BAB III WANPRESTASI DALAM KONTRAK PRODUCTION SHARING
1. Kontrak
diperhitungkan dari hasil produksi komersial.
Biaya operasi terdiri atas70:
a.
biaya eksplorasi1) biaya pengeboran terdiri atas: 1. biaya pengeboran eksplorasi; dan 2. biaya pengeboran pengembangan;
2) biaya geologis dan geofisika terdiri atas: 1. biaya penelitian geologis;
2. biaya penelitian geologis 3. biaya penelitian geofisika;
4. biaya umum dan administrasi pada kegiatan eksplorasi;
69 Rudi M. Simamora. Op.cit. 70
Pasal 11 Peraturan Pemerintah No 79 tahun 2010 tentang Biaya Operasi yang dapat dikembalikan dan Perlakuan pajak penghasilan di bidang usaha hulu Minyak dan gas bumi.
5. biaya penyusutan. b. biaya eksploitasi; dan
1) biaya langsung produksi untuk: 1. minyak bumi; dan
2. gas bumi.
2) biaya pemrosesan gas bumi; 3) biaya utility terdiri atas:
1. biaya perangkat produksi dan pemeliharaan peralatan; dan 2. biaya uap, air, dan listrik;
4) biaya umum dan administrasi pada kegiatan eksploitasi: a. biaya administrasi dan keuangan;
b. biaya pegawai; c. biaya jasa material; d. biaya transportasi; e. biaya umum kantor; dan
f. pajak tidak langsung, pajak daerah, dan retribusi daerah. 5) biaya penyusutan.
c. Biaya lain
1). biaya untuk memindahkan gas dari titik produksi ketitik penyerahan; 2). biaya kegiatan pasca operasi kegiatan usaha hulu.
Biaya operasi yang dapat dikembalikan dalam penghitungan bagi hasil dan pajak penghasilan harus memenuhi persyaratan:
a.
dikeluarkan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan terkait langsung dengan kegiatan operasi perminyakan di wilayah kerja kontraktor yang bersangkutan di Indonesia;b.
menggunakan harga wajar yang tidak dipengaruhi hubungan istimewa sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan;c.
pelaksanaan operasi perminyakan sesuai dengan kaidah praktek bisnis dan keteknikan yang baik;d.
kegiatan operasi perminyakan sesuai dengan rencana kerja dan anggaran yang telah mendapatkan persetujuan Kepala Badan Pelaksana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan Pasal 6.Biaya yang dikeluarkan yang terkait langsung dengan operasi perminyakan sebagaimana dimaksud pada huruf a wajib memenuhi syarat:
a. untuk biaya penyusutan hanya atas barang dan peralatan yang digunakan untuk operasi perminyakan yang menjadi milik negara;
b. untuk biaya langsung kantor pusat yang dibebankan ke proyek di Indonesia yang berasal dari luar negeri hanya untuk kegiatan yang:
1. tidak dapat dikerjakan oleh institusi/lembaga di dalam negeri; 2. tidak dapat dikerjakan oleh tenaga kerja Indonesia;
3. tidak rutin;
c. untuk pemberian imbalan sehubungan dengan pekerjaan kepada karyawan pekerja dalam bentuk natural kenikmatan dilakukan sesuai dengan ketentuanperaturan perundang-undangan di bidang perpajakan;
d. untuk pemberian sumbangan bencana alam atas nama Pemerintah dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan;
e. untuk pengeluaran biaya pengembangan masyarakat dan lingkungan yang dikeluarkan hanya pada masa eksplorasi;
f. untuk pengeluaran alokasi biaya tidak langsung kantor pusat dengan syarat: 1. digunakan untuk menunjang usaha atau kegiatan di Indonesia;
2. kontraktor menyerahkan laporan keuangan konsolidasi kantor pusat yang telah diaudit dan dasar pengalokasiannya; dan
3. besarannya tidak melampaui batasan yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan setelah mendapat pertimbangan Menteri
Sementara itu, defenisi KPS juga tedapat dalam Pasal 1 Poin (1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.010/2005, tanggal 3 Maret 2005, tentang Pembebasan Bea Masuk dan Pajak Dalam Rangka Impor Tidak Dipungut Atas Impor Barang Berdasarkan Kontrak Bagi Hasil (Production Sharing Contract) Minyak dan Gas Bumi. Memberikan definisi bahwa “Kontraktor Bagi Hasil (Production Sharing contractor) adalah Kontraktor yang menandatangani kontrak bagi hasil (Production Sharing contract) dengan PERTAMINA sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi yang telah dialihkan kepada Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS)”.
Pasal 1 poin (2) Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 79/PMK.02/2012, Tanggal 24 Mei 2012, tentang Tata Cara Penyetoran dan Pelaporan Penerimaan Negara Dari Kegiatan Usaha Hulu Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi dan Perhitungan Pajak Penghasilan Untuk Keperluan Pembayaran Pajak Penghasilan Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi Berupa Volume Minyak Bumi dan/atau Gas Bumi. Mengatakan bahwa “Kontrak Kerja Sama adalah kontrak bagi hasil atau
bentuk kontrak kerja sama lain dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi yang lebih menguntungkan negara dan hasilnya dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”. B. Perlindungan Investor Dalam Kontrak Production Sharing Berdasarkan UU Nomor 22
Tahun 2001, UU Nomor 25 Tahun 2007
Hukum bagi dunia usaha merupakan alas hak dan kewajibam dasar yang harus dipenuhi. Perusahaan adalah objek dari pengaturan pemerintah atau Undang-undang yang harus dipatuhi. Ketidakpatuhan atas aturan dapat berakibat fatal bagi perusahaan. oleh karena itu dunia usaha menginginkan adanya beberapa hal pokok agar dunia usaha dapat berkembang dengan baik, yaitu :
a. transparancy, artinya setiap kebijakan atau aturan yang akan diterapkan harus diketahui setiap orang dan berlaku umum, sejalan dengan prinsip level playing field. b. predictable, bahwa untuk menjalankan usaha pengusaha harus dapat memperkirakan
bahwa ada cost dan benefit dalam berusaha berdasarkan suatu aturan atau kebijakan yang berlaku. Mengubah kebijakan secara mendadak menimbulkan transaction cost yang besar sehingga tidak menunjang iklim investasi.
c. certainty, bahwa dunia usaha menghendaki adanya kepastian atas aturan dan kebijakan pemerintah sehingga perubahan tidak berlaku secara mendadak, kecuali apabila keadaan menghendaki71.
Perlindungan hukum yang diberikan oleh pemerintah Indonesia untuk lebih meningkatkan kepercayaan investor asing dalam menanamkan modalnya, salah satunya membuat perjanjian bilateral dengan berbagai negara asal investor. perjanjian investasi ini
71
melahirkan beberapa prinsip yang umum berlaku dalam tata pergaulan internasional. Prinsip tersebut antara lain :
1. prinsip A national treatment clause, artinya setiap pihak akan memberikan perlakuan yang sama bagi warga negara para pihak seperti yang diberikan oleh para pihak kepada warga negara sendiri.
2. prinsip A most favoured nation clause, artinya warga negara dari para akan mendapatkan a fair and equitable treatment dalam hal penanaman modal asing. warga negara para pihak tidak akan mendapatkan perlakuan yang kurang dibandingkan dengan perlakuan yang diberikan kepada warga negara pihak lain72.
Mencermati keberadaan investor asing dalam suatu negara khususnya di negara-negara, berkembang cukup penting sebagai penggerak roda perekonomian maka untuk menghilangkan keraguan-raguan investor asing dalam berinvestasi mengingat nonkomersial atau sering mungkin terjadi, Bank Dunia kembali melahirkan suatu konvensi. konvensi kali ini berkaitan dengan risiko nonkomersial atau sering juga disebut sebagai resiko politik (political risk). Konvensi ini diselenggarakan diselenggarakan di Seoul-Korea Selatan pada tahun 1985, sehingga Konvensi MIGA ini sering juga disebut Konvensi Seoul 1985. Indonesia sendiri telah meratifikasi Konvensi ini berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1986 Tentang Pengesahan The Convention Establishing the Multilateral Investment Guarantee (MIGA)73.
Adapun maksud dan tujuan MIGA, seperti yang tertuang dalam Pasal 2 Keppres No 31 tahun 1986, yaitu :
72
Ibid hlm .167
1. Memberikan jaminan kepada investor, yang meliputi kerja sama asuransi (coinsurance) maupun dengan mengasuransikan kembali (reinsurance), mencegah resiko nonkomersil yang berkenaan dengan penanaman modal di suatu negara anggota yang berasal dari negara-negara anggota lainnya.
2. Melakukan kegiatan atau aktifitas berupa promosi untuk meningkatkan arus penanaman modal ke dan di antara anggota negara-negara berkembang.
Hal tersebut memberikan pandangan positif kepada Indonesia oleh pihak penanam modal asing, karena dengan hal tersebut pihak Indonesia telah memberikan suatu jaminan perlindungan hukum bagi pihak penanam modal asing atas resiko penanaman modal asing di Indonesia. Selain itu dengan diterbitkannya Undang-undang No. 25 Tahun 2007 telah memberikan suatu jaminan atas perlindungan dan kepastian hukum bagi para penanam modal terhadap pengambilalihan atas perusahaan asing yang tertera dalam Pasal 7 Undang-undang No. 25 Tahun 2007.
Adanya kegalauan dari calon investor dapat dimaklumi, karena investor dalam menanamkan modalnya selain mengharapkan ada hasil dan keuntungan dalam menjalankan bisnisnya, juga berharap modal yang ditanamkan tetap aman, dalam arti ada perlindungan hukum (legal protection). Untuk itu,tidaklah mengherankan jika calon investor sebelum memutuskan menanamkan modalnya, terlebih dahulu ia melakukan studi kelayakan (feasibility study) tentang prospek bisnis yang akan ia jalankan74. Termasuk yang diteliti disini adalah ketentuan peraturan perundang-undangan yang ada kaitannya dengan investasi yang akan ia jalankan.
Perlindungan terhadap Investor merupakan bagian dari pencapaian ke arah perkembangan ekonomi yang lebih baik. Sebagai Pelaku ekonomi yang akan menggunakan modalnya untuk
74
di Vietnam misalnya, jika sesorang investor mau menanamkan modalnya di negeri ini, maka calon investor tersebut harus menandatangani letter of intent yang disertai dengan prefeasibility study.
mengerjakan usaha, berdasarkan analisis Komisi Pemantau Pelaksana Otonomi Daerah (KPPOD) pada tahun 2002 untuk melihat daya tarik investasi, yaitu:
4. faktor kelembagaan yang meliputi aparatur dan pelayanan, Perda/kebijakan daerah, keuangan daerah dan kepastian hukum.
5. faktor sosial Politik dan Budaya yang meliputi keamanan, sosial politik dan budaya. 6. faktor ekonomi Daerah yang meliputi potensi ekonomi dan struktur ekonomi.
7. tenaga kerja dan Produktivitas yang meliputi ketersediaan tenaga kerja, produktivitas tenaga kerja dan biaya tenaga kerja.
8. infrastruktur fisik yang meliputi ketersediaan infrastruktur fisik dan kualitas infrastruktur fisik75
Sebenarnya apa yang dikeluhkan oleh para investor telah dipikirkan oleh Pemerintah seperti yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) sebagai berikut :
“Berbagai upaya telah dilakukan untuk mendorong investasi baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri antara lain melalui penyederhanaan prosedur investasi, desentralisasi beberapa kewenangan penanaman modal, serta peninjauan daftar negatif investasi secara berkala. meskipun demikian masih terdapat beberapa kelemahan yang masih perlu disempurnakan. dalam upaya untuk meningkatkan jumlah dan nilai investasi, maka sasaran yang ingin dicapai adalah adanya sistem pelayanan investasi yang efisien dan efektif dan terciptanya kepastian iklim investasi yang kondusif. dalam kaitan ini kegiatan pokok yang dilakukan adalah menyempurnakan perangkat hukum yang lebih kondusif terhadap peningkatan investasi antara lain deregulasi peraturan penanaman modal, termasuk penyempurnaan sistem insentif, desentralisasi kewenangan perizinan investasi dan penyempurnaan kewenangan penanaman modal”
Kepastian hukum adalah hal yang sangat diperlukan oleh Investor sebab itulah salah satu bentuk kenyamanan yang akan diperolehnya selama berinvestasi. Kepastian hukum yang dimaksudkan ialah bentuk komitmen pemerintah yang dituju untuk menaati hukumnya
75
berdasarkan keadilan dan kebenaran serta bukan atas kepentingan sepihak saja. Hal ini merupakan hal yang sejalan mengingat bahwa dalam melakukan Investasi selain tunduk kepada ketentuan hukum investasi, juga ada ketentuan lain terkait yang tidak bisa dilepaskan begitu saja. Ketentuan tersebut antara lain berkaitan dengan perpajakan, ketenagakerjaan, perizinan, dan masalah pertanahan. sebagaimana dikemukakan oleh Charles Himawaan :
“Peraturan-peraturan itu kadang-kadang demikian banyaknya sehingga menimbulkan kekaburan akan hukum yang berlaku. untuk memanfaatkan modal multinasional secara maksimal diperlukan kejernihan hukum,” selanjutnya dikemukakan:” apabila hukum berwibawa berarti hukum yang ditaati orang, baik orang yang membuat hukum itu maupun orang terhadap siapa hukum itu ditujukan, akan terlihat disini kaitan antara manusia dan hukum. dirasakan pula perlunya hukum yang berwibawa untuk menunjang pembangunan. dalam konteks yang berlainan diamati perlunya kepastian hukum untuk menjamin arus modal (capital flow) ke Indonesia.”76.
seperti juga dikatakan oleh Juwono Sudarsono :
”Ada tiga hal mendasar yang harus diperbaiki pejabat dan pengusaha Indonesia bila Indonesia benar-benar ini berdaya saing terhadap negara-negara sedang berkembang lainnya. ketiga hal itu adalah legal, labour, local. pertama, Indonesia harus membenahi sistem hukum dan menerapkan penegakan yang ramah bagi investasi dan perdagangan. kedua, Indonesia harus membenahi masalah perburuhan, termasuk berbagai pengaturan yang menyangkut hubungan kerja yang akrab bagi investor dan yang ketiga, Indonesia harus membenahi masalah hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.”77
Faktor utama bagi hukum untuk dapat berperan dalam pembangunan ekonomi adalah apakah hukum mampu menciptakan stability, predictability, dan fairness. dua hal yang pertama adalah prasyarat bagi sistem ekonomi apa saja untuk berfungsi. termasuk dalam fungsi stabilitas (stability) adalah potensi hukum untuk menyeimbangkan dan mengakomodasi kepentingan-kepentingan yang saling bersaing. kebutuhan hukum untuk meramalkan (predictability) akibat dari suatu langkah-langkah yang diambil khususnya penting bagi negeri yang sebagian besar rakyatnya untuk pertama kali memasuki hubungan-hubungan ekonomi melampaui lingkungan sosial yang tradisional. aspek keadilan (fairness), seperti, perlakuan yang sama dan standar pola
76
Charles Himawan. Hukum sebagai Panglima. (Jakarta: Kompas, 2003) Hlm. 113.
77
tingkah laku Pemerintah adalah perlu untuk menjaga mekanisme pasar dan mencegah birokrasi yang berlebihan78.
Oleh karena itu, Investor membutuhkan adanya kepastian hukum, agar aktifitas investasinya dapat berjalan sesuai dengan persyaratan yang telah dipenuhinya. sebagaimana dikemukakan oleh Salim HS dan Budi Sutrisno, hubungan antara Investor dengan penerima modal sangat erat karena investor sebagai pemilik modal akan bersedia menanamkan investasinya di negara penerima modal, sepanjang negara penerima modal dapat memberikan kepastian hukum, perlindungan hukum dan rasa aman bagi investor dalam berusaha. tanpa adanya rasa aman, perlindungan hukum dan kepastian hukum mustahil penanam modal mau menanamkan modalnya.79
1. Tujuan perlindungan investor
Perlindungan Investor secara khusus dapat dilihat melalui: tata kelola migas yang baik, penegakan hukum, koordinasi lintas sektor termasuk antar tingkatan institusi pemerintah (pusat-daerah) maupun pemerintah dengan kontraktor migas, dukungan untuk kegiatan eksplorasi migas, iklim investasi yang baik (jangan ada ketidakpastian regulasi), kondisi lingkungan, ketersediaan teknologi mutakhir, pelaksanaan proyek-proyek pengembangan, program pemeliharaan fasilitas, proses persetujuan pemerintah serta kesiapan industri penunjang operasi, penghormatan atas kontrak dan kesepakatan, perizinan dan pembebasan lahan.80 Ini penting untuk dipersiapkan mengingat bahwa hak-hak Investor harus dilindungi sebab akan berdampak negatif terhadap perkembangan dunia industri.
78Ibid. 79Ibid 80
Indonesian Petroleum magazine IndoPetro (Oil and Gas Business and Community) Januari 2012, hlm 22
Pembiayaan perusahaan Investor di pasar keuangan sangat bergantung seberapa besar perlindungan hukum terhadap investasinya. Metode pembiayaan tersebut dapat berjalan dengan baik, jika dilindungi oleh hukum. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa perlindungan hukum investor sangat penting. Di banyak Negara, Pengadilan tidak mampu secara efektif dan efesien dalam penyelesaiaan kasus-kasus antara Investor dengan Perusahaan (khususnya di Negara yang menganut civil law). Negara-negara yang tidak dapat melindungi pemegang saham minoritas, industri pasar modalnya tidak berkembang. Perlindungan bagi hak-hak investor mendorong pertumbuhan dan pengembangan pasar keuangan. Pasar keuangan yang maju pesat membuat pertumbuhan ekonomi pasar menjadi lebih tinggi. Suatu pasar yang berorientasi pada sistem hukum mengurangi ketidakpastian investor dengan cara menyediakan hak kepemilikan yang jelas, hukum kontrak, aspek hukum komersial dan kepailitan, serta upaya menjalankan penegakan hukum secara pasti. Kondisi sistem hukum yang ada mencerminkan kuantitas dan pertanggungjawaban dari informasi yang tersedia bagi publik, khususnya pada tingkat perusahaan.
Perlindungan investor memiliki dampak bagi sektor keuangan karena dapat mempengaruhi bergeraknya sektor rill.
2. Perlindungan Investor Berdasarkan Perjanjian
Kewajiban kontraktual adalah bertemunya kehendak (covergence of the wills) atau konsensus para pihak yang membuat kontrak. Pada abad XIX, para teoritikus hukum kontrak memiliki kecendrungan untuk memperlakukan atau menempatkan pilihan individual (individual choice) tidak hanya sebagai elemen kontrak, tetapi seperti yang dinyatakan ahli hukum perancis adalah kontrak itu sendiri. Kontrak secara internasional memiliki perlindungan hukum terhadap hubungan antarorang atau atau antarperusahaan yang bersifat lintas batas negara dapat dilakukan
secara publik maupun privat. Perlindunagn secara publik dilakukan dnegan cara memanfaatkan fasilitas perlindungan yang disediakan oleh ketentuan-ketentuan yang bersifat publik, seperti peraturan perundang-undnagan domestik dan perjanjian-perjanjian internasional, bilateral, maupun universal, yang dimaksudkan demikian. Perlindunagan secara privat dapat dilakukan dengan cara memanfaatkan fasilitas perlindungan hukum yang bersifat privat, yaitu dengan cara berkontrak yang cermat. Kepentingan para pihak tercantum dalam kontrak terutama untuk setiap hak dan kewajiban mereka, itulah yang akan menjadi undang-undang dan dengan demikian para pihak akan mendapatkan perlindungan berdasarkan kontrak tersebut.
B. Perlindungan Investor Production Sharing Berdasarkan UU No 25 Tahun 2007
Adapun beberapa perlindungan terhadap penanaman modal oleh Investor dapat dilihat dalam Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007;
Pasal 4 UU Nomor 25 tahun 2007 :
1) pemerintah menetapkan kebijakan dasar penanaman modal untuk :
a. mendorong terciptanya iklim usaha nasional yang kondusif bagi penanaman modal untuk penguatan daya saing perekonomian nasional
Yaitu Pelaksanaan Penanaman Modal di Indonesia di sertai dengan peraturan-peraturan yang mendukung dan melindungi penanaman modal. iklim yang dimaksud ialah pertama, kelompok kebijakan pemerintah yang mempengaruhi biaya (cost), seperti pajak, beban regulasi dan pungli (red tape), korupsi, infrastruktur, ongkos operasi. kedua, kelompok yang mempengaruhi resiko yang terdiri dari stabilitas makro-ekonomi, stabilitas dan prediktabilitas kebijakan, kepastian kontrak. ketiga, hambatan untuk kompetisi seperti hambatan regulasi. beberapa keberhasilan
penciptaan iklim investasi yang favourable sangat tergantung pada tiga faktor determinan yaitu81:
1. faktor Institusional dan kebijakan. langkah pertama yang dilakukan oleh seorang jika ingin menanamkan modal di suatu negara khususnya negara berkembang, mempelajari secara rinci tentang negara tersebut antara lain stabilitas politiknya, kebijakan ekonomi terutama terhadap investor asing.
2. faktor infrastruktur. dalam hal ini yang dipehatikan adalah tersedianya fasilitas fisik. termasuk disini adalah jaringan transportasi, listrik, telekomunikasi, air bersih.
3. faktor hukum dan perundang-undangan. secara aspek nasional yaitu ketentuan hukum yang substansif dapat mempengaruhi minat investor asing dalam menanamkan modalnya. selain itu, aspek pelaksanaan dan penegakannya pun merupakan salah satu faktor yang menjadi pertimbangan para investor asing. maksudnya, pelaksanaan dan penegakan hukum yang konsisten dan tidak mudah berubah-ubah serta dapat diperkirakan sebelumnya oleh investor, merupakan penarik yang juga amat penting bagi para investor asing.
Menurut Sumantoro, salah satu penghambat iklim investasi adalah tidak tepatnya penyelenggaraan kebijakan dan peraturan di bidang penanaman modal sehingga banyak menimbulkan kecemasan dan rasa tidak menentu bagi penanam modal82.
b. mempercepat peningkatan penanaman modal nasional.
Beberapa kegiatan ekonomi di negara Indonesia masih perlu untuk diolah dan dikembangkan. Sebagai bentuk dilakukannya pembangunan-pembangunan ekonomi Indonesia, maka negara menetapkan langkah-langkah konkret untuk mendatangkan investor asing agar
81
Sentosa Sembiring, Op.cit. hlm 62
pembangunan ekonomi di Indonesia semakin berkembang. Kehadiran investor akan membawa dampak yang cukup signifikan tidak hanya bagi masyarakat suatu daerah tertentu tetapi juga secara nasional.
2) dalam menetapkan kebijakan dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Pemerintah : a. memberi perlakuan yang sama bagi penanam modal dalam negeri dan penanam modal asing
dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.
Yaitu setiap investor diperlakukan sama dengan tidak membedakan negara asal (home country). Investor dari negara-negara yang terikat dengan perjanjian bilateral, regional dan multilateral umumnya diberi perlakuan khusus, tetapi perlakuan khusus tidak boleh menyebabkan persyaratan bagi investor dari negara lain lebih buruk dari kondisi sebelumnya. Perlakuan yang sama berlaku pada tahap post establishment stage dan brown investment field83.
b. menjamin kepastian hukum, kepastian berusaha, dan keamanan berusaha bagi penanam modal sejak proses pengurusan perizinan sampai dengan berakhirnya kegiatan penanaman modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kepastian hukum adalah jaminan Pemerintah untuk menempatkan hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan sebagai landasan utama dalam setiap tindakan dan kebijakan bagi penanam modal. Yang dimaksud dengan kepastian perlindungan adalah jaminan Pemerintah bagi penanam modal untuk memperoleh perlindungan dalam melaksanakan kegiatan penanaman modal84.
c. membuka kesempatan bagi perkembangan dan memberikan perlindungan kepada usaha mikro, kecil, menengah dan koperasi.
83
Mahmul Siregar, Bahan ajar Hukum Investasi Fakultas Hukum USU, 2013.
84
Pemerintah selain menarik investor juga memperhatikan kegiatan industri nasional terkhusus usaha kecil dan menengah. Adanya program-program untuk mendukung berkembangnya usaha kecil dan menengah merupakan upaya yang telah dilakukan.
Pasal 7 : ayat (1) Pemerintah tidak akan melakukan tindakan nasionalisasi atau pengambilalihan hak kepemilikan penanam modal dan ayat (2) dalam hal pemerintah melakukan tindakan nasionalisasi atau pengambilalihan hak kepemilikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pada masa kemerdekaan dahulu, Pemerintah dengan mudah menasionalisasikan perusahaan-perusahaan asing, hal ini membuat para investor asing mulai khawatir untuk berinvestasi di Indonesia yang berakibat sangat lemahnya investasi di Indonesia. Pemerintah akhirnya melalui UU Nomor 25 tahun 2007 memberikan perlindungan dengan tidak akan melakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan asing.
Pasal 14 : setiap penanam modal berhak mendapat : a. kepastian hak, hukum dan perlindungan;
Yang dimaksud dengan "kepastian hak" adalah ketetapan Pemerintah bagi penanam modal untuk memperoleh hak sepanjang penanam modal telah melaksanakan kewajiban yang ditentukan.
b. informasi yang terbuka mengenai bidang usaha yang dijalankannya
Para investor membutuhkan perkembangan informasi di negara tempat invstor berinvestasi untuk itu perlu keterbukaan informasi khususnya untuk bidang investasinya.
c. hak pelayanan
hak investor selama melakukan penanaman modal di negara Indonesia sepeeti hak perizinan dan lain-lain.
d. berbagai bentuk fasilitas kemudahan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan sesuai dengan Pasal 18 UU Nomor 25 tahun 2007.
Pada pasal 18 UU Nomor 25 tahun 2007, fasilitas invetsor semakin diperjelas, ada