• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE

G. Konsumsi Pakan Larva

Larva instar ke 1 T. h. helena mengkonsumsi pakan 0.05 g per individu, instar ke 2 mengkonsumsi 0.07 g per individu, dan larva instar ke 3 mengkonsumsi 0.20 g per individu. Larva kecil (instar ke 1-3) mengkonsumsi pakan sebanyak 0.32 g per individu, atau sebanyak 12.8% dari total konsumsi larva. Fase instar ke 4 mengkonsumsi 0.52 g, sedangkan fase instar ke 5 mengkonsumsi pakan 1.66 g per individu. Larva besar (instar ke 4-5) mengkonsumsi pakan sebanyak 2.18 g per larva, atau sebanyak 87.2 % dari total konsumsi larva. Total pakan yang dikonsumsi oleh T. h. helena selama stadia larva adalah 2.50 ± 0.72 g bobot kering per larva (Tabel 8).

Tabel 8 Konsumsi pakan larva T. h. helena pada tiap fase (n=10)

Fase Instar Bobot kering (gram) Persentase (%)*

Larva kecil Instar ke 1 0.05 ± 0.03 2.00

Instar ke 2 0.07 ± 0.02 2.80

Instar ke 3 0.20 ± 0.15 8.00

Jumlah 0.32 ± 0.11 12.80

Larva besar Instar ke 4 0.52 ± 0.28 20.80

Instar ke 5 1.66 ± 0.60 66.40

Jumlah 2.18 ± 0.74 87.20

Total konsumsi 2.50 ± 0.72 100.00

*) terhadap total konsumsi pakan selama instar ke 1-5.

Larva T. h. hephaestus fase instar ke 1 mengkonsumsi pakan 0.03 g per larva, instar ke 2 mengkonsumsi 0.09 g per larva, dan fase instar ke 3 mengkonsumsi sebanyak 0.13 g per ekor. Larva kecil (instar 1-3) mengkonsumsi pakan sebanyak 0.25 g per larva, atau sebanyak 15.43% dari total konsumsi larva. Fase instar ke 4 mengkonsumsi 0.52 g, sedangkan fase instar ke 5 menghabiskan pakan 0.85 g per larva. Larva besar (instar ke 4-5) mengkonsumsi pakan 1.37 g per larva, atau sebanyak 84.57% dari total konsumsi larva. Jumlah total pakan yang dikonsumsi oleh T. h. hephaestus selama stadia larva adalah 1.62 ± 0.65 g bobot kering per ekor larva (Tabel 9).

Daun A. tagala berukuran 1 x 1 cm memiliki bobot kering rata-rata 0.01323 gram atau 0.01 gram. Rata-rata ukuran daun A. tagala yang berusia 3 bulan sekitar 25 x 25 cm. Hal ini berarti satu lembar daun A. tagala memiliki

bobot kering rata-rata 0.25 gram. Selama stadia larva, T. h. helena mengkonsumsi daun sebanyak 2.50 ± 0.72 gram, dengan kata lain larva T. h. helena membutuhkan daun sekitar 10 lembar.

Tabel 9 Konsumsi pakan larva T. h. hephaestus pada tiap fase (n=10)

Larva Instar Bobot kering (gram) Persentase (%)*

Larva kecil Instar ke 1 0.03 ± 0.02 1.85

Instar ke 2 0.09 ± 0.03 5.56

Instar ke 3 0.13 ± 0.09 8.02

Jumlah 0.25 ± 0.07 15.43

Larva besar Instar ke 4 0.52 ± 0.30 32.10

Instar ke 5 0.85 ± 0.66 52.47

Jumlah 1.37 ± 0.52 84.57

Total konsumsi 1.62 ± 0.65 100.00

*) terhadap total konsumsi pakan selama instar ke 1-5.

Selama stadia larva, T. h. hephaestus mengkonsumsi daun A. tagala sebanyak 1.62 ± 0.65 gram bobot kering. Hal tersebut berarti jumlah daun yang dibutuhkan oleh T. h. hephaestus selama stadia larva sekitar 6.48 lembar. Jumlah daun yang dikonsumsi oleh T. h. hephaestus selama stadia larva lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah daun yang dikonsumsi oleh T. h. helena.

Hasil analisis proksimat daun A. tagala (Lampiran 19) menunjukkan bahwa, A. tagala mengandung cukup nutrisi untuk perkembangan larva T. helena. Kandungan air pada A. tagala sebesar 83.25%, abu 9.79%, lemak 14.57%, protein sebesar 20.72%, serat 11.1%, dan kandungan BETN (Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen) sebesar 43.82% (Tabel 10).

Tabel 10 Hasil analisis proksimat daun pakan A. tagala*

Kandungan bahan organik Bobot segar (%) Bobot kering (%)

Air 83.25 - Abu 1.64 9.79 Lemak 2.44 14.57 Protein 3.47 20.72 Serat kasar 1.86 11.1 BETN** 7.34 43.82

*Analisis dilakukan di Laboratorium Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi (PPSHB) LPPM IPB.

H. Perilaku T. h. helena dan T. h. hephaestus Selama di Penangkaran

Larva T. h. helena dan T. h. hephaestus memiliki seta atau duri daging (scoli). Larva instar ke 1 berwarna coklat muda, seta (ke 1,2,6,9,10, dan 11) berwarna jingga muda. Larva instar ke 2 berwarna coklat tua, scoli berwarna jinga. Instar ke 3 warna menjadi coklat kehitaman dan scoli ke 6 berwarna merah muda. Larva instar ke 4 larva berwarna hitam dan scoli ke 6 berwarna krem. Saat berada pada fase instar ke 5, larva berwarna coklat dan scoli berwarna krem dengan ujung berwarna jingga muda.

Stadia larva sangat aktif dan makan sepanjang hari. Menjelang moulting, larva akan diam dan berhenti makan. Apabila terganggu, larva akan mengeluarkan osmeteriumnya yang berjumlah sepasang untuk menakuti predator, seringkali dari osmeterium dikeluarkan cairan berwarna jingga. Osmeterium terletak pada bagian belakang kapsul kepala larva. Larva menjelang prepupa ditandai dengan adanya cairan yang dikeluarkan dari bagian anal. Selanjutnya, larva akan menggantung pada substrat dengan membuat serat sutera dan menempel dengan kremaster pada ujung abdomen. Masa ini disebut dengan stadia prepupa.

Prepupa akan berlangsung selama satu sampai dua hari, selanjutnya exuviae prepupa akan terlepas dan individu akan keluar menjadi pupa (pupasi). Setelah pupasi, kulit pupa masih lunak dan basah. Beberapa saat kemudian pupa mengering dan berbentuk permanen. Stadia pupa sering disebut fase non aktif karena tidak makan, tidak berpindah tempat, dan tidak bergerak, kecuali apabila ada gangguan. Pupa yang mengalami gangguan akan melakukan gerakan mengejang dan mengeluarkan bunyi desis.

Pengamatan perilaku imago T. h. helena dan T. h. hephaestus selama di penangkaran imago keluar dari pupa (eklosi) umumnya di pagi hari (pukul 07.00-12.00). Imago keluar dari pupa melalui selubung pupa (Gambar 31). Urutan bagian tubuh yang keluar saat eklosi adalah kepala, antena, tungkai pertama, tungkai kedua, proboscis, tungkai ketiga, sayap, kemudian abdomen. Saat eklosi proboscis masih lurus dan sayap masih terlipat.

Imago yang telah keluar dari pupa akan mengeringkan sayap antara 30 menit sampai 3 jam, dengan cara membuka dan menutup sayap secara perlahan. Setelah sayap imago kering, imago mengepakkan sayap untuk melatih kekuatan

otot, selanjutnya imago terbang mencari sumber nektar dan siap melakukan kopulasi.

Imago T. h. helena dan T. h. hephaestus menghisap nektar berbagai tanaman berbunga dengan cara menjulurkan proboscisnya. Umumnya, imago mengunjungi bunga berwarna cerah, seperti merah dan ungu yang memiliki banyak nektar. Sumber nektar yang dihisap antara lain tanaman pagoda (Clerodendrum sp.), soka (Ixora paludosa), pacar air (Impatients balsamina), lantana (Lantana camara), lolipop merah (Justicia carnea), jengger ayam (Amaranthaceae), teratai (Nymphaea sp.), batavia (Jathropa integerrima), beauty (Cuphea hissofolia), merak (Caesalpinia pulcherrima), cucur bebek (Kalanchoe pinnuta), dan sirih pagar (Lampiran 20).

