PROBLEMATIKA PENYIARANBAB IV
D. Kontroversi Dangdut
Sebenarnya, kewaspadaan Pemerintah terhadap kemungkinan maraknya perilaku buruk warganya, terutama anak dan remaja sudah jauh-jauh hari dilakukan. Ditabuhnya genderang perang terhadap berbagai hal yang dapat mempengaruhi, memicu, mendorong, dan memberikan kesempatan terjadinya perilaku buruk anak-anak dan remaja sudah ditabuh sejak dari hulu. Kendati harus mengorbankan kesempatan meraup materi dan berlimpahnya karya kreatif, Pemerintah memiliki komitmen tinggi dengan mengeluarkan sejumlah aturan pelarangan dan/
atau pembatasan, misalnya, penyebaran Narkoba, minuman keras, rokok, bahkan karya seni.
Salah satu yang sudah lama diwaspadai Pemerintah akan menjadi salah satu sumber “penyakit” bagi perkembangan perilaku anak dan remaja adalah lembaga penyiaran. Program acara di lembaga penyiaran memang ibarat pisau bermata dua, satu sisi akan berkontribusi pada perkembangan pengetahuan, kercerdasan, dan kesejahteraan publik, tetapi pada sisi lain dapat berdampak pada memburuknya perilaku publik. Oleh karena itu, wajar jika sejak keberadaannya, apalagi ketika makin menjamur, lembaga penyiaran diwaspadai, dicurigai, bahkan tak jarang dituduh menjadi biang keladi memburuknya perilaku anak dan remaja.
Konten siaran yang diwaspadai dan dicurigai tersebut di antaranya penggunaan kata-kata, baik bentuk ucapan biasa, iklan atau lirik lagu dan puisi yang bernilai cabul. Bahkan pada Pasal 36 ayat (5) Undang-Undang Penyiaran dengan tegas menyebutkan, isi siaran dilarang menonjolkan unsur cabul. Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 SPS) pun melarang menampilkan kata-kata cabul.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring yang bisa dilihat secara online di internet, istilah cabul diartikan sama dengan kata porno. Bahkan, secara terminologis dan semantik, kata cabul dan porno memiliki kesamaan juga dengan seks. Kata cabul memang banyak memiliki arti, tetapi secara garis besar berarti keji dan kotor, tidak senonoh (melanggar kesopanan, kesusilaan). Oleh karena itu, kata-kata cabul dalam P3 SPS masuk pada Bab Adegan Seksual dan nyata-nyata
dilarang dan/atau dibatasi.
Salah satu konten siaran yang acapkali disiarkan di sejumlah lembaga penyiaran dan terkait penggunaan kata cabul adalah lirik lagu dangdut. Hasil penertiban KPID Jawa Barat pada lembaga penyiaran di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Barat pada awal 2016, masih banyak ditemukan lagu dangdut berlirik cabul disiarkan, sehingga dangdut dalam pencermatan khusus KPID Jawa Barat.
Padahal dalam Pasal 20 SPS dengan jelas ditegaskan, program siaran dilarang berisi lagu dan/atau video klip yang menampilkan judul dan/atau lirik bermuatan seks, cabul, dan/atau mengesankan aktivitas seks. Program siaran yang menampilkan musik dilarang bermuatan adegan dan/atau lirik yang dapat dipandang menjadikan perempuan sebagai objek seks. Berangkat dari sejumlah pasal dalam Undang-Undang Penyiaran dan P3 SPS, KPID Jawa Barat mengidetifikasi dan menganalisis lebih 40 judul lagu dangdut yang diindikasikan berkonten kata-kata cabul.
Kendati, pakar kesenian rakyat, Jaeni B. Wastap (2015) pernah mengatakan, dangdut merupakan musik yang lahir dan dibesarkan oleh masyarakat “ibu pertiwi”. Ia sanggup menceritakan keadaan lingkungan sosial budayanya. Dangdut melalui liriknya menjadi ekspresi jujur tentang lingkungannya. Kejujuran ekspresi itu, dapat membanggakan dan dapat pula membuat malu. Fenomena dangdut berlirik cabul bagian dari masyarakat pendukungnya. Jika lirik-lirik dangdut menjadi seronok dan vulgar, itu artinya ada masyarakat atau sekelompok masyarakat yang asyik dengan ke-seronok-an dan ke-vulgar-an.
Padahal, pesan-pesan seronok dan vulgar dapat menyesatkan dan menjerumuskan pendengar atau pemirsa (penonton) ke dalam jurang syahwat dan nafsu semata. Dangdut merupakan karya seni bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia, sehingga semestinya mengacu pada konsep-konsep seni budaya Indonesia yang memuat etika (kaidah, benar), estetika (keindahan), dan hikmah (manfaat), bukan menyesatkan dan menjerumuskan.
Oleh karena itu, bukan kebijakan berlebihan jika KPID Jawa Barat tegas melarang dan membatasi sejumlah lagu dangdut yang berlirik cabul untuk disiarkan, baik di radio apalagi di televisi yang kerapkali dibumbui dengan goyang erotis penyanyi. Kebijakan KPID bukan upaya pembekapan terhadap karya seni yang seharusnya layak hidup dan berkembang di negeri ini. Namun, KPID Jabar memiliki kewajiban untuk
mewujudkan tujuan penyiaran sebagaimana amanah Undang-Undang Penyiaran, yakni terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa.
Apalagi, siaran lagu dangdut berkonten kata cabul seringkali ditayangkan pada klasifikasi jam tayang anak dan remaja. Padahal Pemerintah melalui Undang-Undang Penyiaran sudah tegas berkomitmen bahwa isi siaran wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada khalayak khusus, yaitu anak-anak dan remaja, dengan menyiarkan mata acara pada waktu yang tepat, dan lembaga penyiaran wajib mencantumkan dan/atau menyebutkan klasifikasi khalayak sesuai dengan isi siaran.
Hal itu ditegaskan kembali dalam beberapa pasal P3-SPS, program siaran wajib memperhatikan dan melindungi kepentingan anak-anak dan/atau remaja. Program siaran dilarang menampilkan ungkapan kasar dan makian, baik secara verbal maupun nonverbal, yang mempunyai kecenderungan menghina atau merendahkan martabat manusia, memiliki makna jorok/ mesum/cabul/vulgar, dan/atau menghina agama dan Tuhan. Kata-kata kasar dan makian mencakup kata-kata dalam bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing.
Namun, setegas apapun pasal-pasal dalam aturan penyiaran dan kebijakan KPID Jabar, hanya ikhtiar kecil sumbahsih kepedulian pada perkembangan karakteristik anak dan remaja ke depan. Ikhtiar besar sejatinya dilakukan bersama oleh seluruh elemen bangsa untuk tetap komit memerangi segala bentuk kegiatan yang dapat menyesatkan dan menjerumuskan moral bangsa karena hal itulah sebenarnya musuh terbesar kita pada era ini. (Dipublikasikan Harian Pikiran Rakyat, 15 Maret 2016) ***
Terkait dengan hal itu, Keputusan Pleno KPID Jawa Barat mengeluarkan surat edaran yang intinya memberikan rujukan kepada lembaga penyiaran, baik lembaga penyiaran radio maupun televisi untuk tidak menyiarkan dan/atau menayangkan lagu dangdut yang masuk kategori dilarang dan membatasi menyiaran dan/atau menayangkan lagu dangdut judul tertentu hanya pada klasifikam jam dewasa, yakni pukul 22.00 Wib sampai pukul 03.00 Wib.
Berikut isi Surat Edaran KPID Jawa Barat nomor 001/KPID JBR/04/2016 tentang Pelarangan dan Pembatasan Siaran Lagu-Lagu
Dangdut. Berdasarkan 1) Pasal 3 Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran bahwa Penyiaran diselenggarakan dengan tujuan untuk memperkukuh integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokratis, adil dan sejahtera, serta menumbuhkan industri penyiaran Indonesia; 2) Pasal 5 huruf b Undang-Undang No.
32 Tahun 2002 tentang Penyiaran bahwa Penyiaran diarahkan untuk : b.
menjaga dan meningkatkan moralitas dan nilai-nilai agama serta jati diri bangsa; 3) Pasal 8 Ayat (2) dan Ayat (3) huruf a & e Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran bahwa (2) Dalam menjalankan fungsinya, KPI mempunyai wewenang: a. menetapkan standar program siaran; b.
menyusun peraturan dan menetapkan pedoman perilaku penyiaran; c.
