• Tidak ada hasil yang ditemukan

Korupsi di Beberapa Negara

BAB II : GAMBARAN UMUM KORUPSI

C. Korupsi di Beberapa Negara

Sejarahnya Singapura mulai menjadi koloni Inggris sejak tahun 1819. Pada tahun 1963 bergabung dengan Federasi Malaysia, namun dua tahun kemudian memisahkan diri dari Malaysia dan menjadi merdeka. Singapura dikenal sebagai salah satu negara paling sejahtera di dunia dengan jaringan perdagangan internasional yang kuat, terutama didukung oleh adanya aktivitas pelabuhan Singapura yang termasuk pelabuhan paling sibuk di dunia. Kondisi ekonomi yang sangat bagus dicerminkan oleh Gross Domestic Product (GDP) per kapita yang menyamai atau setara dengan negara-negara Eropa Barat.

Singapura menganut tipe pemerintahan republik parlementer, dengan dukungan konstitusi 3 Juni 1959, yang sudah diamandemen pada tahun 1965. Struktur pemerintah Singapura adalah sebagai berikut:

1. Kepala Negara adalah Presiden

2. Kepala Pemerintahan adalah Perdana Menteri yang dibantu oleh Senior Minister dan Minister Mentor.

Sedangkan kelembagaan legislatif Singapura menganut Parlemen Unikameral, dengan jumlah kursi 84 buah, dihasilkan dari pemilihan umum untuk masa periode 5 tahun. Sebagai tambahan tersedia 9 kursi untuk calon anggota legislatif yang dinominasikan, dan 3 kursi untuk pihak oposan yang kalah, yang ditunjuk sebagai anggota non-konstituen (nonconstituency members).

Grafik 2.4

Kecenderungan Korupsi di Singapura

Sumber : PERC, Corruption in Asia, 2006

Berdasarkan laporan PERC, Singapura adalah salah satu negara yang secara konsisten sebagai negara paling bersih korupsi di level Asia. Konsistensi ini ditunjukkan oleh grafik berikut ini, di mana skor yang dimiliki Singapura selalu berada di atas skor rata-rata Asia selama kurun waktu 10 tahun terakhir.

Singapura adalah negara dengan kinerja pemberantasan korupsi terbaik di Asia, bahkan termasuk yang terbaik di dunia. Dengan skor yang mendekati angka absolut 0, Singapura mencatatkan diri sebagai negara dengan konsistensi pemberantasan korupsi yang paling baik. Grafik di atas bahkan membuktikan bahwa skor yang dimiliki oleh Singapura berada jauh di atas rata-rata skor Asia.

2. HONG KONG

Wilayah Hong Kong berada di bawah pemerintahan kolonial Inggris pada tahun 1841, dan setahun kemudian secara resmi dilepaskan oleh Cina. Berdasarkan perjanjian antara Cina dengan Inggris pada tanggal 19 Desember 1984, Hong Kong berubah status dan nama resmi menjadi the Hong Kong Special Administrative

Region (SAR) of China mulai tanggal 1 Juli 1997. Pada perjanjian ini, Cina

menjanjikan formula “one country, two system”, yang berimplikasi bahwa sistem ekonomi sosialis Cina tidak akan diberlakukan di Hong Kong, serta Hong Kong akan menikmati otonomi yang sangat luas, mencakup banayk kewenangan kecuali urusan luar negeri dan pertahanan sampai dengan 50 tahun ke depan.

Hong Kong berlokasi di wilayah Asia Timur, berbatasan langsung dengan Cina dan Laut Cina Selatan, dengan total luas 1.092 km persegi. Sampai dengan Juli 2007 diperkirakan populasi penduduk di Hong Kong mencapai 6.980.412 jiwa dengan struktur demografi 13% usia di bawah 14 tahun, 74% usia produktif antara 15 – 64 tahun, serta 12,9% untuk usia pensiun yaitu 65 tahun ke atas.

Penyelenggaraan pemerintahan Hong Kong didukung oleh konstitusi mini (Basic Law) yang telah disetujui oleh China’s National People’s Congress pada Maret 1990. Secara formal struktur lembaga eksekutif terdiri atas :

1. Kepala Negara adalah Presiden Cina

2. Kepala Pemerintah adalah Chief Executive, yang dipilih oleh 800 anggota komisi pemilihan untuk setiap periode 5 tahunan,

3. Kabinet yaitu Executive Council yang terdiri dari 14 anggota resmi dan 15 anggota tidak resmi.

Sedangkan lembaga legislatif dikenal dengan nama LEGCO atau Legislative

Berdasarkan laporan PERC, kondisi penanganan korupsi di Hong Kong relatif stabil. Walaupun ada penurunan sedikit dalam 2 tahun erakhir, namun penurunan ini tidak signifikan, karena kecenderungan penuruan ini juga terjadi pada skor rata-rata Asia.

Grafik 2.5

Kecenderungan Korupsi di Hong Kong

Sumber : PERC, Corruption in Asia, 2006

Sama halnya dengan Singapura, kinerja pemberantasan korupsi di Hong Kong tergolong sangat baik. Dalam 10 tahun terakhir, skor yang di capai Hong Kong selalu berada di atas skor rata-rata Asia. Capaian ini menempatkan Hong Kong sebagai salah satu wilayah yang paling bersih korupsi di Asia.

Namun demikian terdapat data menarik dari ICAC mengenai kecenderungan pelaku korupsi di Hong Kong, yang meningkat dari segi jumlah, maupun dari sektor-sektor di mana para pelaku itu berasal.

Grafik di bawah menunjukkan kecenderungan praktik korupsi di Hong Kong adalah meningkat dalam kurun 30 tahun lebih. Apabila diperhatikan pada tahun 1974–1978 terjadi penurunan praktik korupsi. Berdasarkan keterangan informan, pada periode tersebut terjadi resistensi yang hebat dari beberapa pihak terhadap upaya pemberantasan korupsi di Hong Kong oleh ICAC. Akhirnya, karena situasinya menjadi deadlock, maka diputuskan untuk dilakukan pengampunan massal kepada

unit dan individu pelaku korupsi, dan mulai melakukan upaya pemberantasan efektif, setelah adanya pengampunan massal itu.

Grafik 2.6

Laporan Korupsi Hong Kong

Sumber : ICAC Hong Kong, 2007

Fakta yang menarik dari grafik itu diketahui bahwa kecenderungan sektor publik dalam praktik korupsi menurun dalam 6 tahun terakhir. Demikian pula korupsi di sektor bisnis mengalami trend penurunan yang sama. Namun demikian sektor bisnis masih tetap lebih tinggi tingkat korupsinya dibandingkan dengan sektor publik. Tercatat sejak tahun 1988 sampai dengan saat ini, berdasarkan data statistik ICAC, sektor bisnis ”menyalip” sektor publik dalam hal praktik korupsi. Sedangkan yang dimaksud dengan lembaga publik antara lain adalah Legislative Council (LegCo), Securities and Future Commission (SFC), The Hospital Authority (HA), dan

Urban Renewal Authority (URA).

Dalam sebuah survey tahunan yang melibatkan 1.500 warga Hong Kong melalui random sampling, dan dilaksanakan pada akhir tahun 2006 oleh lembaga penelitian profesional, dipanitiai oleh ICAC, diketahui bahwa toleransi publik

0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 5000 74 76 78 80 82 84 86 88 90 92 94 96 98 '00 '02 '04 '06 Total 3,339 Sektor Bisnis 2,037 Pemerintah 1,068 Lembaga Publik 234

terhadap korupsi di pemerintahan: mencapai nilai 1,114. Artinya bahwa publik Hong Kong pada umumnya sangat tidak mentolerir adanya praktik korupsi di Hong Kong.

3. INDIA

India adalah salah satu negara dengan sejarah peradaban leluhur paling tua di dunia. Peradaban lembah Hindus telah hadir sejak 5000 tahun silam. Suku Arya yang berasal dari Barat Laut telah menduduki dataran India sejak 1500 SM, yang kemudian berakulturasi dengan penduduk lokal Dravidian menghasilkan budaya India klasikal. Infiltrasi asing mulai masuk dimulai dengan serangan Arab pada abad 8 dan Turki pada abad 12. Sampai dengan abad ke 19, seluruh dataran India dikuasai oleh pemerintah kolonial Inggris. Dengan perjuangan anti kekerasan oleh Mohandas Gandhi dan Jawaharlal Nehru, India berhasil memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1947. Pada tahun 1971, East Pakistan menjadi negara terpisah yang dikenal sekarang dengan nama Bangladesh. Persoalan utama yang kini dihadapi India adalah konflik tidak berujung dengan Pakistan mengenai wilayah Kashmir, populasi yang terlalu besar, degradasi lingkungan, kemiskinan yang meluas serta konflik etnik dan agama.

India berlokasi di selatan Asia, berbatasan dengan Laut Arab dan Teluk Bengal, antara Myanmar dan Pakistan, memiliki luas wilayah mencapai 3.287.590 km persegi. Estimasi populasi penduduk pada Juli 2007 mencapai 1.129.866.154 jiwa.

Tipe pemerintah India merupakan Republik Federal, yang terdiri dari 28 negara bagian dan 7 union territories. Adapun struktur lembaga eksekutif adalah terdiri dari.

1. Kepala Negara adalah Presiden, yang dibantu oleh Wakil Presiden. 2. Kepala Pemerintahan adalah Perdana Menteri.

3. Kabinet dibentuk dengan anggotanya ditunjuk/diangkat oleh Presiden atas rekomendasi Perdana Menteri.

Sedangkan kelembagaan legislatifnya adalah parlemen bikameral (Sansad) yang terdiri dari Dewan Negara atau Rajya Sabha dan Majelis Rakyat atau Lok Sabha.

Rajya Sabha terdiri dari 250 anggota, di mana 12 anggota diantaranya ditunjuk oleh Presiden, sedangkan sisanya dipilih oleh anggota state and territorial assmeblies. Anggota Rajya Sabha melaksanakan tugasnya untuk periode enam tahun. Adapun Lok Shaba terdiri atas 545 kursi, di mana 543 merupakan keannggotaa hasil pemilihan umum, dan sisanya sejumlah 2 orang anggota ditunjuk oleh Presiden.

Berdasarkan data PERC, peringkat India dalam 10 tahun terakhir selalu berada di bawah skor rata-rata Asia. Namun demikian pada dua tahun terakhir terdapat peningkatan yang sangat baik, yaitu menembus skor terbaik di bawah 7, setelah pencapaian terbaik sebelumnya pada tahun 1998. Hal ini merupakan indikasi penting dari keseriusan dan itikad yang kuat berbagai pihak di India untuk memberantas korupsi.

Grafik 2.7

Kecenderungan Korupsi di India

Sumber : PERC, Corruption in Asia, 2006

Menurut survey yang dilakukan PERC, 2006, pada umumnya ekspatriat di India percaya adanya perbaikan situasi korupsi di India. Hal ini dibuktikan dengan perubahan persepsi ini yang dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2005) adalah yang terbesar di bandingkan negara-negara lainnya. Oleh karenanya skor saat ini adalah yang terbaik yang pernah dicapai India. Responden yang sama juga

berpendapat negatif mengenai determinasi pemerintah dalam memberantas korupsi, dan efektivitas sistem yudisial dalam menuntut dan menghukum individu pelaku korupsi. Fakta menarik lainnya bahwa lebih dari 40% responden berpendapat bahwa level korupsi mengalami penurunan

Penyebab korupsi di India diyakini bukan karena rendahnya gaji atau kesejahteraan pegawai. Dalam satu kesempatan Seminar yang diorganisir oleh UNODC di the India Habitat Centre, New Delhi, Desember 2005, Tahiliani15

menegaskan bahwa faktor rendahnya gaji sebegai penyebab korupsi di India adalah sebuah mitos belaka. Justru penegakan hukum yang masih lemah menjadi faktor yang berkontribusi langsung terhadap level korupsi di India.

Tahiliani16 selanjutnya berpendapat bahwa penyebab terbesar terjadinya korupsi di India adalah aktivitas politik dalam negeri, terutama dengan adanya

event-event pemilihan umum. India dengan struktur kelembagaan pemerintahan federal,

memiliki pemerintahan yang berjenjang, dari mulai pemerintah federal dan pemerintah negara bagian. Pemilihan umum yang dilakukan pada masing-masing level pemerintahan kerap membuka peluang terjadinya korupsi.

Dalam penelasan yang lebih rinci, menurut Sondhi17, seorang spesialis Ilmu Politik dari University of Delhi— menulis bahwa korupsi di India terjadi akibat beberapa faktor yaitu :

Pertama, patronase atau kepemimpinan politik. Dari akar permasalahan

patronase politik ini, kemudian menurunkan banyak varian praktik korupsi yang berdampak pada aktivitas politik, ekonomi dan sosial. Selanjutnya menurut Sondhi (2000), dokumen resmi pertama yang mengupas masalah korupsi di India adalah the AD Gorwala Report. Dalam dokumen ini disebutkan bahwa sebenarnya penurunan

character building di India pasca periode 1974 menyebabkan dua akibat langsung

yaitu kekerasan dan ketamakan. Perang Dunia Kedua menjadi faktor yang menguntungkan sebagian orang, baik secara legal maupun ilegal.

15 Admiral Tahiliani, Chairman of TI India

16 Wawancara oleh Tim Peneliti terhadap Mr. Tahiliani dilakukan pada Mei 2007

Kedua, labirin administrasi. Sistem administrasi dan hukum India didesain

pada pertengahan abad ke 19 untuk melayani kepentingan pemerintah kolonial Inggris pada masa itu.

Ketiga, hukum yang lemah. Faktor yang berkontribusi besar terhadap

pertumbuhan korupsi di India adalah hukum dan pranatanya yang menangani kasus korupsi secara biasa saja. Tidak muncul itikad yang kuat untuk memberantas korupsi di India. Pelaku korupsi jarang ditangkap, kalaupun tertangkap dan diadili, hanya akan mendapat hukuman yang ringan atau malah dibebaskan dari segala tuduhan.

Keempat, lingkungan sosial. Administrasi publik sebagai sub sistem dari

sistem politik, merupakan bagian dari sistem yang lebih besar yaitu sistem sosial. Oleh karenanya sistem sosial sangat berpengaruh terhadap administrasi publik. Korupsi telah menjadi bagian dari perilaku dan kejiwaan masyarakat India, sehingga dianggap tidak melanggar norma.

Lebih lanjut menurut Tahiliani, korupsi di India telah menyebabkan kerugian negara sebesar Rs 20.000 crores18. Sementara Bank Dunia mengestimasi kerugian ditaksir sekitar 3% dari pertumbuhan bisnis di India per tahunnya. Selanjutnya perhitungan Bank Dunia, dengan adanya upaya mengurangi korupsi di India, maka dampak positif yang langsung dirasakan adalah meningkatkan pertumbuhan pendapatan sekitar 2-4% per tahun.

Dalam kasus korupsi di India, TI India melaporkan bahwa tidak semua instansi pemerintah terlibat dalam kasus korupsi yang berskala besar. Dua di antaranya yaitu jawatan kereta api dan telekomunikasi yang berhasil mengurangi level korupsi secara signifikan setelah memanfaatkan teknologi informasi dalam menjalankan fungsinya.

Korupsi di India tidak hanya melibatkan sektor publik, namun juga sektor swasta. Oleh karenanya di India dikenal tiga jenis korupsi, yaitu :

1. Korupsi dalam partai politik 2. Korupsi dalam domain publik 3. Korupsi dalam masyarakat madani

4. INDONESIA

Seperti yang sudah diulas banyak pada latar belakang, bab pendahuluan dan awal bab ini, kondisi Indonesa dalam peta korupsi dunia maupun regional masih sangat memprihatinkan. Di mata internasional Indonesia seolah identik dengan praktik korupsi. Citra yang begitu buruk ini sudah melekat pada setiap individu maupun bangsa. Data PERC menunjukkan belum adanya perbaikan signifikan dan efektif terhadap pemberantasan korupsi. Grafik 2.8 memperlihatkan fakta bahwa praktik korupsi di Indonesia jauh lebih buruk dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia.

Grafik 2.8

Kecenderungan Korupsi di Indonesia

Sumber : PERC, Corruption in Asia, 2006

Dari Gambar 2.9 diketahui bahwa peringkat korupsi Indonesia dalam 10 tahun terakhir relatif tidak mengalami perubahan. Pada tahun 2004 – 2006 terlihat ada sedikit perbaikan kinerja, walaupun masih cukup jauh di bawah skor rata-rata Asia. Bahkan data pada rentang tahun 1999 sampai dengan tahun 2002, menunjukkan bahwa angka korupsi di Indonesia menyentuh angka absolut, yang berarti praktik

korupsi yang terjadi pada periode tersebut sangat memprihatinkan, dan menentuh batas-batas yang bisa ditolerir.

Grafik 2.9

Pengendalian Korupsi (2002)

Sumber : World Bank, Combatting Corruption in Indonesia, 2003. p.2

Data dari TI juga memposisikan Indonesia dalam posisi terbawah sebagai salah satu negara paling korup. Dari beberapa hasil survey oleh lembaga-lembaga independen, maka World Bank Institute berinisiatif untuk mengaggregasi hasil survey untuk menentukan kinerja pemberantasan korupsi beberapa negara.

The World Bank Institute melakukan perhitungan dengan metode agregasi

dari berbagai data statistik dan peringkat korupsi yang dikeluarkan beberapa lembaga internasional, menghasilkan kesimpulan bahwa Indonesia bersama Bangladesh dan Nigeria adalah negara-negara dengan kinerja pemberantasan korupsi paling buruk.

Dokumen terkait