Sebelum imago melakukan kopulasi (mating), biasanya dimulai dengan percumbuan (courtship). Percumbuan dilakukan oleh jantan dengan cara terbang mengelilingi betina dengan mengepakkan sayapnya. Setelah terjadi percumbuan, jantan dan betina melakukan mating dengan posisi bervariasi. Posisi imago saat mating terkadang betina berada diatas jantan atau saling berhadapan (Gambar 32).

Kondisi lingkungan fisik saat pasangan imago kawin (n = 3) suhu minimum 20 ºC dan suhu maksimum 36.67 ºC dengan kelembaban sebesar 64.67%, dan intensitas cahaya sekitar 3 566.67 lux.

Setelah melakukan mating, jantan dan betina biasanya aktif menghisap nektar yang diselingi hinggap pada daun A. tagala. Dua hari setelah mating, umumnya betina akan meletakkan telur (oviposisi) pada tanaman A. tagala dengan cara membengkokkan abdomennya. Telur umumnya diletakkan pada bagian bawah daun A. tagala secara terpisah pada tangkai dan batang, atau benda lain yang dekat dengan pakan larva. Pola peletakan telur adalah diletakkan sendiri-sendiri atau mengelompok (Gambar 33). Suhu minimum rata-rata saat imago betina bertelur (n = 3) adalah 29.33 ºC, dan suhu maksimum rata-rata adalah 33.67 ºC.

a b

Gambar 31 Pupa saat imago keluar: sebelum eklosi (a) dan sesudah eklosi (b).

a b

Gambar 32 Posisi imago T. h. helena saat mating: saling berhadapan (a) dan betina berada di atas jantan (b).

(b)

(a)

Gambar 33 Pola peletakan telur T. h. hephaestus: sendiri-sendiri (a) dan mengelompok (b).

Perilaku lain yang teramati pada imago di kubah penangkaran adalah perkawinan antara T. h. helena jantan dengan T. h. hephaestus betina (Gambar 34). Dari hasil perkawinan 2 subspesies tersebut dihasilkan telur fertil sebanyak 86 telur dengan persentasi tetas 86%. Individu hasil perkawinan 2 subspesies tersebut menghasilkan variasi spot pada sayapnya.

PEMBAHASAN

A. Teknik Penangkaran T. h. helena dan T. h. hephaestus

T. h. helena dan T. h. hephaestus merupakan kupu-kupu yang larvanya termasuk monophagus, yaitu hanya mengkonsumsi satu jenis tumbuhan, yaitu A. tagala. Faktor utama yang menyebabkan penurunan populasi kupu-kupu di alam adalah kekurangan pakan larva. Oleh karena itu, faktor utama yang perlu diperhatikan dalam penangkaran adalah ketersediaan pakan larva secara terus menerus, sehingga menjamin kelangsungan hidup kupu-kupu. Pemberian nektar buatan dari larutan madu dapat menambah sumber nektar imago.

Pembibitan pakan larva (A.tagala) dapat dilakukan dengan stek atau dari biji (Tikupadang & Gunawan 1997). Pada penelitian ini, pembibitan dari biji memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan pembibitan dari stek tangkai. Tanaman A.tagala lebih baik pertumbuhannya pada tanah yang mengandung pasir, atau wadah yang aerasinya lancar dan ternaungi. A. tagala merupakan tanaman naungan yang dapat ditemukan di lereng-lereng gunung, tepi sungai, atau daerah terbuka yang bersemak untuk sarana memanjat. Keberadaan tanaman ini di hutan semakin berkurang sehingga menyebabkan berkurangnya kupu-kupu spesies ini (Tikupadang & Gunawan 1997).

Selama pemeliharaan telur sampai pupa, suhu di laboratorium tidak pernah mengalami penurunan yang berarti sehingga tidak perlu dilakukan penanganan untuk menaikkan suhu. Rata-rata suhu minimum harian di laboratorium adalah 24.12 ± 1.68 ºC, sedangkan rata-rata suhu maksimum adalah 33.91 ± 1.50 ºC. Jika suhu terlalu tinggi, maka dilakukan penyemprotan air pada kandang pupa. Toples pemeliharaan larva ditutup dengan tisu untuk mengurangi penguapan. Di sekitar cawan petri dan toples pemeliharaan larva juga disediakan tampungan air pada gelas plastik atau botol kaca. Ventilasi udara diatur dengan membuka jendela laboratorium pada siang hari. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar suhu di laboratorium tidak terlalu tinggi dan kelembaban menjadi lebih rendah.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa keberhasilan pemeliharaan telur sampai larva di laboratorium sangat ditunjang oleh faktor pendukung antara lain ketersediaan air, ventilasi udara, kebersihan, dan luasan ruang pemeliharaan.

