BAB II LANDASAN TEORI
2.2 Landasan Teori
2.2.2 Konteks
Pragmatik adalah studi kebahasaan yang terikan oleh konteks. Untuk itu sebuah tuturan tidak selalu berupa representasi langsung dari elemen-elemen makna setiap unsurnya. Makna sebuah tuturan dapat dilihat ketika kita memerhatikan konteks yang menyertai tuturan tersebut. Brown dan Yule (1983) mengatakan bahwa konteks biasanya dipahami sebagai sesuatu yang sudah ada sebelum wacana dan situasi dari para partisipan (dalam Elizabeth, 2011: 3).
Singkatnya, pengatahuan analisis tentang usur-unsur konteks akan memudahkan seseorang dalam menginterpretasikan isi dan bentuk tuturan. Masuknya konteks dalam memahami dan atau menghasilkan ujaran dimaksudkan untuk membangun prinsip‐prinsip kerjasama dan sopan santun dalam proses komunikasi, sehingga tujuan komunikasi dapat dicapai secara efektif. Konteks itu sendiri terkait erat dengan budaya, yang berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Apa yang dianggap sebagai topik pembicaraan yang wajar oleh masyarakat Arab misalnya, mungkin dianggap sebagai topik pembicaraan yang absurd oleh masyarakat Indonesia, atau sebaliknya.
Werth (1999) telah mengembangkan sebuah konsep sangat terinci dan akurat tantang konteks. Dia memandang bahwa konteks adalah sesuatu yang diciptakan secara dinamis dan bersama-sama oleh para peran dari wacana (ini berlaku untuk wacana lisan dan tulis). Menurut Werth juga bahwa pencarian untuk mendapatkan sebuah koherensi adalah ditentukan oleh teks. Biarpun situasi yang paling umum dalam sebuah wacana adalah interaksi tatap muka, namun dapat diperkirakan bahwa hal semacam ini juga terjadi dalam teks tertulis (dalam Elizabeth, 2011: 4).
Lain halnya dengan pendapat Sperber dan Wilson (1986/1995) yang mengatakan bahwa konteks adalah tanggung jawab dari pendengar yang akan mengakses informasi apa pun yang diperlukan agar bisa mengolah sebuah ucapan dengan didasarkan pada asumsi bahwa penutur dari ucapan itu telah berusaha sedapat mungkin untuk membuat ucapannya itu menjadi relevan. Sperber dan Wilson memandang bahwa konteks adalah sebuah konstruk yang berada di bawah
kendali pendengar, yang diawali dari asumsi bahwa ucapan itu adalah relevan. Konteks adalah sebuah konstruk psikologis, yaitu subhimpunan dari asumsi-asumsi pendengar tentang dunia. Sperber dan Wilson memperhatikan bahwa asumsi-asumsi yang tidak akurat pun tetap bisa mempengaruhi penafsiran terhadap ucapan (Elizabeth, 2011: 179).
Leech (1983: 13) mengartikan konteks sebagai:
„context has been understood in various ways, fro example to include
‘relevant’ aspects of the physical or social setting of an utterance. I shall
consider context to be any background knowledge assumed to be shared by s and h and which contributes to h’s interpretation os what s means by
a given utterance‟.
Jadi, konteks menurut Leech tersebut adalah aspek fisik maupun sosial antara penutur dan mitra tutur di dalam tuturan. Latar belakang pengetahuan mengenai konteks yang tercermin dalam jadi diri penutur dan mitra tutur dalam pentuturan akan membantunya dalam menafsirkan pesan atau maksud yang hendak disampaikan pada setiap pentuturan. Maka dapat dikatakan bahwa kehadiran konteks situasi menjadi mutlak dalam upaya menjadikan tuturan itu benar-benar bermakna, dan tuturan itu tidak akan bermakna tampa kehadiran konteks apapun di dalamnya.
Delly Hymes (1974) menyebutkan bahwa konteks terdiri atas latar fisik dan psikologi (setting and scane), peserta (participant), tujuan komunikasi (ends), pesan yang disampaikan (act sequence), nada tutur (key), sarana tutur (intrumentalities), norma tutur (norm), dan jenis tutur (genre). Yule (melalui Nugroho, 2009: 120) membahas konteks dalam kaitannya dengan kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi referen-referen yang bergantung pada satu atau
lebih pemahaman orang itu terhadap ekspresi yang diacunya. Berkaitan dengan penryataan tersebut, Yule membedakan antara konteks dan ko-teks. Konteks ia definisikan sebagai lingkungan fisik di mana sebuah kata dipergunakan, sedangkan ko-teks adalah bahan linguistik yang membantu untuk memahami sebuah ekspresi atau ungkapan.
Sehubungan dengan adanya berbagai maksud yang memungkinkan dikomunikasikan oleh penutur dalam sebuah tuturan, Leech (1983) mengajukan aspek-aspek situasi tutur atau speech situation itu dibagi menjadi lima macam, yaitu (1) penutur dan mitra tutur, (2) konteks tuturan, (3) tujuan tuturan, (4) tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas, dan (5) tuturan sebagai produk tindak verbal (melalui Wijana dan Rohmadi, 2010: 12-16).
2.2.2.1 Penutur dan Mitra Tutur
Konsep penutur dan mitra tutur ini juga mencakup penulis dan pembaca apabila tuturan bersangkutan dikomunikasikan dengan media tulis. Adapun aspek-aspek yang berkaitan dengan penutur dan mitra tutur ini adalah usia, latar belakang, sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dan sebagainya.
2.2.2.2 Konteks Tuturan
Konteks pemakaian bahasa dapat dibedakan menjadi empat macam. Pertama, konteks fisik yang meliputi tempat terjadinya pemakaian bahasa dalam komunikasi. Kedua, konteks epistemis atau latar belakang pengetahuan yang sama-sama diketahui oleh penutur dan mitra tutur. Ketiga, konteks linguistik yang
terdiri atas kalimat-kalimat atau tutran-tuturan yang mendahului dan mengikuti tuturan tertentu dalam peristiwa komunikasi. Konteks linguistik disebut pula dengan istilah koteks. Keempat, konteks sosial yaitu relasi sosial dan latar (setting) yang melengkapi hubungan antara penutur dan mitra tutur.
Jadi, dapat dikatakan bahwa konteks tuturan dalam penelitian linguistik adalah konteks dalam semua aspek fisik atau seting sosial yang relevan dari tuturan bersangkutan. Namun, dalam pragmatik, konteks ini pada hakikatnya adalah semua latar belakang pengetahuan (backround knowledge) yang dipahami bersama oleh penutur dan mitra tutur.
2.2.2.3 Tujuan Tuturan
Bentuk-bentuk tuturan yang diutarakan oleh penutur dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tertentu. Dalam hubungan ini bentuk-bentuk tuturan yang bermacam-macam dapat digunakan untuk menyatakan maksud yang sama. Atau sebaliknya, berbagai macam maksud dapat diutarakan dengan tuturan yang sama.
2.2.2.4 Tuturan sebagai Bentuk Tindakan atau Aktivitas: Tindak Ujar Tindak tutur sebagai bentuk tindakan atau aktivitas adalah bahwa tindak tutur itu merupakan tindakan juga. Jika tata bahasa menangani unsur-unsur kebahasaan yang abstrak, seperti kalimat dalam studi sintaksis, proposisi dalam studi semantik, dan sebagainya, pragmatik berhubungan tindak verbal yang lebih konkret yang terjadi dalam situasi tertentu. Tuturan sebagai entitas, mempunyai peserta tutur, waktu, dan tempat pengutaraan yang jelas. Tindak tutur sebagai
suatu tindakan tidak ubahnya sebagai tindakan mencubit. Hanya saja, bagian tubuh yang berperan berbeda. Pada tindakan mencubit tanganlah yang berperan, sedangkan pada tindakan bertutur alat ucaplah yang berperan.
2.2.2.5 Tuturan sebagai Produk Tindak Verbal
Tuturan yang digunakan di dalam rangka pragmatik, seperti yang dikemukakan dalam kriteria keempat merupakan bentuk dari tindak tutur. Tuturan itu merupakan hasil suatu tindakan. Tindakan manusia itu dibedakan menjadi dua, yaitu tindakan verbal dan tindakan nonverbal. Berbicara atau bertutur itu adalah tindakan verbal. Karena tercipta melalui tindakan verbal, tuturan itu merupakan produk tindak verbal. Tindak verbal adalah tindak mengekpresikan kata-kata atau bahasa.
Oleh karena itu, tuturan yang dihasilkan merupakan bentuk dari tindak verbal. Berpijak dari hal tersebut, tuturan dapat dibedakan dari kalimat. Kalimat adalah entitas gramatika sebagai hasil kebahasaan yang diidentifikasikan lewat penggunaannya dalam situasi tertentu.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa faktor-faktor ekstralingual memegang peranan penting di dalam analisis pragmatik (Levinson, 1983), termasuk pula analisis terhadap validitas tuturan performatif. Austin (1962) mengemukakan bahwa validitas tuturan performatif tergantung pada terpenuhinya beberapa syarat yang disebut felicity conditions. Syarat-syarat yang diajukan oleh Austin tersebut adalah:
1) orang yang mengutarakan dan situasi pengutaraan tuturan itu harus sesuai, yaitu siapa yang mengutarakan, di mana diutarakan, dan kapan waktu tuturan itu diutarakan. Apabila syarat-syarat atau salah satu syarat itu tidak dipenuhi, maka tuturan tersebut tidak valid (infelicitous).
2) Tindakan itu harus dilakukan secara sungguh-sungguh oleh penutur dan mitra tutur.
3) Penutur dan mitra tutur harus memiliki niat yang sungguh-sungguh untuk melakukan tindakan itu. Misal, tuturan Selamat ya, atas prestasinya merupakan tidak performatif bila penutur mengucapkan tuturannya dilandasi dengan niat atau maksud yang sungguh-sungguh memberi ucapan selamat. Dan sebaliknya, apabila penutur tidak mempunyai niat seperti itu, ia sebenarnya tidak senang dengan prestasi yang dicapai oleh mitra tuturnya, maka tindak tutur itu tidak valid.
Lain halnya menurut John Searle, sebagai salah satu murid Austin, Searle memperluas syarat-syarat validitas tindak tutur yang diajukan oleh gurunya tersebut. Lima syarat tindak performatif menurut Searle adalah:
1) Penutur harus memiliki niat yang sungguh-sungguh terhadap apa yang dijanjikannya.
2) Penutur harus berkeyakinan bahwa mitra tutur percaya bahwa tuturan itu benar-benar akan dilaksanakan.
3) Penutur harus berkeyakinan bahwa ia mampu melaksanakan tindakan itu. 4) Penutur harus memprediksi tuturan yang akan dituturkan (future verbal),
5) Penutur harus memprediksi tuturan yang dilakukannya sendiri, bukan tuturan yang dilakukan oleh orang lain. (Wijana, 1996: 24-27).