DI MEDIA SOSIAL
C. Korelasi Skala Panjang dan Pendek
Reliabilitas Skala Pendek
Reliability Statistics Cronbach’s Alpha N of Items
.789 14
Nilai reliabilitas skala pendek dilihat dari tabel di atas menunjukkan angka 0,789. Dari hasil reliabilitas diatas, dapat disimpulkan bahwa reliabilitas skala pendek cukup tinggi dan termasuk baik (Wells dan Wollack, dalam Azwar, 2012).
Diskusi
Berdasarkan hasil field test dan hasil peer-review yang bertugas menganalisis validitas isi, pada skala panjang terdapat beberapa aitem yang gugur. Adapun analisis secara statistik telah dilakukan berdasar perhitungan menggunakan SPSS 23 dengan merujuk pada Aiken V dan corrected item total correlation.
Peneliti juga menggunakan analisis secara naratif agar penjelasan mengenai kesalahan seperti pembuatan form, gaya bahasa dalam pembuatan skala, serta penyebaran skala bisa terdeteksi.
Penyebutan aitem dalam analisis ini berdasarkan dari penomoran pada skala panjang.
Adapun beberapa item yang telah kami analisis, yakni:
Aitem nomor satu dan dua, yakni pada indikator “Tidak menggunakan media sosial sebagai sarana komparasi antar individu” aitem nomor satu yang berisi “Saya adalah individu yang punya kehidupan berbeda dengan orang lain di media sosial”
dimungkinkan gugur karena kalimat aitem ambigu, sehingga maksud peneliti tidak dipahami oleh responden. Responden mungkin berpikiran bahwa setiap manusia memiliki kehidupan yang sama. Sedangkan pada aitem nomor dua yang berisi “Saya merasa bahwa saya tidak perlu membandingkan hidup saya dengan orang lain” dimungkinkan gugur karena kalimat aitem terlalu normatif sehingga hasil dari responden tidak bervariasi.
Selanjutnya, yakni pada indikator “kurang percaya diri dalam berbagai hal dibandingkan pengguna media sosial lainnya”. Memiliki paling banyak aitem gugur dengan jumlah total 5 aitem gugur, nomor aitem tersebut yakni 5 hingga 9.
Aitem nomor 5 sampai 7 dinyatakan gugur karena dianggap tidak mewakili responden, sebab kebanyakan responden yang
mengisi adalah mahasiswa yang menggunakan sosial media sebagai hiburan, sehingga belum memiliki pencapaian yang bisa diunggah di sosial media. Adapun untuk aitem nomor 8 yang berisi “Unggahan saya kurang menarik dibandingkan teman saya di sosial media” dinyatakan gugur karena kesalahan pemilihan kata, sebab peneliti menggunakan kata “teman”. Terakhir, aitem nomor 9 yang berisi “Saya merasa tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pengguna media sosial lainnya” dinyatakan gugur karena aitem memiliki daya diskriminasi rendah, dimana item ini tidak bisa membedakan orang-orang yang memiliki self-esteem rendah dengan self-esteem tinggi.
Selanjutnya, untuk aitem nomor 14 dan 15, masing-masing berisi “Unggahan saya masih jauh lebih baik dari pengguna media sosial lainnya” dan “Saya ingin berpenampilan seperti para selebgram”. Keduanya dinyatakan gugur dengan aitem nomor 14 dikarenakan responden banyak yang tidak membandingkan unggahan miliknya dengan unggahan orang lain. Jika dimaknai, kalimat aitem juga juga masih memiliki makna yang terlalu luas. Sedangkan untuk aitem nomor 15 dinyatakan gugur karena banyak selebgram yang memiliki image yang buruk, sehingga peneliti tidak tahu selebgram siapa yang dimaksud responden.
Adapun aitem nomor 14 berada pada indikator “Menggambarkan diri sendiri secara positif jika dibandingkan dengan orang lain di media sosial” sedangkan aitem nomor 15 berada pada indikator
“Memiliki keinginan untuk menjadi seperti orang lain”.
Terakhir, dua aitem terakhir yakni aitem nomor 18 dan 21. Masing-masing berada pada indikator “Merasa mampu melakukan sesuatu dengan baik” dan “Bangga pada apa yang dimiliki”. Aitem nomor 18 yang berisi “Saya mampu
mengerjakan pekerjaan yang telah dilakukan oleh influencer di media sosial” dinyatakan gugur karena kalimatnya ambigu, sehingga responden menangkapnya sebagai influencer yang menginspirasi responden, bukan influencer di sosial media. Aitem terakhir yakni aitem nomor 21 yang berisi “Saya senang dengan display picture yang saya tampilkan di media sosial” dinyatakan gugur sebab memiliki daya diskriminasi rendah, dimana item ini tidak bisa membedakan orang-orang yang memiliki self-esteem rendah dan self-esteem tinggi.
Pada skala ini, social-comparison pada skala diwakilkan oleh aitem “Saya tidak suka membandingkan diri saya dengan orang lain di sosial media” berdasarkan hasil uji korelasi dari aitem ini terhadap aitem lainnya, dengan setting penomoran menggunakan skala pendek, hanya aitem nomor 1, 4, 5, 6, 7, dan 12 yang tidak bersignifikansi pada aitem social comparation. keenam aitem tersebut tersebar dalam beberapa indikator, namun indikator yang paling tidak bersignifikan yakni indikator “Menggambarkan diri sendiri secara positif jika dibandingkan dengan orang lain di media sosial” dimana dua dari tiga indikator, yakni aitem nomor 4 dan 5, tidak bersignifikansi.
Indikator lainnya yakni “Bangga dengan apa yang telah dilakukan” yang merupakan indikator tunggal dari aspek
“Kebanggaan terhadap diri sendiri” dengan item yang tidak signifikan yakni aitem nomor 6 dan 7. Artinya, aspek
“Kebanggaan terhadap diri sendiri” dalam definisi operasional self-esteem, secara statistik terbukti tidak bersignifikan dengan social comparison. Untuk aspek “evaluasi diri” sebenarnya bisa dikatakan tidak signifikan, dikarenakan dari empat aitem hanya aitem nomor 3 yang memiliki signifikansi dengan aitem social
comparison. Adapun untuk aspek “Kepuasan hidup” dari aitem nomor 8 hingga 14, hanya aitem nomor 12 yang tidak signifikan.
Sehingga aspek “Kepuasan hidup” secara statistik signifikan dengan social-comparison.
Kesimpulan
Skala self-esteem di media sosial yang disusun pada penelitian ini telah melewati berbagai macam tahapan seleksi aitem. Pada akhirnya, skala ini menghasilkan 14 aitem pada skala pendek dan 31 aitem pada skala panjang. Terpotongnya aitem dari 31 menjadi 14 aitem dikarenakan aitem gugur dengan nilai Corrected Item-Total Correlation yang kurang dari 0,30.
Sejumlah aitem yang gugur tersebut dikarenakan kalimat aitem yang kurang dipahami responden dan memiliki daya diskriminasi rendah sehingga kurang dapat membedakan responden dengan self-esteem rendah dan self-esteem tinggi. Self-comparison dapat diukur menggunakan skala ini karena berkorelasi khususnya dengan aspek kepuasan hidup. Untuk mengukur tingkat self-esteem di media sosial menggunakan skala pendek dikarenakan adanya korelasi sebesar 0,912 antara skala panjang dan pendek sehingga dapat diartikan bahwa skala pendek dapat mewakili skala panjang.
Daftar Pustaka
Al-Ghafri, R. K., & Al-Badi, A. H. (2016). The effect of social media on self-esteem. In Proceedings of the 27th International Business Information Management Association Conference - Innovation Management and Education Excellence Vision 2020: From Regional Development Sustainability to Global Economic Growth, IBIMA 2016 (pp.
3228-3237). International Business Information Management Association, IBIMA.
Azwar, S. (2012). Penyusunan Skala Psikologi Edisi 2.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Camerer, C., & Lovallo, D. (1999). Overconfidence and Excess Entry: An Experimental Approach. The American Economic Review, 89(1), 306-318. Retrieved from http://www.jstor.
org/stable/116990.
Gruder, C. L. (1971). Determinants of social comparison choices.
Journal of Experimental Social Psychology, 7(5), 473–489.
doi:10.1016/0022-1031(71)90010-2.
Festinger, L. (1954). A Theory of Social Comparison Processes. Human Relations, 7(2), 117–140.
doi:10.1177/001872675400700202.
Haferkamp, N., & Krämer, N. C. (2011). Social Comparison 2.0: Examining the Effects of Online Profiles on Social-Networking Sites. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 14(5), 309–314. doi:10.1089/cyber.2010.0120.
Hurlock, E.B. (1997). Perkembangan Anak Jilid 2 (Edisi Keenam). Jakarta: Erlangga
Lockwood, P., & Kunda, Z. (1997). Superstars and me: Predicting the impact of role models on the self. Journal of Personality and Social Psychology, 73(1), 91–103. doi:10.1037/0022-3514.73.1.91.
McLellan, A. T. (2011). Considerations on Performance Contracting: a Purchaser’s Perspective. Addiction, 106 (10), 1731-1732. doi:10.1111/j.1360-0443.2011.03579.x.
Meyer, L. B. (2008). Emotion and Meaning in Music. Chicago:
The University of Chicago Press, Ltd.
Schachter, S. (1959). The psychology of affiliation: Experimental studies of the sources of gregariousness. Palo Alto, CA, US:
Stanford Univer. Press.
Suzuki, S., Shaw, G., & Renfree, M. B. (2013). Postnatal epigenetic reprogramming in the germline of a marsupial, the tammar wallaby. Epigenetics & Chromatin, 6(1), 14.
doi:10.1186/1756-8935-6-14.
Taylor, S. E., & Brown, J. D. (1988). Illusion and well-being:
A social psychological perspective on mental health.
Psychological Bulletin, 103(2), 193–210. doi:10.1037/0033-2909.103.2.193.
Tesser, A., & Campbell, J. (1982). Self-evaluation maintenance and the perception of friends and strangers. Journal of Personality, 50(3), 261–279. doi:10.1111/j.1467-6494.1982.
tb00750.x.
Valkenburg, P.M., Peter, J. & Schouten, A.P. (2004). Friend Networking Sites and Their Relationship to Adolescent’
Well-Being and Social Self-Esteem. Cyber Psychology &
Behavior, Volume 6, Number 5, 2006
Vogel, E.A., Rose, J.P., Robets, L.R. & Eckles, K. (2014). Social Comparison, Social Media, and Self-Esteem. Psychology of Popular Media Culture, Vol. 3, No.4, 206-222. DOI:
10.1037/ppm0000047
Wills, T. A. (1981). Downward comparison principles in social psychology. Psychological Bulletin, 90 (2), 245–271.
doi:10.1037/0033-2909.90.2.245.
Wood, J. V. (1989). Theory and research concerning social comparisons of personal attributes. Psychological Bulletin, 106(2), 231–248. doi:10.1037/0033-2909.106.2.231.