DAFTAR LAMPIRAN
III. METODE PENELITIAN
3.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data
Untuk mengolah data yang diperoleh, maka langkah yang harus diambil adalah :
1. Menganalisis laporan biaya-biaya operasional yang terjadi serta besarnya jumlah penjualan yang telah dicapai oleh UKM.
2. Memisahkan semua biaya-biaya yang telah dikeluarkan oleh perusahaan menjadi biaya tetap, biaya semivariabel, dan biaya variabel. Untuk biaya campuran, harus dilakukan pemisahan menjadi biaya tetap dan biaya variabel.
3. Membuat analisis titik impas berdasarkan data penjualan dan biaya- biaya tetap maupun variabel, sehingga dapat menghasilkan gambaran titik dimana UKM tidak mendapat laba maupun mengalami kerugian. 4. Membuat analisis CVP sehingga dapat diketahui langkah apa yang
Break even point analysis, rumus yang digunakan;
TFC
1– Ʃ VC Ʃ(P.Q)
dimana,
BEP = Breakeven Point (dalam rupiah) TFC = Total Fixed Cost
VC = Variable Cost
P = Price per Product
Q = Quantity of Sales
TFC
Weighted average contribution margin per unit
Cost-Volume-Profit Analysis yang akan dilakukan bertujuan untuk meningkatkan laba perusahaan atau paling tidak berusaha untuk mencapai titik dimana perusahaan mencapai BEP. Analisis CVP yang dapat dilakukan adalah:
1. Menurunkan biaya variabel per unit produk (Vcu)
Untuk meningkatkan laba perusahaan, biaya variabel harus diturunkan. Jika biaya variabel harus diturunkan, maka contribution margin akan bertambah, sehingga laba pun akan menjadi lebih besar.
2. Menurunkan biaya tetap (FC)
Untuk memperoleh laba yang lebih besar, maka salah satu cara adalah dengan menurunkan biaya tetap.
3. Menaikkan harga jual (P)
Dalam proses perencanaan laba, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan meningkatkan harga jual.
4. Menaikkan volume penjualan (Q)
Dalam mencapai peningkatan laba, maka volume penjualan harus ditingkatkan. Setelah penjualan mencapai BEP, maka peningkatan penjualan akan menambah laba yang dihasilkan.
BEPRP =
BEPRP =
………...(1)
Laba Operasi = Pendapatan Penjualan – Beban Variabel – Beban Tetap ...(3) Dari hasil analisis CVP yang dilakukan dengan beberapa cara di atas, maka akan dipilih cara mana yang dianggap paling rasional yang dapat dilakukan oleh perusahaan dan paling sesuai dengan kondisi perusahaan maupun kondisi pasar yang ada.
Laporan laba rugi merupakan suatu alat yang berguna untuk mengorganisasikan biaya-biaya perusahaan menjadi kategori tetap dan variabel. Laporan laba rugi dapat dinyatakan sebagai berikut :
Margin kontribusi adalah pendapatan penjualan dikurangi total biaya variabel. Pada titik impas, marjin kontribusi sama dengan beban tetap. Persamaan titik impas dapat dinyatakan sebagai berikut :
Biaya Tetap Marjin Kontribusi Per Unit
Rumus untuk perhitungan titik impas dalam unit adalah sebagai berikut :
Biaya Tetap
Harga – Biaya Variabel Per Unit
Sedangkan rumus untuk perhitungan titik impas penjualan adalah sebagai berikut :
Harga
Harga – Biaya Variabel Per Unit
Jumlah Unit = ……….(4)
Unit Titik Impas = ……….(5)
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Sejarah UKM Batik Bogor Tradisiku
Batik Bogor Tradisiku didirikan pada tanggal 13 Januari 2008 atas prakarsa Siswaya. Pria kelahiran Sleman, Yogyakarta, ini telah berdomisili di Bogor lebih dari 26 tahun, sehingga tumbuh rasa kecintaannya terhadap kota yang kerap dijuluki sebagai kota hujan ini dengan memberikan sesuatu untuk mengharumkan kota Bogor. Pada awal berdiri, Batik Tradisiku Bogor sudah membuat motif-motif khas Bogor seperti kijang, kujang, bunga teratai, dan lainnya. Pada tahun 2009, Batik Tradisiku mengeluarkan motif Kujang Kijang yang kemudian diresmikan oleh Walikota Bogor, Bapak Diani Budiarto, beserta Ibu Fauziah di The Jungle pada 4 Juni 2009 sebagai peringatan hari Ulang Tahun Bogor ke – 527. Motif ini kemudian dipatenkan bersama dua motif batik Pakuan Pajajaran, yaitu Ragen Panganten dan Banyak Ngantrang, yang hak ciptanya dimiliki Pemda Kota Bogor. Dalam perjalanannya, Batik tradisiku kembali mengeluarkan motif baru, yaitu Hujan Gerimis yang banyak mendapat perhatian dari konsumen. Motif Hujan Gerimis terinspirasi dari julukan Bogor sebagai Kota Hujan yang airnya membawa berkah dan sebagai sumber kehidupan.
