91
7 KONSEPTUALISASI DAN GAGASAN YANG TERKAIT
DENGAN PERSEPSI MASYARAKAT LOKAL TERHADAP
DAMPAK INDUSTRI PARIWISATA TAMAN SAFARI
Konseptualisasi dan Gagasan Terkait Persepsi Masyarakat
Persepsi masyarakat lahir karena keadaan yang menuntut mereka untuk mengambil suatu tindakan yang diwujudkan pada prilaku keseharian dan kemudian akan diaktualisasikan sebagai bentuk respon mereka terhadap suatu kejadian. Persepsi masyarakat lahir karena dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal dari suatu kegiatan.
Pada pengelolaan sumberdaya alam, salah satu faktor yang menentukan keberlanjutan pengelolaan adalah keberadaan masyarakat setempat. Dalam hal ini masyarakat berinteraksi langsung dengan sumberdaya sekitar, sehingga persepsi masyarakat sebagai salah satu aspek sosial akan menentukan arah pemanfaatan yang di lakukakan.
Pembangunan pariwisata akan berdampak sangat luas dan signifikan dalam pengembangan ekonomi, upaya-upaya pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan serta akan berdampak terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat, terutama masyarakat lokal. Pengembangan kawasan industri pariwisata mampu memberikan kontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD), membuka peluang usaha dan kesempatan kerja serta sekaligus berfungsi menjaga dan melestarikan kekayaan alam hayati. Pengembangan pariwisata sebagai salah satu sektor pembangunan secara umum menjadi sangat relevan jika pengembangan pariwisata itu sesuai dengan potensi daerahnya. Diharapkan pengembangan pariwisata dapat berpengaruh baik bagi kehidupan masyarakat terutama masyarakat lokal dan mampu mendorong pengembangan berbagai sektor lain baik ekonomi, sosial maupun budaya. Dengan demikian maka, pembangunan pariwisata harus didasarkan pada kriteria keberlanjutan yang artinya bahwa pembangunan dapat didukung secara ekologis dalam jangka panjang sekaligus layak secara ekonomi, adil secara etika dan sosial terhadap masyarakat (Piagam Pariwisata 1995 dalam Permata Sari 2010).
Proyek pariwisata berbasis masyarakat dalam rangka memperkuat kekayaan negara dan kesejahteraan yang dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat khususnya di masyarakat lokal sehingga mereka tidak akan terpinggirkan. Biasanya masyarakat lokal yang terlibat dalam kegiatan pariwisata terutama tertarik dengan keuntungan yang dirasakan dalam hal keuntungan ekonomi, didasarkan pada teori bahwa peningkatan pendapatan yang berasal dari wisatawan akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat (Sutarso 2010).
Berdasarkan pernyataan tersebut di atas, maka kawasan wisata Taman Safari Indonesia Cisarua-Bogor yang terletak di Kabupaten Bogor Jawa Barat memerlukan pengkajian yang lebih mendalam untuk mengetahui besarnya dampak aktivitas pariwisata yang terdapat di dalam kawasan yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat serta lingkungan sekitarnya. Studi ini diharapkan dapat mengidentifikasi dan menganalisis persepsi masyarakat mengenai pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan berkaitan dengan perubahan kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan lingkungan setempat.
Mengingat pentingnya kajian persepsi masyarakat, sangat perlu bagi penerapan konseptualisasi dan kemudian akan diimplementasikan melalui rekomendasi hasil penelitian yang telah dilakukan, yang dibagi dalam tiga aspek yaitu aspek sosial, ekonomi dan lingkungan.
Konseptualisasi dan Gagasan Terkait dengan Dampak Pariwisata
Masyarakat lokal di kawasan pariwisata Taman Safari Indonesia Cisarua-Bogor pada prinsipnya memiliki kesamaan dengan masyarakat yang ada di daerah bukan tempat wisata, pada umumnya adalah masyarakat agraris yang sangat tergantung pada alam lingkungannya. Mata pencaharian utama adalah petani, akan tetapi tidak semua kebutuhan hidup dapat dipenuhi dari pekerjaan sebagai petani, akibat dari kondisi tanah dan lingkungan setempat.
