BAB III PERBANDINGAN DRAMA KABUKI DAN OPERA
3.4 Kostum dan tatarias
Kostum atau tata pakaian meripakan salah satu elemen yang sangat penting untuk menunjang lakon dan keberhasilan suatu pertunjukan. Salah satu yang termasuk didalam perlengkapan untuk para pemain Kabuki dalam mementaskan
sebuah drama adalah kostum. Berdasarkan kegunaanya maka pemaian kostum mempunyai beberapa tujuan, yaitu;
1. Membantu mengidentifikasikan periode saat lakon itu dilaksanakan, menyangkut
thema, karakter asli dan aksi.
2. Membantu mengindividualisasikan para pemain. Warna dan bentuk kostum akan membedakan secara visual, tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. karena itu warna kostum sebaiknya beraneka ragam.
3. Menunjukan asal/usul dan status sosial orang tersebut. Dengan jenis pakaian tersebut orang dapat menyimpulkan apa dia dari desa atau dari kota, dari golongan terpelajar atau rakyat kebanyakan, apakah ia dari kalangan elite ataupaun rendah.
4. Menunjukan waktu peristiwa terjadi, misalnya pakaian pagi hari, sore, atau malam, pakaian sekolah, kerja atau sebagainya.
5. Mengekspresikan usia orang. Kostum harus dapat menunjukan aktor tersebut berusia tua atau muda, sudah nikah atau belum, anak-anak atau remaja.
6. Mengekspresikan gaya pemain. Jika kostumnya aneh maka ini bukan jenis drama yang serius, mungkin jenis bayolan atau lawakan.
7. Membantu gerak-gerik aktor diatas pentas dan membantu aktor untuk mengekspresikan wataknya.
Salah satu alasan kenapa para penonton dapat merasakan kedekatan pribadi terhadap para pemain Kabuki adalah penggunaan kostum para pemain Kabuki. Kostum yang digunakan selalu disesuaikan dengan tipe drama dan zaman pada
saat cerita terjadi, apakah drama jenis sejarah atau hanya jenis cerita rumah tangga masyarakat biasa.
Pada umumnya kostum para pemain Kabuki dari tipe Jidaimono lebih mewah, karena hendak menggambarkan pakaian dari keluarga bangsawan dan kelas Samurai. Sebaiknya mode pakaian dari masyarakat pada umumnya dari periode Edo digambarkan dengan lebih lealistik dalam drama Kabuki tipe Sewamono.
Aktor utama terkadang menciptakan perubahan-perubahan pada kostum yang sesuai dengan perkembangan trend sosial pada zaman itu. Namun secara umun kostum yang digunakan sekarang ini tetap mempertahankan keaslian yang telah dipopulerkan oleh aktor-aktor terdahulu.
Pada zaman Edo keadaan ekonomi tidak stabil sebagai dampak dari pelaksanaan sistem Sankin Kotai oleh pemerintah. Hal ini menyebabkan terjadi perubahan terhadap kostum Kabuki, yaitu pemerintah melarang penggunaan material kostum yang berlebihan diatas panggung, dengan tujuan agar masyarakat hidup sederhana.
Pada sekitar tahun 1804-1830, Kabuki mulai menetapkan model pakaian Kabuki ini tidak terbatas dan ini terus berlanjut sampai tahun 1826. tetapi akibat mahalnya bahan-bahan pakaian Kabuki dan dana tidak mencukupi dari para pemain untuk membeli, menjaga dan memelihara kostu mereka, maka menimbulkan efek yang tidak seimbang dalam pementasan Kabuki.
Dengan alasan ini akhirnya Kabuki dibiayai oleh penyandang dan yang mengakibatkan kostum Kabuki semakin bertambah indah, mewah dan mengah.
Berbagai macam warna mulai digunakan, sehingga kostum tampil lebih menarik, elegan dan lebih hidup.
Demikian tatarias juga mempunyai peranan penting dalam pertunjukan Kabuki untuk mendukung kesuksesan pemain yang dimainkan oleh aktor Kabuki. Warna dasar untuk semua jenis tatarias adalah warna putih. Warna itu dibuat dari tepung beras, pada Onnagat warna itu menimbulkan kelembutan kulit. Warna tersebut sudah menyerupai warna aslinya dan juga untuk membuat wajah aktor bercahaya karena lampu yang redup di teater. Gaya rias wajah yang paling menarik yaitu Kumadori. Gaya rias ini adalah gaya rias wajah yang mirip dengan topeng dan seluruhnya berjumlah 100 buah gaya. Gaya rias ini pertama sekali digunakan oleh Danjuuroo 1 pada tahun 1673 dan sangat membantu melakonkan karakter Aragoto yang ia perankan dalam teater. Ia terus mengembangkan Kumodori dengan berbagai warna yang melambangkan tempramen dalam setiap karakter.
Berikut warna-warni dan tempramen yang digambarkan melalui warna tersebut; Merah tua : Merah, kemarahan, pemaksaan, larangan Merah : Keaktifan, kemauan, keras, kekuatan Merah jambu/merah pucat : Kebahagiaan, gairah, semangat muda Biru mudah : Ketenangan, kesabara
Hijau muda : Kemakmuran
Ungu : Keagungan, kesombongan Coklat : Kesedihan
Abu-abu : Kekeringan, ketidakbahagiaan Hitam : Ketakutan, terror. Kesedihan
b. Opera Batak
Dalam pementasan Opera Batak, kostum yang digunakan sangatlah sederhana. Mungkin ini dikarenakan pementasan Opera Batak yang masi berpindah-pindah dari tempat ketempat lain. Jadi hanya membawa busana seperlunya saja. Busana dalam Opera Batak selalu disesuikan dengan judul Opera yang akan dibawakan atau dipentaskan. Dan biasanya tatabusana telah dipersiapkan oleh team artistik grup Opera tersebut.
Dalam pemakaian busana biasanya disesuaikan dengan peran apa yang dimainkan seseorang diatas panggung dengan kehidupan nyata sehari-hari. Misalnya dalam cerita Sisingamangaraja, kostum yang diperlukan adalah;
1. Untuk seorang Raja(Sisingamangaraja), kostum yang digunakan adalah bagaimana layaknya seorang pakaian Raja Batak, dari atas kepala sampai kakinya serta tongkat yang digunakannya.
2. Untuk seorang panglima perang, cukup menggunakan pakaian seragam, dan memakai sarung dan ditambah dengan golok ditangan.
3. Untuk seorang tentara Belanda, juga menggunakan pakaian seragam, dan ditambah dengan topi dan Senjata(pistol).
4. Untuk seorang istri Raja, biasanya, menggunakan Kebaya namun alakadarnya. Ini cuma bertujuan untuk membedakan saja dia, dengan ibu- ibu yang lain.
5. Begitu juga dengan pakaian yang digunakan anak Raja agak sedikit berbeda dengan rakyat biasa tentunya. Supaya lebih kelihatan bahwa dia adalah bukan rakyat biasa.
6. Dan selebihnya rakyat Jelata(rakyat biasa), hanya menggunakan pakaian sehari- hari dan diusahakan sesederhana mungkin.
Begitulah penggunaan kostum didalam Opera Batak. Tidak ada yang begitu menarik. Semuanya telah disesuikan dengan keadaan dan propesi pemain yang disetarakan dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam perkembangan kostum dan tata rias Kabuki sangat menarik dan sedikit sulit dipahami. Karena setiap kostum dan warna yang digunakan memiliki masing-masing arti. Misalnya saja warna merah yang mencerminkan kekerasan. Dan gerak-gerik para pemain diatas pentas sekalian memperlihatkan watak para pemainnya.
Namun tidak begitu dengan kostum dan tatarias yang digunakan dalam Opera Batak, para pemain hanya menggunakan kostum dan tatarias seadanya. Misalnya peran seorang ibu, hanya menggunakan pakaian rumah yang seadaaya dan hanya memakai bedak saja seadanya. Semua kostum dan tatarias dalam pementasan Opera Batak hanya disesuaikan dengan peran yang dilakonkannya diatas panggung. Jadi dai kostum dan tata rias yang digunakan diatas panggung, penonton sudah dapat menggambarkan peran apa yang akan diperankan orang tersebut. Sekalipun tidak diucapkan.
3.5 Alat musik dan Tarian