Sejak awal Oktober 2010, Batik Tradisiku sudah melebarkan area pemasarannya ke luar Kota Bogor. Lokasi Bogor yang berbatasan dengan ibukota Jakarta sangat mendukung terjalinnya komunikasi dan transportasi dengan lebih mudah. Kerjasama dengan Pasaraya Blok M mengawali ekspansi pasar Batik Tradisiku. Produk Batik yang berciri khas Bogor mendapat respon yang positif, dibuktikan dalam kurun waktu satu minggu, produk sudah habis terjual dan permintaan yang tinggi. Kini Batik Tradisiku juga sudah menggandeng Sarinah, Thamrin City, dan SMESCO UKM Gallery dalam memasarkan produk batik.
Batik Tradisiku sebagai Batik Bogor Pertama dan satu-satunya di Kota Bogor memiliki peranan yang besar dalam dunia batik di Bogor. Pihak Pemda Kota Bogor sangat mengapresiasi dan mendukung Batik Bogor, salah satunya adalah dengan kebijakan Walikota Bogor yang menghimbau
seluruh dinas di Kota Bogor menggunakan Batik Bogor pada hari kamis. Selain dinas, instansi lain juga banyak yang sudah menggunakan seragam batik dari Batik Tradisiku Bogor seperti Badan Pengawas Daerah (Bawasda), Bappeda, BPPT, RRI, PDAM, HIMPAUDI, Universitas Pakuan, BPKP, Hotel Lido, dan Hotel Novotel. Sejak tahun 2010 juga, siswa TK, SD, SMP, dan SMA mulai menggunakan Batik Bogor.
Batik Bogor Tradisiku memiliki kegiatan usaha pokok industri batik, telah didaftarkan sebagai perusahaan yang memiliki nomor Tanda Daftar Perusahaan (TDP) 10.04.5.17.06359 pada tanggal 15 Januari 2009. Batik Tradisiku juga telah mkengantongi Surat Izin Usaha perdagangan (SIUP) dengan nomor 517/32/PK/B/DIPERINDAGKOP dan Tanda Daftar Industri (TDI) dengan nomor 534/03.TDI-Diperindakop pada tanggal 15 Januari 2009.
Pada tahun 2011, Batik Tradisiku Bogor mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal itu ditandai oleh semakin luasnya pasar, sehingga semakin banyak masyarakat yang mengetahui adanya Batik Tradisiku Bogor. Kunjungan-kunjungan yang datang pun tidak hanya berasal dari wilayah Jabodetabek, tetapi juga dari seluruh Indonesia. Prestasi terakhir yang dicapai oleh UKM Batik Bogor Tradisiku adalah terpilihnya Batik Bogor Tradisiku sebagai nominasi Dahsyatnya Indonesia pada Dahsyatnya Award 2012.