Masyarakat lokal, terutama penduduk asli yang bermukim di kawasan wisata, menjadi salah satu pemain kunci dalam pariwisata, karena sesungguhnya merekalah yang akan menyediakan sebagian besar atraksi sekaligus menentukan produk wisata. Pengelolaan lahan pertanian secara tradisional seperti di Bali, upacara adat, kerajinan tangan dan kebersihan merupakan beberapa contoh peran yang memberikan daya tarik bagi wisatawan (Weber dan Damanik 2006).
93
Pengembangan pariwisata pada dasarnya adalah pengembangan masyarakat dan wilayah dan selanjutnya perlu didasarkan pada kriteria sebagai berikut:
1. Memajukan tingkat hidup masyarakat sekaligus melestarikan identitas budaya dan tradisi lokal. Keberadaan Taman Safari Indonesia Cisarua- Bogor, akan memberikan orientasi pengembangan wilayah sekitar, akibat terjadinya interaksi sosial dengan masyarakat pendatang yang mengunjungi wilayah tersebut, bukan hanya tujuan untuk melakukan perjalanan wisata akan tetapi turut berpartisipasi menanamkan modal bagi pengembangan sarana dan prasarana sekitar obyek wisata. Dengan beroperasinya obyek wisata Taman Safari Indonesia Cisarua- Bogor, diharapkan akan melestarikan identitas budaya dan tradisi lokal, melalui penyelenggaraan atraksi-atraksi budaya setempat yang dapat dijadikan sebagai pertunjukan bagi pengunjung. Sehingga masyarakat sekitar akan dapat merasakan manfaat ekonomi melalui reward yang diberikan kepada mereka. Dalam hal ini dampak bukan hanya melestarikan budaya masyarakat setempat, akan tetapi juga masyarakat telah diberdayakan dan kegiatan seperti ini akan berlanjut karena mereka dapat memperoleh penghasilan.
2. Meningkatkan pendapatan secara ekonomis sekaligus mendistribusikan manfaat secara merata pada penduduk lokal. Manfaat sosial dan ekonmi bagaikan dua sisi mata uang, yang secara holistik akan terasa manfaatnya bagi masyarakat melalui keberadaan Taman Safari Indonesia Cisarua- Bogor. Pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan industri pariwisata Taman Safari Indonesia Cisarua- Bogor, menemui beberapa kendala akbibat belum terlaksananya kolaborasi antar stakeholder yang berkepentingan dengan pengelolaan kawasan pariwisata Taman Safari Indonesia Cisarua- Bogor. Konsep kolaborasi yang dimaksudkan adalah apabila setiap stakeholder yang terlibat dalam pengelolaan kawasan dapat memperoleh manfaat secara adil dan merata sehingga dampak negatif akan dapat diminimalisir melalui kolaborasi tersebut.
3. Berorientasi pada pengembangan wirausaha berskala kecil dan menengah dengan daya serap tenaga kerja besar dan berorientasi pada teknologi cooperative. Sektor usaha menengah kebawah selama ini lebih terbukti tahan (resilience) terhadap terpaan berbagai krisis ekonomi yang melanda
perekonomian di Indonesia. Pelaku usaha tingkat menengah kebawah yang diperankan oleh masyarakat dengan manajemen yang tergolong masih menerapkan prinsip wirausaha yang tradisional justru dapat mempertahankan usaha mereka. Usaha tersebut mampu menyerap tenaga kerja, sehingga dampak sosial yang diberikan sangat berpengaruh terhadap pengurangan pengangguran dan pada gilirannya akan mengurangi tingkat kenakalan remaja dan hura-hura. Kegiatan pariwisata diharapkan dapat mereduksi dampak negatif yang akan timbul di sekitar kawasan industri pariwisata Taman Safari Indonesia Cisarua- Bogor. Hal seperti ini, bukan berarti tidak akan menemui kendala dan permasalahan, akan tetapi melalui kemauan dari berbagai stakeholder untuk bekerja sama secara kolaboratif, implementasi tentang konsep pengelolaan industri pariwisata di Taman Safari Indonesia Cisarua- Bogor dapat dilaksanakan dengan baik.
