• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peta Korupsi Dunia dan Regional

BAB II : GAMBARAN UMUM KORUPSI

B. Peta Korupsi Dunia dan Regional

Saat ini fenomena korupsi terjadi di hampir semua negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Namun demikian, di negara berkembang, tingkat korupsi cenderung tinggi dibandingkan dengan negara maju. Peta Indeks Persepsi Korupsi berikut menjelaskan distribusi geografis korupsi di seluruh dunia.

Pada Tabel 2.1, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) masing-masing negara digambarkan dalam warna. Biru adalah negara-negara yang tingkat korupsinya paling kecil (9-10). Merah tua merupakan negara dengan tingkat korupsi terparah (1-1,9). Sedangkan warna-warna lain berada di antaranya (2-8,9) Namun sebagian besar negara-negara berkembang berada pada tingkat korupsi sedang sampai dengan parah (2-2,9), termasuk Indonesia (warna merah). Dari gambar di atas juga dapat diketahui bahwa gejala umum menunjukkan bahwa tingkat korupsi relatif berbanding lurus dengan tingkat kemiskinan.

Gambar 2.1

Peta Indeks Persepsi Korupsi (IPK) di Seluruh Dunia

Sumber: Transparency International (2006)

Korupsi juga menciptakan ketidak seimbangan dan ketidak adilan di masyarakat, sehingga korupsi sebenarnya merupakan persoalan yang kritis. Hal ini tidak lain karena praktik korupsi sangat mempengaruhi kinerja ekonomi dan pembangunan suatu negara. Pada masa lalu, rendahnya kesejahteraan dituding sebagai faktor dan akar penyebab korupsi. Perilaku korup dianggap ”menguntungkan” dalam kondisi penghasilan yang rendah. Suap menjadi suplemen pendapatan dan secara esensial akan terjadi ”trickle-down effect”. Namun saat ini, hipotesis ini banyak diragukan oleh kalangan. Banyak variabel lain yang dianggap potensial sebagai penyebab munculnya praktik korupsi, seperti nilai, budaya, perilaku, lingkungan sosial, pranata hukum dan sebagainya.

Namun demikian, satu hal yang tidak diragukan bahwa daya rusak korupsi terhadap ekonomi global sangatlah besar. Seperti yang diestimasi oleh Bank Dunia bahwa pada tahun 2003 saja, untuk biaya suap yang dibayarkan (tidak termasuk penggelapan atau bentuk korupsi lainnya) pada aktivitas ekonomi mencapai USD 1 triliun.

Di Indonesia, perhatian terhadap isu korupsi kembali menemukan momentumnya ketika era transparansi dan akuntabilitas menjadi wacana publik.

Kesadaran masyarakat akan hukum dan situasi politik, sosial dan ekonomi yang membaik, mendorong kesadaran akan pentingnya transparansi dan akuntabilitas publik. Kesadaran publik akan pentingnya memberantas korupsi juga meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran mereka akan hak dasar sebagai warga negara. Apalagi fakta menyebutkan bahwa Indonesia memiliki rapor korupsi yang tidak kunjung membaik.