4.2. Struktur Organisasi UKM Batik Bogor Tradisiku
UKM Batik Bogor Tradisiku dipimpin oleh seorang direktur utama yang bertanggung jawab atas kegiatan – kegiatan UKM seperti kegiatan produksi, operasional, pemasaran, keuangan, dan SDM. Pada setiap kegiatan tersebut terdapat seorang supervisor yang bertanggung jawab khusus untuk masing-masing kegiatan. Penanggung jawab produksi bertugas untuk mengkoordinasikan seluruh kegiatan-kegiatan yang bersangkutan dengan produksi yaitu diantaranya desain motif, proses pembatikan tulis dan cap, proses printing, proses pewarnaan, dan proses penjahitan. Penanggung jawab operasional bertanggung jawab dalam kegiatan-kegiatan operasional Batik Bogor Tradisiku seperti dalam hal
transportasi dan belanja bahan baku batik. Penanggung jawab pemasaran bertanggung jawab untuk memasarkan produk batik baik itu pada galeri, pameran, maupun pelatihan. Penanggung jawab keuangan bertanggung jawab atas pencatatan keuangan serta mengontrol arus kas UKM Batik Bogor Tradisiku. Sedangkan penanggung jawab SDM bertanggung jawab atas sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh Batik Bogor Tradisiku baik sebagai pembatik maupun sebagai karyawan operasional. Adapun struktur organisasi UKM Batik Bogor Tradisiku adalah sebagai berikut :
Gambar 2. Struktur Organisasi UKM Batik Bogor Tradisiku
4.3. Jenis-Jenis Kain Batik pada UKM Batik Bogor Tradisiku
4.3.1. Batik Tulis
Batik tulis merupakan jenis batik yang dibuat dengan menggunakan canting. Pembuatan batik tulis ini lebih lama yaitu sekitar 2-3 bulan. Proses pembuatannya yaitu membuat pola atau desain, menyanting, memberi warna (pencelupan atau pencoletan),dan perebusan atau pelodoran. Batik tulis tidak memiliki motif pengulangan yang jelas dengan ukuran garis motif yang relatif kecil dibandingkan dengan batik cap. Batik tulis yang diproduksi oleh Batik Bogor Tradisiku hanya ada satu kain untuk setiap motifnya. Harga jual Batik tulis berkisar antara Rp 500.000,00 sampai dengan Rp 1.500.000,00. Semakin rumit motif yang digunakan semakin mahal harga jual batik tulis. Selain itu jenis kain juga menentukan harga jual, untuk kain batik yang menggunakan kain katun harga berkisar antara Rp 500.000,00 sampai Rp 750.000,00 dan untuk jenis kain sutra dikenakan harga jual Rp 1.500.000,00. Disamping itu semakin banyak warna yang digunakan maka semakin mahal harga jual kain batik tulis.
Direktur Utama Direktur Utama Penanggung Jawab Operasional Penanggung Jawab Produksi Penanggung Jawab Pemasaran Penanggung Jawab Keuangan Penanggung Jawab SDM
4.3.2. Batik Cap
Batik cap adalah corak batik yang dibentuk dengan canting cap. Biasanya proses pembuatan batik cap lebih cepat dari batik tulis yaitu sekitar 2-3 hari. Batik cap dikerjakan manual dengan menggunakan canting cap yang biasanya terbuat dari tembaga yang dibentuk dengan design tertentu. Sama halnya dengan batik tulis, UKM Batik Bogor Tradisiku hanya memproduksi satu motif kain untuk satu kain, walaupun memiliki motif yang sama namun pewarnaan akan berbeda. Harga jual batik cap berkisar antara Rp 200.000,00 sampai dengan Rp 300.000,00. Harga ditentukan oleh rumitnya motif dan juga banyaknya warna dalam satu kain. 4.3.3. Kain Printing
Kain printing adalah kain yang bermotif batik. Kain printing tidak dikategorikan dalam batik karena dalam proses pembuatannya tidak menggunakan canting dan malam. Kain printing dalam proses pembuatannya dicetak melalui proses sablon. Prosesnya sama seperti pembuatan spanduk atau kaos sablon namun dengan motif batik bogor dan bahan warna yang lebih bagus mutunya. Permukaan kain batik sablon jika dilihat hanya satu sisi saja yag bergambar, sedangkan sisi lainnya polos. Hal inilah yang membuat warna batik sablon lebih cepat luntur karena warnanya tidak meresap ke kain. Harga kain printing berkisar antara Rp 65.000,00 sampai Rp 125.000,00. Harga ditentukan berdasarkan jenis kain yang digunakan dan kebutuhan kain.