4. Memanfaatkan potensi pariwisata seoptimal mungkin sebagai agen penyumbang tradisi budaya dengan dampak negatif yang seminimal mungkin (Fandeli 2001). Apabila masyarakat setempat telah diberdayakan secara sinergis, dengan sendirinya akan mengurangi dampak negatif yang dikhawatirkan akan timbul, sehingga akan menyebabkan berlanjutnya kegiatan pariwisata di daerah tersebut.
Menurut Fandeli (2001), pembangunan kepariwisataan memiliki tiga fungsi, yaitu: menggalakkan kegiatan ekonomi, memelihara kepribadian bangsa dan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan mutu lingkungan hidup serta memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa, menanamkan jiwa semangat dan nilai-nilai luhur bangsa dalam rangka memperkokoh persatuan dan kesatuan nasional Sejalan dengan pendapat (Fandeli 2001), di Taman Safari Indonesia Cisarua- Bogor; Pertama telah digalakkan kegiatan ekonomi masyarakat melalui penciptaan peluang lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal, dimana selama ini masyarakat hanya menggantungkan sumber pendapatannya dari sektor agraris, dengan penerapan pertanian tradisional. Meskipun tidak dapat di pungkiri bahwa keberadaan industri pariwisata Taman Safari Indonesia Cisarua- Bogor akan menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan akibat terjadinya konversi lahan secara besar-besaran, untuk menunjang kegiatan pariwisata. Kedua adalah
95
memelihara kepribadian bangsa; hal yang sama juga terjadi di Taman Safari Indonesia Cisarua- Bogor bahwa dengan terbukanya kawasan industri pariwisata, masyarakat mulai menyadari akan eksistensi kebudayaan yang mereka miliki, namun belum diimplementasikan sebagai salah satu pertunjukan/atraksi yang dapat menarik wisatawan hal ini disebabkan Taman Safari Indonesia Cisarua- Bogor belum memanfaatkan budaya lokal sebagai atraksi wisata. Ketiga adalah eksistensi lingkungan hidup dan kelestarian fungsi lingkungan hidup, hal yang sama juga terjadi di kawasan Taman Safari Indonesia Cisarua- Bogor, bahwa mutu lingkungan hidup merupakan faktor penting untuk diperhatikan. Masyarakat sekitar kawasan yang sebahagian besar beretnis Sunda, tetap mempertahankan pola pengelolaan lahan yang secara turun temurun mereka lakukan, namun hal tersebut mulai mendapat kendala dengan fenomena konversi lahan. Hal ini perlu mendapat perhatian penting dari Pemerintah setempat karena apabila aspek ini tidak diprioritaskan, akan menyababkan ketidak berlanjutan pengelolaan industri pariwisata Taman Safari Indonesia Cisarua- Bogor. Keempat adalah melalui kegiatan pariwisata akan memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa, serta menanamkan jiwa semangat dan nilai-nilai luhur bangsa dalam rangka memperkokoh persatuan dan kesatuan Nasional sejalan dengan tujuan pembangunan nasional, mengingat sektor pariwisata merupakan salah satu sektor penting yang dapat meningkatkan devisa negara.
