TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep Teori 1. Definisi Nyeri
Nyeri adalah suatu fenomena kompleks yang berpengaruh hanya pada jaringan yang mengalami cedera atau penyakit. Persepsi klien terhadap nyeri dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, budaya, faktor kepribadiaan, dan status psikologis (Waugh 1990; Maryunani 2013).
Nyeri merupakan suatu pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kerusakan jaringan (Maryunani 2013). 1. Smeltzer (2002) Kategori dasar nyeri yang secara umum:
a. Nyeri Akut adalah nyeri secara tiba-tiba dan umumnya berkaitan dengan cedera spesifik. Nyeri akut mengindikasikan bahwa kerusakan atau cedera telah terjadi. Nyeri akut biasanya menurun sejalan dengan terjadinya penyembuhan, nyeri ini umumnya terjadi kurang dari enam bulan dan biasanya kurang dari satu bulan. Cedera atau penyakit yang menyebabkan nyeri akut dapat sembuh secara spontan atau dapat memerlukan pengobatan. b. Nyeri Kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap
sepanjang suatu periode waktu. Nyeri ini berlangsung di luar waktu penyembuhan yang diperkirakan dan tidak dapat dikaitkan
dengan penyebab atau cedera spesifik. Nyeri kronis sebagai nyeri yang berlangsung selama enam bulan atau lebih. Nyeri kronis dapat terjadi pada kanker tetapi nyeri jenis ini biasanya mempunyai penyebab yang dapat di identifikasi .
2. Maryunani (2013) Macam- macam nyeri berkaitan dengan berbagai macam luka:
a. Nyeri pada trauma pembedahan, dimana hanya terjadi dalam durasi yang terbatas, waktu yang diperlukan luka untuk perbaikan alamiah terhadap jaringan-jaringan yang rusak lebih singkat.
b. Nyeri pada ulkus kronik, seperti luka kanker, durasinya tidak ada batasnya.
3. Skala Nyeri
a. Word Grapic Rating Scale
Menggunakan deskripsi kata untuk menggambarkan intensitas nyeri,
12
b. Face Pain Rating scale
Menurut wong dan baker (1998) pengukuran skala nyeri menggunakan Face Pain Rating Scale yaitu terdiri dari 6 wajah yang tersenyum untuk “tidak ada nyeri” hingga wajah yang menangis untuk “nyeri berat” (Maryunani 2013).
Gambar 2.2 c. Skala nyeri menurut bourbanis
Gambar 2.3
Perawat menanyakan kepada klien tentang nilai nyerinya dengan menggunakan skala 0 sampai 10 yang membantu menerangkan bagaimana intensitas nyerinya.
d. Skala intensitas nyeri Numerical Ranting Scale (NRS)
NRS digunakan untuk menilai intensitas atau keparahan nyeri dan memberi kebebasan penuh klien untuk mengidentifikasi keparahan nyeri (Potter & Perry 2006).
Gambar 2.4
Skala penilaian NRS (Numerical Ranting Scale) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata (Maryunani 2013). Intensitas nyeri pada skala 0 tidak terjadi nyeri, intensitas nyeri ringan pada skala 1 sampai 3, intensitas nyeri sedang pada skala 4 sampai 6, intensitas nyeri berat pada skala 7 sampai 10 (Potter & Perry 2006).
e. Skala Visual Analog Scale (VAS)
VAS merupakan suatu garis lurus yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus. Skala ini memberikan kebebasan penuh pada klien untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VAS merupakan pengukur keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata (Potter & Perry 2006).