4.4. Volume Operasional Penjualan
4.4.1. Volume Penjualan
UKM Batik Bogor Tradisiku memproduksi tiga jenis kain batik, yaitu kain batik tulis, batik cap, dan kain printing bermotif batik. Batik tulis merupakan kain batik yang memiliki nilai jual yang tinggi dikarenakan memiliki nilai seni yang tinggi dan proses pengerjaan yang memakan waktu lama. Batik cap adalah jenis batik yang memiliki peminat cukup tinggi dikarenakan harga jual yang terjangkau dan dengan pengerjaan hand made, batik ini memiliki nilai seni yang cukup tinggi. Kain printing adalah jenis
kain batik yang memiliki peminat paling tinggi dikarenakan harga batik print yang cukup murah. Ketiga jenis batik tersebut dijual dalam bentuk kain. Batik tulis dijual dengan rata-rata kisaran harga Rp 384.000,00 sampai Rp 592.000,00. Sedangkan batik cap dijual dengan rata-rata kisaran harga Rp 153.000,00 sampai Rp 221.000,00 dan kain printing dijual dengan rata- rata kisaran harga Rp 60.000,00 sampai Rp 83.000,00. Adapun rincian volume penjualan usaha Batik Bogor Tradisiku pada bulan Maret 2010 sampai dengan Desember 2011 yang ditampilkan per caturwulan adalah sebagai berikut :
Tabel 3. Kapasitas Penjualan UKM Batik Bogor Tradisiku
No Jenis Kain
Kapasitas Penjualan (Unit Kain) Catur- wulan 1 Catur- wulan 2 Catur- wulan 3 Catur- wulan 4 Catur- wulan 5 1 Batik Tulis 47 24 68 55 84 2 Batik Cap 341 623 475 252 393 3 Kain Printing 3.497 1.666 1.474 742 873 Total 3.885 2.313 2.017 1.049 1.350
Ketiga jenis kain batik memiliki harga jual yang sangat bervariasi. Harga jual ditentukan berdasarkan jenis batik, jenis kain yang digunakan, ukuran kain, jumlah warna yang terdapat dalam kain, semakin banyak jumlah warna maka semakin mahal harga jual kain tersebut. Adapun rincian harga jual rata-rata kain batik tulis, kain batik cap, dan kain printing pada bulan Mei 2010 sampai dengan Desember 2011 yang ditampilkan per caturwulan adalah sebagai berikut :
Tabel 4. Harga Jual Rata-Rata UKM Batik Bogor Tradisiku
No Jenis Kain
Harga Jual Rata-rata Per Kain Catur- wulan 1 Catur- wulan 2 Catur- wulan 3 Catur- wulan 4 Catur- wulan 5 1 Batik Tulis Rp 404.000 Rp 384.000 Rp 592.000 Rp 500.000 Rp 592.000 2 Batik Cap Rp 168.000 Rp 153.000 Rp 221.000 Rp 212.000 Rp 205.000 3 Kain Printing Rp 60.000 Rp 69.000 Rp 72.000 Rp 83.000 Rp 78.000
Volume penjualan UKM Batik Bogor Tradisiku pada bulan Maret 2010 sampai dengan Desember 2011 yang ditampilkan per caturwulan adalah sebagai berikut :
Tabel 5. Volume Penjualan UKM Batik Bogor Tradisiku (Rupiah)
No Jenis kain Penjualan (Rupiah)
Caturwulan 1 Caturwulan 2 Caturwulan 3 Caturwulan 4 Caturwulan 5 1 Batik Tulis Rp 18.988.000 Rp 9.216.000 Rp 40.256.000 Rp 27.500.000 Rp 49.728.000
2 Batik Cap Rp 57.288.000 Rp 95.319.000 Rp 104.975.000 Rp 53.424.000 Rp 80.565.000
3 Kain Printing Rp 209.820.000 Rp 114.954.000 Rp 106.128.000 Rp 61.586.000 Rp 68.094.000 Total Rp 286.096.000 Rp 219.489.000 Rp 251.359.000 Rp 142.510.000 Rp 198.387.000
Pada Tabel 5 diatas dapat dilihat bahwa penjualan pada caturwulan pertama sampai dengan caturwulan kelima mengalami fluktuasi. Terjadi penurunan total volume penjualan antara caturwulan pertama dan caturwulan kedua dan antara caturwulan ketiga dan caturwulan keempat. Pada caturwulan kedua mengalami penurunan total penjualan karena adanya penurunan penjualan pada batik tulis dan kain printing, namun ada peningkatan pada penjualan batik cap. Sedangkan pada caturwulan keempat kembali terjadi penurunan penjualan total karena penurunan penjualan pada batik tulis, batik cap, dan batik printing. Sedangkan antara caturwulan kedua dan ketiga terjadi peningkatan total penjualan dikarenakan peningkatan padapenjualan kain batik tulis dan batik cap. Pada caturwulan keempat dan kelima mengalami peningkatan total penjualan dikarenakan meningkatnya pesanan kain batik tulis, batik cap, dan printing.
Tabel 6 menggambarkan pertumbuhan volume penjualan UKM Batik Bogor Tradisiku. Dapat dilihat bahwa pada caturwulan kedua terjadi penurunan volume penjualan sebesar 23.28% dikarenakan pada rentang waktu tersebut UKM Batik Bogor Tradisiku sedang melakukan pemindahan galeri sehingga tidak fokus dalam penjualan kain batik. Sedangkan pada caturwulan ketiga terjadi peningkatan sebesar 14.52%, pada caturwulan 4 kembali terjadi penurunan yang cukup besar yaitu 43.3% menurut direktur UKM Batik Bogor Tradisiku, Lisha, hal tersebut diakibatkan pada periode bulan Mei, Juni, Juli, Agustus, dan September tahun 2011 merupakan masa tahun ajaran baru sekolah dan lebaran, sehingga daya beli konsumen
terhadap kain batik sangat menurun dan berdampak langsung terhadap penjualan kain batik. Dan pada caturwulan 5 kembali terjadi peningkatan sebesar 39.21%.
Tabel 6. Perubahan Volume Penjualan UKM Batik Bogor Tradisiku Pada Caturwulan 1 sampai 5 (Periode Mei 2010 sampai Desember 2011)
Dari seluruh penjualan yang diterima oleh usaha Batik Bogor Tradisiku maka persentase dari tiap-tiap penjualan di atas pada bulan Mei 2010 sampai Desember 2011 adalah sebagai berikut :
Tabel 7. Persentase Unit Penjualan Usaha Batik Bogor Tradisiku Pada Caturwulan 1 (Mei –Agustus 2010)
No Jenis Kain Jumlah Persentase
1 Batik Tulis Rp 18.988.000 6.64% 2 Batik Cap Rp 57.288.000 20.02% 3 Kain Printing Rp 209.820.000 73.34%
Total Penjualan Rp 286.096.000 100%
Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa jumlah persentase volume penjualan terbesar adalah kain printing sebanyak 73.34%. Sedangkan jumlah persentase volume penjualan terkecil adalah batik tulis yang hanya memiliki nilai persentase sebesar 6.64%.
Tabel 8. Persentase Unit Penjualan UKM Batik Bogor Tradisiku Pada Caturwulan 2 (September – Desember 2010)
No Jenis Kain Jumlah Persentase
1 Batik Tulis Rp 9.216.000 4.20% 2 Batik Cap Rp 95.319.000 43.43% 3 Kain Printing Rp 114.954.000 52.37%
Total Penjualan Rp 219.489.000 100%
Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa jumlah persentase volume penjualan terbesar adalah kain printing sebanyak 52.37%.
Caturwulan
1 2 3 4 5
Penjualan Rp 286.096.000 Rp 219.489.000 Rp 251.359.000 Rp 142.510.000 Rp 68.094.000 Perubahan (Rp) - -Rp66.607.000 Rp 31.870.000 -Rp 108.849.000 Rp 55.877.000 Perubahan (%) - -23.28% 14.52% -43.3% 39.21%
Sedangkan jumlah persentase volume penjualan terkecil adalah batik tulis yang hanya memiliki nilai persentase sebesar 4.20%.
Tabel 9. Persentase Unit Penjualan UKM Batik Bogor Tradisiku Pada Caturwulan 3 (Januari–April 2011)
No Jenis Kain Jumlah Persentase
1 Batik Tulis Rp 40.256.000 16.02% 2 Batik Cap Rp 104.975.000 41.76% 3 Kain Printing Rp 106.128.000 42.22%
Total Penjualan Rp 251.359.000 100%
Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa jumlah persentase volume penjualan terbesar adalah kain printing sebanyak 42.22%. Sedangkan jumlah persentase volume penjualan terkecil adalah batik tulis yang hanya memiliki nilai persentase sebesar 16.02%.
Tabel 10. Persentase Unit Penjualan UKM Batik Bogor Tradisiku Pada Caturwulan 4 (Mei – Agustus 2011)
No Jenis Kain Jumlah Persentase
1 Batik Tulis Rp 27.500.000 19.30% 2 Batik Cap Rp 53.424.000 37.49% 3 Kain Printing Rp 61.586.000 43.22%
Total Penjualan Rp 142.510.000 100%
Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa jumlah persentase volume penjualan terbesar adalah kain printing sebanyak 43.22%. Sedangkan jumlah persentase volume penjualan terkecil adalah batik tulis yang hanya memiliki nilai persentase sebesar 19.30%.
Tabel 11. Persentase Unit Penjualan UKM Batik Bogor Tradisiku Pada Caturwulan 5 (September – Desember 2011)
No Jenis Kain Jumlah Persentase
1 Batik Tulis Rp 49.728.000 25.07% 2 Batik Cap Rp 80.565.000 40.61% 3 Kain Printing Rp 68.094.000 34.32%
Total Penjualan Rp 198.387.000 100%
Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa jumlah persentase volume penjualan terbesar adalah batik cap sebanyak 40.61%. Sedangkan
jumlah persentase volume penjualan terkecil adalah batik tulis yang hanya memiliki nilai persentase sebesar 25.07%.
Secara keseluruhan penjualan batik tulis sebesar Rp 145.688.000,00 atau secara persentasi sebesar 13.27%. Sedangkan batik cap sebesar Rp 391.571.000,00 atau secara persentasi sebesar 35.67%, dan untuk kain printing sebesar Rp 560.582.000,00 atau secara persentasi sebesar 51.06%. 4.4.2. Biaya-Biaya UKM Batik Bogor Tradisiku
UKM Batik Bogor Tradisiku memerlukan beberapa biaya guna menjalankan usahanya. Adapun biaya-biaya yang terjadi pada bulan Mei 2010 sampai Desember 2011 dalam kegiatan penjualan di galeri dan proses produksi adalah sebagai berikut :
Tabel 12. Biaya- Biaya yang Terjadi Pada UKM Batik Bogor Tradisiku Pada Caturwulan 1 (Mei – Agustus 2010)
No Biaya Jumlah
1 Biaya Gaji Rp 78.210.250
2 Biaya Listrik, Telepon, dan Air Rp 2.920.000
3 Biaya ATK Rp 597.000
4 Biaya Sehari-hari Galeri Rp 1.173.500
5 Biaya Konsumsi Rp 7.756.500
6 Biaya Bahan Baku Produksi
Kain Prima Rp 55.286.800 Kain Primis Rp 13.740.087 Kain lain-lain Rp 11.047.333 Obat Batik Rp 5.300.339 Malam Rp 2.673.365 Bahan Bakar Rp 1.319.908 Soda Rp 1.198.821
Bahan Baku Pelengkap Rp 3.104.511 7 Biaya Canting Tulis Rp 111.000
8 Biaya Penyusutan Peralatan
Kompor Minyak Rp 315.000
Kompor Gas Rp 488.252
Wajan Rp 18.300
Canting Cap Rp 180.000
Lanjutan Tabel 12.
Plangkan Rp 450.000
Mixer Obat Batik Rp 42.000 9 Biaya Perlengkapan Batik Rp 4.615.000 10 Biaya Transportasi dan Akomodasi Rp 7.164.000
Total Biaya Rp 198.215.967
Pada tabel biaya diatas dapat diketahui bahwa biaya-biaya yang terjadi selama kegiatan penjualan di galeri dan proses produksi kain batik tulis, cap, dan printing adalah biaya gaji karyawan, biaya pembayaran listrik, telepon, dan air, biaya ATK, biaya sehari-hari galeri, biaya konsumsi karyawan, biaya bahan baku (kain prima, kain primis, kain lain-lain, obat batik, malam, bahan bakar, soda, dan bahan baku pelengkap), biaya canring tulis, biaya penyusutan peralatan, biaya perlengkapan batik, dan biaya transportasi dan akomodasi. Biaya tertinggi yang dikeluarkan pada caturwulan pertama adalah biaya bahan baku yaitu sebesar Rp 93.671.165,00, selanjutnya adalah biaya gaji karyawan sebesar Rp 78.210.250,00. Sedangkan biaya terkecil adalah biaya canting tulis sebesar Rp 111.000,00.
Dalam biaya bahan baku, biaya terbesar dikeluarkan untuk biaya kain prima sebesar Rp 55.286.800,00. Kain Prima merupakan kain yang paling banyak digunakan dalam ketiga jenis batik. Kain prima merupakan jenis kain katun yang memiliki kualitas terbaik. Sedangkan biaya terkecil yang digunakan dalam bahan baku adalah biaya soda, yang terdiri dari soda ashdan coustic soda. Soda digunakan dalam proses pewarnaan pada kain batik yang berfungsi untuk menghindari terjadinya penempelan ulang malam di permukaan kain sehingga motif yang telah digambar sebelumnya terlihat jelas.