Pengembangan kegiatan pariwisata dan ekowisata di Indonesia yang merupakan suatu hal baru mulai mendapat perhatian dan sangat menarik banyak peminat. Pengembangan kegiatan pariwisata secara ideal diharapkan mampu menciptakan saling keterkaitan dan saling menjaga secara harmonis antara unsur-unsur lingkungan fisik, sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Namun, kegiatan pengembangan pariwisata mempunyai dampak positif dan negatif. Dampak positifnya antara lain dapat meningkatkan devisa negara, perluasan lapangan kerja, mendorong pengembangan usaha baru, serta diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dan wisatawan tentang konservasi, pengelolaan sumberdaya alam dan lingkunga. Sedangkan dampak negatifnya antara lain adalah terjadinya degradasi lingkungan (erosi) yang dapat
mengakibatkan banjir, terkikisnya nilai-nilai sosial budaya lokal serta kecenderungan masyarakat lokal untuk mengadopsi budaya luar.
Masyarakat merupakan kumpulan individu dan kelompok yang membentuk organisasi sosial yang bersifat kompleks. Dalam organisasi sosial tersebut terdapat nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berfungsi sebagai aturan-aturan untuk bertingkah laku dan berinteraksi dalam kehidupan masyarakat (Haryanto 2012)
Strategi-strategi penting untuk diperhatikan berdasarkan analisis SWOT dan QSPM yang sudah dilakukan dalam penelitian ini, diperoleh bahwa aspek yang dijadikan strategi awal untuk memperkuat konsep keberlanjutan dalam pengelolaan industri pariwisata di Taman Safari Indonesia Cisarua-Bogor adalah Pencegahan konversi lahan dan kerusakan sumberdaya alam dan lingkungan dengan cara bekerja sama dengan Pemerintah untuk lebih menertibkankan pembangunan hotel, villa dan penginapan yang ada di sekitar kawasan industri pariwisata Taman Safari Indonesia Cisarua-Bogor
Dari aspek tersebut terjadi perubahan dalam masyarakat akibat perubahan sosial pada keadaan masyarakat itu sendiri, perubahan sosial yang terjadi tidak selamanya suatu kemajuan (progress). Bahkan dapat pula sebagai suatu kemunduran bagi masyarakat. Kecepatan perubahan tiap daerah berbeda-beda bergantung pada dukungan dan kesiapan masyarakat untuk berubah, perbedaan perubahan tersebut dapat mengakibatkan munculnya kecemburuan sosial dalam masyarakat yang harus dihindari.
Terdapat beberapa tanggapan masyarakat sebagai dampak perubahan sosialyang menimbulkan suatu ketidakpuasan, penyimpangan masyarakat, ketinggalan atau ketidaktahuan adanya perubahan, yaitu sebagai berikut:
1. Perubahan yang diterima masyarakat kadang-kadang tidak sesuai dengan keinginan. Hal ini karena setiap orang memiliki gagasan mengenai perubahan yang mereka anggap baik sehingga perubahan yang terjadi dapat ditafsirkan bermacam-macam, sesuai dengan nilai-nilai sosial yang mereka miliki.
2. Perubahan mengancam kepentingan pihak yang sudah mapan, hak istimewa yang diterima dari masyarakat akan berkurang atau menghilang
97
sehingga perubahan dianggapnya akan mengancam berbagai aspek kehidupan. Untuk mencegahnya, setiap perubahan harus dihindari dan ditentang karena tidak sesuai kepentingan kelompok masyarakat tertentu. 3. Perubahan dianggap sebagai suatu kemajuan sehingga setiap perubahan
harus diikuti tanpa dilihat untung ruginya bagi kehidupan, selain itu perubahan juga dianggap membawa nilai-nilai baru yang modern.
4. Ketidaktahuan pada perubahan yang terjadi dapat mengakibatkan seseorang ketinggalan informasi tentang perkembangan yang terjadi baik skala lokal, nasional maupun dunia.
5. Masa bodoh terhadap perubahan, hal ini disebabkan perubahan sosial yang terjadi dianggap tidak akan menimbulkan pengaruh bagi dirinya. 6. Ketidaksiapan menghadapi perubahan, pengetahuan dan kemampuan
seseorang terbatas, dengan adanya dampak perubahan sosial yang terjadi tidak akan memiliki kesempatan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi.
