DAFTAR LAMPIRAN
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Konsep Usaha Kecil dan Menengah
2.2.1. Definisi Usaha Kecil dan Menengah
Berdasarkan Undang-undang No. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil dikatakan bahwa usaha kecil adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh perseorangan atau rumah tangga maupun suatu badan, bertujuan untuk memproduksi barang ataupun jasa untuk diperniagakan secara komersial dengan kriteria sebagai berikut :
1. memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah), tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah);
2. milik Warga Negara Indonesia;
3. berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar.
4. berbentuk usaha orang perseorangan, badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi. 2.2.2. Bidang atau Jenis Usaha Kecil
Dalam Keppres No. 127 Tahun 2001 menyebutkan jenis-jenis usaha yang tergolong pada usaha kecil dan usaha menengah. Berikut jenis-jenis usaha tersebut:
1. Sektor Pertanian Peternakan Ayam Buras 2. Sektor Kelautan dan Perikanan
a. Perikanan tangkap dengan menggunakan kapal kurang dan 30 GT/90 PK dilakukan di perairan sampai dengan 12 mil laut.
b. Perikanan budidaya meliputi pembenihan dan pembesaran ikan di air tawar, air payau, dan laut.
3. Sektor Kehutanan
a. Pengusahaan Peternakan Lebah Madu;
b. Pengusahaan Hutan Tanaman Aren, Sagu, Rotan, Kemiri, Bambu, dan Kayu Manis.
c. Pengusahaan Sarang Burung Walet di Alam
d. Pengusahaan Hutan Rakyat Asam (pemungutan dan pengolahan biji asam)
e. Pengusahaan Hutan Tanaman Penghasil Arang
f. Pengusahaan Hutan Tanaman penghasil Getah-getahan
g. Pengusahaan Hutaan Tanaman Penghasil Bahan-bahan Minyak Atsiri (minyak pinus/terpentin minyak lawang, minyak tengkawang, minyak kayu puti, minyak kenanga, minyak akar wangi, dan lain- lain)
4. Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral Pertambangan Rakyat
5. Sektor Usaha dan Perdagangan
a. Usaha makanan dan minuman olahan yang melakukan pengawetan dengan proses pengasinan, penggaraman, pemanisan, pengasapan, pengeningan, perebusan, penggorengan, dan fermentasi dengan cara-cara tradisional.
b. Usaha penyempurnaan benang dan serat alam maupun buatan menjadi benang bermotif/celup, ikat dengan menggunakan alat yang digerakkan tangan.
c. Usaha tekstil dan produk tekstil meliputi pertenunan, perajutan, pembatikan, dan pembordiran yang memiliki ciri dikerjakan dengan ATBM, atau alat yang digerakkan tangan termasuk butik, peci, kopiah, dan sejenisnya.
d. Pengolahan hasil hutan dan kebun golongan non pangan :
1) Bahan bangunan/rumah tangga : Bambu, Nipah, Sirap, Anang, dan Sabut.
2) Bahan usaha : Getah-getahan, Kulit kayu, Sutera alam, dan Gambir.
6. Sektor Perhubungan
Angkutan pedesaan darat dan angkutan sungai, danau, dan penyeberangan dengan menggunakan kapal 30 GT.
7. Sektor Telekomunikasi
Jasa telekomunikasi meliputi warung telekomunikasi, warung internet, dan instalasi kabel ke rumah dan gedung.
8. Sektor Kesehatan
Jasa Profesi Kesehatan/Pelayanan Medik/Pelayanan Kefarmasian : 1) Praktek perorangan tenaga kesehatan.
2) Praktek tenaga berkelompok tenaga kesehatan 3) Sarana Pelayanan kesehatan dasar.
4) Pusat /Balai/Stasiun penelitian kesehatan. 5) Apotik, praktik profesi Apoteker.
6) Rumah bersalin
7) Praktek Pelayanan Medik Tradisional (akupuntur, pijat refleksi, panti pijat tradisional).