Momentum perhatian terhadap isu korupsi ini juga diperkuat dengan situasi euforia otonomi dan semangat desentralisasi yang justru kontra produktif terhadap upaya pemberantasan korupsi secara nasional. Penelitian Bank Dunia pada tahun 2007 mengenai korupsi di tingkat daerah menunjukkan fakta bahwa desentralsasi menyuburkan korupsi di tingkat lokal. Hal ini terjadi karena adanya desentralisasi keuangan, politik dan hubungan antara lembaga pemerintah di tingkat lokal yang ditandai dengan kuatnya kedudukan lembaga legislatif dibanding lembaga eksekutif12. Potret Indonesia dalam peta korupsi di dunia sangatlah mencolok. Sebagai contoh adalah hasil pemeringkatan korupsi oleh TI dan skor korupsi oleh PERC yang menghasilkan kesimpulan buruknya kinerja pemberantasan korupsi di Indonesia, Yang paling baru, misalnya, pada rilis Bank Dunia dan PBB (September 2007) yang memprakarsai pengembalian aset melalui program Stolen Asset Recovery Innitiatives (StAR), mantan Presiden Soeharto didudukkan di peringkat pertama sebagai pengambil aset negara terbesar di dunia, dengan estimasi aset yang diambil sekitar USD 15 - 35 milyar. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kondisi status hukumnya di Indonesia, karena pada saat bersamaan, kasus sengketa Soeharto dengan Majalah Time terkait laporan harta kekayaan Soeharto, justru pada tingkatan kasasi di Mahkamah Agung dimenangkan oleh pihak Soeharto.

Dalam daftar peringkat pengambil aset negara terbesar yang dirilis Bank Dunia dan PBB ini, seluruhnya berasal dari negara berkembang atau negara dengan kapasitas ekonomi yang rendah, yaitu dari kawasan Asia Tenggara, Afrika, Amerika Latin dan Eropa Timur.

Terlepas dari nuansa politis diluncurkannya prakarsa ini, berkenaan dengan program pengembalian aset ini, Sekjen PBB Ban Ki-Moon13 menegaskan bahwa ”Every 100 million dollars recovered could fund full vaccinations for 4 million

children, provide water connections for some 250,000 households, or fund treatment for over 600,000 people with HIV/AIDS for a full year”. Ini berarti bahwa

dari setiap USD 100 juta yang dikembalikan, hasilnya bisa untuk membiayai vaksinasi untuk 4 juta orang anak, juga menyediakan saluran air bersih untuk 250.000 kepala kelurga (KK) atau penanganan/perawatan lebih dari 600.000 orang yang mengidap HIV/AIDS selama satu tahun penuh. Dengan demikian bisa dibayangkan betapa nilai manfaat dari pengembalian aset ini sangatlah besar. Dengan asumsi USD 10 milyar saja yang bisa kembali, maka nilai kemanfaatan yang bisa dinikmati oleh Indonesia maupun negara-begara lain yang menjadi korban korupsi akan sangat menakjubkan.

Tabel 2.1

Daftar Peringkat Pengambil Aset Negara Terbesar

versi StAR (Stolen Asset Recovery Innitiatives) Bank Dunia & PBB

No Nama Terduga Negara Estimasi Aset Tahun

1 H.M. Soeharto Indonesia USD 15 – 35 Milyar 1967 – 1988 2 Ferdinand Marcos Filipina USD 5 – 10 Milyar 1972 – 1986 3 Mobutu Sese Seko Zaire USD 5 Milyar 1965 – 1997 4 Sani Abacha Nigeria USD 2 – 5 Milyar 1993 – 1998 5 Slobodan/Milosevic Serbia USD 1 Milyar 1989 – 2000 6 Jean Claude Duvalier Haiti USD 300 – 800 juta 1971 – 1986 7 Alberto Fujimori Peru USD 600 juta 1990 – 2000 8 Pavio Lazarenko Ukraina USD 114 – 200 juta 1996 – 1997 9 Arnoldo Areman Nikaragua USD 100 juta 1997 – 2002 10 Joseph Estrada Filipina USD 70 – 80 juta 1998 – 2001

Sumber : Diolah dari Kompas online, 18 September 2007

13 Dalam Artikel ”Rekor Koruptor ”Top Markotop” oleh M. Fadjroel Rachman di Kompas, 20 September 2007.

Di tingkat regional pun, posisi Indonesia mendapat tempat yang sangat kontras dengan peringkat paling bawah. Peringkat yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga independen yang berbeda dengan variabel dan metode pengukuran yang berbeda, namun menunjukkan adanya konsistensi hasil pengukuran.

Grafik berikut merupakan pemeringkatan negara hasil pengolahan oleh

Political and Economy Risk Consultancy (PERC)—sebuah lembaga independen yang

berbasis di Hong Kong—menunjukkan peringkat korupsi negara-negara di Asia berdasarkan perhitungan skor, sebagai berikut:

Grafik 2.1

Peringkat Korupsi Beberapa Negara Asia

Sumber : PERC, Corruption in Asia, 2006

Rentang skor dari nol sampai 10, di mana skor nol adalah mewakili posisi terbaik, sedangkan skor 10 merupakan posisi skor terburuk. Ini merupakan survey tahunan yang dilakukan oleh PERC untuk menilai kecenderungan korupsi di Asia dari tahun ke tahun. Dalam hal ini PERC bertanya kepada responden untuk menilai kondisi di mana mereka bekerja sekaligus juga untuk menilai kondisi negara asalnya

masing-masing. Metode ini digunakan agar dapat menghasilkan data perbandingan antar negara (cross-country comparison), sehingga survey ini dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi bagaimana persepsi terhadap suatu negara berubah seiring waktu.

Kabar baik yang didapatkan dari survey PERC tahun 2006 ini adalah persepsi ekspatriat terhadap korupsi adalah membaiknya penanganan korupsi di banyak negara-negara Asia. Dengan kata lain, iklim bisnis di Asia menuju ke iklim yang sehat yang ditandai dengan berkurangya praktik korupsi. Kesimpulan ini didapatkan setelah membandingkan dari tahun ke tahun untuk pertanyaan survey yaitu ”how big

is the problem of corruption in terms of its being a feature influencing the overall business environment?”. Skor yang didapat dari 10 negara (dari 12 negara yang

disurvey), menunjukkan adanya perbaikan.

Sayangnya perbaikan iklim bisnis pada tingkat regional ini tidak didukung oleh iklim di tingkat nasional. Dari daftar peringkat di atas diketahui bahwa Indonesia menempati urutan terbawah dari 13 negara yang diukur. Data PERC ini ternyata sejalan dengan hasil survey Transparency International, sehingga menegaskan validitas buruknya kondisi korupsi di Indonesia.

Grafik di atas juga menunjukkan adanya kecenderungan negara dengan kemapanan ekonomi lebih baik, mempunyai tingkat korupsi yang rendah. Sehingga semakin renda kapasitas ekonomi suatu negara, potensi korupsinya juga semakin besar. Konsistensi ini juga terlihat pada peta distribusi IPK di dunia yang dihasilkan oleh TI, di mana, wilayah yang IPK nya tinggi, lebih banyak terletak pada negara-negara yang secara ekonomi mapan. Walaupun hipotesis ini masih perlu pengujian lebih lanjut, namun secara umum yang terlihat mengindikasikan adanya konsistensi tersebut.

Selain CPI atau Corruption Perception Index, TI juga menerbitkan Bribe

Payer Index (BPI) yaitu adalah indeks lain yang dikembangkan untuk mengukur

tingkat penyuapan yang dilakukan oleh perusahaan yang beroperasi di luar negeri. BPI ini dilakukan pada 30 negara yang termasuk pemimpin ekspor yang terkemuka di dunia.

Rentang skala 1 sampai dengan 10, di mana skala 1 menunjukkan bahwa penyuapan adalah biasa, sementara skala 7 menunjukkan bahwa penyuapan tidak

pernah terjadi. Hasil dari perhitungan rata-rata kemudian dikonversi ke rentang skor 1 – 10. Indonesia “beruntung” tidak termasuk dalam list, bukan karena tidak terdapat praktik suap-menyuap, namun karena kapasitas ekonomi Indonesia tidak sebesar ke 30 negara di atas. 30 negara di atas adalah negara-negara yang secara akumulatif mewakili 82% kapasitas ekspor dunia. Berdasarkan data tersebut, Diane Mak membagi negara-negara tersebut dalam 4 cluster, yaitu:

1. Cluster 1: Switzerland, Sweden, Australia, Austria, Canada, UK, Germany, Netherlands, Belgium, USA, Japan

2. Cluster 2: Singapore, Spain, United Arab Emirates, France, Portugal, Mexico 3. Cluster 3: Hong Kong, Israel, Italy, South Korea, Saudi Arabia, Brazil, South

Africa, Malaysia

4. Cluster 4: Taiwan, Turkey, Russia, China, India.

Dengan pengelompokan ini, maka cluster 1 merupakan kelompok negara dengan kebiasaan praktik penyuapan yang paling sedikit, atau hampir tidak terjadi, sementara cluster 4 mewakili negara dengan kondisi praktik suap yang parah dan dianggap biasa dalam aktivitas bisnis.

Adapun kalau dilihat dari segi sektor, maka terdapat 7 sektor yang paling sering terlibat dalam kasus praktik penyuapan. Sektor-sektor tersebut adalah:

1. kepolisian,

2. pelayanan/perijinan, 3. peradilan,

4. pelayanan medis, 5. pendidikan,

6. pendapatan umum dan 7. pajak.

Tabel 2.2

Indeks Penyuapan Beberapa Negara

Grafik 2.2

Sektor terlibat kasus Penyuapan

Sumber : TI Global Corruption Barometer, 2006.

TI menemukan bahwa kepolisian merupakan sektor yang paling rawan, sementara pajak merupakan sektor yang paling aman dari dari ketujuh sektor terhadap praktik penuapan. Gambaran sektor ini tidak mencerminkan gambaran masing-masing negara, namun merupakan agregasi dari seluruh negara yang disurvey. Oleh karenanya terdapat variasi ranking sektor pada masing-masing negara.

Ranking sektor ini tidak menunjukkan besarnya nominal nilai uang yang berputar dalam praktik korupsi di masing-masing sektor. Sedangkan dari segi distribusi wilayah, diketahui bahwa ternyata benua Afrika merupakan kawasan yang paling banyak mencatat praktik penyuapan ini, sementara wilayah Uni Eropa merupakan wilayah yang dinyatakan relatif paling bersih. Posisi Asia Pasifik terletak di ranking 4 dari 7 wilayah yang dikelompokkan. Grafik berikut secara rinci menunjukkan masing-masing posisi wilayah.

Polisi Pelayanan

Perijinan Peradilan/ Hukum Pelayanan Medis Pendidikan Sistem Pekerjaan Umum Pendapatan Pajak

Prose n ta se R e sp on den Pembaya r Sua p

Grafik 2.3

Wilayah yang terkena dampak kasus Penyuapan

Sumber : TI Global Corruption Barometer, 2006.

Memperhatikan data-data sekunder di atas, maka sangat wajar kalau banyak suara yang pesimis mengenai prospek pemberantasan korupsi di Asia, khususnya di Indonesia. Korupsi di Asia bukan sesuatu yang tidak mungkin diberantas. Bahkan korupsi juga bukan merupakan bagian dari budaya Asia atau negara-negara berkembang. Hal ini telah dibuktikan dengan baik oleh Singapura dan Cili yang secara agresif berhasil memberantas korupsi, sehingga menempatkan mereka menjadi negara dengan kategori jauh lebih bersih melebihi negara-negara Eropa Barat seperti Perancis dan Spanyol.

Sehubungan dengan kepentingan penelitian ini, maka dipilih 3 negara yang mewakili profil korupsi yang terbaik yaitu Singapura dan Hon Kong, serta profil korupsi yang lemah yaitu India. Pemilihan ini lokus ini didasarkan pada beberapa pertimbangan penting. Pemilihan Singapura dan Hong Kong lebih di dasarkan pada fakta bahwa kedua negara termasuk paling sukses dalam upaya pemberantasan korupsi. Sedangkan pemilihan India adalah atas dasar pertimbangan kemiripan struktur pemerintahan dan cakupan (coverage) wilayah yang relatif sama luasnya.

Total Sampel Afrika Amerika Latin NIS Asia Pasifik Eropa Amerika Utara UE +

Prose n ta se R e sp on den Pembaya r Sua p

Sehingga ada asumsi bahwa kompleksitas pemasalahan yang dihadapi relatif juga sama. Pertimbangan lain yang tidak kalah pentingnya bahwa India dicatat oleh PERC telah menghasilkan kemajuan besar dalam upaya pemberantasan korupsi ini.

Berikut ini adalah perbandingan umum masing-masing sampel negara yang menjadi lokus kajian ini.

Tabel 2.3

Perbandingan Profil 4 Negara dalam Penanganan Korupsi

Kelembagaan Tahun Perundangan Cakupan

Peringkat di Asia (2006) Singapura CPIB 1952 2 UU Skala kota/lokal 1 Hong Kong ICAC 1974 3 UU Skala kota/lokal 3

India CBI*, CVC 1963,1964 5 UU Skala nasional 8 Indonesia KPK,

Kepolisian, Kejaksaan

2002 7 UU Skala nasional 13

Sumber : Diolah dari berbagai sumber

Dalam perbandingan di atas, dapat diketahui bahwa Singapura merupakan pionir dalam upaya pemberantasan korupsi. Sejak didirikannya Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB) pada tahun 1952, Singapura kini telah mencatatkan diri sebagai negara paling bersih korupsi di tingkat Asia, dan bahkan di dunia pun Singapura diakui secara internasional.

Sementara Hong Kong menandai permulaan perjuangan pemberantasan korupsi dengan membentuk lembaga independen ICAC pada tahun 1974. Hong Kong harus melewati kompromi politik antar lembaga terkait, terutama bagi beberapa lembaga yang diduga melakukan praktik korupsi, untuk memuluskan strategi pemberantasan korupsinya. Dalam waktu singkat Hong Kong meraih hasil yang sangat maju, sehingga berhasil masuk kategori wilayah paling bersih di Asia setelah Singapura dan Jepang.

Perlu diperhatikan bahwa terdapat persamaan profil antara Singapura dan Hong Kong di mana keduanya memiliki wilayah teritori yang kecil, seukuran kota.

Fokus pemberantasan korupsi pada kedua negara menjadi lebih baik karena cakupan yang kecil atau “city concern”. Kondisi geografis ini menguntungkan keduanya dalam melakukan percepatan pemberantasan korupsi, karena daya jangkau yang lebih cepat.

Sebagai negara di Asia yang berprestasi dalam hal pemberantasan korupsi, Singapura dan Hong Kong boleh jadi merupakan contoh yang ideal. Namun apabila memperhatikan variabel lain yang membedakan karakteristik kedua negara dengan negara-negara lainnya maka Singapura dan Hong Kong menjadi terlalu jauh untuk dijadikan benchmark dalam memberantas korupsi. Sebagai contoh, kondisi luas wilayah geografis Indonesia yang puluhan kali lebih besar dari Singapura dan Hong Kong, tentu akan memunculkan kompleksitas permasalahan di lapangan yang jauh lebih rumit.

India sebagai negara dengan wilayah daratan yang luas, mempunyai karakteristik permasalahan yang mirip dengan Indonesia. Kondisi geografis menyebabkan struktur pemerintahan di India juga bertingkat, disesuaikan dengan kebutuhan distribusi kekuasaan pada jenjang vertikal dari pusat ke daerah (negara bagian) dan horizontal, mencakup seluruh wilayah pada tataran level pemerintahan yang sama. Indonesia dengan kondisi yang relatif sama juga mempunyai profil dan struktur pemerintahan yang berjenjang.

C. KORUPSI DI BEBERAPA NEGARA

Dokumen terkait