mengawasi pelaksanaan peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran; d. memberikan sanksi terhadap pelanggaran peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran; e. melakukan koordinasi dan/atau kerjasama dengan Pemerintah, lembaga penyiaran, dan masyarakat; bahwa (3) KPI mempunyai tugas dan kewajiban : a. menjamin masyarakat untuk memperoleh informasi yang layak dan benar sesuai dengan hak asasi manusia.…e. menampung, meneliti, dan menindaklanjuti aduan, sanggahan, serta kritik dan apresiasi masyarakat terhadap penye-lenggaraan penyiaran; 4) Pasal 9 Peraturan KPI No. 01/P/KPI/03/2012 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran bahwa Lembaga penyiaran wajib menghormati nilai dan norma kesopanan dan kesusilaan yang berlaku dalam masyarakat; 5) Pasal 14 Ayat (1) &
(2) Peraturan KPI No. 01/P/KPI/03/2012 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran bahwa (1) Lembaga penyiaran wajib memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada anak dengan menyiarkan program siaran pada waktu yang tepat sesuai dengan penggolongan program siaran dan (2) Lembaga penyiaran wajib memperhatikan kepentingan anak dalam setiap aspek produksi siaran; 6) Pasal 16 Peraturan KPI No. 01/P/
KPI/03/2012 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran bahwa Lembaga penyiaran wajib tunduk pada ketentuan pelarangan dan/atau pembatasan program siaran bermuatan seksual; 7) Pasal 9 Ayat (1) & (2) Peraturan KPI No. 02/P/KPI/03/2012 tentang Standar Program Siaran bahwa (1) Program siaran wajib memperhatikan norma kesopanan dan kesusilaan yang dijunjung oleh keberagaman khalayak baik terkait agama, suku,
budaya, usia, dan/atau latar belakang ekonomi dan (2) Program siaran wajib berhati-hati agar tidak merugikan dan menimbulkan dampak negatif terhadap keberagaman norma kesopanan dan kesusilaan yang dianut oleh masyarakat; 8) Pasal 20 Ayat (1) & (2) Peraturan KPI No.
02/P/KPI/03/2012 tentang Standar Program Siaran bahwa (1) Program siaran dilarang berisi lagu dan/atau video klip yang menampilkan judul dan/atau lirik bermuatan seks, cabul, dan/atau mengesankan aktivitas seks. (2) Program siaran yang menampilkan musik dilarang bermuatan adegan dan/atau lirik yang dapat dipandang menjadikan perempuan sebagai objek seks; 10) Hasil Rapat Dengar Pendapat Ahli (RDPA) Komisi Penyiaran Daerah Jawa Barat pada tanggal 23 Maret 2015 dan 26 Agustus 2015; 11)Hasil Rapat Pleno Komisi Penyiaran Daerah Jawa Barat pada tanggal 5 April 2016; Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Barat menetapkan pelarangan dan pembatasan terhadap lagu-lagu dangdut sebagaimana judulnya tercantum dalam lampiran ini untuk disiarkan dan/
atau ditayangkan baik dalam bentuk lagu, video klip, dan/atau sejenisnya pada lembaga penyiaran yang ada di wilayah Jawa Barat. Demikianlah edaran ketetapan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Jawa Barat untuk diperhatikan dan ditaati oleh seluruh lembaga penyiaran yang wilayah layanannya ada di wilayah Jawa Barat ditandatangani langsung Ketua KPID Jawa Barat Dr. Dedeh Fardiah, M.Si.
Berikut daftar lagu dangdut yang dilarang dan dibatasi untuk disiarkan di lembaga penyiaran wilayah layanan Jawa Barat.
Daftar Judul Lagu Dangdut
DILARANG DIBATASI
1. Julia Perez - Paling Suka 69 1. Julia Perez - Belah Duren 2. Mirnawati - Wanita Lubang Buaya 2. Melinda - Cinta Satu Malam 3. Zilvana - Simpanan 3. Melinda - AW AW
4. Ade Farlan - Hamil Sama Setan 4. Linda Moy Moy - Gadis Bukan Perawan
5. Asep Rumpi feat Lia MJ - Mobil
Bergoyang 5. Siti Badriah - Berondong Tua
6. Della Puspita - Apa Aja Boleh 6. Varra Selvarra - Janda Rasa Perawan
7. Tuty Wibowo - Hamil Duluan 7. Ayu Tin Ting - Geboy Mujair 8. Rimba Mustika - Mucikari Cinta 8. Cita Citata - Perawan atau Janda
9. Zaskia Gothic - Satu Jam Saja 9. Desy Ning Nong - Merem Melek 10. Mozza Kirana - Melanggar
Hukum 10. Diora Ariendita - Aku Pingin
Dipacarin
11. Geby Ge - Cowok Oplosan 11. Titi Kamal - Jablay 12. Ellicya - Merem-Merem Melek
13. Lolita - Ga Jaman Punya Pacar Satu
Sumber: Lampiran Surat Edaran KPID Jabar Nomor : 001.KPID JBR/04/2016