Mengkaji intensitas nyeri sangat penting walaupun bersifat subyektif dan banyak dipengaruhi berbagai keadaan seperti tingkat kesadaran, konsentrasi dan harapan keluarga, intensitas nyeri dapat dijabarkan di dalam sebuah skala nyeri dengan
14
deskriptif: tidak nyeri, ringan, sedang, sangat nyeri tetapi masih dapat terkontrol dan sangat nyeri tetapi tidak dapat dikontrol oleh pasien berdasarkan VAS. Penjelasan tentang intensitas digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.5
Intensitas nyeri pada skala 0 tidak terjadi nyeri, intensitas nyeri ringan pada skala 1 sampai 3, intensitas nyeri sedang pada skala 4 sampai 6, intensitas nyeri berat pada skala 7 sampai 9 intensitas nyeri sangat berat pada skala 10 nyeri tidak terkontrol. Intensitas nyeri pada skala 0 tidak terjadi nyeri, intensitas nyeri pada skala 1 sampai 3, rasa nyeri seperti gatal atau tersetrum atau nyut-nyutan atau melilit atau terpukul atau perih. Intensitas nyeri pada skala 4 sampai 6, seperti kram atau kaku atau tertekan atau sulit bergerak atau terbakar atau ditusuk-tusuk. Sangat nyeri pada skala 7 sampai 9 tetapi masih dapat dikontrol oleh klien. Intensitas nyeri sangat berat pada skala 10 nyeri tidak terkontrol.
4. Mengkaji Persepsi Nyeri
Alat-alat pengkajian nyeri dapat digunakan untuk mengkaji persepsi nyeri seseorang. Agar alat-alat pengkajian nyeri dapat
bermanfaat, alat tersebut harus memenuhi kriteria berikut: mudah dimengerti dan digunakan, memerlukan sedikit upaya pada pihak pasien, mudah di nilai dan sensitif terhadap perubahan kecil dalam intensitas nyeri. Alat-alat pengkajian nyeri dapat di gunakan untuk mendokumentasikan kebutuhan intervensi, untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan untuk mengidentifikasi kebutuhan akan intervensi alternatif atau tambahan jika intervensi sebelumnya tidak efektif dalam meredakan nyeri.
Deskripsi verbal tentang nyeri, individu merupakan penilai terbaik dari nyeri yang dialaminya dan karenanya harus diminta untuk menggambarkan dan membuat tingkatnya. Informasi yang diperlukan harus mengambarkan nyeri individual dalam beberapa cara yang berikut:
a. Intensitas nyeri. Individu dapat di minta untuk membuat tingkatan nyeri pada skala verbal ( misalnya: tidak nyeri, sedikit nyeri, nyeri hebat atau sangat hebat atau 0 : tidak ada nyeri; 10 : nyeri sangat hebat).
b. Karakteristik nyeri, termasuk letak, durasi, irama (misal: terus menerus, hilang timbul, periode bertambah dan berkurangnya intensitas atau keberadaan dari nyeri) dan kualitas (misal: nyeri seperti ditusuk, seperti terbakar, sakit, nyeri seperti di gencet).
16
c. Faktor-faktor yang meredakan nyeri misalnya: gerakan, kurang bergerak, pengerahan tenaga, istirahat, obat-obat bebas dan apa yang dipercaya pasien dapat membantu mengatasi nyerinya.
d. Efek nyeri terhadap aktivitas kehidupan sehari-hari, misalnya : tidur, nafsu makan, konsentrasi, interaksi dengan orang lain, gerakan fisik, bekerja dan aktivitas-aktivitas santai. Nyeri akut sering berkaitan dengan ansietas dan nyeri kronis dengan depresi.
e. Kekhawatiran individu tentang nyeri, dapat meliputi berbagai masalah yang luas, seperti beban ekonomi, prognosis, pengaruh terhadap peran dan perubahan citra tubuh.
5. Mengkaji Respon Fisiologi dan Perilaku Terhadap Nyeri
Banyak pemberi perawat kesehatan lebih mengenal nyeri akut dibandingkan nyeri. Akibatnya, pemberi perawatan kesehatan yang tidak mengenal respon fisiologi dan perilaku nyeri.
Indikator fisiologi nyeri, perubahan fisiologis involunter dianggap sebagai indikator nyeri yang lebih yang akurat dibanding laporan verbal pasien. Respon involunter ini seperti meningkatnya frekuensi nadi dan pernafasan, pucat, dan berkeringat adalah indikator rangsangan sistem saraf. Pasien yang mengalami nyeri akut hebat mungkin tidak menunjukkan
frekuensi pernafasan yang meningkat tetapi akan menahan nafasnya. Respon fisiologis terhadap nyeri akut yang pasien tunjukan dapat berlangsung hanya beberapa menit, bahkan bila nyeri berlanjut. Respon fisiologi harus digunakan sebagai pengganti untuk laporan verbal dari nyeri pada pasien tidak sadar dan jangan digunakan untuk mencoba menvalidasi laporan verbal dari nyeri individu.
Karena reaksi fisiologi yang dalam terhadap nyeri tidak dapat dipertahankan selama berminggu-minggu atau bahkan beberapa jam, pasien biasanya berespon secara berbeda terhadap nyeri akut dan nyeri kronis. Pasien dengan nyeri kronis yang sangat dalam dapat menunjukkan perubahan fisiologi, meskipun perubahan fisiologi yang berkaitan dengan respon stress dapat terjadi pada beberapa orang dengan nyeri akut, perubahan seperti itu tidak selalu terjadi, perubahan tersebut terjadi pada nyeri kronis.
Respon perilaku terhadap nyeri, dapat mencakup seperti verbal, perilaku vokal, ekspresi wajah, gerakan tubuh, kontak fisik dengan orang lain, atau perubahan respon terhadap lingkungan. Individu yang mengalami nyeri akut dapat menangis, merintih, merengut, tidak menggerakkan bagian tubuh, mengepal, atau menarik diri. Individu yang mengalami nyeri dengan mendadak dapat bereaksi sangat berbeda terhadap
18
nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau menjadi kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat individu terlalu letih untuk merintih atau menangis merupakan respon normal terhadap nyeri.
6. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Respon Nyeri.
Nyeri yang dialami oleh pasien dipengaruhi oleh sejumlah faktor, terhadap pengalaman masa lalu dengan nyeri, ansietas, usia, dan pengharapan tentang penghilang nyeri (efek plasebo). Faktor-faktor ini dapat meningkatkan atau menurunkan persepsi nyeri pasien, meningkat dan menurunnya toleransi terhadap nyeri dan pengaruh sikap respon terhadap nyeri.
7. Strategi Pelaksanaan Nyeri.
a. Strategi penatalaksanaan nyeri dengan pendekatan farmakologi meliputi obat analgesik. Pendekatan ini diseleksi berdasarkan pada kebutuhan dan tujuan pasien secara individu. Pendekatan farmakologis dapat mencakup pemberian obat analgesik sesuai
yang diresepkan. Obat analgesik ialah istilah yang digunakan
untuk mewakili sekelompok obat yang digunakan sebagai penahan sakit. Obat analgesik termasuk oban antiradang non-steroid (NSAID). NSAID seperti aspirin, naproksen, dan ibuprofen bukan saja melegakan sakit, malah obat ini juga bisa mengurangi demam dan kepanasan. Analgesik bersifat narkotik
seperti opoid dan opidium bisa menekan sistem saraf utama dan mengubah persepsi terhadap kesakitan (noisepsi) (Ishak 2010). b. Pendekatan non farmakologis mencakup terapi es dan panas,
teknik relaksasi, teknik distraksi. Tehnik distraksi meliputi penggunaan terapi musik.
