• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep

Dalam dokumen Universitas Sumatera Utara (Halaman 30-35)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konsep adalah gambaran mental dari objek, proses, atau apapun yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain. Konsep digunakan untuk menggambarkan ataupun mengungkapkan suatu topik pembahasan yang telah dipilih dari kerangka teori untuk dijadikan sebagai dasar masalah penelitian. Dalam penelitian ini akan dipaparkan beberapa konsep, yaitu film, tokoh, dan karakter.

2.1.1 Film

Film merupakan suatu bentuk komunikasi massa elektronik berupa media audio visual yang mampu menampilkan kata-kata, bunyi, citra, dan kombinasi yang berfungsi sebagai alat penyampai di era modern. Sumarno (dalam Larassati, 2017:14) menyatakan bahwa film yang baik harus penuh dengan nilai-nilai yang memperkaya batin penontonnya.

Film berperan sebagai sarana yang berfungsi untuk menyebarkan hiburan serta menyajikan cerita, peristiwa, musik, drama, lawak, dan sajian teknis lainnya kepada masyarakat umum (McQuail, dalam Oktavianus, 2015:3). Secara umum

film dapat dibagi berdasarkan beberapa hal. Pertama, film dibagi berdasarkan media, yaitu layar lebar dan layar kaca. Kedua, film dibedakan berdasarkan jenisnya, yaitu film non fiksi dan film fiksi. Film fiksi merupakan suatu tayangan audio visual yang jalan ceritanya dikarang oleh manusia, dengan kata lain film fiksi adalah film yang kisahnya tidak benar-benar terjadi atau tidak didasarkan pada kejadian nyata. Film non-fiksi merupakan film yang diilhami oleh suatu kejadian yang benar-benar terjadi atau nyata. Untuk menambah daya tarik penonton, film non-fiksi dapat didukung dengan cara memasukkan unsur-unsur sinematografis dengan penambahan efek-efek suara, musik, cahaya, komputerisasi, serta skenario yang disusun sedemikian rupa, hal tersebut berfungsi agar setiap gerakan dan perkataannya mengandung makna serta memiliki pesan moral yang sangat mendalam bagi para penikmatnya.

Sumarno yang dikutip Larassati (2017:15) menyatakan bahwa film fiksi bersifat komersial, artinya dipertunjukkan di bioskop dengan menggunakan karcis dengan harga tertentu atau diputar di televisi dengan berbagai dukungan dari sponsor iklan tertentu. Sedangkan film non-fiksi adalah film yang didasarkan pada kenyataan, yaitu merekam kenyataan dari pada fiksi tentang kenyataan.

2.1.2 Tokoh Utama

Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau perlakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita (Sudjiman, dalam Ismawati, 2013:70).

Tokoh dapat berupa individu yang memiliki sifat yang dikenal oleh penonton atau memiliki sifat seperti yang dimiliki penonton. Tokoh dibagi menjadi dua jenis, yakni tokoh utama dan tokoh tambahan. Terkait dengan tokoh adalah penokohan,

17

yakni penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh oleh pengarangnya.

Dalam hal ini tokoh dapat diklasifikasikan menjadi tokoh datar dan tokoh bulat.

Tokoh datar adalah tokoh yang bersifat dua dimensional; tokoh jenis ini biasanya sangat sederhana dan tidak banyak menampilkan perkembangan pribadi.

Sedangkan tokoh bulat adalah tokoh yang memiliki temperamen dan motivasi yang kompleks; tokoh jenis ini biasanya memiliki keistimewaan dan mampu memberikan kejutan (surprise) kepada pembaca (Abrams, dalam Ismawati, 2013:71).

Tokoh utama adalah tokoh yang memegang peranan penting dalam sebuah film. Tokoh utama merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai perilaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Dalam mengambil peranan film, kemunculan tokoh utama lebih banyak dibandingkan dengan tokoh yang lain.

Tokoh bertindak sesuai alur cerita yang tentu terjadi karena adanya sebab akibat.

Oleh sebab itu menelusuri jalannya cerita sama halnya dengan mengikuti perkembangan tokoh melalui tindakan-tindakannya.

Mochtar Lubis yang dikutip Ismawati (2013:71) melukiskan beberapa cara menampilkan tokoh dalam sebuah cerita, yakni:

1. Physical description, pengarang secara langsung melukiskan fisik atau jasmani tokoh.

2. Portrayal of thought stream or of conscious thought, pengarang melukiskan jalan pikiran tokoh maupun yang melintas di dalam pikirannya.

3. Reaction to events, pengarang melukiskan reaksi tokoh terhadap peristiwa yang dialami.

4. Direct author analysis, pengarang secara langsung menganalisis watak tokoh. Description of environment, pengarang melukiskan situasi di sekitar tokoh. Reaction of others to character, bagaimana pandangan atau tanggapan tokoh bawahan terhadap tokoh utama. Melalui pandangan atau tanggapan tokoh bawahan tersebut pembaca dapat memperkirakan watak tokoh utama. Conversation of others about character, tokoh-tokoh bawahan membicarakan keadaan tokoh utama. Dari dialog antar tokoh tersebut penonton akan dapat menarik kesimpulan tentang karakter tokoh utama.

