BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 49
Tabel : 3.2.6.
Capaian Terhadap Sasaran Strategis 6 Menurunnya angka kemiskinan
Indikator Sasaran Satuan Capaian % 2015
Tahun 2016
Target Realisasi % Capaian
1. Angka kemiskinan % 6,59 6,12 6,79* 90,13
* Angka sementara (BPS)
. Angka kemiskinan
Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM). Penghitungan Garis Kemiskinan dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan.
Pada tahun 2015 persentase penduduk miskin di Kabupaten Tabalong adalah sebesar 6.59 % (157.100 jiwa) dengan garis kemiskinan yang menjadi batasan adalah Rp 368.924,- per kapita perbulan. Gini ratio untuk tahun 2015 adalah sebesar 0.13 yang berarti distribusi pendapatan di kabupaten Tabalong masih dalam tingkat ketimpangan rendah.
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 50
Pada tahun 2016 persentase penduduk miskin di Kabupaten Tabalong meningkat menjadi 6.79 %* ( sumber BPS Kab. Tabalong = angka sangat sangat sementara) atau sebesar 164.600 jiwa. Meningkatnya jumlah penduduk miskin di Kabupaten Tabalong disebabkan salah satunya adalah meningkatnya batas garis kemiskinan di Kabupaten Tabalong menjadi Rp 413.525,- per kapita per bulan. Adapun Gini ratio di Kabupaten Tabalong juga mengalami kenaikan menjadi 0.27. Kenaikan Gini ratio sebesar 0.14 di Kabupaten Tabalong ini menunjukkan adanya ketimpangan pemerataan pendapatan yang cukup singnifikan namun distribusi pendapatan tersebut masih dalam katagori tingkat ketimpangan rendah. Pada tahun 2016 Badan Pusat Statistik Tabalong belum mengadakan release.
Grafik: 3.3.
Angka Kemiskinan di Tabalong
6.59 6.79
0.13 0.27
2015 2016
Angka Kemiskinan di Kab. Tabalong
% Penduduk Miskin Gini RatioBAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 51
Tabel : 3.2.7.
Capaian Terhadap Sasaran Strategis 7 Meningkatnya kualitas dan kuantitas infrastruktur
Indikator Sasaran Satuan % Capaian
2015
Tahun 2016
Target Realisasi % Capaian
1. Persentase Jalan Kabupaten Dengan Kondisi Baik
% 72,21 65 73,20 112,61
2. Persentase Kabupaten Dengan Kondisi Baik
% 66,72 68 70,82 104
3. Persentase Jaringan Irigasi dengan kondisi baik
% 67 70 72,72 96,68
4. Jumlah Peningkatan Rumah Layak Huni
buah 24 bh 48 55 bh 114,58
Persentase Jalan Kabupaten Dengan Kondisi Baik
Capaian persentase Jalan Kabupaten dengan kondisi baik pada tahun 2016 sebesar 73,2 % melebihi target sesuai RPJMD sebesar 65%, sehingga capaian realisasi adalah sebesar 112,61%.
a. Kondisi jalan pada tahun 2016 banyak mengalami penurunan karena panjangnya musim hujan serta tingginya intensitas curah hujan yang mengakibatkan banyaknya jalan berlobang (jalan rusak)
b. Total panjang jalan yang ditangani pada tahun 2016 berjumlah 91,94 km yang terdiri dari peningkatan kapasitas (pelebaran) maupun peningkatan kualitas dari non aspal menjadi beraspal serta pemeliharaan berkala
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 52
c. Penanganan jalan dengan pemeliharaan rutin bersifat mempertahankan konisi jalan agar tidak bertambah parah
d. Anggaran serta sumber daya manusia yang ada masih belum mencukupi untuk mencapai target yang seharusnya.
Persentase Jembatan Kabupaten Dengan Kondisi Baik
Capaian persentase jembatan kondisi baik pada tahun 2016 sebesar 70,82 % sudah melebihi target sebesar 68 % dengan rincian :
- Pembangunan box culvert sebanyak 5 buah menggantikan jembatan kayu ulin yang rusak
- Pembangunan jembatan gantung sebanyak 3 buah
- Pembangunan jembatan rangka sebanyak 2 buah (1 buah jembatan dilanjutkan pada tahun berikutnya)
- Pembangunan jembatan beton sebanyak 5 buah - Pemeliharaan/perbaikan jembatan sebanyak 43 buah
- Anggaran serta sumber daya manusia yang ada masih belum mencukupi untuk mencapai target yang seharusnya
Jumlah Jaringan Irigasi
Capaian persentase jaringan irigasi dalam kondisi baik pada tahun 2016 mencapai 72,51 % tidak mencapai target sebesar 75 % dengan uraian :
- Pembangunan pintu air sebanyak 9 buah
- Pembangunan saluran pasangan batu sepanjang 10.397 m - Pembangunan saluran pembuang sepanjang 5.000 m
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 53
- Pembangunan jalan inspeksi/jalan usaha tani sepanjang 6.706,98 meter
- Anggaran serta sumber daya manusia yang ada masih belum mencukupi untuk mencapai target yang seharusnya.
Persentase Rumah Layak Huni
Rumah yang sehat dan nyaman adalah rumah yang relatif luas. Semakin tinggi tingkat kesejahteraan rumah tangga maka semakin luas rumah yang ditempati. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), salah satu kriteria rumah sehat adalah rumah yang memiliki luas lantai minimal 50 m2.
Kenyamanan tempat tinggal tidak bisa dilihat hanya dari luas lantai yang ditempati, namun juga ditinjau dari segi jenis lantai, atap dan dinding terluas yang digunakan.
Pada tahun 2016 berdasarkan usulan dari seluruh desa/kelurahan yang ada di Tabalong untuk mendapatkan pembuatan bantuan rumah layak huni sebanyak 741 namun dalam realisasi mencapai 55 rumah dengan rincian 12 buah perbaikan yang bersumber dari dana APBD Kabupaten Tabalong dan 55 buah pembangunan rumah untuk masyarakat di wilayah Gunung Sialing Kecamatan Muara Uya yang termasuk Komunitas Adat Tertentu dengan dana bersumber dari APBD Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2016 atau dengan capaian kinerja sebesar 114,58%. Bila dibandingkan capaian kinerja pada tahun 2015, maka terjadi peningkatan sebesar 31 buah rumah.
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 54
Tabel : 3.2.8.
Capaian Terhadap Sasaran Strategis 8
Meningkatnya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak
Indikator Sasaran Satuan % Capaian
2015
Tahun 2016
Target Realisasi % Capaian
1. Prosentase perempuan yang duduk di pemerintahan
% n.d. 3,0 2,9 96,6
Prosentase perempuan yang duduk di pemerintahan
Data jumlah perempuan yang duduk dipemerintahan / eksekutif di Kabupaten Tabalong pada tahun 2016 adalah sebanyak 3.437 orang dari jumlah total jumlah penduduk perempuan sebanyak 116.683, sehingga persentase adalah 2,9%. Data ini hanya meliputi PNS Daerah, Polri, dan TNI. Sedangkan data dari instansi lainnya tidak diperoleh data (sumber Dinas Dukcapil Tabalong)
Tabel : 3.2.9.
Capaian Terhadap Sasaran Strategis 9 Meningkatnya kualitas SDA dan lingkungan hidup
Indikator Sasaran Satuan Capaian % 2015
Tahun 2016
Target Realisasi % Capaian
1. Indeks Kualitas Lingkungan % 59,29 67 66,42 99.13
Indeks Kualitas Lingkungan
Kualitas lingkungan hidup Indonesia merupakan salah satu isu yang sangat penting ditengah meningkatnya tekanan yang berpotensi mengubah kondisi lingkungan, baik sebagai dampak pertumbuhan
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 55
ekonomi maupun peningkatan jumlah penduduk. (Target Nasional 66-68 dari Renstra Kementerian LH dan Kehutanan RI) sedangkan target dari Kabupaten Tabalong adalah sebesar 67.
Indikator Kinerja Utama Realisasi 2015
Tahun 2016
Target Realisasi Capaian (%) Indeks Kualitas Lingkungan
Hidup (IKLH) meliputi :
- Indeks Kualitas Air (IKA) 35,33 52,5 50 96,15 - Indeks Kualitas Udara
(IKU)
83,25 84 82,84 98,62
Capaian untuk IKA dengan realisasi sebesar 50 menunjukan kualitas tidak melebihi baku mutu. Sedangkan kualitas udara dengan nilai 82,84 walaupun mengalami penurunan dari tahun sebelumnya tetap masih dalam kategori baik.
Capaian Indikator Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Kabupaten Tabalong di Tahun 2015 sebesar 59,29 menjadi 66,42 pada tahun 2016 mengalami peningkatan sebesar 7,13 poin yang di artikan bahwa kondisi lingkungan hidup (kualitas air dan udara) mengalami perbaikan kearah yang positif.
Namun demikian realisasi target belum tercapai, dikarenakan capaian indikator yang diatas baru meliputi 2 (dua) komponen saja yang dikerjakan, yaitu IPA dan IPU. Sampai dengan tahun 2016, utuk ITL Kabupaten Tabalong masih belum dapat dihitung dikarenakan belum tersedianya data indeks tutupan lahan (ITL). Sampai dengan tahun 2016,
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 56
untuk Indeks Tutupan Lahan (ITL) Kabupaten Tabalong masih belum dapat dihitung dikarenakan belum tersedianya data ITL.
Tabel : 3.2.10
Capaian Terhadap Sasaran Strategis 10
Meningkatnya potensi pemuda, olahraga, pariwisata dan seni budaya
Indikator Sasaran Satuan Capaian % 2015
Tahun 2016
Target Realisasi % Capaian
1. Kunjungan Wisatawan Mancanegara Dan Nusantara
Orang 135.045 457.696 526.350 114.99
2. Jumlah prestasi olah raga dalam berbagai kejuaraan*
KONI /Dispo ra
76,92% 10 5 50%
* Pengiriman atlet pada 13 Cabor POPDA dan NPC (sumber: Disporapar)
Kunjungan Wisatawan Mancanegara Dan Nusantara
Potensi pariwisata yang ada di Tabalong cukup banyak dan tersebar hampir diseluruh kecamatan, seperti Danau Undan di Banua Lawas, Makam Durun Nafis di Kelua, Makam Datuk Abi di Pugaan, Upacara Adat dan Budaya Warukin di Tanta, Tanjung Puri Indah di Murung Pudak, Bian Kim Kinarum di Upau, dan air terjun Lano di Jaro.
Wisatawan mancanegara dan domestik yang berkunjung ke Kabupaten Tabalong pada tahun 2016 ditargetkan sebanyak 457.696 orang, dalam realisasinya jumlah wisatawan yang datang adalah sebanyak 526.350 orang. Jika dibandingkan dengan data yang tersedia pada tahun 2015 jumlah pengunjung sebanyak
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 57
135.045, maka terjadi jumlah peningkatan pengunjung sebesar 391.305 orang Untuk menunjang pelaksanaan kunjungan wisata ini, telah didukung dengan adanya program pengembangan destinasi wisata, dan pemasaran sarana wisata kemitraan.
Upaya lain untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Tabalong antara lain: perbaikan sarana dan prasarana obyek wisata, penambahan obyek wisata baru, promosi wisata, pelaksanaan even-even secara berkala, dan peningkatan pembinaan seni budaya daerah
Jumlah prestasi olah raga dalam berbagai kejuaraan
Dalam indiKator ini pada Tahun 2015 yang dapat dilakukan pengukuran hanyalah pada salah satu kegiatan (Tupoksi) yakni kegiatan POPDA (perorangan), Festival Olahraga Layanan Khusus (NPC) Paralympic, Kejurda (KONI) Propinsi Kalimantan Selatan dengan jumlah atlit POPDA 2015 sebanyak 59 (lima puluh sembilan) orang. Pelatih/official 11 (sebelas) orang mengikuti 8 (delapan) cabor yaitu renang, senam, bola volley pasir, karate, gulat, takraw, angkat besi atletik sebagai juara umum ke III Propinsi Kalimantan Selatan dengan perolehan medali emas 13 (tiga belas) biji, perak 10 (sepuluh) biji, perunggu 6 (enam) biji dengan jumlah 29 (dua puluh sembilan) medali yang diperoleh untuk mewakili Propinsi Kalimantan Selatan pada pekan olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) di Bandung (Jawa Barat). Atletik, angkat besi, senam. Adapun cabang lain harus memakai limit waktu yang ditentukan.
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 58
Untuk olahraga paralympic (anak berkebutuhan khusus/cacat) mengikuti kejuaraan atletik 5 (lima) cabang bulu tangkis nomor (ganda dan tunggal) jumlah atlit sebanyak 40 (empat puluh) orang pelatih dan official 20 (dua puluh) orang dengan perolehan medali sebanyak berikut ini : emas 6 (enam) biji, perak 8 (delapan) biji, perunggu 12 (dua belas) biji juara umum ke III Propinsi Kalimantan Selatan.
- Untuk cabang Kejurda / Investasi Karate oleh KONI mengikuti 6 (enam) kelas tanding dilaksanakan di Banjarmasin memperoleh medali emas 1 (satu) biji, perak 1 (satu) biji, perunggu 1 (satu) biji dengan jumlah atlit 12 (dua belas) orang dan pelatih 2 (dua) orang.
- Untuk cabang Kejurda / Investasi Bola Takraw Propinsi Kalimantan Selatan, Tabalong mengikuti Regu Putra dan Putri dengan jumlah atlit sebanyak 8 (delapan) orang dan 2 (dua) orang pelatih. Hasil sebagai Juara III Kategori Putri.
- Untuk cabang Kejurda / Investasi Futsal Propinsi Kalimantan Selatan. Adapun kendala yang dighadapi / kurangnya kegiatan Kejuaraan antar klub dan Kecamatan disamping pelatih yang mempunyai lisensi (Piagam Pelatih).
Dalam indikator ini pada Tahun 2016 pengukuran hanyalah pada salah satu kegiatan pembinaan sesuai dengan Tupoksi Disporabudpar yaitu POPDA. Tahun 2016 mengikuti cabang olahraga permainan (kelompok) sebanyak 90 (sembilan puluh)
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 59
orang atlit dan 15 (lima belas) pelatih / official dengan 8 (delapan) cabang olahraga bola basket, sepak Takraw, Tenis Lapangan, Bola Volly, Pencak Silat, Sepak Bola, Tenis Meja, Bulu tangkis, dengan perolehan medali emas 2 (dua) biji (pencak Silat), Perunggu 2 (dua) biji yaitu Sepak Bola dan Bola Volly.
Kegiatan olahraga paralympic (anak berkebutuhan khusus) tingkat Propinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin mengikuti 2 (dua) cabang olahraga atletik lari 100 M, 400 M, Lompat jauh, Tolak Peluru, Bulu Tangkis (Tunggal dan Ganda). Jumlah atlit sebanyak 40 (empat puluh) orang, pelatih / official 20 (dua puluh) orang mendapat medali emas 6 (enam) biji, perak 8 (delapan) biji, Perunggu 12 (dua belas) biji sebagai Juara III se Kalimantan Selatan.
