• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konstruksi Nasionalisme Generasi Muda di Surabaya

MUDA DI SURABAYA Sarmini

PENDAHULUAN a. Latar Belakang

A. Konstruksi Nasionalisme Generasi Muda di Surabaya

Seperti yang dijelaskan dalam Bab sebelumnya, bahwa konsep konstruksi Nasionalisme yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada konsep Sartono Kartodirdjo, yang terdiri dari lima prinsip yaitu: (1) kesatuan (unity); (2) kesamaan (equality); (3) kemerdekaan (liberty); (4) kepribadian (personality); (5) prestasi yang dicapai (performance). Dengan Indikator Variabel sebagai berikut:

a. Kesatuan (unity); diukur dari cara mereka menghadapi potensi konflik di Indonesia baik konflik sosial, konflik politik, maupun konflik agama dan ethnis.

b. Kesamaan (equality) diukur dari sikap mereka terhadap perbedaan etnis, budaya dan agama.

c. Kemerdekaan (liberty) diukur dari bagaimana mereka memahami hak-hak dan kewajiban dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

d. Kepribadian (personality) diukur dari pengetahuan mereka terhadap nilai-nilai Pancasila dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari.

901 e. Prestasi (performance) diukur dari apa yang dicita-citakan dan tindakan yang akan

dilakukan berkaitan dengan kemajuan bangsa dan negara.

a. Konstruksi Nasionalisme Generasi Muda di Surabaya dari indikator Kesatuan (Unity)

Berdasarkan data yang diperoleh, secara umum tingkat Nasionalisme generasi muda cukup memprihatinkan. Hal ini bisa dilihat dari respon dan sikap mereka dalam menghadapi perbedaan, khususnya perbedaan suku dan agama yang sering kali menjadi sumber konflik. Meskipun sebagian (41,55%) generasi muda sudah tidak lagi mempunyai prasangka buruk terhadap suku dan agama lain, namun selebihnya prasangka tersebut masih ada. Bahkan sebagian (17,49%) dari meraka masih sering berprasangka buruk dan bersikap tidak senang terhadap suku dan agama lain.

Sikap dan prasangka yang kurang baik terhadap suku dan agama lain juga ditunjukkan dalam tindakan nyata, terutama pada saat memilih teman seperti tabel di bawah:

Tabel.01

Tindakan dalam memilih teman

Item SKALA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jml 5 12 20 36 15 14 49 24 55 92 370 687 10 26 36 36 34 17 44 18 54 90 353 708 jml 38 56 72 49 31 93 42 109 182 723 1395 % 2,72 4,01 5,16 3,51 2,22 6,66 3,01 7,81 13,04 51,82 100 Tabel di atas menunjukan bahwa dalam berteman, sebagian dari mereka masih memilih teman yang seagama dan sesuku. Meskipun dari mereka (51,82%) ada yang sudah bersikap tidak membedakan suku dan agama dalam berteman. Ada anggapan bahwa berteman dengan seagama ataupun berasal dari suku yang sama dipandang lebih nyaman. Tentunya anggapan ini belum tentu benar. Jika kita berbicara dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, cara berteman berdasarkan suku dan agama ini tentu tidak benar. Argumen ini didadasarkan bahwa para pendiri negara telah bersepakat untuk membangun satu bangsa dengan menghargai dan menerima adanya perbedaan baik suku maupun agama. Oleh karena itu, tentu ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua dalam membangun rasa kebangsaan.

Sikap dan tindakan yang belum sepenuhnya menerima suku dan agama lain, juga bisa dilihat dari sikap primordialisme generasi muda dalam menentukan kepala negara dan kepala daerah. Sebagian besar (54,37%) generasi muda masih bersikap primordial dalam mentukan pilihan kepala negara dan kepala daerah. Mereka masih memilih

orang-902 orang yang sesuku atau sedaerah untuk menjadi kepala negara atau kepala daerah. Sebagian diantara mereka (45,63%) telah bersikap netral, dalam arti tidak lagi mempersoalkan kesukuan dan kedaerahan, dalam menentukan pilihan kepala negara dan kepala daerah, namun hal ini masih bisa menjadi sumber potensi konflik dalam proses politik dan menjadi penghambat dalam berdemokrasi. Sebab dalam berdemokrasi setiap warga negara mempunyai hak yang sama dalam jabatan politik. Selain itu, pilihan dalam memilih pemimpin seharusnya memilih yang terbaik, tanpa harus melihat kesukuan dan kedaerahan.

