BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP DRAMA KABUKI DAN
2.4. Perkembangan Opera Batak dari tahun 1920 sampa
Opera Batak muncul sekitar tahun 1928 yang dipelopori oleh Tilhang Gultom. Pada mulanya Opera Batak ini merupakan pertunjukan keliling. Corak kesenian tersebut merupakan pengaruh dari beberapa bentuk kesenian yang sejenis, seperti opera bangsawan dari Malaya Dardanela dari Jawa, yang pernah mengadakan pertunjukan didaerah Sumatra dan menurut beberapa informan rombongan tersebut sampai kedaerah Batak terutama pada sekitar tahun 20-an. Karena Opera ini cukup diminati oleh masyarakat batak pada masa itu, maka tilhang membuat kelompok pertunjukan yang mirip dengan opera ini dengan merubah kelompok yang dipimpinnya yaitu Tilhang Parhasapi menjadi Opera Batak. Pada saat itu belanda sedang menjajah di Indonesia khususnya Sumatra bagian Utara.
Pada tahun 1929 melalui pihak PID singkatan dari Politike Lichtings Diesnt (Pengawas Keamanan Politik Belanda) mereka memanggil penanggung jawab pertunjukan Tilhang Opera Batak, dan mencabut surat ijin pertemuan. Alasan mereka adalah karena cerita dan musik vocal yang dimainkan sering menyinggung dan merugikan pemarintah Belanda. Dan juga karena pada waktu Tilhang Opera Batak mengadakan pertunjukan sering terjadi keributan diantara penonton, akibatnya Tilhang dan kelompoknya terpaksa menghentikan kegiatan mereka.
Walaupun kelompok Tilhang mengadakan masa “istirahat” namun secara diam-diam Tilhang dan teman-temannya terus membina kelompoknya sambil mencari jalan untuk muncul kembali. Kemudian nama baru yaitu Tilhang Batak Hindia Toneel, setelah lebih dahulu mengusahakan surat ijin pertunjukan. Untuk
mendapatkan surat ijin pertunjukan tersebut mereka berjanji akan mematuhi peraturan pemerintah Belanda yaitu; kritikan dan sindiran yang menyinggung Belanda tidak boleh terulang lagi, setiap pertunjukan Opera harus mengadakan penjualan karcis dan akan dikenakan pajak sebesar sepuluh persen dari hasil penjualan karcis tersebut dan setiap pertunjukan harus memakai petugas keamanan.
Kelompok Tilhang muncul kembali pada tahun 1931 dengan penampilan yang agak berbeda, dimana jumlah pemain mereka sampai sekitar 60 orang, dan sudah terdapat diantaranya beberapa orang wanita. Karena kelompol ini sudah sering mengadakan pertunjukan di luar daerah Batak, maka mereka mulai menampilkan beberapa misik vocal, tarian bahkan cerita dari daerah lain seperti Malayu, Karo Simalungun, Mandailing dan Pakpak. Hal ini juga disebabkan karena beberapa anggota yang berasal dari suku diluar Batak Toba sudah mulai ikut bergabung menjadi anggota Opera batak. Demikian juga alat musik yang dipakai tidak lagi terbatas pada alat musik tradisional Batak Toba saja, melainkan sudah ditambah dengan beberapa alat musik diluar tradisi Batak Toba.
Pada tahun 1932 kelompok Opera ini mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Malaysia(dulu Malaya) untuk mengadakan pertunjukan disana. Akan tetapi setibanya mereka dipulau Pinang, mereka tidak diterima olah pemerintah setempat, karena sebab yang tidak begitu jelas mereka ketahui. Menurut beberapa informasi, kemungkinan besar pemerintah Belanda mengisyaratkan pada pemerintah Inggris yang pada saat itu berkuasa di Malaysia untuk tidak menerima kelompok Opera Batak ini. Mereka tidak diperbolehkan mengadakan pertunjukan disana, dan dengan biaya dari pemerintah setempat
mereka dipulangkan kembali. Sepulangnya dari Malaysia, kegiatan kelompok Tilhang terhenti beberapa bulan terhenti karena kesulitan yang dating dari luar maupun dari dalam, terutama soal ijin pertunjukan yang sering dicabut, juga kesulitan biaya untuk hidup anggotanya.
Pada tahun 1934 kelompok Tilhang Muncul lagi dengan Nama baru yaitu Ria Top. Kelompol Opera ini berjumlah sekitar 50 orang, dan mengadakan pertunjukan di Tapanuli, Sumatra Timur, Aceh dan sampai Sumatra Barat. Namun kelompok ini hanya bertahan satu tahun saja. Kemudian pada tahun 1936 mereka muncul lagi dengan nama baru yaitu Tilhang Toneel Gesellschaft dengan jumlah anggota sekitar 50 orang, dan mengadakan pertunjukan di Tapanuli dan Sumatra Timur. Kelompok Opera ini juga hanya bertahan sampai satu tahun saja.
Mulai dari awal tahun 1938- 1942 kelompok tilhang terpaksa menghentikan kegiatan mereka secara total karena pecahnya Perang Dunia ke 11. kemudian pada tahun 1943 kelompok Tilhang dipangging menghadap pemerintah yang pada waktu itu sudah beralih kepemerintahan Jepang yang berkedudukan di Sibolga Tapanuli Tengah. Tilhang diminta untuk mengumpulkan anggota-anggotanya dan membentuk kembali Opera dengan nama Sandiwara Asia Timur Raya. Tilhang di orbitkan oleh pihak Jepang dengan maksut sebagai alat propaganda untuk kepentingan pemerintah mereka, karena Tilhang pada waktu itu dianggap sebagai orang yang cukup berpengaruh ditengah-tengah masyarakat Batak Toba. Tetapi rupanya belakangan diketahui oleh anggota Sandiwara Asia Timur Raya. Bahwa mereka semua telah dimasukkan kedalam daftar orang-orang yang akan dibunuh oleh Jepang. Akan tetepi rencana Jepang ini tidak terwujud karena mereka telah lebih dahulu menyerah pada bualh Agustus 1945.
Setelah Jepang menyerah, kegiatan sandiwara Asia Timur Raya terhenti. Sebahagian anggota-anggotanya pergi meninggalkan Sibolga, pulang kekampungnya masing-masing. Pada tahun 1950 Tilhang membentuk kembali Operanya ditiga Dolok Simalungun tempat dimana Tilhang pada waktu itu bertempat tinggal. Kelompok itu terbentuk kembali dengan adanya undangan untuk Tilhang pribadi untuk mengadakan pertunjukan dibeberapa tempat di Jakarta dan Jawa Barat. Untuk memenuhi undangan tersebut Tilhang membentuk kembali kelompoknya dengan Nama Kesenian Kebudayaan Batak yang pusat kegiatannya di Tiga Dolok. Anggotanya berjumlah sekitar 50 orang dan semuanya terdiri dari Pria dan Wanita Batak yang kebanyakan masi muda. Kelompok ini hanya bertahan satu tahun saja.
Pada pertengahan tahun 1952 Tilhang meminta keponakannya Gustafa Gultom untuk memebentuk sekaligus memimpin kelompok Opera yang baru, walaupun pimpinan pertunjukan masi dipengang oleh Tilhang Gultom. Kemudian terbentuklah kelompok opera dengan Nama Pantja Ragam Tilhang yang anggotanya sekitar 75 orang Pria dan Wanita. Kelompok ini mengadakan pertunjukan di daerah Sumatra Utara dan Aceh. Kemudian kelompok ini berkembang terus dan banyak anggotanya yang bukan berasal dari suku Batak ikut, maka pada pertengahan tahun 1952 oleh Gustafa Gultom kelompok ini diganti namanya menjadi Seni Ragam Indonesia. Kelompok ini didalam penampilannya selain menampilkan musik vocal, tarian dan cerita dari Batak Toba, juga sering menampilkan musik vocal, tarian dan cerita dari daerah lain seperti Karo, Dairi, Melayu, simalungun, Mandailing bahkan dari Minagkabau.
Dan mana Seni Ragam Indonesia inilah yang abadi untuk kelompok Opera Batak ini, dan biasanya sering disingkat dengan Serindo.
Kemudian sejalan dengan perkembangan zaman, beberapa anggota inti dari Serindo memisahkan diri dan membentuk kelompok-kelompok baru terutama sejak sekitar tahun 1952. ini disebabkan oleh berbagai hal, misalnya keinginan untuk mengembangkan berbagai corak kesenian baru yang dianggap lebih sesuai dengan keinginan meraka. Akan tetapi faktor yang lebih umum adalah perbedaan prinsip dalam hal ekonomis serta perselisihan pendapat dalam masalah kepemimpinan. Kelompok-kelompok baru yang dibentuk kemudian berjumlah sampai 35 kelompok. Salah satunya adalah grup Opera Serindo.
Akan tetepi walaupun secara kwantitas jumlah kelompok Opera Batak relative banyak, namun apabila diperhatiakn dengan ciri-ciri penampilan masi tetap memiliki idiom Tilhang Gultom. Walau telah banyak diciptakan musik vocal baru bahkan cerita yang baru untuk kepentingan pertunjukan dari masing-masing kelompok, tetepi dengan memperhatikan suasana dan rasa yang timbul, masyarakat tetap menganggap hal tersebut sebagai suatu yang identik dengan karya-karya Tilhang Gultom.
Perkembangan akhir dari Opera Batak yang ditampilkan oleh beberapa kelompok yang berusaha menggiatkan corak kesenian ini sebagai sumber nafka, tidaklah menggembirakan. Hal Yang positif dari timbulnya kelompok Opera Batak adalah semakin luasnya corak kesenian itu ditampilkan sebagai upaya mengenalkannya kepada masyarakat. Namun karena faktor moral, kreatifitas, dan minat masyarakat yang kurang, menyebabkan gaya hidup corak kesenian Opera Batak semakin tenggelam. (Gultom, 1983). Sejak sekitar tahun 1985 corak
kesenian ini hamper tidak pernah terdengar lagi, baik kelompok Serindo atau kelompok- kelompok Opera yang lain, terutama dalam bentuk sandiwara keliling seperti pada masa-masa sebelumnya. Akan tetapi pada tahun 2002 di Tarutung muncul satu grup Opera yang bernama grup Opera Silindung yang lahir dari hasil revitalisasi Opera Batak pada tanggal 25-31 Agustus 2002 dibawah pimpinan seorang anak muda yang sangat prihatin dengan keadaan Opera Batak Saat ini yaitu Thomson Hs. Dan grup opera Silindung ini masi bertahan sampai sekarang.