• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

B. Penyajian dan Analisis Data

2. Kontribusi Wisata Bangsring Underwater Terhadap Peningkatan

cuma bisa mendengarkan saja tanpa melihat gambar yang ditampilkan.”84

Dilihat dari arti televisi sendiri yakni sebuah media yang dapat menampilkan gambar bergerak dan memiliki bunyi, maka sebuah wisata seperti Bangsring underwater sangat tepat dalam mengeksplor keindahan alam yang terdapat didalamnya serta bisa sebagai alat untuk mempromosikan wisatanya. Media radio sendiri memiliki fungsi yang sama dengan televisi sarana untuk berkomunikasi dengan masyarakat luas, akan tetapi tidak menampakkan gambar hanya membutuhkan indra pendengaran dan analisis untuk mendapatkan sebuah informasi. Namun radio cukup bagus dalam hal mempromosikan sebuah produk dimana wisata Bangsring underwater dapat didengar oleh semua orang.

Berdasarkan dari penjelasan diatas bisa disimpulkan bahwa strategi yang dilakukan wisata Bangsring underwater dalam mempromosikan produknya melalui media elektronik televisi dan radio yang bekerjasama dengan perusahaan televisi swasta dan media radio sendiri wisata Bangsring bekerjasama dengan badan usaha milik Negara.

2. Kontribusi wisata Bangsring underwater terhadap peningkatan

a. Terbukanya lapangan pekerjaan

Pada bagian ini akan disajikan mengenai kontribusi wisata Bangsring underwater dengan terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyakarat lokal. Karena tak lepas dari sebuah pariwisata pasti membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat yang berada di kawasan wisata Bangsring.

Hasil wawancara peneliti dengan bapak Ikhwan Arief selaku ketua wisata Bangsring underwater, beliau menyatakan

“Dengan tercapainya kami membentuk mulai dari area konservasi dan rehabilitasi terumbu karang hingga menjadi sebuah pariwisata sampai saat ini pasti sangat memberikan banyak dampak positif bagi masyarakat sekitar wisata Bangsring ini. Dengan bekal yang cukup dengan memberikan sosialisasi akhirnya masyarakat banyak yang mulai memahami arti penting sebuah wisata. Kami menjadikan beberapa masyarakat sekitar untuk menjadi karyawan wisata selain mereka bisa mencari ikan mereka memiliki pekerjaan tetap dengan membagi waktu mereka. Jadi intinya kami selaku pihak wisata pasti sangat memanfaatkan masyarakat sekitar untuk mempekerjakan mereka dan mengambil bagian dari pengelolaan wisata ini.85

Disambung lagi hasil wawancara peneliti dengan bapak Dony selaku karyawan sekaligus masyarakat Bangsring, beliau memaparkan

”Saya dulu cuma kerja sebagai nelayan mas dimana mencari ikan 1 bulan baru pulang kerumah karena dulu nyari ikan sampai jauh mas. Kemudian saya ikut sosialisasi yang diadakan wisata Bangsring terkait mengenai konservasi terumbu karang dan pelatihan cara menangkap ikan yang ramah lingkungan. Dengan kita menjaga lingkungan alam kita mendapat imbasnya atau dampak positifnya mas. Dulu saya dan masyarakat nelayan mencari ikan sampai jauh sekarang kita gak perlu sampai jauh mencari ikan karena ikan-ikannya sudah pada datang sendiri mas dengan kita menjaga lingkungan alam tadi. Jadi sekarang dengan adanya wisata Bangsring ini saya punya pekerjaan selain mencari ikan. Jadi saya

85Ikhwan Arief, wawancara, Banyuwangi 15 Februari 2019

atur waktu hari senin-kamis saya mencari ikan, hari jum’at-minggu saya jaga loket di wisata Bangsring mas jadi gak sampai 1 bulan mencari ikannya.”86

Disambung wawancara peneliti dengan bapak Tedy selaku karyawan sekaligus masyarakat Bangsring, beliau menyatakan

“Saya dulu pengangguran mas dan saya pun baru lulus dari perkuliahan, kemudian semenjak adanya wisata Bangsring ini saya dapat kerja dijadikan pengurus dibagian homestay pengunjung yang ingin menginap. Selain bekerja menjaga homestay saya juga membuka usaha oleh-oleh untuk para wisatawan yang berkunjung.”87

Disambung wawancara peneliti dengan bapak Ahmad Yusuf selaku karyawan sekaligus masyarakat Bangsring, beliau menyatakan

“Sebelum ada wisata Bangsring saya bekerja sebagai petani tapi punya lahan sendiri mas. Kemudian semenjak adanya wisata Bangsring ini saya punya pekerjaan lagi selain bertani yaitu bekerja sebagai guide snorkeling wisatawan yang mau melihat alam bawah laut wisata ini. Saya juga melayani antar jemput pulau Tabuhan dengan mengendarai boat yang sudah disediakan wisata.”88