8) Jasa perdagangan obat dan makanan : a) Toko Obat;
b) Retailer Obat Tradisional, Jamu Gendong, Kios/took jamu; c) Kolektor/pengumpul simplisia
2.2.3. Kelebihan dan Kelemahan Usaha Kecil
Menurut Musa Hubeis (2009) terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan dari UKM. Adapun kelebihan dari UKM antara lain :
1. Dasar pengembangan kewirausahaan 2. Organisasi internal sederhana
3. Mampu meningkatkan ekonomi kerakyatan/padat karya (lapangan usaha dan lapangan kerja) berorientasi ekspor dan substitusi impor (perkokoh struktur industri dan perolehan devisa)
4. Aman bagi perbankan dalam memberi kredit 5. Bergerak di bidang usaha yang cepat menghasilkan 6. Mampu memperpendek rantai distribusi
Sedangkan kekurangan yang dimiliki UKM adalah sebagai berikut: 1. SDM lemah dalam kewirausahaan dan manajerial
2. Keterbatasan keuangan 3. Ketidakmampuan aspek pasar
4. Keterbatasan pengetahuan produksi dan teknologi, prasarana dan sarana 5. Ketidakmampuan menguasai informasi
6. Tidak didukung kebijakan dan regulasi memadai, serta perlakuan pelaku usaha besar (usaha besar)
7. Tidak terorganisasi dalam jaringan dan kerja sama 8. Sering tidak memenuhi standar
9. Belum memenuhi kelengkapan aspek legalitas. 2.3.Konsep Biaya
2.3.1. Pengertian Biaya
Menurut Hansen dan Mowen (2005), biaya adalah kas atau nilai ekuivalen kas yang dikorbankan untuk mendapatkan barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat saat ini atau di masa datang bagi organisasi. Biaya dikeluarkan untuk mendapatkan manfaat di masa depan. Pada perusahaan yang berorientasi laba, manfaat masa depan biasanya berarti pendapatan. Jika biaya telah dihabiskan dalam proses menghasilkan pendapatan, maka biaya tersebut dinyatakan kadaluarsa (beban).
Sedangkan menurut Horngren, et al (2008), biaya (cost) adalah sumber daya yang dikorbankan (sacrified) atau dilepaskan (forgone) untuk mencapai tujuan tertentu. Suatu biaya (seperti bahan langsung atau iklan) biasanya diukur dalam jumlah uang yang harus dibayarkan dalam rangka mendapatkan barang atau jasa.
2.3.2. Klasifikasi Biaya
Menurut Hansen dan Mowen (2005), perilaku biaya adalah istilah umum untuk menggambarkan apakah biaya berubah seiring dengan perubahan output. Biaya-biaya bereaksi pada perubahan output dengan berbagai cara. Biaya tetap adalah suatu biaya yang dalam jumlah total tetap konstan dalam rentang yang relevan ketika tingkat output aktivitas berubah.
Biaya variabel adalah biaya yang dalam jumlah total, bervariasi secara proporsional terhadap perubahan output.Oleh karena itu, biaya variabel naik ketika output naik, dan akan turun ketika output turun. Sedangkan suatu biaya campuran adalah biaya yang memiliki komponen tetap dan variabel.
Sedangkan menurut Kuswadi (2005) biaya dibagi menjadi tiga, yaitu:
1. Biaya Tetap (fixed cost)
Biaya Tetap (fixed cost) adalah biaya yang jumlahnya tidak berubah berapa pun besarnya penjualan atau produksi yang dhasilkan. Biaya tetap biasanya berupa biaya tidak langsung (biaya overhead), yaitu biaya yang dikeluarkan tidak atas dasar jumlah produksi atau besarnya volume penjualan. Semakin besar volume penjualan semakin kecil biaya tetap per unitnya. Jadi, biaya tetap per unit berubah-ubah sesuai jumlah produksi. Pengeluaran biaya tetap biasanya berhubungan dengan suatu periode sehingga biasa dinamakan biaya periode (period cost). 2. Biaya Variabel (variable cost)
Biaya Variabel (variable cost) adalah biaya yang jumlahnya sampai batas tertentu berubah-ubah secara proporsional. Kebalikan dari biaya tetap, biaya variabel per unit merupakan biaya yang bersifat tetap, tetapi biaya total variabel berubah-ubah.
3. Biaya Semi Variabel (semi fixed cost)
Biaya Semi Variabel atau semi fixed cost adalah biaya yang yang secara mutlak sulit digolongkan ke dalam biaya variabel atau biaya tetap. Contoh dari biaya semivariabel adalah pemakaian listrik dalam lingkungan pabrik. Dalam perhitungan titik impas, biaya semi variabel dibebankan secara presentasi ke dalam biaya tetap dan biaya variabel. Penentuan besarnya persentase bergantung pada penilaian dan kebijakan perusahaan.