- Mengikuti kejuaraan karate / Investasi (KONI) Tingkat Propinsi Kalimantan Selatan dengan 15 (lima) belas orang atlit, 3 (tiga) orang pelatih dan official, mendapat medali emas 2 (dua) biji, perak 1 (satu) biji dan perunggu 1 (satu) biji.
- Mengikuti Kejuaraan Daerah Sepak Takraw Tingkat Propinsi Kalimantan Selatan. Beregu Putra dan Putri sebanyak 8 (delapan) orang dan 2 (dua) orang pelatih berhasil beregu putri sebagai Juara III tingkat Propinsi Kalimantan Selatan
- Mengikuti Kejuaraan futsal Tingkat Propinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin dengan atlit sebanyak 10 (sepuluh) orang 3 (tiga) orang pelatih dan official dengan hasil sebagai Juara III.
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 60
Kendala yang dihadapi selama evaluasi yaitu kurangnya kejuaraan ditingkat Kabupaten dan pelatih yang mempunyai keahlian khusus.
Tabel : 3.2.11.
Capaian Terhadap Sasaran Strategis 11 Meningkatnya kualitas dan produksi industri kecil,
menengah, dan koperasi
Indikator Sasaran Satuan % Capaian
2015
Tahun 2016
Target Realisasi % Capaian
1. Usaha Mikro menjadi Usaha Kecil
jumlah 97,31 280 268 95,71
2. Jumlah koperasi aktif buah 71,26 99 77 77,78 sumber: Dinas Koperasi dan UKM/BPMPT
Persentase peningkatan UMKM menjadi Usaha Kecil
Jumlah UMKM di Tabalong pada tahun 2016 adalah sebanyak 53.482 buah terdiri dari 17 keahlian / bidang usaha, namun dari jumlah tersebut belum diperoleh data terhadap jumlah usaha baik yang mikro, kecil, dan menengah. Berdasarkan ketentuan yang berlaku maka pemerintah kabupaten hanya mempunyai kewenangan pembinaan hanya pada kelompok usaha mikro dan usaha kecil. Pada tahun 2016 target jumlah usaha kecil adalah sebanyak 280 buah, dalam realisasinya hanya tercapai jumlah sebanyak 268 buah, sehingga capaian nya adalah 95,71%. Data ini hanya diperoleh berdasarkan jumlah penerbitan SIUP untuk kelompok usaha kecil.
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 61
Jumlah koperasi aktif
Koperasi Aktif adalah Koperasi yang dalam 3 (tiga) tahun terakhir secara berturut-turut mengadakan RAT (Rapat Anggota Tahunan) dan melakukan kegiatan usaha untuk melayani anggota.
a. Jumlah koperasi di Kabupaten Tabalong pada Tahun 2015 adalah sebanyak 87 buah dengan jumlah koperasi yang aktif sebanyak 62 buah atau sebesar 71,26%,
sedangkan pada tahun berikutnya ada penambahan / penumbuhan koperasi baru sebanyak 12 buah sehingga jumlah pada tahun 2016 sebanyak 99 buah, pada tahun 2016 ini koperasi yang aktif sebanyak 77 buah atau 77,78%.
Dengan capaian tersebut ada peningkatan koperasi aktif pada tahun 2016 sebesar 6,52% bila dibandingkan dengan tahun 2015. Dari sejumlah koperasi yang tidak aktif tersebut, sebanyak 17 unit akan dihapuskan oleh Pemerintah Pusat namun masih diberikan waktu pembinaan selama 6 bulan, apabila selama 6 bulan bisa aktif kembali maka tidak akan dihapuskan.
b. Tidak tercapainya target jumlah koperasi aktif pada tahun tersebut dikarenakan kurangnya pembinaan, pelatihan dan sosialisasi tentang perkoperasian, hal ini disebabkan karena keterbatasan keuangan, tenaga dan sarana prasarana pendukung.
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 62
Tabel : 3.2.12
Capaian Terhadap Sasaran Strategis 12 Meningkatnya kemampuan keuangan daerah
Indikator Sasaran Satuan % Capaian 2015
Tahun 2016
Target Realisasi %
Capaian 1. Pendapatan Asli
Daerah % n.d. Rp.135,202,012,600 Rp.144,964,679,795,20 107,22
Pendapatan Asli Daerah
Pendapatan Asli Daerah, ditargetkan sebesar Rp.135.202.012.600,00 dapat direalisasikan sebesar Rp.144.964.679.795,20 atau dalam perbandingan relatif pencapaian realisasi sebesar 107,22%. Sedangkan realisasi kontribusi Pendapatan Asli Daerah terhadap total pendapatan adalah sebesar 8,96%.
Terlampauinya capaian realisasi PAD 2016, terutama sekali disebabkan oleh karena penerimaan deviden yang cukup besar, dimana realisasinya sebesar 115,14 % dari target yang sebesar Rp. 8.000.000.000,- dan terlampauinya target lain-lain PAD yang sah yang berasal dari penerimaan jasa giro terlampaui sekitar 113,06 % dari target sebesar Rp. 13.848.777.725,-.
Untuk memaksimalkan capaian realisasi yang masih dibawah target maka kedepannya akan dilakukan rakor secara rutin sehingga masing-masing SKPD terkait dapat lebih aktif memonitor dan mengevaluasi realisasi penerimaaannya secara rutin, setiap triwulan.
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 63
Kegiatan yang mendukung indikator peningkatan pendapatan PAD adalah: 1) Intensifikasi dan ekstentifikasi sumber-sumber pendapatan daerah; 2) Intensifikasi dan ekstensifikasi PBB; 3) Penyuluhan tentang PAD kepada masyarakat; 4) Penyelenggaraan Pameran Investasi.
Tabel : 3.2.13.
Capaian Terhadap Sasaran Strategis 13 Meningkatnya ketahanan pangan yang mantap
Indikator Sasaran Satuan % Capaian
2015
Tahun 2016
Target Realisasi % Capaian
1. Penguatan Cadangan Pangan % na 50,00 42,75 88,50
Sumber: BKP3 Kab.Tabalong
Penguatan Cadangan Pangan
Cadangan Pangan Pemerintah terdiri dari cadangan pangan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, dan pemerintah desa yang perwujudannya memerlukan inventarisasi cadangan pangan, memperkirakan kekurangan pangan dan keadaan darurat, sehingga penyelenggaraan pengadaan dan pengelolaan cadangan pangan dapat berhasil dengan baik.
Cadangan Pangan di tingkat pemerintah, yakni :
o Tersedianya cadangan pemerintah di tingkat kabupaten/kota minimal sebesar 100 ton ekuivalen beras dan di tingkat provinsi minimal sebesar 200 ton ekuivalen beras;
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 64
o Adanya lembaga cadangan pangan pemerintah pada setiap provinsi dan kab/kota;
o Tersedianya cadangan pangan pemerintah, minimal 25 ton ekuivalen beras.
Dalam tahun 2016, realisasi pencapaian Indikator Tingkat Penguatan Cadangan Pangan mencapai 42,75% dari target 50,00% (85,50%) dari realisasi target. Pencapaian ini menunjukkan kinerja yang sangat baik untuk indikator ini. Sedangkan bila dilihat dalam kaitannya dengan target kinerja pada akhir tahun RPJMD, pencapaian ini telah di mencapai 61,07% dari rencana kinerja tahun 2016.
Indikator sasaran Tingkat Penguatan Cadangan Pangan dilaksanakan melalui Program Peningkatan Diversifikasi dan Ketahanan Pangan Masyarakat (dari Dana APBD I) yaitu: “Kegiatan Pengembangan Ketersediaan dan Penanganan Rawan Pangan”, melalui penyalurandana Bansos P-LDPM di desa Bangkiling Kecamatan Banua Lawas.