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan bahwa dengan adanya wisata Bangsring mampu membuka lapangan pekerjaan serta dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar kawasan Bangsring. Dengan mengadakan sosialisasi kepada masyarakat lokal tentang konservasi dan sadar wisata memberikan sumber daya manusia yang produktif. Kontribusi wisata Bangsring underwater membuka lapangan pekerjaan memberikan masyarakat memiliki pendapatan lebih selain dari hasil bertani, berdagang dan mencari ikan di laut. Jadi dengan adanya wisata Bangsring menjadi keuntungan sendiri yakni yang

86Dony, wawancara, Banyuwangi 24 Februari 2019

87Tedy, wawancara, Banyuwangi 16 Februari 2019

88Ahmad Yusuf, wawancara, Banyuwangi 14 Februari 2019

biasanya sebagai pengangguran, bekerja sebagai petani dan nelayan, sekarang menjadi karyawan bekerja di wisata Bangsring underwater serta masyarakat mempunyai pengalaman dan ilmu baru dengan bekerja menjadi karyawan.

b. Meningkatanya pendapatan masyarakat

Pada bagian ini akan disajikan mengenai adanya kontribusi wisata Bangsring underwater dalam peningkatan pendapatan masyarakat, karena sebuah pariwisata akan memberikan dampak kepada warga sekitar dalam meningkatnya pendapatan mereka.

Wawancara peneliti bersama bapak Sahriyanto selaku sekretaris Bangsring underwater, beliau memaparkan

“Sebelum adanya wisata Bangsring underwater ini saya bekerja mencari ikan hias di laut mas dan itupun sebulan lebih terkadang baru pulang kerumah. Menurut saya setelah adanya wisata Bangsring underwater ini terdapat beberapa manfaat diantaranya menambah penghasilan, menambah pengalaman cara mengelola wisata dan sekaligus memberikan edukasi kepada pengunjung yang datang kesini. Semenjak mulai dijadikannya area konservasi ini menjadi wisata Bangsring yaitu tahun 2014 pendapatan saya mengalami kenaikan, yang awalnya dari hasil menjadi nelayan mencari ikan saja berpenghasilan Rp. 1.000.000 per bulan. Lambat laun wisata ini mulai berkembang ramai pengunjung serta populasi ikan di laut juga bertambah membuat penghasilan saya menjadi Rp.

4.500.000 per bulan mas itu bersih dari saya mencari ikan dan menjadi sekretaris wisata Bangsring ini.”89

89Sahriyanto, wawancara, Banyuwangi 3 Februari 2019

Wawancara peneliti bersama bapak Ahmad Yusuf selaku karyawan sekaligus masyarakat Bangsring, beliau memaparkan

“Sebelumnya saya hanya mengolah lahan sendiri mas, kalo bertanam kan nunggu hasilnya kalau panen bisa sampai dapat Rp 2.000.000. Setelah adanya wisata Bangsring ini Alhamdulillah saya kerja sebagai guide snorkeling dan juga pengendara boat dengan penghasil Rp.2.000.000. Jadi penghasilan saya bertambah menjadi Rp 4.000.000 per bulan ditambah dengan hasil tani mas.”90

Wawancara peneliti dengan bapak Tedy selaku karyawan sekaligus masyarakat Bangsring, beliau memaparkan

“Pengangguran saya dulu mas, masih kuliah dan belum berpenghasilan. Saya bersyukut setelah lulus saya jadi pengurus di wisata Bangsring di bagian jaga homestay ikut mengelola untuk perkembangan wisata juga. Alhamdulillah dengan saya menjadi pengurus di wisata Bangsring dan juga membuka usaha oleh-oleh untuk para wisatawan mendapat penghasilan Rp. 2.500.000 setiap bulannya cukup buat keluarga saya mas.”91

Wawancara peneliti dengan ibu Dewi selaku masyarakat Bangsring, beliau memaparkan

“Saya dulu kerja dirumah makan jadi tukang cuci piring saja, dan berpenghasilan Rp. 300.000 per bulan untuk membantu keperluan keluarga. Setelah adanya wisata Bangsring ini saya membuka warung dibantu anak saya, Alhamdulillah penghasilan saya naik yang cuma kerja jadi tukang cuci piring dapat Rp. 300.000 ditambah membuka warung ini dapat bersihnya Rp. 900.000 per bulan. Jadi setiap bulan penghasilan saya dapat Rp. 1.200.000 mas.”92

Wawancara peneliti dengan bapak Samsi selaku karyawan sekaligus masyarakat Bangsring, beliau memaparkan

“Saya bekerja sebagai nelayan mas dengan penghasilan saya Rp.

1.000.000. Kemudian dengan adanya wisata Bangsring mengadakan sosialisasi saya ikut mas, saya jadi pengurus dibagian

90Ahmad Yusuf, wawancara, Banyuwangi 14 Februari 2019

91Tedy, wawancara, Banyuwangi 16 Februari 2019

92Dewi, wawancara, Banyuwangi 20 Februari 2019

jaga dan merawat alat snorkeling terkadang saya juga ikut menyelam sama wisatawan. Dengan bekerja di wisata Bangsring ini penghasilan saya mendapat kan Rp. 1.500.000. Jadi penghasilan saya bertambah menjadi Rp. 2.500.000 perbulan.”93

Wawancara peneliti dengan bapak Dony selaku karyawan sekaligus masyarakat Bangsring, Beliau memaparkan

“Kerja saya dulu hanya menjadi nelayan mas, dimana penghasilan saya dari mencari ikan Rp. 1.500.000 per bulannya sudah bersihnya. Kemudian semenjak adanya wisata Bangsring ini penghasilan saya bertambah dengan bekerja dibagian loket mas.

Saya bekerja dibagian loket mendapatkan penghasilan Rp 2.000.000 per bulan ditambah dengan mencari ikan di laut Rp.

1.500.000, jadi ada kenaikan mas semenjak adanya wisata Bangsring ini.”94

Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan informan bahwa dengan adanya wisata Bangsring underwater ini terdapat peningkatan pendapatan masyarakat. Masyarakat menjadikan keuntungan sendiri yakni yang biasanya masyarakat pengangguran, bekerja mencari ikan dilaut, bekerja sebagai petani dan sebagai buruh sekarang ada yang menjadi karyawan di wisata Bangsring mendapatkan pengalaman dan ilmu baru, ada yang menambah penghasilan dengan membuka warung dan ada juga yang membuka usaha. Dengan adanya kontribusi dari wisata Bangsring masyarakat bisa menambah penghasilannya yang semula mereka hanya mampu berpenghasilan minim sekarang lebih maksimal. Setelah dilakukan wawancara dan observasi, peneliti juga memperkuat data dengan dokumentasi yaitu berupa data-data pendapatan masyakarat yang disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut.

93Samsi, wawancara, Banyuwangi 27 Februari 2019

94Dony, wawancara, Banyuwangi 24 Februari 2019

Tabel 4.3

Pendapatan Masyarakat Dengan Adanya Wisata Bangsring Underwater

No Nama

Masyarakat Jabatan Pendapatan

Sebelum Sesudah

1. Sahriyanto Sekretaris Rp.1.000.000/bln Rp 4.500.000/bln 2. Ahmad

Yusuf Karyawan Rp. 2.000.000/bln Rp 4.000.000/bln

3. Tedy Karyawan Rp. - Rp 2.500.000/bln

4. Dony Karyawan Rp. 1.500.000/bln Rp 3.500.000/bln 5. Samsi Karyawan Rp. 1.000.000/bln Rp. 2.500.000/bln 6. Dewi Pemilik warung Rp. 300.000/bln Rp. 1.200.000/bln Sumber: Data diolah

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa bapak Sahriyanto merupakan sekretaris wisata Bangsring underwater yang memperoleh penghasilan dari mencari ikan Rp. 1.000.000 per bulan dan mendapatkan gaji dari wisata Bangsring sebesar Rp. 3.500.000 per bulan, jadi setelah adanya wisata Bangsring penghasilan bapak Sahriyanto menjadi Rp.

4.500.000 per bulan. Bapak Ahmad Yusuf adalah seorang petani dengan memiliki lahan sendiri dengan setiap panen dia mendapatkan penghasilan Rp. 2.000.000 per bulan dan mendapatkan gaji bekerja di wisata Bangsring underwater sebesar Rp. 2.000.000 per bulan, jadi setelah adanya wisata Bangsring penghasilan bapak Ahmad Yusuf menjadi Rp.

4.000.000 per bulan. Bapak Tedy yang awalnya baru lulus dari kuliah dan menjadi pengangguran beberapa tahun, setelah adanya wisata Bangsring underwater bapak Tedy menjadi pengurus wisata dibagian homestay dan beliau membuka usaha oleh-oleh untuk wisatawan yang dijaga oleh istrinya mendapatkan penghasilan Rp. 2.500.000 perbulannya.

Jadi pendapatan yang diperoleh masyarakat Bangsring bisa dikategorikan dari tiga sumber pendapatan yaitu pendapatan formal dimana masyarakat mendapatkan gaji atau upah dari hasil kerja mereka dengan wisata Bangsring, pendapatan informal masyarakat berjualan dengan membuka toko oleh-oleh serta warung makanan di sekitar wisata, dan pendapatan subsistem yaitu selain mereka bekerja dengan wisata Bangsring mereka juga membagi waktu dengan bertani dan mencari ikan dilaut.

Dokumen terkait