DAN HUKUM PIDANA ISLAM
A. Kriminalisasi dalam Perspektif Hukum Positif
Dalam memberikan pengertian kriminalisasi kita perlu mempelajari ilmu kriminologi, karena kriminalisasi merupakan bagian dari ilmu kriminologi. Abdussalam dalam bukunya ”kriminologi”melihat bahwa objek dari kriminologi adalah kesatu adalah kejahatan kedua adalah pelaku atau penjahat ketiga adalah reaksi masyarakat.17
Kriminologi berasal dari kata crimen yang berarti kejahatan dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Jadi kriminologi adalah ilmu/pengetahuan tentang kejahatan yang secara umum berarti kriminologi untuk mempelajari kejahatan dari berbagai aspek sehingga diharapkan dapat memperoleh pemahaman mengenai fenomena kejahatan dengan lebih baik.18
17
Abdussalam, Kriminologi, (Jakarta : Restu Agung, 2007), h. 15. 18
Dalam kamus bahasa Indonesia kejahatan adalah prilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku yang telah disahkan oleh hukum tertulis (hukum pidana).19
Istilah kejahatan dalam pengertian tata bahasa adalah suatu tindakan atau perbuatan yang jahat. Seperti orang yang menderita perbuatan yang jahat seperti pembunuhan, pencurian, perampokan termasuk di dalamnya penipuan dan lain sebagainya yang dilakukan oleh manusia.
Para pakar dalam ilmu kriminologi, sebagai orang yang ahli dalam ilmu mengenai kejahatan banyak membuat rumusan tentang kejahatan. Antara lain seperti yang di ungkapkan oleh W.A. Bonger (1936), seperti yang dikutip oleh Soerjono Soekanto mengemukakan bahwa kejahatan merupakan perbuatan anti sosial yang secara sadar mendapat reaksi terhadap rumusan-rumusan hukum mengenai kejahatan. Pengertian ini senada dengan Sutherland (1949), yang menekankan bahwa ciri pokok dari kejahatan adalah perilaku yang dilarang oleh negara, oleh karena merupakan perbuatan yang merugikan negara, dan terhadap perbuatan tersebut negara bereaksi dengan hukuman sebagai suatu upaya pamungkas. 20
19
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Kamus Besar Bahasa Indonesia , Cet. III, (Jakarta: Balai Pustaka. 1990), h. 344.
20
Soerjono Soekanto, Kriminologi Suatu Pengantar, Cet. II, ( Bandung : Ghalia Indonesia. 1986), h. 21.
Melihat dari dua pengertian di atas, ada empat point yang dapat diambil dan bisa dijadikan sebagai unsur-unsur dari sebuah kejahatan yaitu :
1. Adanya suatu tindakan kesengajaan;
2. Merupakan perbuatan yang melanggar hukum;
3. Yang dilakukan tanpa adanya suatu pembelian atau pembenaran yang diakui secara hukum; dan
4. Yang diberikan sanksi oleh negara berupa hukuman dari pelanggaran yang dilakukan.
Sedangkan Abdulsyani dalam bukunya ”sosiologi kriminalitas” melihat bahwa pengertian kejahatan dapat dilihat dari beberapa aspek, diantaranya :
1. Kejahatan ditinjau dari aspek yuridis ialah bahwa jika seseorang dinyatakan melakukan pelanggaran terhadap peraturan pidana dan ia dinyatakan bersalah oleh pengadilan dengan disertai pemberian hukuman. Pada aspek yuridis ini, apabila pelaku pelanggaran belum dijatuhi hukuman, maka pelaku tersebut belum bisa dikatakan sebagai penjahat. 2. Kejahatan ditinjau dari aspek sosial bahwa apabila seseorang tidak bisa
menyesuaikan diri dalam lingkungan masyarakatnya dan dengan sadar atau tidak sadar telah menyimpang dari norma-norma yang berlaku. Sehingga ia dinyatakan telah berbuat yang tidak dibenarkan oleh masyarakat yang bersangkutan.
3. Kejahatan ditinjau dari aspek ekonomi bahwa apabila seseorang membebankan kebutuhan hidupnya kepada orang lain dan menyebabkan
orang lain merasa terganggu yang pada akhirnya kebahagiaan orang lain terhambat karena perbuatannya.21
Salah satu sarjana kriminologi yang bernama Thoesten Sellin berpendapat bahwa kriminologi tidak hanya mencakup pada pelanggaran dan kejahatan sebagaimana yang telah ditentukan dalam hukum pidana, akan tetapi bahwa kriminologi harus diperluas dengan memasukan conduct norm (norma-norma kelakuan) yaitu norma-norma tingkah laku yang telah digariskan oleh berbagai kelompok-kelompok masyarakat. Sebagaimana diketahui ”conduct norm” dalam masyarakat mencakup norma kesopanan, norma susila, norma adat, norma agama, norma hukum. Jadi objek studi kriminologi tidak hanya menyangkut tingkah laku yang tidak disukai oleh masyarakat, meskipun tingkah laku tersebut bukan merupakan suatu pelanggaran dalam hukum pidana.22
Kriminalisasi (criminalization) dalam ilmu kriminologi adalah sebuah proses saat terdapat sebuah perubahan perilaku individu-individu yang cenderung untuk menjadi pelaku kejahatan dan menjadi penjahat.23 Akan tetapi dalam perkembangan penggunaannya kriminalisasi mengalami neologisme, yaitu menjadi sebuah keadaan saat seseorang dapat dinyatakan sebagai pelaku kejahatan atau penjahat oleh karena adanya sebuah pemaksaan interpretasi atas
21
Abdulsyani, Psikologi Krimialitas, (Bandung : Remadja Karya, 1987), h. 11.
22
Topo Santoso, Kriminologi, Cet. III, ( Jakarta : Raja Grafindo, 2002), h. 2.
23Wikipedia, “Kriminalisasi”
artikel diakses pada 07 Januari 2010 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kriminalisasi.html
perundang-undangan melalui anggapan mengenai penafsiran terhadap perlakuan sebagai kriminalisasi formal dalam peraturan perundang-undangan.24 Sebagai contoh dalam perseteruan KPK dan polisi, kata kriminalisasi digunakan media untuk mendefinisikan upaya polisi menjerat pemimpin KPK.25
Dalam Kamus Hukum Internasional dan Indonesia kriminalisasi adalah proses yang memperhatikan prilaku yang semula tidak dianggap sebagai peristiwa pidana tetapi kemudian digolongkan sebagai peristiwa pidana oleh masyarakat,26 sedangkan dalam kamus hukum lain mendefinisikan bahwa kriminalisasi adalah proses semakin banyaknya sikap yang dianggap sebagai kejahatan oleh hukum pidana atau perundang-undangan pidana.27
Dalam kamus Black Law Dictionary menjelaskan bahwa criminalization adalah the rendering of an act criminal (e.g. by statutory enactment) and hence punishable by the government in proceeding in its name yang artinya bahwa kriminalisasi adalah perbuatan dalam bentuk pidana contohnya karena perbuatannya itu, maka berdasarkan undang-undang dan melalui pemerintahan
24
Patrialis Akbar, “Tidak Ada Kriminalisasi KPK” artikel diakses pada 07 Januari 2010 dari
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/10/30/14413653/patrialis.tidak.ada.kriminalisasi.kpk
25
DetikNews, “Polri Ingin Selamatkan Diri dari Kriminalisasi KPK”artikel diakses pada 07 Januari 2010 dari http://www.detiknews.com/read/2009/10/30/120119/1231698/10/polri-ingin-selamatkan-diri-dari-kriminalisasi-kpk
26
Soesilo Prayogo, Kamus Hukum Internasional dan Indonesia , (Jakarta: Wacana Intelektual, 2007), h. 266.
27
mendapatkan sanksi.28 Sedangkan dalam Kamus Bahasa Indonesia, kriminalisasi adalah proses yang memperlihatkan prilaku yang semula tidak dianggap sebagai peristiwa pidana, tetapi kemudian digolongkan sebagai peristiwa pidana.29 Sedangkan Abdussalam dalam bukunya ”kriminologi” melihat bahwa pengertian kriminalisasi adalah pandangan serta tanggapan masyarakat terhadap perbuatan atau gejala yang timbul di masyarakat yang dipandang sebagai merugikan atau membahayakan masyarakat luas tetapi undang-undang belum mengaturnya.30
Proses penyusunan konsep, yang meliputi juga proses kriminalisasi dan dekriminalisasi dalam konsep tidak berangkat dari “titik nol”, artinya bukan tanpa bahan. Konsep kriminalisasi berawal dari Tim Basaroedin yang telah menyusun Konsep Buku II (tentang Kejahatan) dan Konsep Buku III (tentang Pelanggaran). Konsep ini tersusun pada tahun 1977 dan dikenal dengan “Konsep BAS”. Sistematika dan materi Konsep ini bersumber dari KUHP (WvS) yang berlaku dengan penyesuaian dan penambahan beberapa delik baru. Jadi, Kebijakan penyusunan delik-delik (kriminalisasi) di dalam konsep selama ini mengambil dari tiga sumber bahan yang sudah ada sebelumnya yaitu terdiri dari:
1. KUHP (Wvs) yang masih berlaku, 2. Konsep BAS tahun 1977,
28
Henry Campbell, Black Law Dictionary, (USA : West Publisthing co), h. 374.
29
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia , Cet. III, (Jakarta : Balai Pustaka, 2005), h. 600.
30
3. Undang-undang di luar KUHP.31
Salah seorang sarjana kriminologi yang bernama H. Mannheim terhadap kriminalisasi menyatakan bahwa terdapat berbagai bentuk perubahan anti sosial yang tidak dijadikan tindak pidana dan banyak di antaranya yang seharusnya tidak boleh dijadikan tindak pidana.
1. Bahwa efisiensi dalam menunjukkan undang-undang pidana banyak tergantung pada adanya dukungan dan masyarakat luas, sehingga harus diselidiki apakah tentang kelakuan yang bersangkutan itu ada sikap yang sama dalam masyarakat.
2. Sekalipun ada sikap yang sama maka harus diselidiki pula apakah tingkah laku yang bersangkutan merupakan tingkah laku yang penindakannya secara teknis sangat sulit atau tidak. Sebab apabila ini terjadi akan menimbulkan manipulasi dalam pelaksanaanya.
3. Perlu diingat pada apakah tingkah laku yang bersangkutan sebenarnya merupakan sesuatu yang tidak sesuai untuk dijadikan objek hukum pidana artinya apakah nantinya tidak terlalu banyak mencampuri urusan kehidupan pribadi dari individu.
Kebijakan kriminalisasi pada hakikatnya merupakan bagian dari kebijakan kriminal dengan menggunakan sarana hukum pidana, dan dalam kriminalisasi itu sendiri harus berusaha melakukan harmonisasi dengan sistem hukum pidana atau
31
Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Hukum Pidana Perkembangan Penyusunan KUHP Baru, (Jakarta : Kencana, 2008), h. 231-232.
aturan pemidanaan umum yang sedang berlaku saat ini yang mana bertujuan agar kebijakan kriminalisasi dapat diterima oleh masyarakat.32
Kebijakan kriminalisasi merupakan suatu kebijakan dalam menetapkan suatu perbuatan yang semula bukan tindak pidana menjadi suatu tindak pidana, kebijakan kriminalisasi merupakan bagian dari kebijakan kriminal dengan menggunakan sarana hukum pidana.33
Adapun upaya kebijakan melakukan pencegahan dan penanggulangan kejahatan tidak terlepas dari kebijakan sosial yang terdiri dari kebijakan atau upaya-upaya untuk kesejahteraan sosial dan kebijakan upaya-upaya perlindungan masyarakat, adapun aspek yang sangat penting untuk kesejahteraan atau perlindungan masyarakat adanya nilai kepercayaan, kebenaran, kejujuran dan keadilan. Untuk menanggulangi kejahatan dapat dilakukan dengan cara pendekatan integral yang dilakukan dengan cara menyeimbangkan sarana penal dan non penal.34
Sedangkan dasar pembenaran untuk mengkriminalisasi suatu perbuatan sebagai tindak pidana lebih banyak terletak di luar bidang hukum pidana artinya dasar pembenaran tersebut berkaitan dengan faktor-faktor yang termasuk dasar
32
Barda Nawawi Arief, Pembaharuan Hukum Pidana dalam Perspektif Kajian Perbandingan, (Bandung: Citra Aditya Bhakti, 2005), h. 127.
33
Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana, (Bandung: Citra Aditya Bhakti, 2003), h. 240.
34
Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan, (Jakarta: Kencana, 2008), h. 78.
pembenaran tersebut adalah faktor nilai, ilmu pengetahuan, dan faktor kebijakan. Nilai-nilai atau kaidah-kaidah sosial yang menjadi sumber pembentukan kaidah hukum pidana meliputi nilai-nilai dan kaidah-kaidah agama, serta norma-norma budaya yang hidup dalam kesadaran masyarakat.
Hukum pidana mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan moral, khususnya pengaruh nilai-nilai dan kaidah-kaidah hukum pidana. Hubungan moral dan hukum pidana menambahkan diri terutama pada norma-norma prilaku yang diatur oleh hukum pidana, tetapi moral juga mengatur prilaku tersebut, apabila perbuatan-perbuatan amoral dijadikan sebagai perbuatan illegal menurut hukum pidana berarti ada kesesuaian antara kaidah moral dan kaidah hukum pidana. Hubungan hukum pidana dan moral melahirkan konsepsi kejahatan mala in se dan mala prohibita.35