• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adapun angka IPM Kabupaten Boyolali sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009 sebagaimana tabel berikut

PDRB PER KAPITA

8. Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah

Koperasi dan UMKM merupakan unit-unit usaha yang telah teruji mempunyai daya tahan dalam menghadapi krisis ekonomi dalam satu dekade belakangan ini. Hal ini tercermin dari adanya kecenderungan jumlah koperasi dan UKM yang terus meningkat. Berdasarkan data yang ada diketahui bahwa pada tahun 2007 di Kabupaten Boyolali terdapat 952 unit koperasi dan 25.639 UKM, pada akhir tahun 2009 tercatat sebanyak 967 unit koperasi, dimana 733 unit atau 75,80% di antaranya merupakan koperasi aktif dan 26.153 UKM. Jumlah anggota koperasi pada tahun 2007 tercatat sebanyak 220.923 anggota, terus meningkat menjadi 221.304 pada tahun 2009. Sedangkan volume usaha koperasi pertanian maupun koperasi non pertanian meningkat masing-masing dari Rp 1,58 milyar dan Rp 132,86 milyar pada tahun 2007 dan menjadi Rp 54,78 milyar dan Rp 109,09 milyar pada tahun 2009. Perkembangan koperasi dan UKM dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.33

Perkembangan Koperasi Tahun 2009

No. Uraian 2007 2008 2009

1 Jumlah Koperasi 952 967 967

2 Jumlah Koperasi Aktif 716 733 733

3 Jumlah Pelaksanaan Audit Koperasi 88 89 89 4 Jumlah Pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) 420 435 435 5 Jumlah Anggota Koperasi 220.923 221.304 221.304 a. Koperasi Pertanian : Jumlah Koperasi Primer 220 205 201

Pokja AMPL Kabupaten Boyolali

No Nama Perusahaan BerdiriTahun Nilai Investasi (US$)

1. 2. 3. 4. 5. PT Hanil Indonesia

PT Tupai Adyamas Indonesia

PT Bengawan Solo Garment Indonesia PT Primayudha Mandiri Jaya

PT Cartini Lingerie Indonesia

1995 1995 2001 2008 2010 11.552.000 1.500.000 1.000.000 35.052.000 920.000 Jumlah 50.024.000 II-41

Jumlah anggota 111.890 109.770 104.488 Volume usaha (Rp) 1.583.579.816 79.407.373.000 54.786.991.000

b. Koperasi Non Pertanian :

Jumlah koperasi 732 762 782 Jumlah anggota 109.033 111.534 112.066 Volume usaha (Rp) 132.867.162.000 146.754.807.000 109.093.138.000 6. UKM : Jumlah UKM 25.639 25.895 26.153 Sektor Perdagangan 12.097 12.217 12.347 Sektor Industri 10.729 10.836 10.954 Sektor Jasa : - Jasa RMU - Jasa Non RMU - Jasa Angkutan 444 2.168 201 454 2.189 199 456 2.201 195 Volume usaha (Rp) 837.908.390 698.687.250 718.461.162

Sumber data : Dinas Koperasi & UKM Kabupaten Boyolali

9. Perdagangan

Pemerintah Kabupaten Boyolali dalam upaya meningkatkan usaha perdagangan khususnya bagi UMKM adalah dengan meningkatkan pelayanan dalam penyediaan sarana dan prasarana perdagangan. Penyediaan sarana dan prasarana perdagangan dengan usaha pembangunan dan renovasi pasar dan adanya kepastian perlindungan bagi pelaku usaha di pasar tradisional yang diatur dalam Perda No 12 tahun 2002 tentang Pengelolaan Pasar dan Perda No 28 tahun 2003 tentang Kios, Toko dan Ruko.

Upaya meningkatkan eksistensi pasar tradisional adalah dengan telah dibangunya 4 pasar semi modern yaitu pasar umum Ampel, Sunggingan, Pengging dan Boyolali disamping setiap tahun dilaksanakan renovasi dan pemeliharaan/rehab pasar-pasar yang lain. Pasar yang dikelola 44 pasar yang terdiri dari 39 pasar Umum dan 5 pasar Hewan. Adapun data sarana pasar sebagai berikut:

Tabel 2.34

Sarana dan Prasarana Pasar Sampai Dengan Tahun 2010

Pokja AMPL Kabupaten Boyolali

II-42

No Uraian Jumlah 1 Luas pasar 206.501 m2 2 Toko 439 unit 3 Kios 1.621 unit 4 SIDT 10.753 buah 5 MCK 23 unit

Sumber: Disperindagsar Kabupaten Boyolali

Pembinaan pedagang dilaksanakan dengan memberikan sosialisasi tentang hak dan kewajiban yang harus ditaati oleh pedagang sesuai dengan aturan yang berlaku.

Atas pengelolaan pasar tersebut diperoleh pendapatan retribusi pelayanan pasar dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 2.35

Retribusi Pasar sampai dengan Mei 2010

No Tahun Realisasi 1 2006 3.440.065.665,00 2 2007 3.523.402.699,00 3 2008 3.666.984.759,00 4 2009 3.587.175.587,00 5 s.d Mei 2010 5.732.292.575,00

Sumber: Disperindagsar Kabupaten Boyolali

Upaya menggerakan perdagangan khususnya produk unggulan dengan memfasilitasi pengusaha dalam menjalin kemitraan usaha dengan pabrikan seperti mempertemukan petani tembakau dengan para pedagang besar tembakau dan pabrikan pengelola tembakau, juga mefasilitasi UMKM untuk mengikuti pasar lelang daerah untuk mengembangkan usaha dan menjalin kemitraan usaha dengan daerah lain.

Adapun perkembangan volume dan nilai realisasi ekspor non migas Kabupaten Boyolali tahun 2004 sampai dengan 2009 sebagaimana tabel berikut.

Pokja AMPL Kabupaten Boyolali

II-43

Tabel 2.36

Perkembangan Realisasi Ekspor Non Migas Kabupaten Boyolali Tahun 2004 – 2009

Sumber data : Disperindagsar Kabupaten Boyolali

Pokja AMPL Kabupaten Boyolali

Tabel 2.37

Perkembangan Impor Kabupaten Boyolali Tahun 2004 - 2009

Sumber data : Disperindagsar Kabupaten Boyolali

Pokja AMPL Kabupaten Boyolali

Berdasarkan Tabel 2.20. Kegiatan ekspor tahun 2009 rata-rata mengalami peningkatan nilai ekspor dibanding dengan tahun 2008. Namun karena dampak krisis keuangan global dimana permintaan ekspor dari negara tujuan menurun, perkembangan nilai ekspor non migas sektor industri tampak berfluktuasi dari -27,12% pada tahun 2005 hingga 15,15% pada tahun 2009. Ekspor terbesar pada tahun 2006 dengan kenaikan nilai sebesar 84,72%. Upaya untuk meningkatkan ekspor masih terus dilakukan dengan mengikutkan industri kecil menengah pada event pameran / promosi baik di tingkat nasional maupun international. Sebagai perbandingan ekpor non migas Provinsi Jawa Tengah juga mengalami penurunan rata-rata 20% per komoditi.

10. Industri

Industri kecil di Kabupaten Boyolali sangat dominan namun dari jumlah output yang dihasilkan masih tergolong kecil-kecil, hal ini menjadi dasar kebijakan pembangunan industri di Boyolali. Pelaksanaan pembangunan industri difokuskan pada pemberdayaan industri kecil dan menengah dengan meningkatkan daya saing produksi baik dari segi kualitas maupun kuantitas output. Fasilitasi pelatihan dan bantuan alat merupakan solusi yang dipilih disamping pelaksanaan kegiatan yang lain yang mendukung.

Industri Kecil dan Menengah (IKM) pada umumnya memiliki kemampuan SDM dan modal yang terbatas sehingga perlu adanya fasilitasi, bimbingan teknis dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusianya sehingga mampu/mengerti manajerial maupun teknis pengolahan industri, bantuan alat diberikan untuk meningkatkan kemampuan modal utamanya peralatan yang digunakan untuk produksi. Pelatihan dan bantuan alat juga membantu IKM untuk melaksanakan diversifikasi produk, sehingga desain makin bertambah.

Di bawah ini disajikan jumlah industri baik besar, menengah dan kecil Kabupaten Boyolali.

Tabel 2.38

Jumlah Industri Kabupaten Boyolali s.d 2010

Uraian Jumlah Tenaga kerja Output ( juta )

Industri besar 9 8.060 349.369

Industri

menengah 56 3.450 25.050

Industri kecil 12.290 33.546 155.572

Total 12.355 45.056 529.991

Sumber data : Disperindagsar Kabupaten Boyolali

Pengembangan klaster industri andalan terus ditingkatkan baik klaster pengolahan kayu dan klaster pengolahan tembaga. Klaster kayu jumlah angotanya 520 unit usaha, klaster pengolahan tembaga angotanya berjumlah 70 unit usaha. Klaster industri diharap dapat tumbuh berkembang sehingga dapat meningkatkan lapangan pekerjaan, meningkatkan pertumbuhan ekspor dan menggairahkan usaha industri dilingkungannya.

Kampanye pengunaan produk dalam negeri secara masal dimulai dengan pemakaian batik sebagai seragam dinas, yang kemudian ditindaklanjuti dengan pembuatan batik IKON Kabupaten Boyolali, yang akan dipakai sebagai seragam dinas maupun siswa di Kabupaten Boyolali. Diharapkan dapat menumbuhkan industri batik dan konveksi UMKM di Kabupaten Boyolali dengan permintaan potensial yang sedemikian besar tersebut.

11. Pertanian

Misi utama pembangunan pertanian adalah mewujudkan swasembada berkelanjutan, diversifikasi pangan, peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor dan peningkatan kesejahteraan petani melalui revitalisasi pertanian dalam arti luas.

Selama 4 tahun dari 2005 s/d 2009 kabupaten Boyolali telah berhasil meningkatkan produksi pertanian secara signifikan dan mampu mempertahankan swasembada pangan. Produksi Padi pada Tahun 2005

mencapai 227.127 ton GKG meningkat sebesar 9,95 % menjadi 248.186 ton pada tahun 2008, dengan provitas meningkat 8,57 % dari 5,50 ton/ha menjadi 5,98 ton/ha. Produksi jagung Pada tahun 2005 mencapai 131.525 ton meningkat sebesar 10,75 % menjadi 145.035 ton dengan produktivitas meningkat 8,94 % dari 4,49 ton/ha menjadi 4,90 ton/ha.

Keberhasilan pembangunan pertanian ini dicapai karena adanya komitmen yang kuat dari pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten yang diikuti dengan penerapan Panca Yasa pembangunan pertanian yang meliputi perbaikan infrastruktur pertanian, perbenihan, pengaktifan kelembagaan tani dan penyuluh, fasilitasi pembiayaan dan pengembangan sistem pemasaran hasil.

Infrastruktur pertanian Selama 4 tahun terakhir telah berhasil membangun Jaringan Irigasi Tingkat Usaha tani dan Tingkat Desa (JITUT dan JIDES ) seluas 930 ha pembangunan irigasi tanah dangkal dan sumur pantek 130 unit irigasi tanah dalam 1 unit serta penyediaan pompa air irigasi sebanyak 72 unit. Pembangunan irigasi tersebut mampu mengurangi resiko kegagalan panen akibat kekeringan terbukti pada tahun 2005 luas kekeringan ringan s/d berat mencapai 3.558 ha dan puso seluas 496 ha, sedangkan pada tahun 2009 s/d akhir Nopember luas kekeringan sebesar 325 ha.

Revitalisasi kelembagaan tani dilaksanakan dengan pengukuhan sejumlah 1.657 Kelompok Tani dan 162 Gabungan Kelompok tani yang dimaksudkan untuk melaksanakan pemberdayaan kelompok tani dalam rangka membangun dan memperbaiki sistem distribusi pupuk bersubsidi, pengendalian serangan organisme pengganggu tanaman dan perbaikan pola tanam.

Selama tahun 2007 s/d 2009 sebanyak 696 kelompok tani telah melaksanakan SL-PTT dengan luasan mencapai 17.400 ha dan terbukti mampu menghasilkan peningkatan produksi sebesar 5,24 % pada tahun 2008, Dan meningkat lagi pada tahun 2009 rata-rata luas panen padi meningkat sebesar 4,77 % dan produksi meningkat 12,96 %.

12. Peternakan

Pengembangan peternakan Kabupaten Boyolali didukung oleh potensi wilayah untuk pengembangan ternak besar maupun ternak kecil serta ternak unggas. Ternak yang paling banyak dipelihara adalah ternak besar (sapi perah, sapi potong) dan ternak kecil (kambing dan domba), sedangkan untuk unggas, yang dipelihara masyarakat yaitu: ayam buras, ayam ras, burung puyuh dan itik. Perkembangan populasi ternak dari tahun 2006 sampai dengan 2009 dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2.39

Perkembangan Produksi dan Populasi Ternak Kabupaten Boyolali Tahun 2006 – 2009 No . Uraian 2006 2007 2008 2009 1. Produksi hasil peternakan Susu ( liter ) 26.461.3 68 28.825.2 00 32.400.0 00 35.910.0 00 Daging ( Kg ) 8.839.21 8 8.539.300 8.539.300 8.765.589 Telur ( Kg ) 3.955.60 2 13.342.985 13.342.985 12.519.255 2. Populasi hasil peternakan Sapi perah 59.380 58.792 61.024 62.301 Sapi potong 89.412 85.967 85.867 88.980 Kambing / domba 163.497 153.900 163.500 165.490 Ayam Buras 760.560 764.629 854.846 1.206.820 Ayam Ras 765.749 1.416.750 1.041.800 1.030.525 Burung Puyuh 806.035 913.530 913.530 1.217.843 Itik 122.690 124.990 125.300 128.787

Sumber data : Disnakan Kabupaten Boyolali

Untuk produksi susu tahun 2006 sebesar 26.461.368 liter sedangkan pada tahun 2009 sebesar 35.910.000 liter atau mengalami peningkatan sebesar 35,70%. Produksi telur pada tahun 2006 sebesar 3.955.602 kg, sedangkan tahun 2009 mencapai 12.519.255 kg atau mengalami peningkatan sebesar 216,49%.

Dokumen terkait