• Tidak ada hasil yang ditemukan

Psychotic Angels: Transformasi dari Emo menuju Metal

Dalam dokumen Penampil Perempuan dalam Musik Metal Und (Halaman 64-69)

BAB IV. TEMUAN DATA LAPANGAN

4.1. Psychotic Angels: Transformasi dari Emo menuju Metal

Pada bagian ini peneliti akan memaparkan bagaimana transformasi band Psychotic Angels ini yang pada awal dibentuk beraliran emo, seiring berjalannya waktu, memutuskan untukmenjadi beraliran metal dalam bermusiknya. Psychotic Angels yang dibentuk pada tahun 2005, pada awalnya memilih aliran emo dalam menyuguhkan musik mereka. Hal ini dikarenakan pada saat itu band-band dengan aliran emo sedang mengalami naik daun. Berawal dari intensitas berkumpul bersama yang tinggi dengan rekan-rekan musisi lainnya di Bogor, Chacha bersama dengan sahabatnya, Iniz, melihat bahwa di Bogor belum ada satu band

dengan personel seluruhnya adalah perempuan di skena musik ‘keras’ saat itu.

Oleh karena itu, Chacha dengan teman-temannya berinisiatif untuk membuat sebuah gebrakan dalam skena musik keras di Bogor, yakni dengan membentuk band dengan personel perempuan semua, yaitu Psychotic Angels.

“Psychotic Angels (PA) itu pas pertama banget itu sebenernya gue. Itu awal-awal pas SMA. Eee, waktu itu gue punya sahabat nih, namanya Iniz, kita berdua itu dari dulu emang suka ngeband. Terus pas SMA itu yang lagi ngehits-nya itu emo, itu lagi hits banget kan. Nah pas waktu itu awalnya gue bentuk band gue ini alirannya emo, sama-sama keras kan ya

itu pokoknya.” (Wawancara bersama Chacha, 1 November 2015)

“Nah abis itu awalnya sih ngumpul, ngumpul, ngumpul, eh kita kenapa

nggak bikin band cewek ya? Waktu itu posisinya drummer gue, bertiga, eh, iya drummer, gitaris, bassist, eh baru tiga tuh awalnya, nah terus mereka ada ide ya udah deh bikin cewek semua gitu, kayaknya seru deh. Daripada kita cowok-cowok semua gitu kan, maksudnya kenapa sih kita nggak coba bikin gitu. Soalnya di Bogor juga belom ada kan yang cewek

semua.” (Wawancara bersama Chumi, 11 Oktober 2015)

Namun demikian, aliran emo yang diusung pertama kali oleh Psychotic Angels tidaklah bertahan lama. Hal ini dikarenakan keluarnya salah satu vokalis

mereka sehingga hanya menyisakan satu vokalis, yakni Chumi yang spesialisasinya adalah melakukan vokal scream. Karena tidak ada laginya clean vokalis dalam band mereka, demi tetap berjalannya band yang telah mereka bentuk ini, Psychotic Angels berinisiatif untuk menggeser jalur bermusik mereka dengan mengganti aliran menjadi metal. Saat itu, Chacha juga sedang menyukai band Wall of Jericho, band heavy metal yang memiliki vokalis seorang perempuan. Kemudian, band Wall of Jericho tersebut dijadikan Chacha untuk mengisnpirasi Chumi sebagai vokalis. Keputusan Psychotic Angels mengganti aliran mereka menjadi metal juga didasari oleh faktor masing-masing personel yang memang menyukai musik metal sehingga tidak begitu mengalami kesulitan ketika melakukan transisi aliran musik.

“Maksudnya, daripada nggak jalan kan, terus dipikir, pikir, pikir, kenapa sih kita nggak coba ambil metal aja gitu kan…” (Wawancara bersama

Chumi, 11 Oktober 2015)

“…dulu di band gue kan vokalisnya itu ada dua, yang satu vokal biasanya, yang satu lagi scream doang. Nah, setelah yang vokalis biasanya ini keluar karena dia juga udah kerja, akhirnya cuma scream doang nih… Akhirnya kita memutuskan untuk main di metal karena emang basicnya kita juga sama-sama suka metal…” (Wawancara bersama Chacha, 1 November

2015)

“Ya udah kita ganti aliran aja yu gitu haha. Gue lagi suka sama ada band namanya Wall of Jericho, itu keren banget, vokalisnya cewek, cocok nih kalo buat inspirasinya si Chuminya lah gitu kan. Bisa nih kita bawain lagunya, pada suka juga kok akhirnya. Emang kita pada dasarnya suka sama musik-musik keras, jadi pas kita mau beralih juga nggak masalah.”

(Wawancara bersama Chacha, 1 November 2015)

Selain karena keluarnya salah satu vokalis mereka, suasana metal dalam musik mereka juga mulai terasa sejak masuknya Onenk sebagai gitaris. Onenk yang pada dasarnya memang memiliki ketertarikan yang tinggi dengan musik metal memiliki pengaruh yang lebih terhadap perubahan aliran bermusik dari

Psychotic Angels. Onenk sendiri mengaku, dalam bermusik, jiwanya adalah metal dan sudah sangat cocok dengan musik metal.