Musik adalah suatu komponen yang dinamis yang bisa mempengaruhi baik psikologis maupun fisiologis bagi pendengarnya (Wilgram 2002; Novita 2012). Musik adalah paduan rangsang suara yang membentuk getaran yang dapat memberikan rangsang pada pengindraan, organ tubuh dan juga emosi. Ini berarti, individu yang mendengarkan musik akan memberi respon, baik secara fisik maupun psikis, yang akan menggugah sistem tubuh, termasuk aktivitas kelenjar-kelenjar di dalamnya (Yuanitasari 2008). Musik memang sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Apalagi musik memiliki tiga komponen penting yaitu beat, ritme, dan harmoni. Beat atau ketukan mempengaruhi tubuh, ritme mempengaruhi jiwa, sedangkan harmoni mempengaruhi roh (Yuanitasari 2008). Musik merupakan suatu bentuk seni yang menyangkut organisasi atau kombinasi dari suara atau bunyi dan keadaan diam yang dapat menggambarkan keindahan dan ekspresi dari emosi dalam alur waktu dan ruang tertentu. Musik dapat menyebabkan terjadinya kepuasan estetis
20
melalui indera pendengaran dan memiliki hubungan waktu untuk menghasilkan komposisi yang memiliki kesatuan dan kesinambungan (Campbell 2001). Musik didefinisikan sebagai suara dan diam yang terorganisir melalui waktu yang mengalir (dalam ruang), beberapa kesimpulan sementara dan pertanyaaan yang muncul adalah musik berasal dari suara, suara berasal dari vibrasi dan vibrasi adalah esensi dari segala sesuatu (Amsila 2011). Musik adalah bunyi atau nada yang menyenangkan untuk didengar. Musik dapat keras, ribut, dan lembut yang membuat orang senang mendengarnya. Orang cenderung untuk mengatakan indah terhadap musik yang disukainya. Musik ialah bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda bergantung kepada sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang (Farida 2010). Melalui musik juga seseorang dapat berusaha untuk menemukan harmoni interna (inner
harmony). Jadi, musik adalah alat yang bermanfaat bagi
seseorang untuk menemukan harmoni di dalam dirinya. Hal ini dirasakan perlu, karena dengan adanya harmoni di dalam diri seseorang, ia akan lebih mudah mengatasi stress, ketegangan, rasa sakit, dan berbagai gangguan atau gejolak emosi negatif yang dialaminya. Selain itu musik melalui suaranya dapat mengubah frekuensi yang tidak harmonis tersebut kembali ke vibrasi yang normal, sehat, dan dengan
demikian memulihkan keadaan yang normal (Merrit 2003). Musik merupakan media untuk mengekspresikan diri dan membangkitkan semangat dalam bentuk suara. Musik juga sangat efektif untuk menenangkan diri dan mendatangkan inspirasi bagi banyak orang (Yuanitasari 2008). Mengingat banyaknya manfaat dari musik, kini musik mulai digunakan juga untuk terapi. Berbagai penelitian memperlihatkan bukti-bukti pemanfaatan musik untuk menangani berbagai masalah: kecemasan, kanker, tekanan darah tinggi, nyeri kronis, disleksia, bahkan penyakit mental (Yuanitasari 2008). Musik sangat bisa merangsang dan menghanyutkan jiwa, musik juga bisa mempengaruhi fisik maupun mental. Sehingga musik mampu berperan bagi kehidupan manusia.
Terapi musik terdiri dari dua kata, yaitu “Terapi” dan “Musik”. Kata terapi berkaitan dengan serangkaian upaya yang dirancang untuk membantu atau menolong orang. Terapi musik adalah sebuah pekerjaan yang menggunakan musik dan aktivitas musik untuk mengatasi kekurangan dalam aspek fisik, emosi, kognitif dan sosial pada anak-anak serta orang dewasa yang mengalami gangguan atau penyakit tertentu. Definisi terapi musik adalah suatu profesi di bidang kesehatan yang menggunakan musik dan aktivitas musik untuk mengatasi berbagai masalah dalam aspek fisik,
22
psikologis, kognitif dan kebutuhan sosial individu yang mengalami cacat fisik (AMTA 1997;Djohan 2006). Definisi terapi musik adalah penggunaan musik dalam lingkup klinis, pendidikan dan sosial bagi klien atau pasien yang membutuhkan pengobatan, pendidikan atau intervensi pada aspek sosial dan psikologis (Wigram 2000; Djohan 2006). Terapi musik adalah penggunaan musik dan atau elemen musik (suara, irama, melodi, dan harmoni) oleh seorang terapis musik yang telah memenuhi kualifikasi, terhadap terapi klien atau kelompok dalam proses membangun komunikasi, meningkatkan relasi interpersonal, belajar, meningkatkan mobilitas, mengungkapkan ekspresi, menata diri atau untuk mencapai berbagai tujuan terapi lainnya (Djohan 2006). Terapi musik adalah suatu terapi kesehatan menggunakan musik dimana tujuannya adalah untuk meningkatkan atau memperbaiki kondisi fisik, emosi, kognitif, dan sosial bagi individu dari berbagai kalangan usia (Suhartini 2008). Terapi musik adalah materi yang mampu mempengaruhi kondisi seseorang baik fisik maupun mental. Musik memberikan rangsangan pertumbuhan fungsi-fungsi otak seperti fungsi ingatan, belajar, mendengar, berbicara, serta analisi intelek dan fungsi kesadaran (Satiadarma 2004). Terapi musik adalah penggunaan bunyi dan musik dalam
memunculkan hubungan antara individu dan terapis untuk mendukung dan menguatkan secara fisik, mental, sosial, dan emosi (Yuanitasari 2008 ).
8. Manfaat Terapi Musik:
a. Mampu menutupi bunyi dan perasaan yang tidak menyenangkan.
b. Mampu memperlambat dan menyeimbangkan gelombang dalam otak.
c. Mempengaruhi pernafasan.
d. Mempengaruhi denyut jantung, nadi dan tekanan darah manusia.
e. Bisa mengurangi ketegangan otot dan memperbaiki gerak dan koordinasi tubuh.
f. Bisa mempengaruhi suhu tubuh manusia. g. Bisa meningkatkan endorphin.
h. Bisa mengatur hormon (hubungannya dengan stres). i. Mengubah persepsi tentang ruang dan waktu.
j. Bisa memperkuat memori dan kemampuan akademik. k. Bisa merangsang pencernaan.
l. Bisa meningkatkan daya tahan tubuh manusia.
m. Bisa meningkatkan penerimaaan secara tak sadar terhadap simbolisme.
24
o. Bisa mengurangi rasa sakit.
Penggunaan terapi musik telah terbukti bermanfaat bagi perkembangan kognisi, perilaku serta kesehatan. Bahkan terapi musik juga telah digunakan untuk menolong para korban dalam perang dunia I dan II. Dengan penggunaan terapi musik maka para korban dilaporkan lebih cepat sembuh dan memiliki kondisi lebih baik. Terapi musik juga mempunyai dampak lebih berkepanjangan (long-last), berpengaruh terhadap keseluruhan kemampuan (multiple), dan banyak laporan kemajuan kesehatan akibat intervensi terapi musik. Terapi musik juga pernah di uji cobakan pada bayi. Bayi-bayi yang baru lahir diletakkan dalam sebuah tempat tidur besar dan dikepala mereka diletakkan
headphone untuk mendengarkan musik, bila diperhatikan jari-jari
mereka akan bergerak seiring dengan ritme lagu yang mereka dengar. Terapi musik dapat menyembuhkan warga Frankfurt yang menderita penyakit keturunan yang menyakitkan dan sampai saat ini belum ada obatnya. Jaringan ikatnya melemah hingga mengganggu organ dalam lainnya, termasuk jantung. Sudah tiga kali mengalami serangan jantung ringan, pada mulanya musik dari headphone selama 15 menit untuk membebaskan dari keadaan stress, berdasarkan pantauan terhadap aktivitas ototnya. Setelah tiga minggu dirawat dengan terapi musik, cuma 5 menit mendengarkan musik sudah bisa tenang.
Organ pendengaran pada manusia lebih baik daripada organ penglihatan. Salah satu kemampuan dasar indera pendengaran adalah mendengar irama.
9. Cara Kerja Terapi Musik
Musik bersifat terapeutik artinya dapat menyembuhkan, salah satu alasanya karena musik menghasilkan rangsangan ritmis yang kemudian di tangkap melalui organ pendengaran dan diolah di dalam sistem saraf tubuh dan kelenjar otak yang selanjutnya mereorganisasi interpretasi bunyi ke dalam ritme internal pendengarannya. Ritme internal ini mempengaruhi metabolisme tubuh manusia sehingga prosesnya berlangsung dengan lebih baik. Dengan metabolisme yang lebih baik, tubuh akan mampu membangun sistem kekebalan yang lebih baik, dan dengan sistem kekebalan yang lebih baik menjadi lebih tangguh terhadap kemungkinan serangan penyakit (Satiadarma 2002).
Sebagian besar perubahan fisiologis tersebut terjadi akibat aktivitas dua sistem neuroendokrin yang dikendalikan oleh hipotalamus yaitu sistem simpatis dan sistem korteks adrenal (Prabowo & Regina 2007).
Hipotalamus juga dinamakan pusat stress otak karena fungsi gandanya dalam keadaan darurat. Fungsi pertamanya mengaktifkan cabang simpatis dan sistem otonom. Hipotalamus menghantarkan impuls saraf ke nukleus-nukleus di batang otak yang
26
mengendalikan fungsi sistem saraf otonom. Cabang simpatis saraf otonom bereaksi langsung pada otot polos dan organ internal yang menghasilkan beberapa perubahan tubuh seperti peningkatan denyut jantung dan peningkatan tekanan darah. Sistem simpatis juga menstimulasi medulla adrenal untuk melepaskan hormon epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin ke dalam pembuluh darah, sehingga berdampak meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, dan norepinefrin secara tidak langsung melalui aksinya pada kelenjar hipofisis melepaskan gula dari hati. Adrenal Corticotropin
Hormon (ACTH) menstimulasi lapisan luar kelenjar adrenal
(korteks adrenal) yang menyebabkan pelepasan hormon (salah satu yang utama adalah kortisol) yang meregulasi kadar glukosa dan mineral tertentu (Primadita 2011).
Salah satu manfaat musik sebagai terapi adalah self-mastery yaitu kemampuan untuk mengendalikan diri. Musik mengandung vibrasi energi, vibrasi ini juga mengaktifkan sel-sel di dalam diri seseorang, sehingga dengan aktifnya sel-sel tersebut sistem kekebalan tubuh seseorang lebih berpeluang untuk aktif dan meningkat fungsinya. Selain itu, musik dapat meningkatkan serotonin dan pertumbuhan hormon yang sama baiknya dengan menurunkan hormon ACTH (Setiadarama 2002).
10. Tata Cara Pemberian Terapi Musik
Belum ada rekomendasi mengenai durasi yang optimal dalam pemberian terapi musik. Seringkali durasi yang diberikan dalam pemberian terapi musik adalah selama 20-35 menit, tetapi untuk masalah kesehatan yang lebih spesifik terapi musik diberikan dengan durasi 30 menit sampai 45 menit. Ketika mendengarkan terapi musik klien berbaring dengan posisi yang nyaman, sedangkan tempo harus sedikit lebih lambat, 50-70 ketukan/menit, menggunakan irama yang tenang (Schou 2007). 11. Definisi Musik Instrumental
Musik Instrumental adalah merupakan musik yang melantun tanpa vocal, dan hanya instrument/alat musik dan atau backing vocal saja yang melantun. Manfaat musik instrumental adalah musik instrumental menjadikan badan, pikiran, dan mental menjadi lebih sehat. Semakin banyak hasil riset mengenai efek musik instrumental terhadap kesehatan dan kesegaran fisik. Musik instrumental dan terapi relaksasi telah banyak digunakan secara bersamaan guna menurunkan detak jantung dan menormalkan tekanan darah terhadap seseorang yang menderita serangan jantung. Penderita migrain (sakit kepala sebelah) juga telah banyak yang dilatih dengan menggunakan musik, pemberian bantuan visual dan teknik-teknik relaksasi untuk membantu menurunkan frekuensi, intensitas dan durasi penderitaan sakit kepala mereka
28
(Aditia 2012). Macam musik instrumental seperti kitaro koi, musik instrumental kitaro koi adalah aransemen instrumental karangan musik jepang. Harmoninya mengalun indah seakan menyentuh hati para pendengarnya. Dibawakan dengan penuh penghayatan seakan menghipnotis orang yang mendengarnya, nada-nadanya yang menginspirasikan kehidupan.
12. Definisi Musik Klasik
Musik Klasik adalah sebuah musik yang dibuat dan ditampilkan oleh orang yang terlatih secara professional melalui pendidikan musik. Musik klasik juga merupakan suatu tradisi dalam menulis musik, yaitu ditulis dalam bentuk notasi musik dan dimainkan sesuai dengan notasi yang ditulis. Musik klasik adalah musik yang komposisinya lahir dari budaya Eropa dan digolongkan melalui periodisasi tertentu (Kamus Besar Bahasa Indonesia 2008). Macam dari musik klasik salah satunya adalah canon in d major Pachelbel, musik klasik ini membuat suatu nuansa yang antara penuh dengan semangat, sukacita, cinta kasih, harapan dan kepastian sehingga menyegarkan jiwa
Sebuah penampilan musik klasik memiliki atmosfir yang serius. Penonton diharapkan untuk diam dan tidak banyak bergerak agar tiap nada dalam komposisi yang dimainkan dapat terdengar dengan jelas. Penampil musik klasik diharuskan untuk berbusana formal dan terlibat secara langsung dengan penonton. Pada musik
klasik, improvisasi dilakukan dalam bentuk interpretasi. Improvisasi sering dilakukan pada periode baraque, terutama oleh J.S Bach. Pemain dapat mengimprovisasi chord maupun melodi (Kamien 2004). Pemberian terapi musik klasik membuat seseorang menjadi rileks, menimbulkan rasa aman dan sejahtera, melepaskan rasa gembira dan sedih, melepaskan rasa sakit dan menurunkan tingkat stres (Musbikin 2009).
Hal tersebut terjadi karena adanya penurunan Adrenal Corticotropin Hormon (ACTH) yang merupakan hormon stres (Djohan 2006). Semua intervensi akan sangat berhasil bila dilakukan sebelum nyeri menjadi lebih parah, dan keberhasilan terbesar sering dicapai jika beberapa intervensi diterapkan secara simultan.
2.1.2. Definisi Luka
Definisi Luka adalah terputusnya kontinuitas suatu jaringan oleh karena adanya cedera atau pembedahan (Agustina 2009; Maryunani 2013). Definisi Luka adalah sebuah injuri pada jaringan yang mengganggu proses selular normal; luka dapat dijabarkan dengan adanya kerusakan pada kontinuitas/kesatuan jaringan tubuh yang biasanya disertai dengan kehilangan substansi jaringan (InETNa 2008;Maryunani 2013). Luka adalah terputusnya kontinuitas suatu jaringan oleh karena adanya cedera atau pembedahan (majid dan prayogi 2013).
30
1. Klasifikasi Luka
Luka berdasarkan kedalaman dan luasnya tersebut,juga dapat dinyatakan menurut stadium luka, berikut ini:
a. Stadium I: Luka superfisial, yaitu luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit.
b. Stadium II: Luka “partial Thickness” yaitu hilangnya lapisan kulit pada epidermis dan bagian atas dari dermis.
c. Stadium III: Luka “Full Thikness”yaitu hilangnya kulit keseluruhan sampai jaringan subkutan yang dapat meluas tetapi tidak mengenai otot.
d. Stadium IV: Luka “Full Thickness” telah mencapai lapisan otot, tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas (Maryunani 2013).
Gambar 2.6
2. Terminologi luka yang dihubungkan dengan waktu penyembuhan/