b. Konstruksi Nasionalisme Generasi Muda di Surabaya dari indikator kesamaan (equality)

Dari data yang diperoleh, menunjukan bahwa belum semua generasi muda kita bisa menerima adanya perbedaan, khususnya perbedaan agama dan partai politik. Sebagian dari mereka masih mempunyai perasaan tidak senang terhadap orang yang berbeda agama dan partai politik. Sikap tidak senang terhadap orang yang berbeda agama dan berbeda parti politik ini pada gilirannya akan menjadi sumber potensi konflik dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan ini didasarkan pada data bahwa paling tidak ada sekitar (34,95%) generasi muda, masih terlibat dalam konflik yang disebabkan oleh perbedaan agama dan partai politik. Bahkan yang sering terlibat konflik karena perbedaan agama dan partai politik mencapai sekitar 6,87%. Hal ini memprihatinkan, mengingat perbedaan agama dan partai politik sebagai sumber konflik.

Selain potensi konflik disebabkan perbedaan agama dan partai politik, toleransi mereka terhadap status sosial ekonomi juga masih perlu dipupuk kembali. Memang sebagian besar dari mereka (65,05%) sudah tidak mempedulikan stastus sosial ekonomi dalam berteman, namun ada sebagian dari mereka (43,46%) dalam berteman cenderung memilih status sosial ekonomi yang sama. Dan sebaliknya, merasa kurang nyaman jika harus berteman dengan orang berbeda status sosial ekonominya.

c. Konstruksi Nasionalisme Generasi Muda di Surabaya dari indikator kemerdekaan (liberty)

Yang dimaksud kemerdekaan dalam konteks ini, adalah kebebasan yang dilakukan oleh para generasi muda dengan memperhatikan hak dan kewajiban yang dimiliki generasi muda. Terkait dengan kontek kemerdekaan ini, para pelajar banyak yang belum menyadari bahwa ada kewajiban yang harus dilakukan, namun diantara mereka cenderung mendahulukan hak-hak yang dimiliki. Data menunjukkan bahwa

903 umumnya pelajar tidak melakukan kewajibannya sebagai pelajar di sekolah, hanya sekitar 12,48% pelajar yang selalu mendahulukan kewajibannya, sedangkan hampir separu (48,99%) cenderung mengabaikannya. Bahkan ada 5,36% pelajar yang tidak pernah melakukan kewajibannya, termasuk kewajiban terhadap sekolah.

Sikap mengabaikan kewajiban seperti diuraikan di atas, juga tampak dalam perilaku pelanggaran peraturan-peraturan, khusunya pelanggaran tata tertib sekolah. Sebagian besar (77, 04%) pelajar kita masih melakukan pelanggaran tata tertib sekolah maupun lalulintas. Meskipun ada yang hampir tidak pernah melakukan pelanggaran peraturan baik di sekolah maupun peraturan lalu lintas, yaitu sebesar 22,96%, namun pelajar yang hampir selalu melakukan pelanggaran terhadap peraturan juga ada yaitu mencapai 2,52.

Kurangnya kesadaran dalam mendahulukan kewajiban ditunjukkan dengan adanya sikap egois yang kurang menghargai prestasi orang lain dan mendahulukan orang lain dalam antrian. Baru sekitar 9,23% pelajar bersikap kesatria dengan menghargai prestasi orang lain dan mendahulukan orang lain dalam antrian. Bahkan masih ada 6,82% pelajar yang bersikap egois yang hampir tidak pernah bersikap kesatrian dengan memberikan haknya kepada orang lain. Sikap egois para pelajar juga ditunjukan dengan ketidakmauan memberikan bantuan kepada teman yang sangat membutuhkan, sekitar 5,88% dari pelajar yang rela memberikan bantuan kepada teman yang sangat mebutuhkan. Bahkan masih ada 2,86% yang hampir tidak pernah merelakan memberikan sebagian miliknya untuk diberikan kepada teman yang sangat membutuhkan bantuan.