Faktor yang dapat menghambat keberhasilan selama pemeliharaan larva-pupa di laboratorium adalah kekurangan air, kebersihan, dan keamanan ruangan khusus untuk pemeliharaan larva.

Teknik pemeliharaan telur di cawan petri dan larva instar ke 1 sampai instar ke 3 sudah cocok. Pemeliharaan larva instar ke 4 sampai pupasi di dalam toples dapat berhasil dengan baik. Pemeliharaan larva dalam toples lebih baik karena dapat menghindari serangan predator. Hal penting yang perlu diperhatikan adalah kebersihan wadah pemeliharaan dan ketersediaan pakan larva. Pemberian sarana untuk memanjat bagi larva menjelang prepupa memberikan keberhasilan yang lebih tinggi hingga pupasi. Prepupa yang tidak mendapat tempat bergantung, mengakibatkan bentuk tidak normal dan imago dapat menjadi cacat (Tikupadang & Gunawan 1997). Selama stadia prepupa, individu tidak boleh mengalami gangguan agar kremaster dan serat sutera tidak terlepas. Prepupa dan pupa yang rusak harus segera dipisahkan dari individu yang sehat.

Kubah penangkaran memiliki suhu minimum berkisar 21-29 ºC selama pemeliharan imago, suhu maksimum berkisar 28-43 ºC. Kelembaban rata-rata berkisar antara 51-75% (Lampiran 4). Intensitas cahaya rata-rata di kubah penangkaran berkisar antara 543-8 228 lux. Apabila suhu di kubah penangkaran terlalu tinggi, maka dilakukan penyiraman air terhadap tanaman, lantai kubah penangkaran, dan dinding dalam kubah penangkaran. Jika intensitas cahaya yang masuk ke kubah penangkaran terlalu sedikit, maka dilakukan pembersihan atap kubah dari daun-daun kering yang tersangkut pada atap kubah.

Kondisi kubah penangkaran sesuai untuk pemeliharaan T. h. helena dan T. h. hephaestus. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan hidup dua subspesies tersebut pada semua stadia dan berkembang dengan baik hingga mencapai generasi ke 5. Di dalam kubah penangkaran, juga berhasil dibudidayakan jenis kupu-kupu lain, yaitu Pachliopta aristolochia, Papilio memnon, Graphium agamemnon, dan Graphium doson.

B. Kondisi Lingkungan Fisik Laboratorium dan Kubah Penangkaran

T. helena termasuk hewan poikilotermik, yaitu hewan yang suhu tubuhnya dipengaruhi oleh suhu lingkungan. Beberapa faktor lingkungan yang

mempengaruhi kehidupan serangga antara lain cuaca, suhu, kelembaban, cahaya, makanan, habitat, populasi, dan keberadaan organisme lain. Kisaran suhu yang memungkinkan kehidupan serangga adalah antara 0-50 ºC dan kelembaban berkisar antara 50-90% (Romoser 1973).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu minimum di laboratorium

selama pemeliharaan telur sampai imago eklosi berkisar antara 21-29 ºC dan suhu

maksimum berkisar 28-38 ºC (Lampiran 3). Kelembaban ruangan di laboratorium berkisar antara 51-75%. Kondisi ini sudah cocok untuk pemeliharaan T. h. helena dan T. h. hephaestus dari stadia telur sampai imago. Suhu yang lebih rendah dari 20 ºC akan mengakibatkan berbagai dampak pada setiap stadia. Suhu yang rendah dapat menyebabkan telur dan pupa mudah terserang cendawan. Di samping itu, suhu juga dapat berdampak pada lamanya stadia pupa. Suhu yang lebih tinggi dari 30 ºC menyebabkan pakan larva menjadi cepat layu dan mengurangi laju konsumsi larva.

C. Lama Waktu Setiap Stadia T. h. helena dan T. h. hephaestus

Hewan yang dapat menghasilkan lebih dari dua jumlah generasi dalam setahun disebut multivoltine (Gullan & Cranston 2000). Pada penelitian ini, T. h. helena dan T. h. hephaestus dapat menghasilkan minimal tiga generasi dalam setahun apabila kondisi lingkungannya sesuai sehingga termasuk serangga multivoltine.

