I. GERAKAN PEREMPUAN
Akar historis wacana dan gerakan pemberdayaan perempuan di PMII menjadi sebuah kesadaran di dalam organisasi sejak lama. Fakta nyata dapat di jumpai bermunculnya wadah dan forum kajian kesetaraan gender di struktur PMII meski sangat dirasa setengah hati di tengah situasi kentalnya budaya patriarki. Di mana sebuah wadah yang massif mengawal pemberdayaan kaderisasi perempuan. Pewacanaan kesetaraan peran laki-laki dan perempuan ini muncul tahun 1980-an. Dalam konteks PMII, kehadiran wacana gender tidak hanya dipahami sebuah paket pengetahuan yang bersifat tunggal dan bebas nilai. Namun, tetap pada posisi awas dengan tetap beradaptasi dan disesuaikan dengan nilai kearifan lokal.
Pemiskinan sistemik memang masih dirasakan perempuan hingga kini, dalam bidang ekonomi termarjinalkan, aras politik perempuan dinomorduakan, penikmat pembangunan terdiskriminasi, pendidikan mahal, sembako semakin tidak terjangkau, kesehatan tak pernah mendapat pelayanan maksimal. Itulah sebabnya kembalinya ruh gerakan pemberdayaan kaderisasi putri seperti halnya di lingkungan PMII sejatinya merupakan bagian integral upaya mewujudkan cita-cita bangsa untuk ikut menyejahterakan dari pelaku hingga penikmat atas pembangunan untuk masyarakat Indonesia seutuhnya. Langkah pemberdayaan kaderisasi putri dengan optimalisasi kemampuan potensi kader menjadi titik focus arah kaderisasi dengan multi interdisipliner.
Memandang jauh awal mula gerakan gender masih menunjukkan lemahnya kemampuan gerakan perempuan saat itu untuk membangun satu konsep perjuangan perempuan yang menyeluruh dan utuh. Belajar dari sejarah inilah bagaimana warga pergerakan di lingkungan PMII sudah saatnya bergeser dari ritme rutinitas organisasi yang
“gambyang” dan segera merubah arah perlintasan jauh dari zaman terdahulunya. Posisi
KOPRI dalam ranah gerakan perempuan, tidak hanya terfokus pada persoalan perempuan di PMII. Akan tetapi bagaimana secara utuh warga pergerakan dalam konteks kaderisasi ataupun dalam, bermasyarakat secara utuh mampu mengawal dan menjadi garda depan menciptakan tatanan penguatan kaderisasi perempuan yang memiliki karakter pribadi yang kuat, cerdas, berkepribadian tinggi, dan awas.
Besar harapan pengawalan kader yang menjadi tugas bersama secara utuh untuk tingkatan cabang, komisariat dan rayon ini mampu menciptakan kepemimpinan perempuan yang progresif, dan mempunyai tanggung jawab besar dalam mengawal setiap proses yang
ada dalam bangsa ini dengan memegang teguh Ahlussunnah Waljamaa’ah dan nilai-nilai
dasar pergerakan yang tetap menjadi ruh gerakan dalam perjalanan KOPRI.
II. STRATEGI KADERISASI KOPRI
KOPRI dalam perjalananya mengalami banyak pasang surut. Dari setiap pertemuan Nasional dari berbagai event dari Konsulnas dijakarta sampai dengan Kongres Di Banjar Baru. Sahabat – sahabat PMII masih mempermasalahkan tentang status yang ada di tubuh PMII. Padahal tuntutan dari kader perempuan di PMII harus siap bersaing dengan era globalisasi. Dimana dibutuhkan skill yang mendukung seorang kader dan kemapanan psikologi pada diri kader.
Alhasil pada Kongres Di Banjar Baru posisi KOPRI ditubuh PMII adalah Badan semi otonom yang secara hukum susah untuk diterjemahkan. Posisi KOPRI hari ini sejajar dengan unsure pimpinan di setiap level kepegurusan, dan disetiap level kepengurusan nama lembaga perempuan harus bernama KOPRI. Dan ini sangat berseberangan sekali dengan sahabat-sahabat di Jateng. Dimana tidak semua lembaga bernama KOPRI. Hal ini yang mengakibatkan kita hari ini agak susah untuk menemukan formulasi yang mapan tentang kaderisasi perempuan sampai pada level terbawah.
RUANG pengkaderan putri di Kota Semarang sangat heterogen, dimana komisariat yang aktif di Kota Semarang yang berjumlah 7, dan 1 Komisariat yang kurang aktif membuat kewalahan dalam mengawal kaderisasi, terutama sahabati-sahabati untuk bisa sampai aktif ditingkatan cabang. Kecenderungan basis kampus yang beragam, realitas kehidupan kampus yang pastinya berbeda, membutuhkan format pengembangan kaderisasi yang berbeda pula. Namun, inti pengkaderan adalah penggojlokan terhadap diri kita sendiri. Menguji ketahanan, siapa yang kuat yang nantinya akan tetap berjalan. Sering kali sahabati-sahabati di PMII terjebak pada persoalan pribadi yaitu cepat lulus dan menikah sehingga pilihan untuk aktif sampai tingkatan cabang itu jarang. Dari beberapa hasil pertemuan dengan sahabati-sahabati perlu adanya percepatan kader perempuan pada setiap level kepengurusan.
1. Pengembangan Internal
Pengembangan organisasi internal merupakan upaya peningkatan kapasitas sumber daya kader perempuan PMII dalam rangka mendorong penguatan kelembagaan organisasi. Meliputi :
a. Penguatan Institusi KOPRI dan wadah perempuan di struktur PMII
b. Penguatan Ideologi Ahlusunnah Waljama’ah dan paradigma sebagai sumber anatomi gerakan.
c. Pembenahan peraturan organisasi, managemen organisasi dan administrasi organisasi.
d. Penguatan intelektualitas kader, menggiatkan kembali ngangsu kawruh sebagai upaya memperkuat institusi dan pribadi untuk mencapai tujuan organisasi. Seperti road show, diskusi mendalam, diskusi terbatas dan olah mata dengan membaca literature yang di sepakati bersama tentang tokoh ulama, tokoh intelektual, sejarawan, dsb.
e. Penguatan resources dengan pembinaan, pendidikan, dan pelatihan penguatan SDM kader putrid. Misal; Workshop Konselor, Pelatihan Gender Budgeting, Pendidikan Monitoring dan Problem Solver, Diklat Instruktur Kaderisasi Putri, Enterpreneurship Bisnis Women dengan bidikan pengembangan kapasitas diri kader.
f. Memunculkan Srikandi (kelompok perempuan) sebagai simpul konsolidasi gerak dan penyampai maksud dan penyepaham gerakan secara kolektif.
2. Pengembangan Eksternal KOPRI
Pengembangan Organisasi Eksternal adalah upaya Aksi dan konsolidasi gerakan KOPRI dalam rangka menuju masyarakat yang berkeadilan gender, Meliputi :
1. Advokasi Undang-Undang / kebijakan yang sensitif Gender.
2. Konsolidasi gerakan perempuan secara massif di semua level dalam gerakan isu bersama.
3. Menagawal tentang kesehatan reproduksi pada remaja
4. Distribusi kader perempuan PMII pada ruang-ruang strategis.
5. Penguatan jejaring alumni, gerakan perempuan dan media sebagai upaya publikasi penguatan gerakan perempuan.
6. Ajak serta dinas – dinas terkait dengar pendapat dan menfasilitasi kegiatan yang langsung bersentuhan dengan masyarakat tingkat bawah.
7. Komunikasi aktif dengan ORMAS pemberdayaan perempuan (IPNU/IPNNU, Fatayat, Muslimat, Aisyiah, Pemuda Muhammadiyah), LSM yang fokus pada korban dan pemberdayaan perempuan (LRC-KJHAM, PERISAI, SERUNI, LBH Semarang, KPI, PATTIRO, SETARA, dll), Akademisi (PSG - Pusat Study Gender).
8. Pelibatan aktif kader untuk meneliti, mengamati proses peran perempuan pada kunci aspirasi politik.
KEPUTUSAN KONFERENSI CABANG XXXVI