• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KONSEP POLIGAMI DALAM ISLAM

C. Konsep Poligami menurut Rasulullah SAW

empat orang di antara isteri-isterinya, memilih yang mereka sukai dan menceraikan istri lainnya.53

Dari beberapa kisah pada zaman sahabat, dapat disimpulkan bahwa poligami memang sudah dipraktekkan oleh manusia sebelum Nabi SAW melakukan poligami. Nabi-Nabi sebelumnya juga sudah banyak yang mempraktekkan poligami seperti Nabi Sulaiman, Nabi Daud dan umatnya.

Masyarakat Jahiliyah sudah lama mempraktekkan poligami tanpa adanya batasan poligami. Kemudian ketika Islam datang maka orang-orang jahiliyah tersebut harus mengikuti aturan atau batasan dalam poligami menurut Islam.

Pada periode Madinah yang merupakan periode peperangan Islam yang menyebabkan banyak wanita yang beliau keberatan ditinggal suaminya, maka Rasulullah menikahi beberapa wanita tersebut untuk menyelamatkan mereka atas status janda mereka. Wanita-wanita yang dinikahi oleh Rasulullah SAW kebanyakan adalah wanita yang telah berusia lanjut atau janda kecuali Aisyah ra. 54

Meskipun terdapat istri yang paling muda yaitu Aisyah , Rasulullah tetap mengusahakan untuk berlaku adil kepada isteri-isterinya. Seperti pada penggalan kisah yang menceritakan Urwah Zubair, menanyakan kepada bibinya mengenai bagaimana sikap Rasulullah SAW terhadap istri-istrinya.

Aisyah pun menjawab bahwa Nabi tidak pernah membedakan istri-istrinya, beliau memperlakukan istrinya dengan cara yang adil. Diceritakan pula pada satu waktu Rasulullah sedang sakit-sakitan menjelang wafatnya, Rasulullah

53 Muhammad ibn Idris Asy-Syafi'i, Al-Musnad, Min Kitab Ahkam Al-Qur’an (Beirut: Dar al-Kutub al-ilmiyah, 1400), hlm. 274.

54 Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami, hlm. 74.

sulit untuk bergerak pun beliau tetap dapat berlaku adil kepada istri-istrinya.

Dalam memberikan giliran kepada isteri-isterinya beliau selalu meminta izin secara terhormat kepada istri yang sedang dalam jadwal gilirannya.

Nabi SAW merupakan suri tauladan terbaik, tidak mengumbar hasrat biologis kecuali kepada istrinya. Dua tahun setelah Khadijah wafat, Nabi menikah lagi dengan Saudah binti Zam‟ah. Saudah adalah perempuan pertama yang dinikahi Nabi setelah Khadijah wafat, Saudah telah mencapai masa menopause. Setelah menikahi Saudah Nabi menikahi Aisyah bin Abu Bakar. Terdapat Riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi menikahi Aisyah terlebih dahulu sebelum menikahi Saudah, akan tetapi waktu itu Aisyah masih kecil sehingga Nabi menunda hingga Aisyah tumbuh dan siap untuk menjadi istri. Maka setelah itu Nabi mengawali pernikahan poligami. Nabi melakukan poligami ketika usianya sudah lewat 54 tahun. 55

Setelah Nabi menikahi Aisyah , kemudian Nabi kembali menikah berturut-turut dalam waktu yang relatif pendek antara tahun kedua hingga ketujuh hijriyah, yaitu hanya 5 tahun. Nabi menikahi Hafsah binti Umar Al Khattab, Ummu Salamah, Ummu Habibah, Zainab binti Jahsy, Zainab binti Huyay, Rayhanah binti Zaid, dan yang terakhir yaitu Maimunah binti Harits.

Setelah tiga tahun dari pernikahan terakhirnya Nabi tidak menikah lagi.

Meskipun Nabi memiliki banyak istri, tidak satupun Nabi menceraikan istrinya, Nabi memperlakukan para istrinya dengan adil dan sangat bijaksana.

55 Siti Musdah Mulia, Islam menggugat Poligami, hlm. 75.

Tujuan Nabi melakukan poligami yaitu untuk mensyiarkan agama Islam ke seluruh wilayah jazirah arab.