Lama stadia larva T. helena di Hongkong adalah 21 hari, larva dengan 4 instar (Carey-Hughes & Pickford 1977). Lama stadia larva Ornithoptera (Papilionidae), dengan 6 instar adalah 50 hari (Straatman 1971). Hasil penelitian ini, lamanya stadia larva T. h. helena rata-rata 27 hari dengan 5 instar. Larva T. h. hephaestus berlangsung selama 19 hari dengan 5 instar. Total waktu yang dibutuhkan untuk semua stadia T. h. helena dari telur-imago betina hasil penangkaran di IPB adalah 70 ± 18.55 hari, sedangkan pada T. h. hephaestus adalah 64 ± 10.98 hari. Pada Ornithoptera (Papilionidae) dengan pakan larva A. tagala, lamanya siklus hidup dari telur-pupa adalah 107 hari (Straatman 1971), sedangkan lama siklus dari telur-pupa pada Troides amphrysus (Papilionidae) adalah 70 hari (Dahelmi et al. 2008).

Variasi lama waktu yang dibutuhkan tiap stadia dipengaruhi oleh suhu dan kondisi induk T. helena (Carey-Hughes & Pickford 1977). Hasil pengamatan menunjukkan lama waktu yang dibutuhkan pada semua stadia T. h. helena dan T. h. hephaestus dipengaruhi oleh berbagai faktor, tersebut antara lain suhu, kelembaban, intensitas cahaya, ketersediaan pakan, sumber nektar, parasitoid, predator, dan stres khususnya pada stadia larva.

Hasil pengamatan diketahui bahwa, suhu yang tinggi akan mempercepat waktu tiap stadia T. h. helena, dan T. h. hephaestus dan suhu rendah akan mempengaruhi aktivitas terbang imago. Pada suhu rendah imago lebih banyak berlindung di bawah tanaman, sehingga mudah terserang oleh predator. Intensitas cahaya di kubah penangkaran juga mempengaruhi aktivitas imago untuk menghisap nektar, kawin, dan bertelur. Intensitas cahaya yang cocok di penangkaran berkisar antara 500-7 500 lux.

D. Kelangsungan Hidup T. h. helena dan T. h. hephaestus

Kupu-kupu memiliki musuh alami, berupa predator, parasit, dan parasitoid. Predator kupu-kupu adalah dari kelompok arthropoda (tungau, laba-laba, kumbang, semut), burung, reptil, dan mamalia kecil. Parasit dan penyakit yang menyerang kupu-kupu adalah cendawan, bakteri, virus, protozoa, nematoda, dan tungau. Parasitoid yang menyerang telur-pupa spesies ini adalah dari kelompok Hymenoptera dan Diptera (Dempster 1984). Parasitoid adalah hewan yang hidup pada hewan lain dan dapat berakibat kematian pada inangnya (Gullan & Cranston 2000).

Kelangsungan hidup terendah T. h. helena hasil penelitian ini terjadi pada stadia telur. Persentase telur yang menetas hanya 44%, yaitu dari 36 jumlah telur dihasilkan 16 larva instar ke 1. Hal tersebut disebabkan oleh parasitoid dari family Scelionidae (Hymenoptera) yang menyerang stadia telur (Gambar 27). Serangan parasitoid pada telur umumnya tinggi pada musim kemarau.

Kelangsungan hidup terendah T. h. hephaestus terjadi pada stadia pupa (Tabel 4). Mortalitas pada pupa dapat disebabkan oleh mikroorganisme. Ciri-ciri pupa yang diserang oleh mikroorganisme yaitu pupa tidak melakukan reaksi apabila terganggu, kulit pupa keras, warna pupa terkadang menghitam secara

keseluruhan, dan berbau busuk (Lampiran 21). Faktor lain yang menyebabkan rendahnya kelangsungan hidup pada pupa adalah imago gagal melakukan eklosi (Lampiran 22). Faktor yang menyebabkan gagal eklosi, terutama adalah sayap yang melekat pada kulit pupa.

Untuk meningkatkan kelangsungan hidup T. h. helena dapat dilakukan dengan segera memanen telur yang telah dioviposisi oleh imago betina dan ditempatkan pada cawan petri. Hal lain yang harus diperhatikan adalah saat memindahkan larva ke wadah yang berisi pakan segar harus dilakukan dengan hati-hati. Larva akan berpindah dari daun lama ke daun yang lebih segar. Larva yang akan mengalami ganti kulit tidak perlu dipindahkan karena dapat mengganggu proses moulting. Kelangsungan hidup T. h. helena dan T. h. hephaestus dapat ditingkatkan dengan memperhatikan kebersihan wadah pemeliharaan, memahami perilaku, dan kecukupan pakan.

E. Morfologi Telur, Larva, Pupa, dan Imago

Volume telur T. helena adalah 2.18 mm³ dan panjang sayap depan yang diukur dari posisi dasar (base) ke bagian ujung (apex) sebesar 81 mm (Garcia-Barros 2000).

Imago betina yang berukuran lebih besar, akan menghasilkan telur yang lebih besar. Pada stadia larva, ukuran tubuh sangat ditentukan oleh aktivitas makan. Larva yang lebih aktif makan akan menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik dengan ukuran yang lebih besar. Aktivitas makan larva dipengaruhi oleh suhu, kelembaban, ketersediaan pakan, dan kondisi stres larva. Pada suhu lebih tinggi, maka pertumbuhan larva menjadi lebih cepat dan periode makan menjadi lebih sedikit. Hasil menunjukkan ukuran pupa tergantung pada ukuran stadia larva. Ukuran imago juga ditentukan oleh ukuran pupa. Pupa yang besar akan menghasilkan imago yang besar.

Pada penelitian ini, ukuran telur, larva, pupa, dan imago T. h. helena hasil penangkaran IPB, berbeda nyata dengan ukuran telur, pupa, dan imago T. h. helena dari penangkaran Cilember. Hal ini disebabkan karena imago dan larva masih berada dalam proses adaptasi dengan lingkungan yang mempengaruhi aktivitas makan.

Ukuran telur dan pupa T. h. hephaestus antara hasil penangkaran IPB dengan T. h. hephaestus dari penangkaran Bantimurung, menunjukkan perbedaan nyata (Tabel 5). Hal tersebut diduga akibat stres dan proses adaptasi awal larva dengan lingkungan selama di penangkaran. Ukuran imago T. h. hephaestus hasil penangkaran IPB dengan hasil penangkaran di Bantimurung tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Hal ini disebabkan banyaknya pupa yang gagal mengalami eklosi terutama dari hasil penangkaran IPB.

Untuk menghasilkan ukuran yang lebih besar di semua stadia, pemeliharaan T. h. helena dan T. h. hephaestus disarankan untuk menyiapkan pakan larva yang cukup melalui pembibitan yang berkelanjutan, serta penyediaan bermacam-macam sumber nektar bagi imago. Kebersihan tempat pemeliharaan larva juga harus diperhatikan agar tidak mempengaruhi aktivitas makan larva.

F. Fekunditas (Keperidian) Imago Betina

Reproduksi serangga dipengaruhi oleh faktor antara lain: suhu, kelembaban, photoperiod, ketersediaan pakan, dan kesesuaian substrat peletakan telur (Gullan & Cranston 2000). Mevi-Schutz & Erhardt (2005) melaporkan bahwa kandungan asam amino yang tinggi pada nektar akan meningkatkan fekunditas kupu-kupu. Pemberian larutan madu sebagai sumber nektar juga dapat meningkatkan fekunditas kupu-kupu (Lederhouse et al. 1990). Hasil pengamatan menunjukkan faktor yang mempengaruhi peneluran betina antara lain umur betina, lama peneluran, ukuran tubuh betina, gangguan dari jantan, banyaknya predator, kelimpahan sumber nektar, tanaman pelindung, suhu, dan kelembaban udara.

Jumlah telur yang dihasilkan selama betina hidup pada T. h. helena dalam penelitian ini berkisar 21-153 telur, dengan rataan 100.33 ± 69.92 telur. Persentase tetas telur berkisar 84.31-85.82%, dengan rataan 85.28% ± 0.84%. Jumlah total telur yang dihasilkan T. h. hephaestus berkisar antara 53-163 telur, dengan rataan 100.67 ± 56.45 telur. Persentase tetas telur berkisar 67.92-88.96%, dengan rata-rata 80.98% ± 11.40%. Selama penangkaran di IPB, suhu rata-rata-rata-rata di kubah penangkaran pada saat betina oviposisi berkisar antara 29.33-33.67 ºC. Hal ini

menunjukkan bahwa umumnya betina melakukan oviposisi atau egg laying pada saat suhu tinggi dan kelembaban rendah.

Lama umur betina dan lamanya umur peneluran mempengaruhi jumlah telur yang dihasilkan. Jumlah telur yang banyak akan memungkinkan banyaknya generasi yang dihasilkan oleh betina. Banyaknya jumlah generasi akan mempengaruhi ukuran populasi spesies tersebut. Kekurangan sumber nektar dapat berakibat pada usia peneluran dan aktivitas peneluran. Ukuran tubuh betina dapat menjadi ukuran banyaknya telur yang dihasilkan. Gangguan dari jantan yang selalu mengejar betina untuk kawin, dapat menyebabkan kesempatan betina untuk bertelur menjadi berkurang. Keberadaan predator juga mempengaruhi usia betina dan usia peneluran betina. Diamati juga betina yang baru saja melakukan perkawinan langsung dimangsa oleh predator pada saat beristirahat.

Untuk mengantisipasi berbagai kendala di atas, berbagai hal yang terkait dengan fekunditas betina harus diperhatikan. Selama masa peneluran, betina aktif menghisap nektar di sela-sela egg laying. Ketersediaan sumber nektar merupakan hal yang mempengaruhi betina selama masa peneluran. Keseimbangan seks rasio jantan dan betina di kubah penangkaran juga mempengaruhi kesempatan betina bertelur. Jumlah jantan yang lebih banyak dari betina dapat mengakibatkan betina stres dan kurang memiliki kesempatan untuk mengisap nektar dan bertelur. Jumlah betina yang lebih banyak dari jantan, berdampak pada betina yang menghasilkan telur infertil, karena tidak dikawini oleh jantan. Perbandingan yang disarankan jantan:betina adalah 1:2. Banyaknya tanaman pelindung di kubah penangkaran akan membantu betina untuk berlindung dari predator, khususnya cicak, kadal, dan laba-laba. Hasil pengamatan menunjukkan faktor suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya berpengaruh terhadap peneluran betina.

G. Konsumsi Pakan Larva

Daun tanaman yang muda, umumnya kaya akan kandungan protein, sedangkan daun tua mengandung banyak karbohidrat. Serangga spesialis menseleksi daun sebagai pakan larvanya dengan mengkonsumsi umur daun yang berbeda pada usia larva yang berbeda pula. Hal tersebut dilakukan untuk

menyeimbangkan antara kebutuhan karbohidrat dan protein (Bernays & Chapman 1994).

Larva Papilionidae dapat mengkonsumsi tanaman pakan yang mengandung racun, yang tidak disukai oleh hewan lain dan mensekresi racun tersebut di organ osmeterium (Gullan & Cranston 2000). Larva T. h. helena dan T. h . hephaestus hanya mengkonsumsi daun A. tagala (monophagus). Monophagus adalah hewan yang hanya mengkonsumsi satu spesies tanaman atau hanya mengkonsumsi tanaman dari satu genus (Bernays & Chapman 1994).

Hasil analisis proksimat daun A. tagala, menunjukkan A. tagala mengandung nutrisi yang cukup untuk kebutuhan perkembangan larva T. helena (Lampiran 19). Larva T. helena dewasa dapat mengkonsumsi A. tagala sebanyak 100 cm² dalam 24 jam (Carey-Hughes 1977). Selama penelitian, total pakan yang dikonsumsi oleh T. h. helena pada stadia larva adalah 2.50 ± 0.72 g bobot kering per larva, sedangkan T. h. hephaestus sebanyak 1.62 ± 0.65 g bobot kering per larva. Pemberian daun yang tidak dipotong-potong, menunjukkan jumlah konsumsi pakan larva lebih banyak. Pengamatan di laboratorium pada larva T. h. helena dan T. h. hephaestus instar ke 5, dapat mengkonsumsi 4 lembar daun berukuran ± 25 cm² dalam sehari.

Kurangnya jumlah pakan yang dikonsumsi oleh larva dalam penangkaran di IPB disebabkan oleh adaptasi awal larva terhadap kondisi lingkungan. Pemberian daun yang dipotong-potong dapat mengurangi kebebasan larva dalam memilih pakan. Hal tersebut dapat mengurangi kualitas daun terutama kandungan airnya. Hal ini dapat diantisipasi dengan memberikan daun segar dilengkapi

Dokumen terkait