• Tidak ada hasil yang ditemukan

a. Pengertian Korupsi

Korupsi berkaitan dengan perbuatan yang merugikan kepentingan umum (publik) atau masyarakat luas untuk keuntungan pribadi atau kelompok tertentu. Menurut WF Wertheim, pemakaian umum istilah “korupsi” pejabat kita menyebutkan dengan nama korup, apabila seorang pegawai negeri menerima pemberian yang disodorkan oleh seorang swasta, dengan maksud mempengaruhinya agar memberikannya agar memberikan perhatian istimewa pada kepentingan-kepentingan si pemberi. Terkadang perbuatan ini dilakukan dengan menawarkan pemberian itu atau hadiah lain yang menggoda. Pemerasan berupa permintaan pemberian atau hadiah dalam pelaksanaan tugas publik (umum), juga biasanya disebut sebagai korupsi. Ciri-ciri korupsi adalah sebagai berikut.

2) Kegiatannya serba rahasia.

3) Keuntungan diperoleh secara timbal balik. 4) Berlindung dibalik pembenaran hukum.

5) Mempengaruhi keputusan-keputusan pemerintah. 6) Mengandung penipuan kepada pubik/masyarakat. 7) Bentuk penghkhinatan kepercayaan rakyat. 8) Melanggar norma dan tatanan masyarakat.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia yang dimaksud dengan anti korupsi adalah sikap menentang atau gerakan memusuhi segala bentuk penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Konsekuensi perilaku korupsi antara lain:

1) negara mengalami krisis moneter dan menjadi miskin, 2) perusahaan menjadi bangkrut atau pailit,

3) perekonomian negara menjadi terseok-seok,

4) cita-cita masyarakat yang adil makmur menjadi terlambat,

5) menimbulkan kekacuan, stabilitas ketertiban dan keamanan terganggu, dan 6) dapat menimbulkan kerawanan sosial.

Dalam pengertian lain, korupsi adalah penyalahgunaaan kekuasaan atau jabatan publik untuk kepentingan pribadi (The oxford Unabridged Dictionary). Korupsi melibatkan perilaku oleh pegawai sektorpublik, baik politikus atau pegawai negeri, mereka dengan tidak pantas dan melawan hukum memperkaya diri mereka sendiri atau orang yang dekat dengan mereka, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

b. Pemberantasan Korupsi

Kejahatan (tindak pidana) korupsi merupakan ancaman terhadap prinsip-prinsip demokrasi, yang menjunjung tinggi keterbukaan, dan keamanan serta stabilitas bangsa Indonesia. Oleh karena itu, korupsi adalah tindakan yang merugikan pembangunan berkelanjutan.

Penggelapan uang kantor, menyalahgunakan wewenangnya untuk menerima suap, menikmati gaji buta tanpa bekerja secara serius adalah tindakan korupsi. Kerakusan dan membiarkan perilaku korupsi yang dapat membawa kehidupan seseorang tidak berarti secara kemanusiaan, karena mereka telah diperbudak oleh harta benda dalam kehidupan yang sangat singkat. Apabila seseorang terindikasi dan terbukti melakukan korupsi makan orang tersebut tidak hanya menerima hukum fisik seperti penjara, tetapi yang berat adalah menerima malu dan terisolasi dalam kehidupan masyarakat.

Penyebab utama dari perilaku korupsi adalah nafsu untuk hidup mewah dalam kelompok yang memerintah. Pemberantasan korupsi sangat penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara dengan beberapa pertimbangan, antara lain sebagai berikut.

1) Korupsi menghambat dan menghalangi usaha kita berbangsa untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Maka oleh karena itu pemerintah bersama-sama masyarakat mengambil langkah-langkah pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi secara sistematis dan berkesinambungan.

2) Kejahatan korupsi tidak lagi merupakan kejahatan dan masalah lokal, akan tetapi sudah menjadi masalah internasional, sehingga penting adanya kerja

sama internasional untuk mencegah dan pemberantasannya termasuk pemulihan atau pengambilan aset-aset hasil kejahatan korupsi.

3) Kemiskinan dan kebodohan serta rendahnya mutu kehidupan rakyat kita sangat dipengaruhi oleh kejahatan korupsi, karena dana negara yang seharusnya dapat digunakan untuk mengentaskan kemiskinan dan meningkatan pelayanan pendidikan telah mengalir kepada tangan-tangan orang yang tidak bertanggung jawab.

4) Kejahatan korupsi sudah merupakan perilaku pengkhianatan kepada negara dan cita-cita proklamasi kemerdekaan, tidak memiliki rasa kebanggaan dan cinta tanah air serta merongrong kehidupan bernegara.

5) Pada hakikatnya, kejahatan korupsi sudah menyamai sikap anti Pancasila dan anti UUD 1945, karena nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 mengajarkan kita untuk hidup bertakwa kepada Tuhan, punya rasa kemanusiaan, punya rasa kebersamaan dan kekeluargaan untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tanpa kecuali.

Atas dasar pertimbangan di atas, pemerintah Indonesia beserta rakyatnya telah ikut aktif dalam upaya masyarakat internasional untuk mencegah dan memberantas korupsi menandatangani United Nations Convention Against Corruption, 2003 (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa anti korupsi, 2003) pada tanggal 18 Desember 2003 di markas besar PBB. Pemerintah Indonesia menganggap sangat penting pemberantasan korupsi, sehingga konvensi PBB tentang Anti Korupsi itu telah ditetapkan UU No.7 Tahun 2006 tentang Pengesahan Konvensi PBB Anti Korupsi 2003. Penanggulangannya adalah cara sebagai berikut.

1) Memperdayakan komisi pemeriksaan kekayaan pejabat dan latar belakang kehidupannya.

2) Membangun sistem pencegah dini korupsi, undang-undang anti korupsi yang konsisten.

3) Memberi jaminan hidup layak bagi pegawai.

4) Menggubakan sistem pembuktian terbalik artinya membuktikan asal-usul kekayaan pejabat negara.

5) Mengumumkan audit kekayaan pejabat sebelum dan sesudah bertugas. Membuat iklan layanan masyarakat di media massa.

Pemberantasan korupsi ternyata tidak mudah, meskipun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mengeluarkan Intruksi Presiden No. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, ternyata belum memperoleh hasil yang menggembirakan.

Presiden telah mengungkapan delapan langkah lanjutan pemberantasan korupsi, sebagai hasil rapat koordinasi antara pemerintah dengan komisi ombudsman nasional. Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut.

1) Dimulai dari lingkungan di sekitar Presiden sperti sekitar sekretariat negara, kantor Presiden,, sekretariat presiden, dan wakil presiden.

2) Melakukan pemeriksaan dalam pengadaan barang di semua lembaga negara, termasuk departemen-departemen, DPR dan lembaga lainnya. Pengadaan adalah sebagai ajang korupsi yang paling mudah dilakukan, dengan kasusnya adalah mark-up (pembengkakan) harga barang dan juga meminta potongan harga kepada pemasok.

3) Mencegah penyimpangan proyek rekonstruksi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

4) Mencegah terjadinya penyimpangan tender pada pembangunan infrastruktur yang akan dilakukan dalam masa empat tahun dianggarkan senilai puluhan triliun asa pemerintahan SBY.

5) Pemerintah akan melakukan penyelematkan terhadap aset-aset negara yang ada di departemen, BUMN dan swasta yang terkait dengan aset negara.

6) Mencari mereka yang sudah divonis oleh pengadilan dan masih dalam proses hukum, namun lari keluar negeri.

7) Meningkatkan intensitas pemberantasan penebangan liar dan penyaluran dananya terhadap kayu di hutan.

8) Bukti nyata pelaksanaan berbagai program yang telah dicanangkan oleh pemerintah tentang pemberantasan korupsi.

9) Upaya pemerantasan korupsi juga membutuhkan semangat dari pemimpin tertinggi dari setiap departemen dan birokrasi pemerintah, khususnya para menteri harus dapat melacak korupsi dilingkungan departemennya.

c. Partisipasi dalam Pemberantasan Korupsi

Masalah korupsi tidak bisa diselesaikan hanya melaui penegakkan hukum. Penyelesaian masalah korupsi haruslah dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu hukum, ekonomi, dan moral. Pemberantasan korupsi haruslah dipimpin oleh pemimpin yang berani bersih, reputasinya baik, moralnya tinggi dan bisa menjadi teladan. Dukungan masyarakat dalam pemberantasan korupsi sangat penting. Tanpa peran serta masyarakat, upaya pencegahan korupsi tidak akan berhasil. Tiga unsur pemberantasan korupsi, yaitu pencegahan, penindakan, dan peran

masyarakat. Dengan demikian, peran serta masyarakat sangat menentukan pemberantasan korupsi.

Dukungan masyarakat terhadap pemberantasan korupsi dapat dilakukan melalui cara-cara sebagai berikut.

 Mengasingkan dan menolak keberadaan koruptor sertatidak memilih pejabat yang terlibat korupsi

 Melakukan pengawasan dan mendukung terciptanya lingkungan yang anti korupsi.

 Melaporkan bila ada penyelewengan dan berani memberikan kesaksian dalam pemeriksaan perkara korupsi.

Masyarakat yang berjasa mengungkapkan korupsi berhak mendapatkan penghargaan, berupa piagam dan premi sesuai dengan PP No.17 Tahun 2000. Sebagai peran serta masyarakat dan pemberantasan korupsi, para pelapor telah dijamin oleh perundang-undangan, seperti larangan menyebut nama atau identitas pelapor serta memberikan rasa aman kepada pelapor yang dilindungi oleh alat negara seperti polisi.

Beberapa instrumen telak dikeluarkan, baik berupa hukum dan undang-undang, maupun berupa kelembagaan yang menangani masalah korupsi. Instrumen hukum secara kronologis telah dikeluarkan pada masa pemerintahan Soekarno sampai dengan masa reformasi.

1) Masa Pemerintahan Soekarno

Gerakan anti korupsi pertama kai dipimpin oleh Kolonel Zulkifli Lubis, wakil kepala staf angkatan darat. Kampanye anti korupsi, memberantas pejabat tinggi negara dan pengusaha. Untuk tugas tersebut, dikeluarkan

Peraturan Penguasa Militer No.PRT/PM/06/1957. Dalam peraturan itulah muncul istilah korupsi.

2) Masa Pemerintahan Soeharto (1967-1998)

Pada masa pemerintahan Soeharto telah dikeluarkan berbagai instrumen hukum untuk pemberantasan korupsi, yang dapat kita lihat secara kronologis sebagai berikut.

 Pada tahun 1967, sebagai pejabat negara, Presiden Soeharto mengeluarkan Presiden No. 228 tahun 1967 untuk membentuk Tim Pemberantasan Korupsi.

 Pada tahum 1970, dibentuk Komisi Empat berdasarkan Keputusan Presiden No. 12 tahun 1970. Komisi ini bertugas meneliti dan mengkaji kebijakan dan hasil yang dicapai dalam pemberantas korupsi.

 Pada tahun 1971, pertama kali Indonesia memiliki undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi No. 3 tahun 1971.

 Pada tahun 1977, Pemerintah mencanangkan Operasi tertib (Opstib) yang dilanjutkan dengan Intruksi Presiden No. 9 tahun 1977 tentang Pembentukan Tim Operasi Tertib. Tim ini untuk meningkatkan daya dan hasil guna serta meningkatkan kewibawaan aparatur pemerintah dan mengikis habis praktik-pratik penyelewangan dalam segala bentuk.

 Tahun 1980, pemerintah mengeluarkan dua kebijakkan, yaitu; keluarnya UU No. 11 tahun 1980 tentang Tindak Pidana Suap. Dalam undang-undang ini yang memberi dan menerima suap bisa didakwa melakukan kejahatan.

3) Masa Pemerintahan B.J. Habibie (1998-1999)

 Sidang Umum MPR menghasilkan melahirkan Ketatapan MPR No. XI/MPR/1998 tentang Pemerintahan yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

 UU No. 28 tahun 1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan Bebas dari KKN.

Pada tahun 1999, keluarnya UU No.31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagai penyempurnaan UU No. 3 tahun 1971.

4) Masa Pemerintahan Abdurrahman Wahid (1999-2001)

Pada tahun 1999, berdasarkan Keputusan Presiden No. 127 tahun 1999, pemerintah membentuk Komisi Pemeriksaan Kekayaan Penyelenggaraan Negara. Kemudian dikeluarkan lagi Keputusan Presiden pada tanggal 13 Oktober 1999 tentang Pemeriksaan kekayaan Penyelenggaraan Negara berdasarkan standar pemeriksaan yang telah ditetapkan.

Pada tahun 2000, pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan, yaitu sebagai berikut.

 Keputusan Presiden No. 44 tahun 2000 tanggal 10 Maret 2000 tentang Komisi Ombudsman Nasional.

 Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana korupsi berdiri yang didasarkan pada Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2000.

 Surat Keputusan Direktorat jenderal Administrasi Hukum Umum Departemen Kehakiman dan HAM tanggal 7 Juli 2000 untuk menetapkan Pembentukan tim persiapan pembentukan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 31 tahun 1999.

 Peraturan Pemerintah No. 71 tahun 2000 tentang Tata Cara pelaksanaan Peran serta Masyarakat dan pemberian Penghargaan dalam Pencegahan dan Pemberantas Tindak Pidana Korupsi.

5) Pemerintahan Megawati Soekarno Putri (2001-2004)

Pada tahun 2001, telah dikeluarkan dua kebijakan, yaitu sebagai berikut.  Keluarnya UU No. 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas UU No. 31 tahun

1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

 Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi terpaksa dibubarkan karena adanya putusan hak uji materiil oleh Mahkamah Agung.

Pada tahun 2002, dikeluarkan UU No. 31 tahun 2002 tentang pembentukan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pada tahun 2003, dikeluarkan beberapa kebijakan, yaitu sebagai berikut.

 Keputusan Pemerintah No. 73 tahun 2003 tentang Pembentukan Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tanggal 21 September 2003. Hasil panitia seleksi, diperoleh nama dan diserahkan ke Presiden pada tanggal 6 Desember 2003. Dari 10 nama itu, DPR memilih lima sebagai pimpinan Komisi.

 DPR pada tanggal 19 Desember 2003 mengesahkan lima pimpinan komisi pemberantasan korupsi hasil pilihan anggota komisi hukum DPR.

 Indonesia yang diwakili menteri kehakiman dan HAM Yusril Mahnedra menandatangani Konvensi PBB tentang Pemberantasan Korupsi di New York, pada Kamis 18 Desember 2003.

Pada tahun 2006, Pemerintah telah mengeluarkan UU No. 7 tahun 2006 tentang Pengesahan Konvensi PPN Anti Korupsi 2003. Instrumen hukum internasional tersebut amat diperlukan untuk menjembatani sistem hukum yang berbeda dan sekaligus memajukan upaya pemberantasan korupsi secara efektif.

d. Instrumen Kelembagaan Anti Korupsi di Indonesia

Instrumen anti korupsi dalam bentuk alat atau lembaga negara, memiliki kewenangn dan kekuasaan untuk dapat melakukan tugas dalam memberantas korupsi. Alat atau lembaga itu diantaranya adalah sebagai berikut.

1) Mahkamah Agung (MA)

UUD 1945 meletakkan MA sebagai salah satu pelaku kekuasaan kehakiman. Badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung meliputi badan peradilan dalam lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer dan peradilan tata usaha negara. Kewenangan utama MA adalah memeriksa dan memutuskan permohonan kasasi, sengketa tentang mengadili, permohonan peninjauan kembali putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Dalam proses peradilan perkara korupsi, MA adalah peluang terakhir bagi mereka untuk memperoleh kebebasan atau minimal pengurangan hukuman. Posisi ini sangat strategis dalam percepatan pemberantasan korupsi. MA juga dapat mengawasi penerapan hukum di Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi.

2) Komisi Yudisial (KY)

Pasal 24B amandemen ketiga UUD 1945 mengamanatkan berdirinya komisi Yudisial (KY). Kewenangan KY menurut pasal 24B ayat (1) adalah

mengusulkan pengangkatan hakim agung dan menjaga perilaku hakim. Dalam pemberantasan korupsi, KY berwenang untuk mengawasi hakim, baik hakim agung maupun hakim yang berada di kota-kota besar dan menerima dan mengawasi laporan harta kekayaan penyelenggara negara.

3) Kejaksaan Agung

Kejaksaan Agung menurut UU No. 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan menyatakan, bahwa dalam pelaksanaan tugas dan wewenang, kejaksaan membina hubungan kerja sama dengan badan penegak hukum dan keadilan seta badan negara atau instansi lainnya. Kejaksaan Agung memiliki kewajiban untuk menerima dan melakukan analisi atas setiap rekomendasi yang diberikan, khususnya dari lembaga yang berwenang dalam pemberantasan korupsi, seperti dari komisi pemberantasan korupsi.

4) Kepolisian

Menurut UU No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, secara umum tugas dan wewenang Polri adalah menegakan hukum secara profesional dan proporsional, dengan menjunjung tinggi supremasi hukum dan hak asasi manusia menuju kepada adanya kepastian hukum dan rasa keadilan, serta memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat dengan tetap memperhatikan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam konteks pemberantasan korupsi, kepolisian memiliki wewenang penyelidikan dan penyidikan. Dalam hal ini, kepolisian memiliki korps reserse Polri yang dalam fungsinya sebagai pelindung hak-hak asasi warga negara sesuai aturan undang-undang. Reserse melaksanakan praktik-praktik

kepolisian represif dari penyelidikan, pemanggilan, penangkapan, pemeriksaan, pengeledahan, penyitaan sampai penahanan.

5) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

Tanggung jawab BPK adalah untuk turut membongkar praktik-praktik penyimpangan dalam pengelolaan keuangan negara. BPK adalah lembaga negara yang mempunyai tanggung jawab kepada masyarakat umum dalam hal pengawasan keuangan negara.

Hasil audit BPK sering mendeteksi adanya korupsi dalam penggunaan APBN. BPK senantiasa melaporkan auditnya kepada lembaga yang berwenang untuk pemberantasan korupsi. Data BPK dapat dijadikan data awal bagi penegak hukum untuk melakukan penyidikan atas indikasi korupsi yang dilaporkan. Laporan BPK yang akurat juga akan menjadi alat bukti dalam pengadilan.

6) Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP)

BPKP merupakan lembaga pemerintah non-departemen dibidang pengawasan. Tanggung jawabnya adalah merumuskan dan menyusun rencana dan program-program pengendalian umum atas kegiatan kementerian-kementerian negara dan kantor-kantor proyek mereka. Dalam pemberantasan korupsi BPKP memiliki peran pada tingkat pencegahan, penyelidikan dan penyidikan tindak pidana korupsi. Namun kelemahannya adalah memiliki peran dan kewenangan yang sangat bergantung pada kemauan baik Presiden yang berkuasa.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mempunyai kewenangan lebih luas serta indenpenden (mandiri, bebas dari kekuasaan manapun) dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna upaya pemberantasan korupsi.

KPK memiliki visi, yaitu mewujudkan Indonesia yang bebas korupsi, sedangkan misinya adalah penggerak perubahan untuk mewujudkan bangsa yang anti korupsi. Asas KPK adalah kepastian hukum, keterbukaan, akuntabilitas, kepentingan umum, proporsionalitas.

Menurut UU No. 30 tahun 2002, KPK memiliki kewenangan melakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan, diantaranya menyadap dan merekam pembicaraan, memrintahkan kepada instansi yang terkait untuk melarang seseorang berpergian ke luar negeri, meminta keterangan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya tentang keadaan keuangan tersangka atau terdakwa yang sedang diperiksa, memerintahkan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya untuk memblokir rekening yang diduga hasil dari korupsi milik tersangka, terdakwa atau pihak yang terkait, meminta data kekayaan dan data perpajakan tersangka atau terdakwa kepada instansi yang terkait. KPK juga mempunyai wewenang untuk memerintahkan kepada pimpinan atau atasan tersangka korupsi agar tersangka diberhentikan sementara dari jabatannya, bahkan KPK dapat memerintah Presiden agar membuat izin kepada pejabat negara untuk diperiksa atas dugaan korupsi.

8) Tim Tastipikor

Tim koordinasi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tim Tastipikor) beranggotakan 48 orang yang diketuai oleh jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus. Tim Tastipikor terdiri atas unsur kejaksaan, kepolisian serta Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) bertanggung jawab

kepada Presiden. Tim Tastipikor dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 11 tahun 2005 bekerja selama dua tahun dan dapat diperpanjang lagi jika dianggap perlu. Kewenangan Tim ini adalah penangkapan pelaku korupsi. Kasus korupsi yang ditangani tim Tastipikor adalah pengawasan terhadap instansi pemerintah. (Oleh Lisma Nopiyanti, sumber: Syarbaini, Syahrial.Dr.MA. 2011. “Pendidikan Pancasila, Implementasi Nilai-Nilai Karakter Bangsa”. Bogor: Ghalia Indonesia)

Dalam dokumen Pengertian Dan Konsep Masyarakat Madani (Halaman 34-48)

Dokumen terkait