Biaya penyusutan peralatan batik merupakan biaya penyusutan atas pembelian peralatan untuk membatik yaitu canting cap, wajan, kompor, meja printing, plangkan, dan mixer obat. Perhitungan biaya penyusutan peralatan per bulan dengan metode garis lurus dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 13. Biaya Penyusutan Pada UKM Batik Bogor Tradisiku
Peralatan Umur
Ekonomis
Nilai Aset Nilai Sisa Persentase Penyusutan /bln
Kompor Minyak 2 tahun Rp 2.100.000 Rp210.000 4.17% Rp 78.750 Kompor Gas 2 tahun Rp 3.255.000 Rp325.500 4.17% Rp 122.062 Wajan 5 tahun Rp 305.000 Rp 30.500 1.67% Rp 4.575 Canting Cap 10 tahun Rp 6.000.000 Rp600.000 0.83% Rp 45.000 Meja Printer 5 tahun Rp 8.400.000 Rp840.000 1.67% Rp 126.000 Plangkan 2 tahun Rp 3.000.000 Rp300.000 4.17% Rp 112.500 Mixer Obat 5 tahun Rp 700.000 Rp 70.000 1.67% Rp 10.500
Berdasarkan perhitungan biaya penyusutan dengan metode garis lurus ini didapatkan biaya penyusutan peralatan per bulan sebesar Rp 499.388,00, sehingga untuk per caturwulan adalah sebesar Rp 1.997.550,00.
Tabel 14. Biaya- Biaya yang Terjadi Pada UKM Batik Bogor Tradisiku Pada Caturwulan 2 (September – Desember 2010)
No Biaya Jumlah
1 Biaya Gaji Rp 96.865.750
2 Biaya Listrik, Telepon, dan Air Rp 3.492.000
3 Biaya ATK Rp 843.550
4 Biaya Sehari-hari Galeri Rp 3.401.400
5 Biaya Konsumsi Rp 5.597.800
6 Biaya Bahan Baku Produksi
Kain Prima Rp 62.537.631 Kain Primis Rp 10.801.825 Kain lain-lain Rp 3.506.241 Obat Batik Rp 12.238.805 Malam Rp 3.915.784 Bahan Bakar Rp 1.912.218 Soda Rp 959.763
Bahan Baku Pelengkap Rp 2.476.140 7 Biaya Canting Tulis Rp 105.000 8 Biaya Penyusutan Peralatan
Kompor Minyak Rp 315.000
Kompor Gas Rp 488.252
Lanjutan Tabel 14.
Canting Cap Rp 180.000
Meja Printing Rp 504.000
Plangkan Rp 450.000
Mixer Obat Batik Rp 42.000 9 Biaya Perlengkapan Batik Rp 3.294.000 10 Biaya Transportasi dan akomodasi Rp 8.051.000
Total Biaya Rp 221.996.458
Pada caturwulan kedua, sama seperti caturwulan pertama biaya tertinggi dikeluarkan untuk biaya bahan baku, selanjutnya adalah biaya gaji karyawan dan biaya terendah dikeluarkan untuk biaya canting tulis. Biaya bahan baku sebesar Rp 98.348.406,00, biaya ini mengalami peningkatan dari caturwulan sebelumnya meskipun unit kain terjual lebih rendah. Hal tersebut diakibatkan oleh adanya kenaikan harga kain mencapai 50%. Biaya pembelian kain prima merupakan biaya terbesar yang dikeluarkan untuk biaya bahan baku yaitu sebesar Rp 62.537.631,00 dan biaya terkecil adalah biaya pembelian soda. Biaya gaji mengalami peningkatan cukup tinggi karena pada caturwulan kedua terdapat penambahan jumlah karyawan pada UKM Batik Bogor Tradisiku, yaitu sebesar Rp 96.865.750,00. Biaya canting tulis yaitu sebesar Rp 105.000,00. Total biaya yang dikeluarkan pada caturwulan kedua mengalami peningkatan yaitu Rp 221.996.458,00 dikarenakan meningkatnya biaya gaji karyawan dan biaya bahan baku. Tabel 15. Biaya- Biaya yang Terjadi Pada UKM Batik Bogor Tradisiku