• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. POKOK-POKOK PAK DAN HIDUP MENGGEREJA

A. Pendidikan Agama Katolik di Sekolah

3. Konteks Pendidikan Agama Katolik

Di dalam Konteks Pendidikan Agama Katolik ada empat lembaga baik yang secara langsung dan tidak langsung terlibat di dalam penyelenggaraan pendidikan. Keempat lembaga tersebut yaitu keluarga, Gereja, masyarakat dan sekolah. Masing-masing lembaga memiliki kekhasan dan sumbangan yang tidak tergantikan. Keempatnya juga saling berhubungan dan saling mempengaruhi (Heryatno Wono Wulung, 2003: 49).

Groome (2010: 160) menyebutkan dan mengutarakan tiga konteks Pendidikan Agama Katolik di sekolah, yaitu proses sosial menjadi manusia, proses sosial menjadi Kristen dan pendekatan dialektis terhadap proses sosialisasi.

a. Proses Sosialisasi Menjadi Manusia

Sosialisasi adalah proses yang berlangsung lama sepanjang kehidupan karena kondisi kehidupan manusia selalu dijalani dalam solidaritas dengan manusia yang lain. Ada tiga gerakan dalam proses sosialisasi, yaitu eksternalisasi, obyektifikasi dan internalisasi.

Eksternalisasi adalah kebutuhan semua manusia untuk bergerak keluar guna menjalin relasi dan membentuk kelompok. Di dalam hidup bersama, manusia membutuhkan orang lain. Manusia secara bersama saling membuat kesepakatan bersama agar hidup bersama dapat berjalan lancar. Dalam kebersamaan itu manusia saling memberi makna dan saling memperkembangkan. Dalam kebersamaan itu manusia melahirkan dan mengembangkan kebudayaannya.

Obyektifikasi merupakan proses di mana manusia secara bersama-sama menjaga dan memelihara tatanan dan kesepakatan hidup yang sudah ada. Tatanan

dan pandangan hidup, sistem nilai dan pola tingkah laku yang diharapkan harus diwujudkan dan dipenuhi agar hidup bersama dapat berkembang.

Sedangkan internalisasi merupakan proses di mana kita menjadikan sistem nilai dan pandangan hidup sebagai milik kita sendiri, sebagai bagian hidup atau sebagai landasan hidup kita sendiri yang membantu kita untuk sampai kepada identitas kita sendiri. Kita sungguh menjadi bagian masyarakat dan masyarakat menjadi bagian hidup kita.

b. Proses Sosialisasi Menjadi Kristiani dengan Tokoh-tokoh

Sejajar dengan sosialisasi menuju pribadi yang matang, untuk menjadi orang beriman yang mantab dan dewasa kita perlu berinteraksi dan bersosialisasi dengan hidup sesama jemaat lainnya. Melalui interaksi tersebut iman kita dibentuk dan diperkembangkan.

Di bawah ini akan disampaikan secara singkat beberapa tokoh yang menekankan pentingnya proses sosialisasi di dalam pendidikan jemaat beriman menuju iman yang mendalam dan dewasa.

1) Bushnell

Dia perancang Filsafat asuhan Kristen. Hal ini dilatarbelakangi dengan adanya paham revivalisme yang berkembang saat itu. Paham revivalisme ini menekankan pertobatan secara menyeluruh dalam waktu singkat karena manusia pada waktu itu sudah dianggap rusak total. Bushnell berpendapat bahwa pertobatan menyeluruh terjadi secara pelan-pelan yang dimulai dari keluarga (Groome, 2010: 171).

Orangtua memiliki tanggungjawab utama bagi perkembangan iman anak. Hal ini digambarkan oleh Bushnell melalui hubungan kesatuan organik seperti pohon menyatu dengan rantingnya. Begitu juga dengan keluarga, orangtua menyatu dengan anaknya. Jika iman yang dihidupi orangtua kuat, maka iman itu juga akan diajarkan dan ditiru oleh anaknya.

2) Coe

Jika Bushnell menekankan asuhan keluarga khususnya peran orangtua sebagai pendidik, Coe berpendapat bahwa penekanan tidak hanya pada orangtua tetapi seluruh jaringan interaksi sosial merupakan pendidik utama. Interaksi sosial merupakan inti Pendidikan Agama Kristiani yang tidak hanya sebagai proses tetapi juga sebagai isi. Coe mendorong para pendidik agama kristen untuk memperhatikan realitas sosial anak. Jika realitas sosial diterima dengan serius, maka kwalitas kehidupan tidak hanya sebatas keluarga saja tetapi juga pembaharuan dan rekonstruksi seluruh etos sosial (Groome, 2010: 173).

3) Nelson

Sebagaimana Bushnell meminta perhatian pada keluarga dan Coe pada etos sosial yang lebih luas, Nelson menekankan kekuatan yang membentuk dari seluruh komunitas Kristen. Baginya segala sesuatu yang dilakukan Gereja, seluruh caranya berada di dunia dan caranya berada bersama-sama, bersifat mendidik. Kita mendidik melalui keberadaan diri kita sebagai komunitas iman, dan kualitas kehidupan bersama kita adalah kurikulum utama kita (Groome, 2010: 175).

Nelson berpendapat bahwa peranan dan pentingnya sosialisasi untuk menjadi kristen. Pandangan ini diambil dari sisi antropologis yang menekankan transmisi kebudayaan untuk menganalisis transmisi iman. Kebudayaan

dikomunikasikan melalui proses sosialisasi yang membentuk sistem perseptif yang berhubungan dengan pandangan hidup, membentuk kesadaran yang sesuai dengan sistem nilai dan menciptakan identifikasi ini sebagai hasil dari hubungan- hubungan pribadi dalam kelompok sosial. Seluruh kegiatan yang ada dalam Gereja bersifat mendidik dan digunakan sebagai bahan pengajaran bagi peserta didik. Pendidikan Agama Kristiani sebagai komunitas iman mengajak peserta didik untuk terlibat di dalam sosialisasi menggereja.

4) Westerhoff III

Westerhoff merekomendasikan pendekatan sosialisasi/enkulturasi dalam Pendidikan Agama Katolik. Ia memahami bahwa pendidikan sebagai sebuah aspek sosialisasi yang mencangkup seluruh usaha yang dilakukan dengan sengaja, sistematis dan terus menerus untuk menyampaikan atau menimbulkan pengetahuan, sikap-sikap, nilai-nilai, tingkah laku dan kepekaan. Ia juga mengusulkan bahwa pendidikan iman tidak terpaku pada pendidikan di sekolah saja tetapi dalam komunitas juga bisa dilakukan pendidikan iman yaitu melalui katekese (Groome, 2010: 176).

5) Marthaler

Marthaler adalah pendukung pendekatan sosialisasi dalam pendidikan agama yang terkenal dari Katolik Roma, khususnya ketika pendekatan itu dipahami dalam tradisi Bushnell, Coe, Nelson dan Westerhoff. Marthaler menyatakan bahwa setiap perkembangan manusia adalah hasil dari sosialisasi (Groome, 2010: 178).

Setiap manusia merupakan makhluk hidup yang bersosialisasi dengan sesamanya. Begitu juga dalam proses menjadi pribadi orang beriman yang matang setiap individu perlu adanya relasi dengan sesama umat lainnya untuk menambah pengetahuan dalam imannya. Sosialisasi diperlukan untuk pertumbuhan iman sebagai pribadi. Komunitas iman diperlukan untuk menjadi anggota komunitas iman.

c. Pendekatan Dialektis terhadap Proses Sosialisasi

Pendidikan Agama Katolik tidak hanya merupakan proses sosialisasi, tetapi juga edukasi yang kritis yang memberdayakan dan yang bernilai emansipatif. PAK perlu berusaha supaya dapat meningkatkan hubungan yang bersifat dialektis antara jemaat dengan relitas sosialnya dan antar warga dengan jemaatnya. Dialektika mendorong Gereja untuk bersikap kritis pada dirinya sendiri dan pada tatanan hidup masyarakatnya. Dialektika juga memberdayakan Gereja untuk senantiasa memperkembangkan dirinya.

Singkatnya Pendidikan Agama Katolik membutuhkan konteks komunitas iman Katolik dan komunitas yang demikian membutuhkan kegiatan pendidikan yang kritis dan lebih daripada agen sosialisasi yang lain. Pendidikan Agama Katolik tidak hanya sebatas memberikan informasi kepada peserta didik, melainkan mendidik dan membentuk peserta didik yang memiliki sikap sosial. PAK mengupayakan hubungan yang bersifat dialogal transformatif pada peserta didiknya, sehingga peserta didik dapat mengalami perubahanyang mampu memperkembangkan dirinya menjadi individu yang semakin baik dan terus berkembang.

Dokumen terkait