• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kota Pekanbaru

Dalam dokumen JOHN VITER SKRIPSI ANALISIS PENGARUH 3 (Halaman 87-94)

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1) Kota Pekanbaru

Pada Tabel 5.8 dapat dilihat bahwa Pekanbaru memiliki nilai intersep tertinggi dibandingkan daerah lainnya yaitu sebesar 0.649968. Adapun persamaan yang diperoleh adalah sebagai berikut:

YPEKANBARU = 0.649968 + PER_EFFECT - 49.522322

+0.167072*AMH_PEKANBARU+ 0.322856*RLS_PEKANBARU+ 0.538023*AHH_PEKANBARU

Secara simultan, angka melek huruf, rata-rata lama sekolah dan angka harapan hidupberpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Pekanbaru. Secara statistik, ini dapat diartikan bahwa jika terjadi peningkatan angka melek huruf sebesar 1 persen, rata-rata lama sekolah sebesar 1 tahun dan angka harapan

hidup sebesar 1 tahun maka akan meningkatkan sebesar 64,99 persen dalam pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru.

Hasil ini kemudian menjawab hipotesis penelitian bahwa Kota Pekanbaru adalah daerah yang paling banyak menerima manfaat dari 3 indikator pembangunan manusia terhadap pertumbuhan ekonominya.Hal ini kemudian diperkuat oleh hasil penelitian yang telah dilakukan Muhammad Hidayat, Lapeti Sari dan Nobel Equaldo (2011) yang menjelaskan bahwa secara individu variabel bebas yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Kota Pekanbaru adalah variabel Tenaga Kerja.Perkembangan jumlah tenaga kerja masih menjadi faktor yang sangat penting dalam menentukan laju pertumbuhan ekonomi di Kota Pekanbaru. Perkembangan tenaga kerja tersebut seharusnya diiringi dengan peningkatan dari tenaga kerjanya sehingga kemampuan tenaga kerja tersebut sesuai dengan kualitas kebutuhan pasar tenaga kerja dan pada akhirnya dapat diserap oleh lapangan kerja yang tersedia.

Pada umumnya penduduk yang tersebar di berbagai sektor perekonomian yang memperkerjakan banyak orang dapat menghasilkan barang dan jasa yang cukup besar.Untuk mengetahui sektor perekonomian yang menghasilkan barang dan jasa cukup besar dapat dilakukan dengan analisis sektor basis.Berdasarkan

penelitian yang dilakukan Kornita (2009), dengan judul “Analisis Ekonomi Basis

dan Potensi Sinergi Pembangunan Kabupaten Kampar dan Pekanbaru”

menghasilkan perhitungan nilai Location Quotion berdasarkan konstribusi PDRB, yaitu: 1)SektorListrik,Gas, dan Air Minum, 2)Bangunan/Konstruksi,

Komunikasi, 5)Sektor Jasa-jasa dan 6)SektorPerdagangan, Hotel dan Restoran merupakan sektor basis kota Pekanbaru.

2) Kabupaten Bengkalis

Pada Tabel 5.8 menunjukkan nilai intersep Kabupaten Bengkalis sebesar 0.198090 yang menjelaskan bahwa ada pengaruh pembangunan manusia terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Bengkalis. Secara statistik, ini dapat diartikan bahwa jika terjadi peningkatan pada angka melek huruf sebesar sebesar 1 persen, rata-rata lama sekolah sebesar 1 tahun dan angka harapan hidup sebesar 1 tahun maka akan meningkatkan sebesar 19,80 persen dalam pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bengkalis. Sehingga dapat ditulis persamaan sebagai berikut:

YBENGKALIS = 0.198089+ PER_EFFECT - 49.522322 +

0.167072*AMH_BENGKALIS + 0.322856*RLS_BENGKALIS + 0.538023*AHH_BENGKALIS

Kemudian Penulis meninjau persentase pertumbuhan sektoral pada PDRB Kabupaten Bengkalis tahun 2011-2014, dan diketahui bahwa:1)Sektor Pengadaan Listrik dan Gas, 2)Sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor, 3)Sektor Informasi dan Komunikasi, 4)Sektor Jasa Keuangan dan Asuransi, 5)Sektor Jasa Perusahaan dan 6)Sektor Jasa Lainnya. Keenam sektor tersebut mendominasi pertumbuhan dan PDRB Kabupaten Bengkalis.

3) Kota Dumai

Pada Tabel 5.8 diketahui nilai intersep Kota Dumai sebesar 0.083758 yang menjelaskan bahwa adanya pengaruh pembangunan manusia terhadap pertumbuhan ekonominya. Secara statistik, ini berarti jika terjadi peningkatan pada angka melek huruf sebesar 1 persen, rata-rata lama sekolah sebesar 1 tahun dan angka harapan hidup sebesar 1 tahun maka akan meningkatkan sebesar 8,37

persen dalam pertumbuhan ekonomi Kota Dumai. Sehingga dapat dituliskan persamaan sebagai berikut:

YDUMAI = 0.083758 + PER_EFFECT - 49.522322 + 0.167072*AMH_DUMAI + 0.322856*RLS_DUMAI + 0.538023*AHH_DUMAI

Setelah melakukan peninjauan terhadap PDRB Kota Dumai tahun 2010-2014, sektor industri pengolahan adalah sektor ekonomi yang dominan dalam PDRB Kota Dumai. Di Kota Dumai terdapat 4 perusahaan industri pengolahan minyak kelapa sawit yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, yaitu PT. Bukit Kapur Reksa, PT. Nagamas Palm Oil, PT. Wilmar Group dan PT. Inti Benua Perkasatama. Perekonomian Kota Dumai terkena imbas dari penurunan harga kelapa sawit yang terjadi pada tahun 2009-2013. Namun perekonomian Kota Dumai masih ditopang oleh sektor transportasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi makan minum, jasa keuangan, dan jasa lainnya. Sektor-sektor tersebut mengalami pertumbuhan yang cukup baik.

4) Kabupaten Indragiri Hilir

Intersep Kabupaten Indragiri Hilir sebesar -0.129781 menjelaskan bahwa pembangunan manusia berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonominya.Secara statistik dapat dijelaskan bahwa jika terjadi peningkatan angka melek huruf sebesar 1 persen, rata-rata lama sekolah sebesar 1 tahun dan angka harapan hidup sebesar 1 tahun maka akan menurunkan sebesar 12,97 persen dalam pertumbuhan ekonomi Kabupaten Indragiri Hilir. Sehingga dapat ditulis dengan persamaan sebagai berikut:

Kemungkinan yang dapat menjelaskan mengapa tiga indikator pembangunan manusia berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Indragiri Hiliradalah karenamasyarakat di daerah itu memilih untuk lebih terampil daripada lebih pintar. Keterampilan itu lebih diserap ke sektor pertanian sehingga perlambatan pertumbuhan ekonomi yang disebabkan oleh anjloknya harga kelapa sawit yang terjadi pada tahun 2009-2013 karena Kabupaten Indragiri Hilir merupakan daerah yang memiliki basis ekonomi pada sektor pertanian.Berdasarkan data Pusdatin Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian(2014),produksi kelapa sawit di Kabupaten Indragiri Hilir berkontribusi sebesar 9,29 persen dari produksi nasional. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Silaban, Edwina dan Eliza (2015) berjudul “Analisis Sektor Basis

dan Perkembangunan SektorPertanian di Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau Tahun 2008-2012” yang menjelaskan bahwa sektor basis Kabupaten Indragiri Hilir adalah sektor pertanian.

5) Kabupaten Siak

Daerah Kabupaten Siak memiliki nilai intersep -0.802035 yang menyatakan bahwa pembangunan manusia berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonominya.Secara statistik menjelaskan bahwa jika terjadi peningkatan pada angka melek huruf sebesar 1 persen, rata-rata lama sekolah sebesar 1 tahun dan angka harapan hidup sebesar 1 tahun maka akan menurunkan sebesar 80,20 persen dalam pertumbuhan ekonomi Kabupaten Siak. Sehingga dapat ditulis dengan persamaan sebagai berikut:

YSIAK = -0.802035 + PER_EFFECT - 49.522322 + 0.167072*AMH_SIAK + 0.322856*RLS_SIAK + 0.538023*AHH_SIAK

Kemungkinan yang dapat menjelaskan mengapa tiga indikator pembangunan manusia berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Siakadalah karena masyarakat di Kabupaten Siak dominan lebih memilih untuk menjadi masyarakat yang lebih terampil daripada lebih pintar. Pada dasarnya keterampilan dapat dipelajari secara otodidak. Keterampilan ini dominan terserap ke sektor pertanian. Sehingga ketika sektor pertanian itu mengalami gejolak ekonomi, perekonomian daerah ini juga terkena imbas. Produksi kelapa sawit di Kabupaten Siak lebih besar dibandingkan Kabupaten Indragiri Hilir, kelapa sawit berperan besar dalam perekonomian Kabupaten Siak.Berdasarkan data Pusdatin Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian(2014), produksi kelapa sawit di Kabupaten Siak berkontribusi sebesar 12,35 persen terhadap produksi nasional.Sebagaimana dengan penelitian yang dilakukan oleh Prawira dan Hamidi (2013) berjudul “Transformasi Struktur

Ekonomi Kabupaten Siak Tahun 2001-2010” yang menjelaskan bahwa basis ekonomi Kabupaten Siak adalah pada sektor industri namun sektor pertanian masih menjadi sektor dominan yang berkontribusi pada PDRB Kabupaten Siak. 5.2.6. Keterbatasan Penelitian

Dalam penelitian ini, Penulis masih menemukan keterbatasan penelitian. Keterbatasan penelitian ini adalah keterbatasan pengumpulan data. Data sekunder yang dikumpulkan yaitu data angka melek huruf, rata-rata lama sekolah, angka harapan hidup dan pertumbuhan ekonomi yang dihitung menggunakan Produk Domestik Regional Bruto tahun 2004-2013 (harga konstan 2000). Terdapat dua

penelitian lebih terperbaharui dari aspek penggunaan data. Adapun dua variabel tersebut diantaranya:

1) Angka Melek Huruf

Data angka melek huruf terbatas sampai tahun 2013. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan metodologi Indeks Pembangunan Manusia yang kemudian mengganti angka melek huruf menjadi harapan lama sekolah. Dengan memasukkan rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah diharapkan akan mampu mendapatkan gambaran yang lebih relevan dalam pendidikan dan perubahan yang terjadi.

2) Pertumbuhan Ekonomi

Data pertumbuhan ekonomi yang dihitung dengan menggunakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) harga konstan 2000 terbatas sampai tahun 2013. Hal ini disebabkan karena untuk Produk Domestik Bruto tahun 2014 sudah menggunakan harga konstan 2010. PDRB harga konstan 2010 sudah mengalami perubahan tidak hanya pada harga konstan saja tetapi juga pada konsep dan metodologinya. Sehingga PDRB harga konstan 2010 sulit untuk estimasikan ke PDRB harga konstan 2000.

BAB VI

Dalam dokumen JOHN VITER SKRIPSI ANALISIS PENGARUH 3 (Halaman 87-94)

Dokumen terkait