Dengan ketegasan Rasulullah yang berlaku adil terhadap istri-istrinya hingga memerintahkan seseorang untuk memenuhi ketentuan dalam adil yang sesuai dengan kondisi yang dimiliki oleh isteri-isterinya. Perlakuan adil merupakan suatu hal yang wajib dilakukan oleh seorang suami yang berpoligami untuk dapat memberikan kemaslahatan yang timbul dalam rumah tangga poligami. Nabi melakukan poligami tidak sama sekali hanya karena bertujuan untuk kepuasan libido semata. 56

Dalam suatu hadits yang menjelaskan bahwa suatu ketika Amrah bin Abdurrahman berkata : Rasulullah ditanya, ya Rasulullah mengapa engkau tidak menikahi perempuan dari kalangan anshar yang beberapa di antara mereka terkenal kecantikannya? Rasulullah menjawab :”Mereka perempuan-perempuan yang memiliki rasa cemburu yang besar dan tidak akan bersabar dimadu. Aku mempunyai beberapa istri, dan aku tidak suka menyakiti kaum perempuan berkenaan dengan hal itu.”

Hadits tersebut telah menegaskan bahwa menurut Nabi hakikat dari poligami merupakan suatu hal yang amat menyakiti kaum perempuan. Terlalu naif jika seorang Nabi yang mulia melakukan poligami hanya karena kepuasan libido semata. Beliau diutus untuk mengangkat derajat perempuan yang pada waktu itu telah merasakan keterpurukan. Terbukti bahwa Ketika beliau

56 Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami, hlm. 76-80

menikah lagi dalam waktu yang berturut-turut itu tidak sama sekali menikahinya atas dasar kecantikan dan umur yang muda.57

Meskipun Nabi melakukan poligami dengan menikahi banyak wanita, tetapi Nabi tidak mengizinkan putrinya yaitu Fatimah Al-Zahra untuk mau dipoligami oleh menantunya (Ali bin Abi Thalib). Dalam suatu Riwayat yang dinukilkan dari Al-Miswar ibn Makhramah bahwa ia telah mendengar Rasulullah berpidato di atas mimbar, bahwa : “Sesungguhnya anak-anak Hisyam ibn Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan putrinya dengan Ali. Ketahuilah bahwa aku tidak mengizinkannya kecuali jika Ali bersedia untuk menceraikan istrinya dan menikahi anak mereka.

Sesungguhnya Fatimah bagian dari diriku. Barang siapa yang menyakitinya berarti ia menyakitiku.”

Dalam perspektif ilmu hadits, menunjukan bahwa hadits tersebut diriwayatkan secara lafdzi. Nabi mengulangi pernyataan itu sebanyak tiga kali.

Hal tersebut secara langsung menegaskan bentuk ketidaksetujuan Nabi apabila Ali melakukan poligami terhadap putrinya yaitu Fatimah al-Zahra.

Ketidaksetujuan Nabi dalam mengijinkan menantunya melakukan poligami jelas karena Nabi sangatlah mengerti mengenai hakikat poligami menurut pengalaman poligami Nabi, bahwa poligami sebenarnya merupakan hal yang dapat menyakiti hati seorang perempuan. 58

Hingga timbul beberapa pertanyaan yang menanyakan, bagaimana implementasi dari pemahaman Nabi terhadap hakikat poligami itu sendiri

57 Siti Musdah Mulia, Islam menggugat Poligami, hlm 83.

58 Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami, hlm 84.

yang menegaskan bahwa poligami adalah hal yang akan membuat hati seorang wanita tersakiti tetapi Nabi sendiri melakukan poligami dengan banyak wanita. Disamping Nabi melakukan poligami dengan bertujuan untuk melindungi dan mengangkat derajat perempuan yang sedang mengalami keterpurukan, Nabi telah yakin bahwa Nabi dapat bijaksana dengan tetap mengusahakan untuk berlaku adil terhadap isteri-isterinya, sedangkan Ali bin Abi Thalib itu tidak yakin bahwa ia dapat mengusahakan untuk dapat berlaku adil jika berpoligami.

Berdasarkan riwayat-riwayat yang menjelaskan pandangan Nabi terhadap poligami, merupakan suatu refleksi yang menegaskan kembali bahwasannya begitu berat tanggungan bagi seorang suami untuk dapat berpoligami sesuai dengan syariat dan betapa sulitnya hakikat seorang perempuan yang rela dirinya dipoligami. Mungkin hanya Nabi yang dapat melakukan poligami sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariat.