• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Tiga Tingkatan Analisis Musik Model Alan P. Merriam

F. Landasan Teori

1. Konsep Tiga Tingkatan Analisis Musik Model Alan P. Merriam

Merriam menawarkan model penelitian musik yang mengandung studi tiga tingkatan analisis musik. Model ini memandang musik sebagai konsep, perilaku, dan bunyi, seperti yang dijelaskan sebagai berikut.

The model proposed here is a simple one and yet it seems to fulfill these requirements. It involves study on three analityc levels – conceptualization about music, behavior in relation to music, and music sound itself. The first and third levels are

connected to provide for the constanly changing, dynamic nature exhibited by all music systems.22

Lebih jauh dijelaskan bahwa bunyi musik memiliki struktur atau sebuah sistem, namun hal tersebut tidak dapat eksis secara bebas dari keberadaan manusia. Bunyi musik dikenal sebagai produk dari perilaku yang memproduknya, baik perilaku fisik, sosial, maupun verbal. Perilaku fisik meliputi perilaku seseorang ketika memperoduksi bunyi musik, tegangan fisik, dan postur tubuh dalam memproduksi bunyi, serta respons fisik seseorang ketika mendengarkan bunyi tersebut. Sementara perilaku sosial dapat dibagi ke dalam perilaku yang dituntut dari individu karena ia seorang musisi, serta perilaku yang dituntut pada seseorang karena non-musisi pada suatu peristiwa musikal. Perilaku verbal, berhubungan dengan konsepsi verbal yang diekspresikan mengenai sistem musik itu sendiri. Dengan demikian bunyi musik tidak akan dapat hadir tanpa adanya perilaku yang memproduknya. Namun demikian, perilaku itu sendiri berkaitan dengan tingkatan lainnya yaitu konseptualisasi tentang musik.23 Model penelitian tersebut digambarkan oleh Timothy Rice sebagai berikut.24

22Alan P. Merriam, The Anthropology of Music (Northwestern: University Press, 1964), 32.

23Merriam, 32-33.

24Timothy Rice, “Toward the Remodeling of Ethnomusicology” dalam Kay Kaufman Shelemay, ed., Ethnomusicological: Theory and Method (New York & London: Garland Publishing, 1990), 330.

Gambar 1. Model penelitian Merriam (Sumber: Timothy Rice, 1990)

Model yang diajukan Merriam ini memberikan gambaran adanya keterkaitan antara konsep perilaku yang berpengaruh terhadap produksi bunyi. Ada masukan secara konstan dari produk kepada konsep tentang musik, dan ini yang menyebabkan adanya perubahan dan stabilitas dalam sistem musik. Tanpa konsep mengenai musik, perilaku tidak bisa terjadi, dan tanpa perilaku, bunyi musik tidak dapat dihasilkan.25 Model penelitian ini disempurnakan oleh para peneliti etnomusikologi berikutnya, salah satu di antaranya adalah Timothy Rice yang menganjurkan agar penelitian etnomusikologi dilengkapi dengan kemampuan

interpretation (tafsir budaya) baik dari peneliti maupun dari

pemilik musik itu sendiri sehingga dimungkinkan untuk memperoleh hasil penelitian yang lebih komprehensif.26

25Merriam, 1964, 33.

26I Made Bandem, “Metodologi Penelitian Seni” dalam Selonding: Jurnal

Etnomusikologi Indonesia, Vol. III, No. 1 (Maret 2006): 1-12. Cognition

Behavior Music Sound

Model penelitian ini digunakan untuk mengungkap

têtabuhan dan têtêmbangan sebagai bunyi musik yang merupakan

hasil dari perilaku masyarakat yang didasarkan atas konseptualisasi tentang musik tersebut. Dalam operasionalnya, model ini dipadukan dengan konsep gamelan Bali yang tertuang dalam lontar Prakempa. Prakempa adalah lontar mitologi gamelan Bali yang memuat seluk beluk gamelan Bali yang pada hakekatnya berintikan empat unsur pokok yaitu filsafat atau logika (tatwa), etika atau susila (sila), estetika (lango), dan teknik tabuhan instrumen (gagêbug).27

Uraian mengenai filsafat atau logika dimulai dengan terciptanya bunyi, suara, nada, dan ritme oleh Sang Hyang Tri

Wisesa. Nada-nada tersebut diwujudkan dengan simbol bisah, taleng, dan cêcêk. Sebagai musikal instrumen, gamelan tidak

dapat dipisahkan dengan konsep keseimbangan hidup orang Bali yang dinamakan trihitakarana meliputi keseimbangan hidup manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia. Konsep tersebut menjadi dasar bagi orang Bali dimana pun ia berada dan apa pun yang ia perbuat. Konsep keseimbangan hidup itu dapat terwujud dalam beberapa dimensi, dari dimensi satu (tunggal) yang mendasarkan keseimbangan hidup pada pandangan serba satu seperti falsafah jagadditaya ca iti dharma sampai dimensi

27I Made Bandem, “Prakempa Sebuah Lontar Gambelan Bali”, Laporan Penelitian (Denpasar: Akademi Seni Tari Indonesia Denpasar, 1986), 10-27.

sepuluh yaitu kepercayaan terhadap adanya sepuluh unsur dalam keseimbangan seperti dasa aksara: sa, ba, ta, a, i, na, ma, çi, wa,

ya. Semua dimensi tersebut saling berkaitan satu sama lainnya

dan menunjukkan adanya dua kekuatan yang vital yaitu kekuatan baik dan buruk.

Prakempa mengaitkan bunyi (suara) dengan konsepsi lima

dimensi yang dinamakan panca mahabhuta (pêrtiwi, bayu, apah,

teja, dan akasa). Bunyi yang dicipta oleh Bhagawan Wiswakarma

lengkap dengan warnanya masing-masing menyebar ke seluruh penjuru bumi dan akhirnya membentuk sebuah lingkaran yang disebut pangidêr bhuwana. Bunyi tersebut mengambil ide dari bunyi (suara) delapan penjuru dunia yang sumbernya berada pada dasar bumi. Suara-suara itu dibentuk menjadi sepuluh nada yaitu lima nada disebut laras pelog mempunyai hubungan dengan konsepsi pancatirta, manifestasi dari Bhatara Smara (laki-laki) dan lima nada disebut laras slendro berkaitan dengan pancagêni merupakan manifestasi dari Bhatari Ratih (perempuan). Nada-nada tersebut, baik laras pelog maupun slendro diyakini memiliki sinar kekuatan dewata.

Prakempa juga mengandung unsur etika atau susila dalam

karawitan Bali yang diungkapkan dengan pernyataan tentang adanya berbagai jenis gamelan dengan instrumentasi, orkestrasi, teknik permainan, dan fungsi yang berbeda-beda. Di samping itu

juga dijelaskan tentang tata cara mengupacarai gamelan yang jatuh pada Sabtu Kliwon wuku Krulut (Tumpêk Krulut) lengkap dengan sesajen dan mantra-mantra yang digunakan. Unsur estetika (lango) dalam lontar Prakempa membahas tentang empat laras dalam gamelan Bali yaitu laras pelog lima nada dan tujuh nada serta laras slendro lima nada dan empat nada, semua laras tersebut bersumber dari gamelan Genta Pinara Pitu. Di samping itu, dalam lontar Prakempa disebutkan adanya tiga patêt dalam gamelan berlaras pelog yaitu patêt dêmung, sêlisir, dan sundari, sementara dalam gamelan slendro terdapat patêt pudak satêgal,

sekar kêmoning, dan asêp cina atau asêp mênyan. Dibahas pula

tentang tabuh yang diartikan sebagai orkestrasi (keindahan lagu) dan struktur atau komposisi lagu, terdiri dari tabuh pisan, tabuh

têlu, tabuh pat, tabuh nêm, dan tabuh kutus.

Aspek lainnya yang dibahas dalam lontar Prakempa adalah

gagêbug (teknik menabuh gamelan), dipandang bukan hanya

sekedar keterampilan memukul dan menutup bilah gamelan, tetapi berkaitan erat dengan orkestrasi. Dijelaskan bahwa setiap instrumen mempunyai gagêbug tersendiri dan mengandung aspek

phisycal behavior dari instrumen tersebut. Secara fisik dari

instrumen-instrumen yang terdapat dalam gamelan memberi keindahan masing-masing pada penikmatnya.

Untuk mendapatkan pemahaman yang komprehensif, maka dalam proses analisis, tiga tingkatan analisis musik model Alan P. Merriam akan dipadukan dengan konsep gamelan Bali yang tertuang dalam lontar Prakempa. Artinya, ketika menganalisis konseptualisasi musik, maka tidak akan terlepas dari pembahasan filsafat (tatwa) dalam gamelan Bali; ketika menganalisis perilaku, akan berkaitan dengan pembahasan etika (susila) dan teknik

tabuhan (gagêbug), serta ketika menganalisis musik sebagai bunyi

itu sendiri, maka tidak akan terlepas dari pembahasan estetika (lango). Dengan menggunakan model analisis tersebut, pemahaman komprehensif tentang têtabuhan dan têtêmbangan secara tekstual akan dapat ditemukan, sehingga dapat digunakan untuk mengungkap relasi musik tersebut secara kontekstual dalam upacara ngaben, termasuk gagasan-gagasan yang mendasari penggunaan musik tersebut.

Dokumen terkait