d. Konstruksi Nasionalisme Generasi Muda di Surabaya dari indikator Kepribadian (Personality)

Rendahnya tingkat Nasionalisme generasi muda khususnya para pelajar juga terlihat dari sikap mereka dalam mengikuti upacara bendera. Sebagian besar (74,08%) yang tidak mengikuti upacara dengan tertib, yaitu wajib menyanyikan lagu kebangsaan, menirukan pembacaan teks Pancasila dan bersikap sempurna dalam menyanyikan lagu Indonesia raya. Siswa yang selalu menyanyikan lagu Indonesia Raya dan menirukan ketika tek Pancasila dibacakan hanya 25,82%. Rendahnya rasa Nasionalisme para pelajar bisa dilihat dari tabel dibawah:

904

Tabel 02

Perilaku dalam Upacara

Item SKALA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jml 30 128 80 87 74 46 126 30 44 37 24 676 31 113 76 116 75 55 145 24 46 26 11 687 32 297 87 73 99 38 56 16 25 12 17 720 Jml 538 243 276 248 139 327 70 115 75 52 2083 % 25,82 11,66 13,25 11,90 6,67 15,69 3,36 5,52 3,60 2,49 100

Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan, sebab menyanyikan lagu Indonesia Raya dan menirukan pembacaan tek Pancasila merupakan kewajiban bagi peserta upacara. Bagi Bangsa Indonesia Indonesia Raya merupakan lagu kebangsaan dan Pancasila merupakan dasar negara yang wajib dinyanyikan dan diucapkan pada saat upacara bendera. Bahkan kalau dicek, ada sebagian generasi muda, termasuk para pelajar yang tidak hafal lagu Indonesia Raya. Memang yang penting bukan masalah hafalannya, tetapi bagaimana mereka memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Namun jika teknya saja tidak hafal, bagaimana mereka bisa memahami dan menghayati nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

e. Konstruksi Nasionalisme Generasi Muda di Surabaya dari indikator Pencapaian Prestasi (Performance)

Menurut Sardiman A.M (2001:46) “Prestasi adalah kemampuan nyata yang merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi baik dari dalam maupun dari luar individu dalam belajar”. Sedangkan pengertian prestasi menurut A. Tabrani (1991:22) “Prestasi adalah kemampuan nyata (actual ability) yang dicapai individu dari satu kegiatan atau usaha”. Sedangkan menurut W.S Winkel (1996:165) “Prestasi adalah bukti usaha yang telah dicapai. Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Pengertian Definisi Prestasi adalah suatu hasil yang telah dicapai sebagai bukti usaha yang telah dilakukan. semoga pengertian tersebut dapat bermanfaat buat anda semua. Terkait dengan indikator prestasi ini, motivasi para pelajar dalam mencapai prestasi bisa dikatakan masih rendah, dan perlu ditingkatkan. Argumen ini didasarkan pada data bahwa hanya sekitar 14,71% dari pelajar yang mempunyai motivasi kuat untuk menjadi juara kelas. Selebihnya mempunyai motivasi yang sedang dan lemah. Bahkan masih ada 3,57% pelajar yang tidak mempunyai motivasi untuk menjadi juara kelas

905 Rendahnya tingkat Nasionalisme para pelajar, juga dapat dilihat dari upaya mereka memajukan bangsa. Sebagai generasi muda yang menjadi tulang punggung bangsa dan negara, belum semua pelajar selalu memikirkan dan berupaya mengembangkan kreatifitas untuk kemajuan bangsa dan negara. Masih banyak pelajar yang kurang peduli terhadap upaya bagaimana memajukan bangsa. Bahkan ada 3,53% yang hampir tidak pernah berpikir dan berupaya utuk memajukan bangsa.

B. Model Pembelajaran IPS SMP untuk membangun konstruksi Nasionalisme