BAB III : SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL PEMBERIAN KREDIT
C. Penilaian Resiko
1) Resiko lingkungan artinya resiko yang berkaitan dengan lingkungan perbankan terutama yang berkaitan dengan lingkungan luar.
2) Resiko manajemen artinya yang berkaitan resiko dari dalam perusahaan.
3) Resiko penyerahan artinya juga yang berkaitan dengan kondisi internal bank.
4) Resiko keuangan artinya juga yang berkaitan dengan kondisi internal dan eksternal bank”.
Upaya yang cermat dilakukan oleh pihak manajemen PT. Xxx Kantor Wilayah Medan untuk mengidentifikasi jenis-jenis resiko yang berkaitan dengan
perusahaan, baik yang berhubungan dengan kemampuan debitur dalam membayar kredit, jaminan, tindakan pesaing, kondisi politik, kondisi perekonomian, dan peristiwa alam. Semua ini mengarah pada suatu tujuan yaitu memperkirakan resiko-resiko yang terjadi dalam upaya meminimumkan resiko kredit macet.
Ini berarti bahwa setiap resiko diidentifikasikan sesuai dengan tujuan perusahaan. Dan penaksiran resiko atau penelitian resiko selalu diiringi dengan cara-cara menanggulanginya dengan satu solusi. Misalnya dalam meminimumkan resiko kredit, resikonya adalah besarnya resiko yang ditimbulkan dari kredit tersebut. Hal ini bisa disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor external. Faktor internal adalah bisa saja mungkin pihak analisis kredit salah dalam menganalisis nilai jaminan / agunan. Dan kemungkinan pihak salesman kurang gencar dalam mempromosikan produk, atau mungkin karyawan kurang kompeten. Sedangkan faktor externalnya adalah kondisi alam seperti terjadinya bencana alam yang menyebabkan nilai jaminan / agunan menjadi rusak, kondisi perekonomian, tindakan dari pesaing, dan kondisi politik.
Hal ini bisa saja terjadi dan hal ini juga telah dipikirkan oleh pihak perusahaan. Seiring dengan dipikirkan sebab dan akibat dari resiko ini, perusahaan juga memikirkan bagaimana cara menanggulanginya. Salah satunya mungkin dengan membuat beberapa program pelatihan kepada karyawan bagian penjualan dan analisis kredit atau dengan memberikan insentif kepada karyawan yang berhasil mencapai target dalam pemasaran kredit agar mereka termotivasi dalam pencapaian target pemasaran kredit tersebut.
Sistem informasi pada PT. xxx Kantor Wilayah Medan memberikan peranan penting terhadap kinerja mereka, pengembangan sumber daya manusia, dan nilai tambah lainnya. PT. xxx Kantor Wilayah Medan menggunakan sistem terintegrasi yang menghubungkan seluruh aspek bisnis dan manfaatnya sangat dirasakan oleh seluruh komunitas bisnis mereka.
Pada PT. xxx Kantor Wilayah Medan terdapat alat untuk menyampaikan informasi agar informasi tersebut dapat sampai ke PT. xxx Kantor Pusat secara akurat. Misalnya, informasi tentang realisasi penjualan yang telah dicapai dalam sebulan, hal ini disampaikan melalui email yang dikirim ke PT. Xxx Pusat. Begitu juga PT. xxx Pusat mereka akan mengirim email kepada PT. Xxx Kantor Wilayah Medan untuk menyampaikan informasi tentang berapa penjualan yang harus dicapai dalam setiap bulan, peraturan-peraturan yang harus dipatuhi, prosedur-prosedur dalam pemberian kredit dan lain-lain.
Seiring dengan adanya informasi, komunikasi juga merupakan hal yang sangat penting karena komunikasi merupakan suatu proses penyampaian yang terlibat dalam pelaporan keuangan. Komunikasi yang dibangun oleh perusahaan untuk mendukung penjualan adalah komunikasi dua arah, salah satu contohnya adalah komunikasi antara bagian penjualan dan bagian kredit analisis yaitu untuk memastikan bahwa calon debitur memenuhi persyaratan kredit atau tidak. Contoh lainnya adalah komunikasi antara pelanggan dengan perusahaan yang tertuang dalam layanan konsumen. Pada PT. xxx Kantor Wilayah Medan, terdapat customer service sistem yaitu sistem pelayanan pelanggan yang didesain untuk meningkatkan kepuasan dan loyalitas konsumen secara terus menerus terhadap
produk-produk kredit konsumen dengan menyediakan pelayanan yang original kepada seluruh pelanggan berdasarkan kebutuhan mereka masing-masing.
D. Analisis pengendalian internal dalam pemberian kredit
Menurut Arens (2008:324) “ sistem pengendalian internal terdiri atas kebijakan dan prosedur yang dirancang untuk memberikan manajemen kepastian yang layak bahwa perusahaan telah mencapai tujuan dan sasarannya”.
Setiap tahapan proses pemberian kredit pada PT. xxx Kantor Wilayah Medan senantiasa dilaksanakan sebagaimana mestinya dengan menerapkan prinsip kehati-hatian. Hal ini disebabkan karena pemberian kredit merupakan salah satu produk PT. xxx yang mengandung resiko yang akan merugikan bank dan dapat mempengaruhi kepentingan masyarakat penyimpan dana dan para pengguna jasa perbankan lainnya, walaupun dilaksanakan berdasarkan prinsip syariah. Prinsip kehati-hatian dalam pemberian kredit terdapat pada analisis kualitatif dan kuantitatif, dan termasuk dalam melakukan peninjauan langsung ke lapangan atas kelayakan usaha debitur.
Menurut miskhin (2006:125) “Analisis kualitatif dilakukan terhadap karakter pemohon, latar belakang dan kualitas manajemennya. Selain itu juga dilakukan penilaian terhadap kualitas dan stabilitas usaha dengan mempertimbangkan posisi pasar, persaingan serta prospek usaha. Analisis kuantitatif digunakan untuk melakukan analisa kelayakan modal dan kapasitas perusahaan yang akan diberikan kredit dan jaminan yang diserahkan debitur untuk mendukung permohonan pemberian kredit. Agar analisis lebih akurat kedua metode analisis dikombinasikan”.
Pemberian kredit harus melalui prosedur yang telah ditetapkan oleh bank untuk menghindari resiko kredit. Prosedur pemberian kredit ada tiga tahap penting yaitu analisis dan evaluasi kredit, pengusulan kredit, putusan / persetujuan kredit.
Aktivitas pngendalian merupakan kebijakan dan prosedur yang digunakan untuk memastikan bahwa tujuan pengendalian pihak manajemen tercapai.
Prosedur-prosedur pengendalian intern pada PT. xxx Kantor Wilayah Medan juga mencakup kelima kategori berikut ini.
a. Pemisahan tugas yang memadai
Pemisahan tugas diperlukan untuk mengurangi kemungkinan bagi seseorang untuk melakukan kesalahan dan kecurangan. Pada PT. xxx Kantor Wilayah Medan pemisahan tugas diimplementasikan sebagai berikut:
a) pemisahan fungsi penjualan dari fungsi analisis dan mailing room b) fungsi analisis kredit dan mailing room dari fungsi appraisal c) fungsi appraisal dari fungsi administrasi
d) fungsi administrasi dari fungsi collection e) fungsi collection dari fungsi umum
b. Otorisasi transaksi dari kegiatan yang memadai
Otorisasi membatasi aktivitas transaksi atau kinerja-kinerja hanya pada orang yang terpilih. Pada PT. xxx Kantor Wilayah Medan, otorisasi mencegah terjadinya transaksi dan aktivitas-aktivitas yang tidak diotorisasi. Otorisasi sering kali didokumentasikan sebagai penandatanganan, pemberian tanda paraf, atau memasukkan kode otorisasi atas dokumen atau catatan transaksi. Misalnya, dalam pencairan dana kredit, bagian administrasi menerima formulir permohonan kredit
dan dokumen-dokumen pendukung lainnya yang telah diceklis oleh bagian analisis kredit dan mailing room, penyedia appraisal, dan penyedia collection.
c. Dokumen dan catatan yang memadai
Prosedur-prosedur harus mencakup perancangan penggunaan dokumen dan catatan yang memadai untuk membantu meyakinkan adanya pencatatan transaksi dan kejadian-kejadian secara memadai. Dokumen ini dapat berbentuk formulir-formulir yang berbeda, mulai dari dokumen kertas biasa, seperti prosedur pemberian kredit, formulir pengajuan kredit sampai dengan media application software pada PT. xxx Kantor Wilayah Medan. Dokumen dan catatan yang memadai adalah dokumen dan catatan yang:
a) berseri
b) harus didesain dengan sederhana dan multiguna c) harus menyediakan otorisasi dan persetujuan d. Pengendalian fisik asset dan catatan
Asset pada PT. xxx Kantor Wilayah Medan bukan hanya fisik seperti uang dan perlengkapan, akan tetapi informasi juga merupakan asset terpenting bagi PT.
xxx Kantor Wilayah Medan. Oleh sebab itu, harus diambil langkah-langkah untuk menjaga asset baik berupa informasi maupun fisik. Adapun penjagaan asset yang dilakukan oleh PT. xxx Kantor Wilayah Medan adalah, pertama; memisahkan tugas secara efektif. Kedua; memelihara catatan asset termasuk informasi secara akurat. Ketiga; membatasi akses secara fisik ke asset, seperti adanya penjagaan keamanan lemari berisi password komputer.
e. Pemeriksaan independen atas kinerja
Pemeriksaan internal merupakan elemen paling penting untuk memastikan seluruh transaksi diproses secara akurat. Pemeriksaan ini harus independen, karena pemeriksaan pada umumnya akan lebih efektif jika dilaksanakan oleh orang lain yang tidak bertanggung jawab atas jalannya operasi yang diperiksa. PT.
xxx Kantor Wilayah Medan juga mengadakan pemeriksaan independen atas kinerja yang dilakukan setiap tahun sekali. Pemeriksaan independen yang dilakukan oleh PT. xxx Kantor Wilayah Medan yaitu dilakukan oleh unit kepatuhan yang memeriksa apakah prosedur-prosedur pemberian kredit sudah benar-benar telah dilakukan.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Sistem pengendalian internal dalam pemberian kredit pada PT. xxx Kantor Wilayah Medan telah berjalan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan yakni pemisahan tugas, pemisahan dokumen.
2. Sistem pengendalian internal dalam pemberian kredit telah berjalan sesuai dengan yang ditetapkan.
3. Prosedur pemberian Kredit yang ditetapkan oleh PT. BNI telah sesuai dengan prosedur pemberian kredit yang ditentukan.
B. Saran
1. Menurut penulis, pengendalian intern atas Kredit pada PT. xxx Kantor Wilayah Medan sudah cukup baik, namun untuk lebih menyempurnakan pengendalian intern atas Pemberian Kredit PT. xxx Kantor Wilayah Medan khususnya pada bagian analisis kredit sebaiknya manajemen terus mengadakan pelatihan dan pendidikan.
2. Dalam proses perkreditan harus lebih efektif dan efisien untuk mencapai kepuasan nasabah dalam pelayanan perbankan sehingga tingkat profitabilitas dapat ditingkatkan namun tetap memperhatikan tingkat bunga.
3. Sebaiknya perusahaan lebih berhati-hati lagi dalam memilih nasabah yang akan diberikan Kredit sehingga tidak tejadi lagi piutang tak tertagih dan biaya dapat diminimumkan sekecil mungkin.
DAFTAR PUSTAKA
Arens, Alvin A. Elder, Rendal J, DKK. 2008. Auditing dan Jasa Assurance.
Jakarta :Erlangga.
Ismail. 2011. Akuntansi Bank teori dan aplikasi dalam rupiah. Jakarta: Prenada Media Group.
Irmayanto, Juli, 2004. Bank dan Lembaga Keuangan, Edisi Revisi, Penerbit Universitas Trisakti, Jakarta.
Kasmir. 2013. Bank dan Lembaga Keuangan Lainya. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Lubis, Irsyad. 2010. Bank & lembaga Keuangan Lain. Medan : USU Press Manullang, Randeksa. 2015. Manajemen Lembaga keuangan. Medan :Fakultas
Ekonomi Unimed.
Miskhin, Frederic. S. 2006. Ekonomi Uang, Perbankan dan Pasar Keuangan.
Jakarta: Salemba Empat.
Tono, Suwidi. DKK. 2000. Menuju independensi Bank Sentral. Jakarta : PT.
Mardi mulyo.
Untung, H. Budi. 2005. Kredit Perbankan di Indonesia. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.