• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kosmetik Pemutih Wajah

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 75-80)

DAFTAR ISI

DAFTAR LAMPIRAN

2.4 Kosmetik Pemutih Wajah

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.445/Menkes/Permenkes/ 1998, kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ kelamin bagian luar), gigi, dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakkan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit.

Pada tahun 1955 Lubowe menciptakan istilah “Cosmedics” yang merupakan gabungan dari kosmetik dan obat yang dapat mempengaruhi faal kulit secara positif, namun bukan obat (Tranggono, Latifah, 2007). Pada tahun 1980, Albert Kligman menyebutnya dengan istilah “Cosmeceuticals” yaitu suatu produk kosmetik yang mengandung bahan aktif biologis, tetapi bukan obat yang memberikan efek menguntungkan dengan pemberiaan secara topikal dan istilah ini yang digunakan hingga sekarang (Draelos, & Thaman, 2006).

Bahan ini sebagaimana kosmetika boleh diperdagangkan bebas tetapi perlu pengawasan dan pemahaman pemakaiannya oleh karena mempunyai potensi untuk memberikan efek samping. Akhir-akhir ini dengan meningkatnya penggunaan kosmeseutikal, sering pula terjadi efek samping seperti dermatitis kontak, fotosensitisasi, akne kosmetika, kelainan pigmentasi dan sebagainya. Bahkan oleh orang atau industri kosmetik tertentu yang hanya mencari keuntungan besar, beberapa bahan yang berbahaya bagi kesehatan ditambahkan untuk mempercepat khasiat yang diharapkan. Sebagai contoh merkuri (Hg) dan rhodamin B untuk pemutih kulit dan pemoles bibir banyak ditemukan di beberapa merk kosmetika, padahal keduanya dilarang digunakan didalam sediaan kosmetika. Temuan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) Departemen Kesehatan RI diberbagai daerah ternyata banyak kosmetik yang dijual bebas mengandung kedua bahan tersebut. Umumnya kosmetik yang mengandung merkuri, hodrokinon, dan rhodamin B merupakan produk impor illegal dari Cina (BPOM, 2011).

Tujuan utama penggunaan kosmetik pada masyarakat modern ialah untuk kebersihan pribadi, meningkatkan daya tarik melalui make up, meningkatkan rasa percaya diri, melindungi kulit dan rambut dari kerusakan sinar UV, polusi, dan faktor lingkungan yang lain, mencegah penuaan, dan secara umum membantu seseorang lebih menikmati dan menghargai hidup (Tranggono & Latifah, 2007).

Kita ketahui bahwa kosmetik sangat beragam jenisnya, mulai dari kosmetik untuk wajah, kulit, rambut, hingga kuku. Namun diantara ragam jenis kosmetik tersebut, yang sering menjadi perhatian adalah kosmetik untuk kulit. Ditinjau dari struktur dan fungsinya, kulit merupakan bagian penting bagi tubuh dimana efek yang muncul pada kulit tidak hanya di permukaan kulit namun juga

pada bagian dalam kulit. Efek yang muncul dapat permanen atau temporer tergantung dari jenis bahan aktif yang digunakan pada produk kosmetik tersebut. Produk kosmetik untuk mempercantik kulit terdiri dari berbagai jenis tergantung pada fungsinya, antara lain pelembut kulit, pembersih, pelembab, tabir surya, dan pencerah atau pemutih kulit (skin bleaching).

Pemutih atau pencerah kulit adalah produk yang ditujukan untuk mencerahkan atau menghilangkan pewarnaan kulit yang tidak diinginkan. Produk ini didesain untuk bekerja dengan cara berpenetrasi ke dalam kulit dan mengganggu produksi pigmen oleh sel kulit. Di beberapa negara produk ini digolongkan sebagai obat dan bukan sebagai kosmetik yang digunakan dengan bebas. Sedangkan di negara Asia seperti di Jepang, kosmetik yang berfungsi sebagai pemutih atau pencerah kulit masih beredar sebagai kosmetik yang digemari, oleh karena itu bahan-bahan yang dapat digunakan sebagai pemutih atau pencerah banyak diteliti dan dikembangkan. Salah satu bahan pemutih atau pencerah yang terkenal dan telah banyak digunakan adalah hidrokinon (BPOM, 2011).

Seiring dengan perkembangan peradaban manusia di zaman modern, hubungan antar manusia semakin dekat dan mudah dilakukan baik hubungan kerja, sosial dan budaya. Oleh karena itu, manusia memerlukan penampilan kulit yang sehat, menarik dan terlihat muda. Gangguan pigmentasi dan penuaan dini yang biasanya menyerang kulit wajah sangat mengganggu penampilan. Dilain pihak perhatian para pakar atau spesialis kulit pada bidang dermatologi kosmetik dan aging sangat besar sehingga banyak dilakukan penelitian dan pengembangan.

Sejalan dengan itu pula perkembangan ilmu dan teknologi menyebabkan bermacam kosmetika untuk mengatasi kelainan yang mengganggu penampilan seperti jerawat, gangguan pigmentasi dan penuaan dini diproduksi secara luas. Gangguan pigmentasi pada kulit dapat diklasifikasikan menjadi:(1) hipomelanosis atau leukoderma, seperti pada vitiligo, albinisme; (2) hypermelanosis coklat atau

melanoderma yang disebabkan oleh meningkatnya pigmen melanin atau jumlah

melanosit di epidermis, seperti pada freckles, melasma atau lentigo dan (3)

peningkatan melanin atau jumlah melanosit di dermis, seperti pada Mongolian

spot.

Warna kulit manusia ditentukan oleh campuran beberapa kromofor yaitu

oxyhemoglobin (memberikan warna merah), deoxygenated hemoglobin (biru), carotene suatu pigmen eksogen (kuning-oranye), melanin (coklat). Melanin

merupakan komponen utama pada pembentukan warna kulit, baik epidermal

pigmentation maupun dermal pigmentation. Spektrum warna kulit manusia

berdasar respon terhadap sinar matahari ada 6 tipe yang disebut Skin Phototypes (SPT). Respons kulit terhadap paparan sinar matahari dapat terjadi akut, seperti timbulnya reaksi terbakar dan pigmentasi, maupun kronis yang dapat menyebabkan penuaan dini dan pertumbuhan tumor. Reaksi terbakar biasanya diikuti dengan warna kemerahan sampai coklat atau dikenal dengan Tanning.

Pembentukan melanin terjadi di dalam melanosit, suatu sel berdendrit yang terletak pada lapisan basal epidermis. Produk melanin yang dihasilkan akan menentukan warna kulit. Biosintesis melanin terjadi di dalam melanosome, dibawah pengaruh genetik dan dapat dipengaruhi pula oleh stimulus dari luar seperti sinar matahari. Ada dua bentuk melanin yaitu eumelanin yang memberikan warna gelap (hitam-cokelat) dan pheomelanin memberi warna cerah (kuning- kemerahan). Keduanya di sintesis dari oksidasi tirosin oleh enzim tirosinase. Tirosin dirubah menjadi DOPA dan DOPA quinon lebih dahulu sebelum menjadi

eumelanin atau pheomelanin.

Hipermelanosis yang banyak dijumpai dan sangat menonjol di masyarakat adalah melasma karena kelainan ini cukup banyak terjadi dan dapat memberikan penampilan yang kurang baik bagi penderita terutama kaum perempuan. Penderita menjadi kurang percaya diri oleh karena wajahnya dirasa terlihat kusam; seorang wanita yang menderita flek hitam sedikit saja di wajah akan berusaha kemana mana dan mencoba obat apa saja untuk menghilangkannya. Definisi melasma adalah hipermelanosis ireguler berwarna coklat terang sampai coklat gelap pada daerah yang sering terpapar sinar matahari seperti wajah, terutama di dahi kedua pipi, hidung, diatas bibir, dagu dan kadang kadang leher.

Khusus hidrokinon yang banyak digunakan sebagai pemutih kulit, selain dapat menyebabkan hipermelanosis, justru berperan sebagai sumber ROS yang

dapat merusak sel dan DNA. Maka tidak heran apabila penderita yang diberi obat pemutih kadang dapat terjadi reaksi sebaliknya, kulit menjadi lebih hitam. Namun yang lebih berbahaya adalah dengan penggunaan pemutih untuk mencegah sintesis melanin, fungsi melanin sebagai proteksi hilang dan pada tingkat seluler terjadi kerusakan DNA yang apabila mekanisme perbaikan tak berhasil maka sangat beresiko menghasilkan gen mutan yang pada akhirnya timbul keganasan atau kanker kulit.

Sejalan dengan telah diberlakukannya notifikasi kosmetik pada Januari 2011, Badan POM mengeluarkan peraturan terkait pengawasan kosmetik yaitu: Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No.HK.03.1.23.04.11.03724 tahun 2011 tentang Pengawasan Pemasukan Kosmetika; Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No.HK.03.1.23.08.11.07517 tahun 2011 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetika; Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No.HK.03.1.23.12.11.10052 tahun 2011 tentang Pengawasan Produksi dan Peredaran Kosmetika (BPOM)

BAB 3

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 75-80)

Dokumen terkait