BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Kerangka Teoritis
2.2.3. Kriminologi Feminis
Sebagai upaya untuk memahami keputusan perempuan untuk mengambil bagian di dalam kebudayaan metal underground, penelitian ini juga memerlukan analisis feminis sebagai penguat analisisnya. Hal ini dikarenakan dalam penelitian ini melihat keberadaan perempuan di dalam kelompok subkultur yang menampilkan citra-citra maskulinitas di dalamnya. Selain itu, perspektif feminis menjadi sangat penting untuk memaknai keputusan ini sebagai bentuk counter-culture bagi perempuan untuk mengkritik struktur sosial budaya yang ‘patriarkis’
di masyarakat, yang juga menjalar hingga ke ranah musik.
Mustofa (2010), dalam Kriminologi: Kajian Sosiologi terhadap Kriminalitas, Perilaku Menyimpan dan Pelanggaran Hukum, menjelaskan kriminologi feminis berkembang sebagai kritik atas kecenderungan karya-karya pada tahun 1970-an yang banyak menghasilkan penelitian tentang kejahatan yang dilakukan oleh perempuan, dan dikritik sebagai bias gender karena memandang perempuan yang melanggar hukum sebagai penyimpang ganda, yakni pertama karena dia perempuan yang secara sosial tidak diharapkan melakukan pelanggaran, dan yang kedua karena pelanggarannya itu sendiri. Kriminologi yang ada saat itu adalah kriminologi laki-laki yang melihat masalah kejahatan dan pengendalian kejahatannya dalam perspektif laki-laki (Mustofa, 2010: 152). Kemudian, Mustofa (2010) merujuk pada karya Smart merumuskan pangkal tolak dari feminisme, yaitu pengalaman, namun bukan sekadar pengalaman saja. Pengalaman feminisme yang dimaksud adalah pengalaman perjuangan dalam menghadapai penindasan, yang akan memberikan pemahaman yang lebih lengkap dan kurang terdistorsi dibandingkan perspektif dari kelompok laki-laki penguasa (Mustofa, 2010: 156).
Henry dan Lanier (2004) menyatakan para pemikir feminis meyakini bahwa pemikiran kriminologi mainstream yang tradisional tidak sanggup dalam menjelaskan pola-pola perilaku kejahatan yang melibatkan perempuan di dalamnya karena mereka mengabaikan struktur masyarakat yang terbangun oleh gender yang menghasilkan patriarki. Selanjutnya, Henry dan Lanier (2004) merujuk pada pernyataan Miller yang berpendapat bahwa kriminologi feminis meletakkan studi mengenai kejahatan dan peradilan pidana ke dalam sebuah
pemahaman kompleks yaitu dunia sosial yang secara sistematis dibentuk oleh hubungan antara jenis kelamin dan gender (Henry dan Lanier, 2004: 292).
Kemudian, Henry dan Lanier (2004) merujuk pada Kathleen Daly dan M. Chesney-Lind dalam membedakan antaran kajian kriminologi feminis dan kajian kriminologi lainnya dan hubungannya dengan sifat gender, yakni terdapat lima aspek pembeda: (1) gender adalah sebuah konstruksi secara sosial, historis, dan kultural yang terbentuk pada perbedaan jenis kelamin secara biologis dan kapasitas reproduktifnya; (2) gender dan hubungan-hubungan gender merupakan pengatur fundamental dari institusi-institusi sosial dan kehidupan sosial; (3) hubungan-hubungan gender dan konstruksi sosial mengenai maskulinitas dan femininitas didasarkan pada asumsi bahwa laki-laki adalah superior terhadap perempuan dan hal ini tercermin pada dominasi laki-laki pada institusi-institusi sosial, ekonomi dan politik; (4) apa yang diterima begitu saja sebagai pengetahuan alam dan sosial adalah pengetahuan laki-laki,dan hasil dari pengetahuan tersebut ter-gender-kan; dan (5) perempuan harus berada pada pusat pencarian intelektual dan tidak berfungsi sebagai sesuatu yang bukan pokoknya, hanya tambahan yang tidak terlihat bagi laki-laki. Kegagalan dalam mengakui politik gender ini telah dihasilkan dalam pandangan yang rabun terhadap kejahatan –juga penyimpangan–
dan peradilan pidana yang gagal untuk menunjukkan beberapa ciri yang paling khas dari politik gender tersebut (Henry dan Lanier, 2004: 292).
Penelitian ini menggunakan dua kajian feminis, yakni feminis radikal-libertariandan feminis sosialis. Tong (2009), dalam bukunya Feminist Thought: A More Comprehensive Introduction (Third Edition), mengatakan para feminis radikal-libertarian mengklaim bahwa indentitas gender yang secara eksklusif ditempelkan pada perempuan kemungkinan besar membatasi perkembangan perempuan sebagai seorang manusia secara utuh (Tong, 2009: 50). Pada dasarnya feminis radikal-libertarian menolak asumsi adanya hubungan yang pasti antara jenis kelamin seseorang dengan gender seseorang. Mereka justru menyatakan bahwa gender adalah sesuatu yang terpisah dengan jenis kelamin, dan masyarakat patriarkal menggunakan peran gender yang kaku untuk memastikan bahwa perempuan tetap pasif (penuh kasih sayang, penurut, ceria, ramah, dll) dan laki-laki tetap aktif (kuat, agresif, ambisius, bertanggung jawab, kompetitif, dll). Oleh
karenanya, untuk menghancurkan kekuasaan laki-laki yang tidak layak atas perempuan adalah dengan, pertama, menyadari bahwa perempuan tidak ditakdirkan untuk menjadi pasif, seperti juga laki-laki tidak ditakdirkan untuk menjadi aktif, dan kemudian mengembangkan kombinasi apa pun dari sifat-sifat feminin dan maskulin yang paling baik merefleksikan kepribadian unik mereka masing-masing (Tong, 2009).
Selanjutnya, adalah analisis feminis sosialis. Feminisme sosialis dikatakan sebagai upaya untuk menggabungkan pemikiran feminisme Marxis dan feminisme radikal (Vold, Bernard, Snipes: 1998: Lanier dan Henry, 2004; Tong, 2009). Feminis sosialis menguji kekuatan-kekuatan kapitalisme dan patriarki yang saling berhubungan dan saling bergantungan yang mendorong adanya kejahatan oleh laki-laki dan opresi, subordinasi, dan penjajahan terhadap perempuan (Henry dan Lanier, 2004). Henry dan Lanier mengutip Jagar yang mencatatkan bahwa kontribusi khas dari feminis sosialis adalah pengakuannya yang mengatakan bahwa perbedaan-perbedaan antara laki-laki dan perempuan tidaklah terberi begitu saja, melainkan terkonstruksi secara sosial dan oleh karenanya dapat berubah (Henry dan Lanier, 2004: 304).
Feminisme sosialis menolak adanya pemisahan pekerjaan yang kaku antara laki-laki dan perempuan, baik dalam lingkup dunia kerja maupun dalam lingkup keluarga, yang hanya didasari oleh pertimbangan jenis kelaminnya (Eisenstein, 1979). Pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin nampak sudah universal dalam sejarah manusia dan dalam masyarakat pembagian berdasarkan jenis kelamin tersebut bersifat hierarkis, dengan laki-laki di atas dan perempuan di bawahnya (Eisenstein, 1979). Status perempuan yang lebih tidak diuntungkan dalam dunia kerja dan penetapan pemisahan pekerjaan beradasarkan jenis kelamin disadari adalah buah dari proses interaksi yang panjang antara patriarki dan kapitalisme. Persepektif ini melihat sistem patriarkal telah ada sebelum kapitalisme di mana laki-laki mengatur pekerjaan perempuan dan anak-anak dalam keluarga, dan laki-laki mempelajari teknik-teknik organisasi dan penguasaan hierarkis dari sistem patriarkal tersebut untuk diterapkan ke dalam kapitalisme (Eisenstein, 1979).
Lebih jauh lagi, Eisenstein (1979) mengatakan bahwa pemisahan jenis pekerjaan berdasarkan jenis kelamin merupakan mekanisme utama dalam masyarakat kapitalis yang memelihara superioritas dari laki-laki terhadap perempuan, karena pemisahan tersebut melaksanakan upah yang lebih rendah untuk perempuan dalam pasar tenaga kerja. Upah rendah tersebut, menurut Eisenstein (1979), menjaga perempuan untuk tetap bergantung pada laki-laki karena mereka mendorong perempuan untuk menikah. Perempuan yang menikah harus melakukan pekerjaan domestik untuk suami mereka. Kemudian, laki-laki diuntungkan baik dari upah yang lebih besar dan dari pembagian kerja domestik. Pembagian kerja domestik tersebut melemahkan posisi perempuan dalam pasar tenaga kerja. Karenanya, pembagian kerja domestik yang hierarkis tersebut diabadikan oleh pasar tenaga kerja, dan sebaliknya. Proses ini merupakan hasil dari interaksi yang berkelanjutan antara dua sistem yang berpautan, yakni kapitalisme dan patriarki (Eisenstein, 1979: 208).