Dampak perubahan sosial
Perubahan sosial mengakibatkan terjadinya masalah-masalah sosial seperti kejahatan atau kenakalan remaja. Meskipun begitu, tidak setiap masalah yang terjadi pada masyarakat disebut masalah sosial. Menurut Merton dalam Suratno (1999), suatu masalah disebut masalah sosial jika memenuhi beberapa kriteria, diantaranya:
1. Tidak adanya kesesuaian antara ukuran-ukuran dan nilai-nilai sosial dengan kenyataan-kenyataan serta tindakan-tindakan sosial.
2. Semula ada pendapat keliru yang menyatakan bahwa masalah sosial bersumber secara langsung pada kondisi-kondisi ataupun proses-proses sosial. Pendapat tersebut tidak memuaskan dan telah ditinggalkan. Hal pokok di sini bukanlah sumbernya, akan tetapi pengaruh dari gejala-gejala tersebut baik gejala sosial maupun gejala lain yang menyebabkan terjadinya masalah sosial. 3. Pihak-pihak yang menetapkan, apakah suatu kepincangan merupakan masalah
4. Adanya masalah-masalah sosial yang terbuka dan masalah-masalah sosial yang tertutup. Masalah sosial tersebut timbul akibat terjadinya kepincangan-kepincangan masyarakat karena tidak sesuainya tindakan-tindakan dengan norma-norma dan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.
Akibat kondisi tersebut di atas, masyarakat tidak menyukai tindakan-tindakan yang menyimpang dan berlawanan dengan nilai-nilai yang berlaku. Masalah sosial merupakan proses terjadinya ketidaksesuaian antara unsur-unsur dalam kebudayaan suatu masyarakat yang membahayakan kehidupan kelompok-kelompok sosial. Dengan kata lain, masalah sosial menyebabkan terjadinya hambatan dalam pemenuhan kebutuhan warga masyarakat, sehingga mengakibatkan terjadinya disintegrasi sosial atau rusaknya ikatan sosial. Proses disinegtrasi sebagai akibat perubahan sosial dalam masyarakat dapat berbentuk: 1. Aksi Protes dan Demonstrasi
Aksi protes disebut juga unjuk rasa yang selalu terjadi dalam kehidupan manusia, hal itu terjadi karena setiap orang memiliki pendapat dan pandangan yang mungkin berbeda. Protes dapat terjadi apabila suatu hal menimpa kepentingan individu atau kelompok secara langsung sebagai akibat dari rasa ketidakadilan akan hak yang harus diterima. Akibatnya, individu atau kelompok tersebut tidak puas dan melakukan tindakan penyelesaian. Protes merupakan aksi tanpa kekerasan yang dilakukan oleh individu atau kelompok masyarakat terhadap suatu kekuasaan. Protes dapat pula terjadi secara tidak langsung sebagai rasa solidaritas antar sesama karena kesewenang-wenangan pihak tertentu yang mengakibatkan kesengsaraan bagi orang lain.
2. Kriminalitas
Perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan memberi peluang bagi setiap orang untuk berubah, tetapi perubahan tersebut tidak membawa setiap orang ke arah yang dicita-citakan. Hal ini berakibat terjadinya perbedaan sosial berdasarkan kekayaan, pengetahuan, perilaku, ataupun pergaulan. Perubahan sosial tersebut dapat membawa seseorang atau kelompok ke arah tindakan yang menyimpang karena dipengaruhi keinginan-keinginan yang tidak terpenuhi atau terpuaskan dalam kehidupannya.
99
Perbuatan kriminal yang muncul di masyarakat secara khusus akan diuraikan sebagai akibat terjadinya perubahan sosial yang menimbulkan kesenjangan kehidupan atau jauhnya status sosial. Akibatnya tidak semua orang atau kelompok dalam kehidupan masyarakat mendapat kebahagiaan yang sama. 3. Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja merupakan disintergasi dari keutuhan suatu masyarakat. Hal itu karena tindakan yang mereka lakukan dapat meresahkan masyarakat. Oleh karena itu, kenakalan remaja disebut sebagai masalah sosial. Munculnya kenakalan remaja merupakan gejolak kehidupan yang disebabkan adanya perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat, seperti pergeseran fungsi keluarga karena kedua orangtua bekerja sehingga peranan pendidikan keluarga menjadi berkurang.
