• Tidak ada hasil yang ditemukan

REALITAS KEMAHASISWAAN (PMII)

Dalam dokumen Materi Konfercab (Halaman 30-33)

Mahasiswa menyadari bahwa mereka adalah ” Lapisan Paling Maju ” dan dengan

demikian menentukan watak kepemimpinan bangsa di masa depan yang bertanggungjawab terhadap transformasi sosial dalam skala besar. Kesadaran yang sudah menyatu dengan aliran darah setiap generasi muda bangsa, kian lama akan mengkristal menjadi perlawanan tak kenal lelah. Dialektika sejarahpun mendorong terbentuknya pemahaman untuk gerak bersama, menentukan langkah dalam menghadapi tantangan global dan nasional.

Sampai saat ini, kita sering menyaksikan meningkatnya intensitas gerakan mahasiswa dalam melancarkan aksi protes terhadap kebijakan pemerintah maupun sekedar aksi solidaritas yang di tujukan untuk membangkitkan semangat melawan bentuk-bentuk

kekerasan, baik dalam maupun luar negeri. Bukan hanya itu, arus besar hiruk pikuk perselingkuhan sebagian aktifis mahasiswa dengan kepentingan politik praktis, yang ternyata

justru menyurutkan moralitas sebagian mahasiswa Indonesia, termasuk aktivis PMII dalam ” Menaklukkan Monster Kampus” maupun penjahat yang membungkus idealisme dengan Pragmatisme.

Dalam konteks inilah PMII di tuntut untuk melakukan pengamatan dan pembacan global serta melancarkan aksi-aksi strategis guna mengkontrol jalanya roda pemerintahan dan menggiring pada terwujudnya cita-cita reformasi.

Berbarengan dengan proses pematangan kesadaran politis dan militansi melakukan aksi-aksi langsung ini, PMII menghadapi beberapa soal sehubungan dengan kelanjutan gerakan dan militansi perjuangan. Dimana beberapa kelompok melihat mutlaknya kebutuhan untuk bergabung dengan sektor-sektor lain di masyarakat seperti buruh, tani dll, karena menyadari predikat PMII yang disini adalah mahasiswa bukanlah sebagai kelas yang tersendiri dari masyarakat.

Masalah lain seperti; pematangan diri secara organisasional, kaderisasi, hubungan antar kelompok mahasiswa, prioritas issue yang mau di angkat juga menuntut untuk segera di selesaikan. Belum lagi menyikapi kelompok-kelompok politis tertentu yang kadang menggunakan tawar-menawaran ( wani piro ??? ) yang ”menggoda” yang justru menghancurkan independensi gerakan dan atau moral yang tentu saja ada di tiap mahasiswa; tentang kehadiran di ruang kuliah, ujian semester, SKS minimal yang harus di penuhi, tugas-tugas kuliah, dan masalah akademis lain, adalah hal esensial yang tidak bisa di hindari dengan alasan-alasan politis seperti diatas, yang mana hal tersebut merupakan persoalan yang membelit gerakan saat ini.

Dari sebuah kenyataan diatas muncul hal yang menggelisahkan dalam perkembangan gerakan dalam konteks eksternal, gerakan sosial politik mengkondisikan gerakan mahasiswa dalam posisi yang nyaris mengalami disorientasi. Tidak tahu lagi apa yang mau di lakukan, kesulitan melakukan kontekstualisasi dalam konstelasi politik nasional yang begitu cepat mengalami pergeseran. Banyak issue-issue kritis yang di respon dan pada akhirnya terjebak pada issue-issue mikrokospis. Dalam konteks internal di hadapkan oleh fenomena dekonsolidasi organisasi yang membuat kita begitu sulit mematerialkan aganda-agenda gerakan, cairnya organisasi, problem kaderisasi, dan lemahnya konsolidasi gerakan yang membuat ketidaksinergisan gerak, kondisi ini mengalami proses percepatan hingga

”terkapar” kehilangan basis moralitas karena berselingkuh dengan politik kekuasaan.

Sehingga membatasi secara stuktural dinamika gerakan.

Di sinilah peran PMII, dimana sebagai satu organ gerakan mahasiswa yang memiliki legitimasi moral memimiliki tanggung jawab untuk mentransformasikan ke tengah publik dimana dalam lingkar hiruk pikuk politik nasional yang serba membodohkan dan gemparan kekuatan modal global yang menggerogoti moral resources kita. Maka PMII harus menyiapkan kader yang militant dan bermoral yang di bekali kekuatan kepemimpinan

memadai dan sesekali melancarkan serangan sporadik terhadap kebijakan yang tidak populis dan menjadikannya sebagai program minimalis gerakan.

Ada beberapa point yang perlu menjadi catatan PMII Kota Semarang dalam mengembangkan gerakan yang akan datang yaitu;

 Bangunan jaringan yang ada selama ini kebanyakan hanya masih berkutat pada

”kelompok” internal atau dalam lingkungan NU baik dari partai politik, LSM ataupun stakeholder person yang masih dekat dengan NU. PMII belum secara luas membangun jejaring luar yang sebenarnya juga banyak berpengaruh dalam perubahan di masyarakat.

Memahami positioning PMII diluar juga harus dimaknai sebagai warring position (arena pertarungan). Dalam arena ini PMII maupun kadernya secara langsung ataupun tidak pasti bertarung dengan entitas lain baik dalam eksistensi organ, wacana berpengetahuan maupun dalam proses perubahan yang dicita-citakan. Disinilah kader PMII harus mulai memahami rule of the game yang harus dilakukan agar sesuatu tujuan dapat tercapai dengan maksimal.

 Relasi yang seharusnya dibangun oleh PMII juga harus melihat kapasitas internal yang dimiliki PMII, sehingga jejaring yang dibangun akan mempunyai struktur pondasi yang kuat dan strategis.

 Dalam proses “ada” dan ”hadir” bagi masyarakat, PMII harus menemukan wilayah

mana yang akan menjadi orientasi gerakan dengan melihat kemampuan wilayah garapan. Apakah wilayah advokasi kebijakan publik (dalam kasus-kasus tertentu, seperti advokasi Pedagang Kaki Lima, advokasi Penggusuran, buruh dan lainnya) ataukah organisir massa yang berkutat dalam wacana intelektual tanpa ada gerakan yang nyata.

Media massa yang selama ini menjadi salah satu stakeholder kuat dalam proses perubahan dalam masyarakat, karena dapat mempengaruhi publik dengan dasyat, ternyata belum menjadi garapan yang serius dari PMII. Realitas ini terbaca dari

lemahnya jejaring yang dipunyai PMII dari kalangan media massa, sehingga ”pesan”

yang ingin disampaikan kepada masyarakat tidak terjangkau secara luas.

PMII sebagai salah satu stakeholder pergerakan harus dapat maksimal membangun jejaring sesama stakeholder lain yang juga berperan penting dalam proses perubahan bangsa ini, seperti partai politik, NGO, birokrasi, pengusaha, media (pers) dan lainnya, dan bukan hanya berkutat pada lingkungan NU saja.

Dalam bidang eksternal ada beberapa hal yang mendesak dilakukan oleh PMII dalam rangka sebagai sebuah wujud gerak yang ada dengan penuh kesadaran dalam memandang kenyataan.

PMII DAN BEBERAPA PERSOALAN DI MASYARAKAT

Dalam dokumen Materi Konfercab (Halaman 30-33)

Dokumen terkait