Tabel : 3.2.14.
Capaian Terhadap Sasaran Strategis 14 Meningkatnya kualitas pelayanan publik
Indikator Sasaran Satuan % Capaian
2015
Tahun 2016
Target Realisasi % Capaian
1. Tingkat kepuasan pelayanan (IKM)
Nilai mutu
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 65
Tingkat kepuasan pelayanan (IKM)
Pelayanan publik yang dilakukan oleh aparatur pemerintah saat ini belum memenuhi harapan masyarakat. Hal ini dapat diketahui dari berbagai keluhan masyarakat yang disampaikan melalui media masa dan jaringan sosial, sehingga memberikan dampak buruk terhadap pelayanan pemerintah, yang menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat. Salah satu upaya yang harus dilakukan dalam perbaikan pelayanan publik adalah melakukan Survei Kepuasan Masyarakat kepada pengguna layanan
Selama ini Survei Kepuasan Masyarakat menggunakan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: KEP/25/M.PAN/2/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah. Keputusan ini belum mengacu pada Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik dan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundangan. Di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tabalong yang telah melaksanakan survey kepuasan masyarakat pada tahun 2015 adalah SKPD pada Badan Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu, Puskesmas dan RSU H.Badaruddin Tanjung
Analisa terhadap capaian IKM pada tahun 2016 tidak dapat disajikan mengingat tidak adanya data, hal ini mengingat hanya RSUD H.Badaruddin yang telah mengadakan survey, sehingga
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 66
untuk mengukur rata-rata capaian kinerja IKM pada unit pelayanan publik di Tabalong belum dapat dilakukan pengukuran/perhitungan. Meski demikian masih dapat disajikan gambaran secara umum tentang hasil survey kepuasan masyarakat dengan menggunakan metode lama yakni Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: KEP/25/M.PAN/2/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah, hal ini disebabkan mengingat metode dan teknik survey sesuai PerMENPAN dan RB yang baru masih belum jelas juklak dan juknisnya, alhasil survey pelayanan public pada SKPD/Satker tersebut dapat diperoleh kesimpulan sbb:
IKM pada BPMPT Tahun 2015 : 75,44 (Baik)
o unsur penilaian tertinggi adalah: keamanan pelayanan
o unsur penilaian terendah adalah: kepastian biaya pelayanan IKM pada RSUD H.Badaruddin Tanjung, Tahun 2015 : 64,42 (Baik) IKM pada RSUD H.Badaruddin Tanjung, Tahun 2016 : 75,11 (Baik) o unsur penilaian tertinggi adalah: kemampuan petugas
pelayanan
o unsur penilaian terendah adalah: kepastian biaya pelayanan IKM Puskesmas Tahun 2016 (rata2 nilai IKM) adalah:78,79 (Baik)
o unsur penilaian tertinggi adalah: keberadaan tugas pelayanan o unsur penilaian terendah adalah: kecepatan pelayanan
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 67
Tabel:
Nilai Persepsi, Interval IKM, Interval Konversi IKM, Mutu Pelayanan dan Kinerja Unit Pelayanan
NILAI PERSEPSI NILAI INTERVAL IKM NILAI INTERVAL KONVERSI IKM MUTU PELAYANAN KINERJA UNIT PELAYANAN 1 1,00 – 1,75 25 – 43,75 D Tidak Baik 2 1,76 – 2,50 43,76 – 62,50 C Kurang Baik 3 2,51 – 3,25 62,51 – 81,25 B Baik 4 3,26 – 4,00 81,26 – 100,00 A SangatBail *KepMENPAN 25/2004 Tabel : 3.2.15.
Capaian Terhadap Sasaran Strategis 15
Meningkatkan kesesuaian pelaksanaan capaian program pembangunan dengan rencana pembangunan daerah
Indikator Sasaran Satuan Capaian % 2015
Tahun 2016
Target Realisasi % Capaian
1. Persentase kesesuaian pembangunan daerah dengan ketentuan aturan tata ruang
% 75 80 69,2 86,5
Persentase kesesuaian pembangunan daerah dengan ketentuan aturan tata ruang
Berdasarkan data permohonan / pengajuan izin kesesuaian ruang pada tahun 2016 sebanyak 39 pemohon, namun setelah dievaluasi terdapat 27 buah yang memenuhi kesesuaian ruang sehingga realisasi pada tahun 2016 adalah sebesar 69,2%, sedangkan
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 68
capaian kinerja pada indikator ini adalah sebesar 86,5% (memuaskan).
Ketidaksesuaian antara izin yang dikeluarkan dengan jumlah permohonan izin yang diterima disebabkan adanya kendala pada sebagian masyarakat yang belum mengetahui ataupun kurangnya pemahaman terhadap implementasi dari peraturan daerah nomor 19 tahun 2014 tentang rencana tata ruang wilayah (RTRW).
Solusi dari permasalahan tersebut adalah akan diadakannya upaya lebih optimal terhadap sosialisasi terhadap masyarakat tentang rencana tata ruang wilayah.
Tabel : 3.2.16
Capaian Terhadap Sasaran Strategis 16
Meningkatnya keberdayaan masyarakat dan desa dalam rangka pertumbuhan daerah
Indikator Sasaran Satuan % Capaian
2015
Tahun 2016
Target Realisasi % Capaian
1. Prosentase Terbentuknya Badan Usaha Milik Desa (BUMDES)
Buah 33 50 49 98
2. Persentase Jumlah desa mandiri
% n.d. n.d. n.d. n.d.
Persentase meningkatnya peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDES)
Pada tahun 2016 dari target terbentuknya Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) sebanyak 50 buah, terealisasi sebanyak 49 Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Dari 49 Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) tersebut,
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 69
yang Aktif dan berkembang sebanyak 15 Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Dalam realisasinya, telah terjadi peningkatan dalam jumlah Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang telah terbentuk. Hal ini merupakan keberhasilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan desa Kabupaten Tabalong .Faktor-faktor Penentu Keberhasilan dalam pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) adalah terlaksananya kegiatan Sosialisasi Keterampilan Pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Tahun 2015 yang dilaksanakan pada 9 Desa se Kabupaten Tabalong
keberhasilan dalam pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Kabupaten Tabalong karena faktor terlaksananya Pelatihan Keterampilan Manajemen Badan Usaha Milik Desa pada tahun 2016 yang dananya bersumber dari APBD Kabupaten Tabalong. Kegiatan ini diikuti oleh (108 orang) yang terdiri dari 72 Pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) se Kabupaten Tabalong dan 24 Pendamping Desa serta 12 Pendamping Administrasi Kecamatan. Faktor penentu lainnya adalah DPMPD Kabupaten Tabalong telah mengikutkan para pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) mengikuti pelatihan pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di BPMPD Propinsi Kalimantan Selatan sebanyak 20 orang. dan terlaksananya pembinaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) ke 24 Desa se Kabupaten Tabalong pada tahun 2014, 2015 dan 2016.
Kendala-kendala yang dihadapi dalam pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) adalah kurangnya informasi/ pengetahuan
BAB III – AKUNTABILITAS KINERJA 70
masyarakat Desa mengenai Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) dan kurangnya pelatihan bagi pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Oleh karena itu, perlu ditingkatkan Sosialisasi kepada masyarakat dan Pelatihan Keterampilan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) agar masyarakat tidak takut atau bersedia menjadi pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) karena dibeberapa desa banyak masyarakat yang tidak berani/takut menjadi pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Sehingga menjadi hambatan dalam pembentukan dan pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) di Pedesaan. Kendala lainnya, kurangnya pengetahuan manajemen pengelola Badan Usaha Milik Desa