• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KONSEP POLIGAMI DALAM ISLAM

D. Poligami Menurut Hukum Islam

yang menegaskan bahwa poligami adalah hal yang akan membuat hati seorang wanita tersakiti tetapi Nabi sendiri melakukan poligami dengan banyak wanita. Disamping Nabi melakukan poligami dengan bertujuan untuk melindungi dan mengangkat derajat perempuan yang sedang mengalami keterpurukan, Nabi telah yakin bahwa Nabi dapat bijaksana dengan tetap mengusahakan untuk berlaku adil terhadap isteri-isterinya, sedangkan Ali bin Abi Thalib itu tidak yakin bahwa ia dapat mengusahakan untuk dapat berlaku adil jika berpoligami.

Berdasarkan riwayat-riwayat yang menjelaskan pandangan Nabi terhadap poligami, merupakan suatu refleksi yang menegaskan kembali bahwasannya begitu berat tanggungan bagi seorang suami untuk dapat berpoligami sesuai dengan syariat dan betapa sulitnya hakikat seorang perempuan yang rela dirinya dipoligami. Mungkin hanya Nabi yang dapat melakukan poligami sesuai dengan ketentuan-ketentuan syariat.

apabila ia tidak melaksanakan pernikahan dengan segera. Adapun bagi orang yang mempunyai syahwat dan juga mempunyai harta tetapi tidak khawatir terjerumus kedalam maksiat dan perzinahan maka hukuman baginya adalah sunnah. 59

Nikah hukumnya akan menjadi mubah bagi orang yang memiliki syahwat tetapi tidak memiliki harta. Nikah juga hukumnya akan menjadi makruh bagi orang yang tidak mempunyai keinginan untuk menikah (lemah syahwat), nikah juga hukumnya akan menjadi haram bagi orang yang merasa dirinya tidak mampu bertanggung jawab akan merawat istri dan anak. Maka dari itu hukum kebolehan poligami juga memiliki klasifikasi atas hukum taklifi tersebut.

Apabila melihat hukum poligami berdasarkan surat an-Nisa ayat 3 yang berbunyi:

ىثّٰليػثىك ّٰنٍٰػثىم ًءۤاىسِّنلا ىنِّم ٍميكىل ىباىط اىم اٍويحًكٍناىف ىّٰمّٰتىيٍلا ًفِ اٍويطًسٍقيػت َّلاىا ٍميتٍفًخ ٍفًاىك ىعّٰبيرىك ٍميكيناىٍيْىا ٍتىكىلىم اىم ٍكىا نةىدًحاىوىػف اٍويلًدٍعىػت َّلاىا ٍميتٍفًخ ٍفًاىف ٓ

ّٰفٍدىا ىكًلّٰذ ٓ َّلاىا ل ٓ

اٍويلٍويعىػت ٓ

. . . Dan jika kamu tidak dapat berlaku adil terhadap hak-hak perempuan anak yatim bilamana kamu mengawininya, maka kawinilah Wanita-wanita lain yang kamu senangi : dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu tidak akan berlaku adil, maka kawinilah seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya …

Penulis lebih condong menyimpulkan bahwa perintah yang terdapat dalam ayat tersebut tidak bermakna pengajaran dan pemberitahuan. Hal

59 M. Ichan, “Poligami dalam Perspektif Hukum Islam”, Jurnal Ilmiah Syariah, hlm.

125.

tersebut disebabkan karena qarinah yang memalingkan makna tersebut yaitu makna “jika kalian khawatir tidak akan berlaku adil terhadap perempuan yatim dan perempuan bukan yatim, maka janganlah dinikahi kecuali pernikahan yang kamu merasa yakin tidak akan mencelakai para perempuan tersebut, satu sampai empat orang. Berdasarkan ayat di atas pada dasarnya hukum poligami adalah mubah. Hukum mubah dapat berbeda pada setiap orang yang melaksanakannya sesuai keadaan masing-masing atas dasar pertimbangan kemaslahatan.

Menurut ulama ahli fikih, al-maslahah dalam syara‟ tidak membolehkan jika hanya didasarkan oleh tujuan hawa nafsu semata, akan tetapi harus disyaratkan harus berkaitan antara al-maslahah dan tujuan syariat.60 Menurut Imam Al-Ghazali kemaslahatan harus sesuai dengan tujuan syara‟, meskipun bertentangan dengan tujuan manusia, karena kemaslahatan manusia tidak selalunya didasarkan oleh kehendak syara‟, akan tetapi seringkali didasarkan pada kehendak hawa nafsu semata.

Maka dari itu seharusnya yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam menentukan kemaslahatan adalah kehendak dan tujuan syara‟, bukan karena kehendak dan tujuan manusia. Tujuan tersebut merupakan lima bentuk dari pemeliharaan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Jika seseorang melakukan suatu perbuatan yang bertujuan untuk memelihara jima atau salah satu dari tujuan syara‟ tersebut maka itu dapat dinamakan mashlahah. Upaya

60 Nasrun Haroen, Ushul Fikih I (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 114.

dalam menghindari suatu kemudharatan juga dapat diwujudkan dengan pemeliharan terhadap lima tujuan syara‟ tersebut.

Al-Khawarizmi berpendapat mengenai al-maslahah yaitu masalah memiliki tujuan untuk dapat mengambil manfaat dan menghindari kemudharatan.61

Hukum pembolehan dalam poligami atas pertimbangan beberapa maslahat yang didasari alasan-alasan darurat tertentu, terdapat pula hal yang pada umumnya akan muncul akibat perkawinan poligami yang dapat diasumsikan sebagai sisi negatif (mafsadah), seperti mengakibatkan permusuhan antara isteri sehingga rumah tangga tidak harmonis, perselisihan tersebut dapat berdampak kepada anak sehingga kebahagiaan rumah tangga menjadi terganggu, adanya tekanan psikologis terhadap istri pertama yang diduakan cintanya dan tekanan secara sosial karena asumsi masyarakat yang selalu mempermasalahkan pihak perempuan yang mau dipoligami dan beberapa asumsi lainnya.62

Hukum Islam dalam prinsipnya tidak memerintahkan untuk poligami dan tidak pula mengharamkan poligami. Bahwa poligami menurut hukum Islam merupakan solusi untuk mengatasi adanya permasalahan tertentu dalam keluarga. Menurut hukum Islam poligami dapat diperbolehkan jika sudah memenuhi dua syarat yaitu keadilan dan kemaslahatan, poligami diharuskan memiliki tujuan untuk mencapai kemaslahatan dalam keluarga itu sendiri dan

61 Abd. Rahman Dahlan, Ushul Fikih (Jakarta: Amzah, 2016), hlm. 306.

62 M. Ichan, “Poligami dalam Perspektif Hukum Islam”, Jurnal ilmiah Syariah, Vol.17 No.2 2018, hlm. 125.

mewujudkan keadilan sesungguhnya kepada isteri-isteri dan anak-anak mereka. 63

Apabila poligami dilakukan hanya untuk tujuan pemenuhan nafsu semata maka poligami sama sekali tidak dibenarkan oleh syariat. Poligami dalam hukum Islam merupakan solusi bagi sebagian orang yang memerlukan solusi dalam pemenuhan kesempurnaan dalam kehidupan keluarganya yang tidak dapat diwujudkan secara sempurna jika hanya melalui pernikahan monogami. Permasalahan tersebut seperti keinginan mempunyai anak yang tidak dapat dicapai karena keadaan istri yang mandul, ketidakpuasan suami dalam pemenuhan seksual dari istrinya, ataupun tujuan untuk mengikuti jejak Rasulullah SAW dalam melakukan poligami.

Keadaan keluarga tentunya dapat dijadikan sebagai indikator dan tolak ukur dalam efektivitas poligami, indikator tersebut dapat dianalisis dari keberhasilan atas tujuan poligami yang didasari. Keefektivitasan dapat diartikan sebagai keberhasilan terhadap sesuatu yang menjadi tujuan awal.

Apabila kita memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu maka kita harus dapat melakukannya dengan maksimal agar tujuan awal dapat terwujud.

Agama Islam sangat menegaskan betapa pentingnya memiliki tujuan baik dan benar dalam hal apapun. Sebab tujuan yang baik dan benar merupakan sebuah kunci dari kesuksesan yang mendasari atau menentukan diterimanya amal perbuatan manusia.

63 Nurul Arifatul Muthoharoh, “Poligami dalam undang-undang perkawinan dan Hukum Islam”, Jurnal Studi Hukum Islam, Vol. 8 No.2 2021, lm. 201.

Dalam perspektif hukum Islam, tujuan poligami harus didasari atas niat beribadah kepada Allah SWT dan dapat menghindari suatu perceraian dalam keluarga. Niat ibadah dapat diartikan sebagai suatu usaha suami dalam mewujudkan kesempurnaan yang belum terwujud dalam pernikahan monogami atau dijadikannya poligami sebagai solusi atas permasalahan yang dijadikan alasan darurat bukan hanya karena nafsu semata, tetapi untuk tujuan kemaslahatan dan tetap mengutamakan syarat keadilan sebagai suatu syarat yang utama dalam pelaksanaan poligami.