolak sewa
dan lain-lainnya.34
Korban KDRT dapat menggunakan serangkaian strategi yang mengesankan
bahwa dia berusaha untuk menghentikan kekerasan yang dialaminya. Dia
berupaya untuk melarikan diri dari pelaku, menghindari pelaku, melindungi diri
sendiri dan orang lain dari kekerasan yang dilakukan oleh pelaku. Korban
menggunakan strategi-strategi ini sebagai bentuk dari tindakan secara personal,
informal, dan formal.
1. Strategi personal. Korban mencoba untuk mematuhi atau mengantisipasi semua
permintaan pelaku dengan tujuan untuk tetap menjaga keharmonisan; korban
meminta pelaku untuk menghentikan kekerasan; untuk sementara waktu
korban melarikan diri dari hadapan pelaku; korban bersembunyi dari hadapan
pelaku; korban melakukan konfrontasi secara fisik untuk menentang kekerasan;
80
korban berupaya untuk membela diri dengan cara melawan kekerasan yang
dilakukan oleh pelaku; dan korban menggunakan anak-anak sebagai pelindung.
2. Strategi informal. Korban berusaha meminta bantuan dari tetangga, keluarga,
dan teman dalam upaya untuk melarikan diri atau bersembunyi dari kekerasan;
dan korban meminta orang lain agar ikut terlibat dan campur tangan dengan
tujuan agar pelaku menghentikan kekerasan.
3. Strategi formal. Korban mulai melibatkan sistem hukum negara, seperti
menelpon polisi, mencari lembaga negara untuk memberikan perlindungan
bagi korban, menghubungi pengacara, dan berpartisipasi di pengadilan negara.
Strategi formal juga dapat berupa rumah penampungan sementara yang
didatangi oleh korban, korban meminta bantuan kepada kelompok anti KDRT,
lembaga kesehatan, atau organisasi keagamaan. Tidak ada strategi tunggal
yang jelas dan konsisten sebagai cara yang paling efektif untuk mengakhiri
KDRT. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa korban KDRT ini biasanya
hanya disurvei, diwawancarai lalu diekspos, tindakan ini juga bagian dari
strategi. Ketika korban ingin menggunakan strategi tertentu, dia perlu
mempertimbangkan keefektivitasan strateginya dalam mengakhiri kekerasan,
sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap konsekuensi pada tindakannya
ini termasuk tingkat bahaya dalam jangka pendek dan jangka panjang.
Perlawanan memiliki dua bentuk jika dilihat dari nyata atau tidaknya,
pertama perlawanan secara nyata (real resistance) atau terbuka yang bersifat
terorganisir, sistematis dan kerjasama; berprinsip maupun tanpa pamrih;
81
meniadakan atau menghapus dominasi. Kedua, perlawanan insidental (incidental,
or epiphenomenal activities) atau tertutup yang bersifat tidak terorganisir, tidak
sistematis dan individual; bersifat untung-untungan; tidak memiliki konsekwensi
revolusioner; dan mengakomodasi pada sistem dominasi.35
E. Perlindungan Hukum Terhadap Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga