BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Korelasi BMI dan Triceps skinfold thickness Dengan Kadar Hs-CRP
1. Korelasi Body Mass Index Terhadap Kadar Hs-CRP Dalam Darah
menggunakan analisis Spearman karena data BMIberdistribusi normal sedangkan data kadar hs-CRP berdistribusi tidak normal.
Tabel VI. Data Korelasi BMI dan Kadar hs CRP dalam Darah
Korelasi
Spearman (r)
p
Korelasi BMI terhadap Kadar hs CRP
0.354 0,003
Dari tabel VI, dapat dilihat nilai p=0,003 yang menunjukan bahwa korelasi antara BMI dengan kadar hs-CRP dalam darah adalah bermakna. Nilai korelasi Spearman sebesar 0,354 menunjukan arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi lemah.Hasil dari penelitian ini sama dengan penelitian Susanto (2009) yang dilakukan pada 82 responden (63% wanita dan 37% pria) di Makassar. Responden sebelumnya sudah di klasifikasikan menjadi tiga kelompok yaitu normal weight (BMI 18,5-25,0kg/m2, n:19), overweight (BMI 25-30 kg/m2, n:18), dan obese (BMI ≥30kg/m2
, n:45). Hasil menunjukan bahwa korelasi antara BMI dan hs-CRP bermakna (p=0,005), dimana kadar hs-CRP pada responden obese dan overweight lebih tinggi dibandingkan dengan responden normal weight.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Gokalp et al. (2007), yang dilakukan pada 117 responden sehat (usia 28-60 tahun). Hasil penelitian menunjukan bahwa korelasi antara body mass index dan hs-CRP bermakna dan memiliki arah korelasi positif dengan kekuatan lemah (r= 0,335, p=0,0001) (2007).
Obesitas berhubungan dengan marker inflamasi termasuk diantaranya adalah C-reactive protein (CRP) (Fatma and Nese, 2010). Menurut Susanto (2009) hs-CRP adalah prediktor kuat dari risiko penyakit vaskuler, peningkatan kadar hs-CRP telah berkorelasi positif dengan sebagian besar faktor risiko kardiovaskular. C-Reactive Protein adalah protein plasma yang diproduksi oleh hati sebagai reaksi dari adanya infeksi, luka pada jaringan, dan proses inflamasi. Proses inflamasi merupakan proses reaksi tubuh terhadap adanya luka atau infeksi (Fatma and Nese, 2010).
High sensitivity C-reactive protein muncul sebagai penanda inflamasi sistemik yang sensitif untuk memprediksi keadaan dan kejadian vascular (Lawrence, 2005). C- reactive protein berhubungan dengan tingkat obesitas. Pada orang obesitas terjadi peningkatan sel-sel lemak dalam jaringan adiposa yang dapat mensekresi sitokin-sitokin seperti IL-6. Sitokin-sitokin dapat menginduksi hepatosit untuk mensekresikan CRP (Indra, 2006).
Diagram pada gambar 15 menunjukkan bahwa sebagian besar rensponden yang ikut dalam penelitian ini mempunyai kadar hs-CRP dalam darah yang cenderung berada dalam rentang 1-3 mg/L, dan hanya satu responden yang mempunyai kadar hs-CRP >10 mg/L. Tabel dibawah ini menunjukan jumlah responden dan % jumlah responden pada setiap kriteria kadar hs-CRP.
Tabel VII. Jumlah Responden Pada Setiap Kriteria Kadar Hs-CRP Kriteria Hs-CRP Jumlah Responden % Jumlah Responden Hs-CRP < 1 mg/L 1 1,4 Hs-CRP 1-3 mg/L 52 74,3 Hs-CRP >3 mg/L 16 22,8 Hs-CRP >10 mg/ 1 1,4
Responden yang mempunyai nilai kadar hs-CRP>10 mg/L, berdasarkan American Heart Association perlu dilakukan pengukuran ulang, perlu dilakukan test-test lain untuk mengeksklusikan karena penyebab inflamasi tidak berhubungan dengan jantung (non kardiovaskular) dan perlu interpretasi dalam konteks evaluasi klinik yang lengkap. Menurut Ridker (2003), pengukuran dapat diulangi dalam kurun waktu dua sampai tiga minggu setelah pengukuran awal. Pada penelitian ini tidak dilakukan pengukuran ulang kadar hs-CRP terhadap responden yang mempunyai kadar hs-CRP > 10mg/L karena hanya 1,4% responden yang mempunyai kadar hs-CRP > 10mg/L. Secara statistik 1,4% tidak bermakna sehingga tidak mempengaruhi hasil penelitian.
2. Korelasi Triceps Skinfold Thickness Terhadap Kadar Hs-CRP Dalam Darah
Korelasi triceps skinfold thickness terhadap kadar hs-CRP dalam darah diuji secara statistik menggunakan analisis Spearman, hal ini dikarenakan distribusi data dari triceps skinfold thickness dan kadar hs-CRP dalam darah tidak berdistribusi tidak normal.
Tabel VIII. Data Korelasi Triceps Skinfold Thickness dan Kadar Hs-CRP Dalam Darah
Korelasi
Spearman (r)
p
Korelasi Triceps Skinfold Thickness
terhadap Kadar HDL
0,318 0,007
Dari tabel VIII, diperoleh nilai p=0,007 yang menunjukan bahwa terdapat korelasi antara triceps skinfold thickness dengan kadar hs-CRP dalam darah adalah bermakna. Nilai korelasi Spearman sebesar 0,318 menunjukan bahwa arah korelasi positif dengan kekuatan korelasi lemah. Pada penelitian yang dilakukan oleh Gokalp et al. (2007), yang dilakukan pada 117 responden sehat (usia 28-60 tahun). Hasil dari penelitian menunjukan bahwa adanya korelasi positif bermakna antara BMI dan kadar hs-CRP dalam darah dengan kekuatan korelasi lemah (r = 0,358, p=0,0001).
Triceps skinfold thickness adalah yang paling mudah untuk mengukur obesitas dan memberikan hasil yang reprodusibel. Triceps skinfold thickness mempunyai keuntungan yaitu hanya memyebabkan sedikit rasa tidak nyaman pada responden saat pengukuran dilakukan. Triceps skinfold thickness adalah
yang paling representatif untuk menggambarkan kegemukan (Seltzer and Mayer, 2011).
Pada penelitian yang dilakukan Toprak et al., (2010). Pada penelitian ini diikuti 835 orang dewasa dan anak-anak baik yang berkulit putih maupun turunan Afrika-Amerika (rentang usia 24-42 tahun, rata-rata 34 tahun, 43% laki-laki, Amerika Afrika 31%). Penelitian ini menunjukkan kaaar hs-CRP dalam darah berkorelasi positif bermakna dengan Triceps skinfold thickness, dimana kekuatan korelasi lemah (r = 0.31, P < 0.001).
Gambar 16. Diagram Sebar Hubungan Triceps Skinfold Thickness dan Kadar hs CRP
Diagram pada gambar 16 menunjukkan bahwa sebagian besar rensponden yang ikut dalam penelitian ini mempunyai kadar hs-CRP dalam darah yang cenderung berada dalam rentang 1-3 mg/L, dan hanya satu responden yang mempunyai kadar hs-CRP >10 mg/L. Responden yang mempunyai nilai kadar
hs-CRP>10 mg/L, berdasarkan American Heart Association perlu dilakukan pengukuran ulang, perlu dilakukan test-test lain untuk mengeksklusikan karena penyebab inflamasi tidak berhubungan dengan jantung (non kardiovaskular) dan perlu interpretasi dalam konteks evaluasi klinik yang lengkap. Menurut Ridker (2003), pengukuran dapat diulangi dalam kurun waktu dua sampai tiga minggu setelah pengukuran awal.
Beberapa kelemahan dari penelitian ini adalah dilakukan pada ukuran sampel yang kecil, penggunaan rancangan cross-sectional sehingga tidak ada tindak lanjut atau follow-up dan tidak dapat menggambarkan perjalanan penyakit secara akurat. Pada penelitian ini tidak dilakukan pengukuran suhu tubuh secara akurat menggunakan thermometer sehingga untuk mengetahui demam atau tidaknya responden hanya melalui pertanyaan langsung kepada responden.
51 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN