PROBLEMATIKA PENYIARANBAB IV
B. Televisi dan Wabah Begal
Pengaruh besar televisi terhadap pikiran, sikap, dan perilaku seseorang atau kelompok orang bukan hanya wacana. Ratusan, bahkan ribuan hasil penelitian dan puluhan teori telah membuktikan, pengaruh televisi sangat luar biasa dalam membolak-balikkan warna dunia. Oleh karena itu, wajar jika pergeseran perilaku manusia selalu saja disambung-sambungkan dengan keberadaan televisi.
Pun mewabahnya aksi pembegalan yang masif akhir-akhir ini.
Sejumlah peserta dalam Workshop Isi Siaran KPID Jawa Barat belum lama ini mengindikasikan bahwa televisi berkontribusi besar pada makin masifnya aksi pembegalan. Kendati hal itu perlu dibuktikan melalui kajian yang cermat, tetapi secara faktual ketika satu peristiwa pembegalan diberitakan di suatu tempat, esok lusa terjadi pula di tempat lain dan terus menebar ke tempat-tempat lainnya. Seolah berita televisi menjadi inspirasi bagi para pembegal lainnya untuk melakukan aksi yang sama.
Jika televisi dituding menjadi salah satu sumber inspirasi, memang tidak dapat disangkal. Namun, jika inspirasi tersebut terkait dengan aksi pembegalan, tentu perlu bukti yang memadai. Akan tetapi, pengakuan sejumlah pelaku kriminal bahwa mereka kerapkali memiliki modus untuk melakukan tindak kejahatan karena terinspirasi tayangan-tayangan berita kriminal di televisi, seperti kasus pembobolan ATM, pencurian kendaraan, bahkan sampai cara menaklukan kunci. Dalam konteks ini, televisi sudah berhasil menjalankan fungsi educated-nya, kendati berekses negatif; mencerdaskan penjahat dan memberikan inspirasi pada berulangnya tindak kejahatan.
Oleh karena itu, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) melalui aturan P3 SPS-nya (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran) memberikan sejumlah pelarangan dan pembatasan pada lembaga penyiaran dalam menayangkan siaran jurnalistik. Misalnya, pada Pasal 41 huruf d SPS disebutkan, program siaran jurnalistik yang melakukan penggambaran kembali suatu peristiwa wajib mengikuti ketentuan tidak menyajikan reka ulang yang memperlihatkan secara terperinci cara dan langkah kejahatan serta cara-cara pembuatan alat kejahatan atau langkah-langkah operasional aksi kejahatan.
Begitu juga dalam Pasal 43-nya huruf a, c, dan e, program siaran bermuatan kekerasan dan/atau kejahatan dalam program siaran jurnalistik
wajib mengikuti ketentuan, tidak menampilkan gambaran eksplisit dan terperinci tentang cara membuat dan mengaktifkan bahan peledak;
tidak menayangkan secara terperinci rekonstruksi yang dilakukan oleh kepolisian; tidak memberitakan secara terperinci reka ulang kejahatan meskipun bersumber dari pejabat kepolisian yang berwenang dan/atau fakta pengadilan; tidak menayangkan reka ulang pemerkosaan dan/atau kejahatan seksual.
Bahkan, dalam Rakornas KPI & KPID se-Indonesia yang digelar di Makasar, 30 Maret sampai 2 April 2015, terkait dengan siaran jurnalistik yang menyajikan berita kejahatan, cara penyajian angel tindak kejahatan juga akan dijadikan salah satu poin penting dalam perubahan P3 SPS.
Televisi dalam menayangkan siaran jurnalistik harus pandai-pandai memilah mana tindak kejahatan yang harus disajikan close up dan mana yang harus long shot dengan berpijak pada dampak negatif yang akan dialami publik.
Adanya pelarangan siaran jurnalistik tersebut, di antaranya dimaksudkan agar tidak ada upaya untuk meniru modus-modus kejahatan, sehingga satu modus tindak kejahatan akan menjadi trend bagi penjabat lainnya. Hal itu pulalah yang melahirkan asumsi bahwa siaran jurnalistik di televisi tentang aksi pembegalan menjadi inspirasi bagi para penjahat lainnya, sehingga pembegalan terjadi cukup masif.
Kendati secara teoretis, Jean Budrillard berpandangan bahwa publik pun acapkali mengalami distori pemaknaan terhadap isi media, sehingga mengakibatkan munculnya gejala hiperrealitas. Salah satu di antaranya adalah skizoprenia yang secara sederhana menunjuk kepada apa yang disebut kesimpangsiuran bahasa. Trend-nya istilah pembegalan pada suatu peristiwa kejahatan yang diperkenalkan media, akan memungkinkan mendorong media lainya untuk menberikan label sama pada tindak kejahatan yang berbeda.
Oleh karena itu, sangat memungkinkan tindak kejahatan yang dulunya diberikan label perampokan, penjambretan, penganiayaan, pencurian dengan kekerasan, perampasan, dan tindak kejahatan yang hampir serupa lainnya, kini diberikan label yang sama oleh media, yakni pembegalan. Oleh karena itu, publik diberikan pemaknaan pesan media bahwa tindak kejahatan pembegalan sangat masif karena kuantifikasi kemunculan istilah pembegalan berfrekuensi tinggi.
Namun, fakta apapun yang terjadi, sebagaimana amanah P3 SPS, media penyiaran, khususnya televisi harus ekstra hati-hati dalam menyajikan siaran jurnalistik tentang kejahatan karena dapat membawa dampak negatif bagi publik. Siaran jurnalistik yang mengajikan berita tindak kejahatan dapat menjadi inspirasi bagi penjahat lain untuk melakukan modus yang sama. Bahkan, lebih luas lagi, masifnya pengistilahan tindak kejahatan dapat menimbulkan kecemasan dan ketakutan luas bagi publik.
Dengan tetap kukuh pada pemenuhan hak konstitusional warga atas informasi, menjalankan prinsip-prinsip jurnalistik yang ideal, siaran jurnalistik pun harus memberikan perlindungan terhadap kemunduran karakter bangsa dan ikut serta memperkokoh nilai-nilai positif yang sudah lama tertanam pada jatidiri Bangsa Indonesia. Karena hal itulah di antaranya yang akan dapat tetap menempatkan para jurnalis Indonesia sebagai panutan dan pahlawan. (Dipublikasi Harian Pikiran Rakyat, 31 Maret 2015)***
Namun, pelanggaran terhadap P3-SPS yang terkait hal tersebut, terutama pelanggaran terhadap Pasal 43-nya huruf a, c, dan e yang menunjukkan adanya program siaran bermuatan kekerasan dan/atau kejahatan dalam program siaran jurnalistik wajib mengikuti ketentuan, tidak menampilkan gambaran eksplisit dan terperinci tentang cara membuat dan mengaktifkan bahan peledak; tidak menayangkan secara terperinci rekonstruksi yang dilakukan oleh kepolisian; tidak memberitakan secara terperinci reka ulang kejahatan meskipun bersumber dari pejabat kepolisian yang berwenang dan/atau fakta pengadilan; tidak menayangkan reka ulang pemerkosaan dan/atau kejahatan seksual, berdasarkan hasil pleno KPID Jawa Barat belum ada yang terbukti atau nihil, baik pada tahun 2015, 2016, 2017, 2018, maupun tahun 2019.
Walaupun sejumlah item (indikasi temuan) hasil Tim Pemantau KPID Jawa Barat sempat muncul, tetapi dipatahkan dalam Rapat Pleno KPID Jawa Barat karena beberapa aspek dari pasal tersebut tidak terbukti. Aspek yang dimaksud adalah terperinci cara mengaktifkan dan membuat bahan peledak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) During, kata terperinci asal dari kata dasar perinci/pe•rin•ci/
v, memerinci/me•me•rin•ci/ v menyebutkan (menguraikan) sampai ke bagian yang sekecil-kecilnya; terperinci/ter•pe•rin•ci/ v sudah diperinci;
perincian/pe•rin•ci•an/ n 1 uraian yang berisi bagian yang kecil-kecil satu demi satu; 2 hasil memerinci; 3 cara, perbuatan, proses memerinci;
pemerincian/pe•me•rin•ci•an/ n proses, cara, perbuatan memerinci.
Untuk membuktikan sampai menguraikan ke hal-hal yang sekecil-kecilnya dalam mengaktifkan dan membuat bahan peledak, belum ada tayangan seperti itu. Visual yang disajikan televisi seringkali hanya bagian
“besarannya” saja.
Begitu pun kata terperinci dalam klausul tidak memberitakan secara terperinci reka ulang kejahatan meskipun bersumber dari pejabat kepolisian yang berwenang dan/atau fakta pengadilan, belum ada yang terbukti. Kalau siaran jurnalistik yang didukung dengan tayangan visual reka ulang yang dilaksanakan pihak kepolisian sering kali muncul di televisi, tetapi tayangan mereka tidak menunjukkan terperinci. Yang ditayangkan televisi lebih pada visual “besarannya” saja yang mereka anggap mewakili cerita tentang rekonstruksi yang dilakukan pihak kepolisian. Selain itu, kalau pun mereka harus menayangkan reka ulang yang dilakukan pihak kepolisian memerlukan durasi yang panjang, padahal siaran news atau yang bernuansa news rata-rata berdurasi satu jam. Oleh karena itu, tayangan reka ulang yang dilakukan pihak kepolisian hampir tidak mungkin terperinci.
Apalagi untuk merinci dalam bentuk tayangan reka ulang pemerkosaan dan/atau kejahatan seksual, lebih tidak mungkin lagi.
Karena tayangan terperinci terkait dengan reka ulang pemerkosaan dan/atau kejahatan seksual merupakan pelanggaran besar dan akan mencederai nilai-nilai yang ada pada masyarakat dan budaya Indonesia yang religious dan beradab. Hal itu pun bukan karakteristik yang dimiliki oleh lembaga penyiaran yang ada di Indonesia; andaipun ada, lembaga penyiaran tersebut tidak layak hidup di bumi Indonesia.*