Dampak sosial yang terjadi menyebabkan pergeseran nilai dan norma dalam masyarakat yang mengakibatkan berkembangnya sifat individualisme. Selain itu terjadi pergeseran struktur masyarakat yang mengakibatkan masyarakat lebih menyerahkan setiap permasalahan kepada yang berwewenang. Perubahan sosial, ekonomi, budaya dan unsur budaya lainnya dapat mengakibatkan disintegrasi.
Dampak Perubahan Ekonomi
Sosial ekonomi mengandung arti segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat sementara ekonomi memiliki arti sebagai ilmu yang berhubungan dengan asas produksi, distribusi, pemakaian barang dan jasa serta kekayaan. Sosial dan ekonomi seperti dua hal dan cabang yang berbeda, namun diantara keduanya memiliki keterkaitan yang erat, misalnya jika kebutuhan ekonomi tidak terpenuhi maka akan terdapat dampak sosial yang terjadi di masyarakat. Dampak sosial yang terjadi dalam masyarakat akibat tidak terpenuhinya faktor-faktor ekonomi yang banyak terjadi adalah:
1. Kesenjangan sosial
Sejatinya pertumbuhan ekonomi yang tinggi disuatu negara maka harus bisa mendongkrak status dan pendapatan seluruh masyarakat. Namun yang terjadi adalah semakin tingginya jurang kesenjangan sosial dalam masyarakat
disebabkan yang merasakan kemakmuran dari pertumbuhan ekonomi hanya kalangan masyarakat menengah keatas sementara kalangan masyarakat menengah kebawah masih bergelut dengan kekurangan dan tidak bisa ikut merasakan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi.
2. Kekerasan etnis dan kelompok
Tampaknya perekonomian mengakibatkan masyarakat menengah kebawah tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi, merasakan kemakmuran dan pemerataan pembangunan, sehingga masyarakat yang berada dalam lingkungan seperti ini mudah terpengaruh, tidak memiliki pendirian dan cenderung gampang terprovokasi baik masa ataupun oleh tokoh-tokoh masyarakat. Hal ini menyebabkan suatu daerah rawan konflik dan tidak berpikir jangka panjang akibat dari konflik.
3. Kekerasan dalam rumah tangga.
Walaupun ekonomi bukanlah alasan yang utama namun dalam beberapa kasus kekerasan rumah tangga penyebabnya adalah faktor ekonomi, akibat tidak terpenuhi kebutuhan dalam rumah tangga salah satu penyebanya adalah beban hidup yang tinggi dan berlansung lama.
Dampak ekonomi yang timbul dari kegiatan pariwisata bisa saja negatif maupun positif. Salah satu dampak positif yang akan timbul adalah bagi masyarakat setempat dapat meningkatkan pendapatan mereka sebagai akibat terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat lokal yang mempengaruhi semakin bervariasinya kegiatan akonomi salah satu contohnya adalalah dengan tumbuhnya pembangunan hotel, villa dan cottage di sekitar kawasan Taman Safari Indonesia Cisarua-Bogor. Sehingga pada gilirannya akan meningkatkan sumber pendapatan daerah Kabupaten Bogor. Dampak positif seperti ini, diharapkan akan menciptakan kolaborasi bagi berbagai stakeholder yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung terhadap pengelolaan kawasan Taman Safari Indonesia Cisarua-Bogor.
Dampak Perubahan Lingkungan
Industri pariwisata memiliki hubungan erat dan kuat dengan lingkungan fisik. Lingkungan alam merupakan aset pariwisata dan mendapatkan dampak karena sifat lingkungan fisik mudah rusak dan tidak dapat diperbaharui sedangkan
101
manusia membutuhkan lingkungan untuk dinikmati dan merupakan kebutuhan hidupnnya. Lingkungan fisik merupakan daya tarik utama kegiatan pariwisata yang meliputi lingkungan alam (flora dan fauna, bentangan alam, dan gejala alam) dan lingkungan buatan (situs kebudayaan, wilayah perkotaan, wilayah pedesaan, dan peninggalan sejarah). Hubungan lingkungan dan pariwisata tidak selamanya saling mendukung dan menguntungkan sehingga upaya konservasi dan edukasi harus dilakukan agar hubungan keduanya berkelanjutan. Namun kenyataannya pariwisata lebih sering mengeksploitasi lingkungan alam. Kegiatan wisata sepanjang tahun justru akan memberikan tekanan terhadap lingkungan alam yang berlebih dan berakibat pada kerusakan. Beberapa aktivitas wisata mengeksploitasi lingkungan fisik secara berlebih yang semata-mata dilakukan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan, seyogyanya hubungan lingkungan alam dengan pariwisata harus mutual dan bermanfaat yakni wisatawan menikmati keunikan dan keindahan alam sedangkan pendapatan yang dibayarkan wisatawan digunakan untuk melindungi dan memelihara lingkungan alam tersebut guna kelangsungan dan keberlanjutan pariwisata. Dampak pariwisata terhadap lingkungan fisik merupakan dampak yang mudah diidentifikasi karena nyata diantaranya:
1.
Kondisi AirAir mendapatkan polusi dari pembuangan limbah cair (detergen pencucian linen hotel) dan limbah padat (sisa makanan tamu). Limbah-limbah itu mencemari danau dan sungai. Akibat dari pembuangan limbah, maka lingkungan terkontaminasi, kesehatan masyarakat dapat terganggu, perubahan dan kerusakan vegetasi air, nilai estetika perairan menjadi berkurang seperti warna, rasa dan bau.
2.
Kondisi UdaraUdara tercemar kibat emisi kendaraan darat (mobil, bus dan motor) dan bunyi deru mesin kendaraan menyebabkan kebisingan. Akibat polusi udara dan polusi suara, maka nilai wisata berkurang, pengalaman menjadi tidak menyenangkan dan memberikan dampak negatif bagi vegetasi dan hewan.
3.
Kehidupan satwa liarSatwa liar menjadi daya tarik wisata yang luar biasa, wisatawan terpesona dengan pola hidup hewan, namun kegiatan wisata mengganggu kehidupan
satwa-satwa tersebut. Komposisi fauna berubah akibat pemburuan hewan, pelecehan satwa liar untuk fotografi, eksploitasi hewan untuk pertunjukan, gangguan reproduksi hewan (berkembang biak), perubahan insting hewan yang tadinya ganas menjadi hewan jinak yang dilindungi, terjadinya migrasi satwa ketempat yang lebih aman dan lain-lain.
4.
Kondisi Wilayah perkotaan/pedesaanPendirian hotel,villa, penginapan, restoran, fasilitas wisata, toko cinderamata dan bangunan lain sangat dibutuhkan di daerah tujuan wisata. Seiring dengan pembangunan itu, jumlah kunjungan wisatawan, jumlah kendaraan dan kepadatan lalu lintas meningkat dengan cepat. Hal ini menyebabkan terjadinya konversi lahan dan perubahan fungsi lahan pertanian dan tempat tinggal menjadi lahan komersil, kemacetan lalu lintas, polusi udara dan polusi es-tetika (terutama ketika bangunan didirikan tanpa aturan penataan yang benar).
Penggunaan yang berlebihan untuk kunjungan wisata menyebabkan lingkungan mudah rusak dan menyebabkan dampak negatif dari kegiatan pariwisata terhadap lingkungan fisik. Oleh karena itu pengelola pariwisata dan