Tokoh-tokoh cerita dalam film hadir sebagai seseorang yang berjati diri, bukan sebagai sesuatu yang tanpa karakter. Melalui karakter tersebut kemudian dapat dibedakan antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lainnya. Oleh sebab itu karakter seorang tokoh sangat penting untuk diketengahkan, karena melalui itulah identitas seorang tokoh akan dikenali. Kualitas jatidiri tidak semata-mata berkaitan dengan ciri fisik, melainkan terlebih berwujud kualitas non-fisik.

Berdasarkan hal tersebut tokoh cerita dapat dipahami sebagaikumpulan kualitas mental, emosional, dan sosial yang membedakan karakter setiap tokoh (Lukens, dalam Nurgiyantoro, 2005:223).

2.1.3 Karakter

Terma karakter biasanya dipakai dalam dua konteks. Konteks pertama, karakter merujuk pada individu-individu yang muncul dalam cerita. Konteks kedua, karakter merujuk pada percampuran dari berbagai kepentingan, keinginan, emosi, dan prinsip moral dari individu-individu. Dalam sebuah cerita dapat

19

ditemukan satu karakter utama, yaitu karakter yang terkait dengan semua peristiwa yang berlangsung dalam cerita. Untuk menilai karakter tokoh dapat dilihat dari apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan (Abrams, dalam Fananie, 2000:87). Identifikasi tersebut didasarkan pada konsistensi atau keajegannya, dalam artian konsistensi sikap, moralitas, perilaku, dan pemikiran dalam memecahkan, memandang, dan bersikap dalam menghadapi setiap peristiwa.

Karakter pelaku cerita fiksi dapat muncul dari sejumlah peristiwa dan bagaimana reaksi tokoh tersebut pada peristiwa yang dihadapi (Daiches, dalam Fananie, 2000:87). Peristiwa yang terangkai dalam cerita pada hakikatnya merupakan sebuah rangkaian plot. Oleh sebab itu, karakter pelaku tidak dapat dilepaskan dari plot cerita. (Frye, dalam Fananie, 2000:87), menyatakan bahwa penghadiran karakter pelaku (tokoh cerita) merupakan fungsi-fungsi plot.

Kendati pemunculan karakter tokoh tidak dapat dilepaskan dari rangkaian peristiwa, model mengekspresikan karakter tokoh yang digunakan oleh pengarang dapat bermacam-macam, diantaranya ialah:

1) Tampilan fisik. Pengarang dapat mengungkapkan karakter tokoh melalui gambaran fisikalnya, termasuk uraian mengenai ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh tokoh. Dalam hal ini pengarang menguraikan secara rinci perilaku, latar belakang, keluarga, dan kehidupan tokoh pada bagian awal cerita. Dengan kata lain, watak tokoh-tokoh dalam sebuah cerita sudah dianalisis dan dideskripsikan oleh pengarang. Untuk menilai apakah fisik tokoh sesuai dengan karakter yang dimainkan dapat dilihat dari berbagai aspek, seperti tinggi badan, bentuk dahi, dagu, mulut, mata, tangan, kaki, dan sebagainya. Di

satu sisi, interpretasi fisik dapat menggambarkan perilaku, meskipun perilaku tersebut tidak dapat diungkapkan secara langsung oleh pengarang.

2) Pengarang tidak secara langsung mendeskripsikan karakter tokohnya.

Karakter dibangun melalui kebiasaan berpikir, cara pengambilan keputusan dalam menghadapi setiap peristiwa, perjalanan karir, dan hubungannya dengan tokoh-tokoh lain, termasuk komentar dari tokoh yang satu ke tokoh yang lainnya. Karena untuk menggambarkan karakter tokoh dalam model ini tidak dapat dilihat hanya dari satu peristiwa dalam satuan waktu tertentu, melainkan harus dilihat dari sekuen peristiwa secara keseluruhan (Daiches, dalam Fananie, 2000:90). Dalam hal ini pengarang mencoba menggambarkan tokoh utama melalui dialog antar tokoh dan kemudian membuat satu presentasi state of mind tahap demi tahap yang dihubungkan dalam satuan-satuan peristiwa. Watak tokoh yang diungkapkan pengarang mengalir seirama dengan situasi yang dihadapi para tokoh, seperti bagaimana tokoh-tokoh tersebut menghadapi persoalan-persoalan tertentu, bagaimana pola pemikiran, konsistensi sikap, arus kesadaran, perubahan emosional, serta bahasa yang digunakan dalam setiap peristiwa yang dihadapi.

Dalam dokumen Universitas Sumatera Utara (Halaman 30-35)

Dokumen terkait