• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERBANDINGAN DRAMA KABUKI DAN OPERA

3.3 Pemain

Demikian juga dalam pertunjukan Kabuki, bagi penonton Kabuki atraksi utama adalah pemain, bukan plot atau kebenaran kebenaran teks asli. Mereka datang melihat aktor favorit mereka dalam adegan terkenal. Kuatnya suatu cerita tidak terlepas dari peran serta karakter para pemain. Dengan kata lain, para aktor adalah tulang punggung dari suatu pementasan drama. Dengan pemilihan aktor yang berpengalaman, maka dapat dimungkinkan terciptanya suatu pementasan yang bermutu. Dengan memahami kehebatan dan keindahan peran dan juga

karakter yang dibawakan oleh para aktor, penonton akan lebih muda memahami inti dari suatu cerita yang disampaikan. Oleh sebab itu keberhasilan dari suatu pertunjukan teater, tidak hanya bergantung dari nama besar sutradara, isi cerita yang dimainkan, tetapi juga para pemainnya dalam menjalankan peran yamg dimainkannya. Salah satu keluarga yang memegang peranan penting dalam memerankan peran-peran dalam Kabuki, selain Tsuruya Nanboku, Chikamatsu Monzaemon, Kawatake Mokuami, dan Sakata Tanjuuro, yaitu keluarga Ichikawa Danjuuroo. Keluarga ini telah menurunkan kemampuan akting mereka dampai generasi ke 12. Kehadiran keluarga ini mempunyai keistimewaan bagi masyarakat Edo maupun Tokyo bahkan mereka memeberi julukan kepada keluaga mereka sebagai Edokko(anak-anak Edo). Dari sinilah muncul opini masyarakat bahwa pemain Kabuki adalah turun temurun hanya dari satu keluarga saja.

Meskipun demikian, semuanya harus memenuhi aturan. Sesuai dengan salah satu persyaratan yang telah ditentukan oleh Pemarintah Bakufu, maka semua pemain Kabuki haruslah pria. Namun dalam pementasan ada diantara pemain harus memainkan peranan sebagai wanita. Peran wanita dalam drama Kabuki disebut onnagata atau tateoyama. Walaupun para pemain wanita itu sesungguhnya adalah para pria tapi mereka dapat berperan dengan baik sehingga dalam penampilannya sulit dipercaya bahwa mereka adalah pria.

Terdapat 3 jenis tingkatan peran wanita, dalam drama Kabuki yaitu: - Hime dan Machimusume, yaitu peranan sebagai wanita muda. - Okugata dan Sewayobo, yaitu peranan sebagai wanita dewasa. - Fukeoyama, yaitu peranan sebagai wanita tua.

Para tokoh memainkan perannya sesuai dari urutannya yaitu dari muda hingga tua dan mereka berperan secara turun temurun. Dalam bermain drama Kabuki, para orang tua wajib membimbing dan menentukan peran anak-anaknya, apakah perannya menjadi Tachiyaku(= peran pria) atau Tateoyama(=peran wanita). Singkatannya, mereka bermain sesuai dengan tingkatan usianya. Anak- anak yang memerankan suatu peran disebut Koyaku(peran anak).

Dalam seni peran drama Kabuki, istilah mie merupakan suatu hal yang penting yang tidak boleh terlewatkan, karena mie merupakan klimaks dari suatu akting dengan pose yang mengagumkan yaitu sikap seperti patung dengan mata yang melotot. Dengan kata lain, mie juga merujuk kepada seorang pemain yang menghentikan aktifitasnya sejenak untuk mencapai klimaks emosi didalam akting yang diperankannya. Selain itu dalam drama Kabuki dikenal juga adanya 2 jenis peran dasar yang terdiri dari 2 jenis wagoto dan aragoto. Wagoto adalah jenis dasar drama Kabuki yang mencerminkan realitas kehidupan mesyarakat kota yang berkembang di daerah Kansai. Karakter utamanya berperan naturalis dan pokok ceritanya berkisar tentang kisah cinta pria dan wanita. Sedangkan aragoto adalah jenis peran yang mencerminkan semangat masyarakat kota di daerah Edo yang berwatak sombong, kasar dan beridiologi kuat.

Peran aragoto biasanya diinplementasikan kadalam cerita-cerita kepahlawanan, kegagahan, semangat yang menggebu-gebu, sehingga hamper cenderung kasar tanpa adanya unsure yang lemah lembut seperti peran wagoto. Itulah sebabnya riasan para pemain aragoto lebih cenderung berwarna merah terang, biru dan hitam. Warna-warna riasan tersebut disebut kumadori yang melambangkan kekuatan dahsyat atau kekuatan manusia yang luar biasa.

b. Opera Batak

Pada awalnya Opera Batak diamainkan secara grup dan tanpa adanya teks/naskah yang sudah digarap atau dicipta, akan tetapi atas penunjukan karakter, maka opera batak sebagai pertunjukan dimulai.

Dalam opera batak dalam merekrut pemain ada 3 jenis pemain, yaitu; 1. pemain regenasi

Yang dimaksut dengan pemain regenasi adalah pemain muda yang direkrut dari berbagai elemen masyarakat, seperti;

- Petenun - Tukang - Pengawai honorer - Muda/mudi gereja - Pengangguran - Pelajar/ mahasiswa dll

Jumlah pemain regenasi ada sebanyak 80 orang. 2. pemain rekontruksi

maksudnya adalah pemain-pemain lama yang merupakan sisa dari pemain opera batak lama. Jumlah pemain rekontruksi ada sebanyak 40 orang.

3. pemain inopasi

Yang dimaksud dengan pemain ini adalah pemain gabungan teater modern dan merupakan pemain lintas kultulral. Dengan prinsip ‘semangat opera batak’. Jumlah pemain inopasi adalah kurang lebih 20 orang.

Perekrutan pemain opera batak ini biasanya disosialisasikan dengan menggunakan jasa media elektronik maupun multi media. Kurangnya pemain

dalam pementasan Opera, kadang juga melibatkan sutradara merangkap sebagai pemain.

Drama Kabuki dan Opera Batak mengalami banyak perkembangan, namun tidak bagitu pada perkembangan para pemainnya. Terutama perkembangan para pemain dalam Kabuki. Dari dahulu yang menjadi permasalahan dalam Kabuki adalah pemainnya. Sehingga disepakati pemain Kabuki hanya dilakukan Oleh laki-laki saja. Namun juga disitulah letak keistimewaannya. Karena peran sebagai wanita di perankan oleh seorang pria yang sangat persis dengan seorang wanita. Dan biasanya pemain Kabuki juga turun-temurun.

Namun tidak begitu pada para pemain Opera Batak, semakin hari para pemainnya sangat berkembang. Yang dulunya para pemainnya hanya orang Batak saja kini sudah dilakonkan juga oleh suku-suku lain dan para pemainnya juga sangat berfariasi. Sesuai dengan cerita yang dipentaskan. Misalnya peran anak- anak akan dimainkan oleh anak-anak juga. Begitu juga peran orang dewasa seperti peran seorang ayah juga diperankan oleh seorang bapak. Sehingga membuat pementasan Oper Batak semakin berkembang bukan hanya di kalangan masyarakat suku Batak saja.

3.4 Kostum dan Tatarias

Dokumen terkait