“Sampe gitaris yang kemaren itu, yang Onenk masuk, dia influence-nya metal kan, emang anak metal dasarnya, ya udah akhirnya ya udah deh, yaa dia dateng dan gue juga udah mulai bisa screaming gitu misalnya, udah lumayan lancar-lancar akhirnya ya udah deh kita metal aja deh.”

(Wawancara bersama Chumi, 11 Oktober 2015)

“…pas udah kenal musik metal sih lebih suka ke musik metal. Jadi jiwanya ke metal karena udah, apa ya, jiwanya ya, lebih cocok ke metal sih.” (Wawancara bersama Onenk, 6 November 2015)

Ketika pertama kali memutuskan untuk beraliran metal, para personel Psychotic Angels sempat memiliki keraguan dalam diri mereka masing-masing. Keraguan mereka terletak pada apakah mereka sanggup membawakan musik metal dengan baik karena pada awalnya mereka tidak begitu mahir mengikuti permainan musik metal. Namun demikian, hal tersebut justru menjadi motivasi tersendiri bagi para personel untuk terus berlatih dan memantapkan diri mengusung aliran metal dalam band mereka. Keinginan membuat gebrakan di dalam skena musik keras Bogor juga menjadi alasan utama mereka, karena menurut mereka dengan membawakan musik metal akan membuat musik yang

diperdengarkan terasa lebih ‘gahar’.

“…Awalnya sih mungkin kita emang yang, kayak bisa nggak ya? Bisa nggak ya? Yang dulunya cuma main di (kord) E kan gitu, kalo sekarang mainnya yang udah di Drop gitu kan, awalnya juga pasti ada proses sih, awalnya juga kita nggak ada yang begitu mahir dengan alat musiknya gitu. Semuanya jadi niat, ya udah bawa metal aja. Kayaknya lebih, lebih, lebih gahar deh kayaknya kalo metal kan daripada screamo.” (Wawancara

bersama Chumi, 11 Oktober 2015)

Chacha mengatakan bahwa keputusan mereka membawakan musik metal dikala musik emo sedang mengalami naik daun saat itu justru menjadi nilai

tambah tersendiri bagi bandnya. Melihat pada jarangnya perempuan yang berkecimpung di dalam skena musik metal Bogor, bagi Chacha keberadaan Psychotic Angels, yang personelnya adalah perempuan semua, justru menguatkan posisi perempuan di dalam skena musik metal di sana.

“…waktu itu lagi rame-ramenya emo, kita bener-bener metal sendiri gitu kan, jadi malah jadi kayak apa ya, rame aja gitu, jadi nilai tambah banget gitu. Nambah excitement orang juga gitu. Cewek-cewek main band metal. Jadi, kesan ceweknya itu bukan malah melemahkan, malah menguatkan kita gitu, karena jarang di Bogor.” (Wawancara bersama Chacha, 1

November 2015)

“Nah, waktu pertama kali itu kita kayak yang ngasih gebrakan gitu. Karena di Bogor band cewek semua yang metal tuh jarang, malahan kayaknya gue baru denger band gue doang gitu. Ya mungkin sebelumnya pernah ada, cuman nggak lama gitu kan. Cuma mereka kayak yang ngasih nilai tambah sendiri sih, orang-orang juga jadi pada sering nonton.”

(Wawancara bersama Chacha, 1 November 2015)

Hingga kini, menurut mereka, Psychotic Angels menjadi satu-satunya band beraliran metal dengan personel perempuan seluruhnya yang berada di sekitar Jabodetabek. Onenk mengatakan sebelumnya ada juga band asal Jakarta yang memiliki konsep yang serupa dengan band mereka, yakni band metal dengan personel perempuan seluruhnya, yaitu Vendetta. Akan tetapi, kini band tersebut sudah tidak aktif lagi. Oleh karena itu, band perempuan yang mengusung aliran metal kini tersisa mereka saja. Mereka juga mengatakan bahwa sebenarnya saat ini sudah cukup banyak perempuan yang berkarier di dalam musik metal, namun kebanyakan hanya menjadi bagian dari band yang personel lainnya adalah laki-laki, seperti misalnya hanya menjadi vokalis, gitaris, bassist, atau drummer-nya saja. Sejauh ini tidak dijumpai lagi perempuan yang membentuk band dengan personel keseluruhannya adalah perempuan.

“Wah kayaknya udah enggak ada deh, di Bogor aja dari dulu juga kayaknya cuma kita doang deh…” jawab Chacha. “Iya. Kalo yang cuma

vokalis gitu ada, enggak ada kalo yang semuanya sih,” tambah Chumi. “Yang di Jakarta dulu kan ada, apa tuh namanya, Vendetta. Tapi udah

enggak maen lagi deh kayaknya dari 2012-an. Jember tuh ada hahaha

Malang juga,” Onenk menambahkan. (Catatan Lapangan, 4 Oktober 2015) “Iya. Kalo metal iya. Sebelum gue belum ada… tapi yang kesini-sininya mulai ada sih yang gitarisnya aja cewek atau vokalisnya aja yang cewek, tapi yang full cewek kayaknya, setau gue, selama ini, kalo metal ya, eee nggak ada.” (Wawancara bersama Chumi, 11 Oktober 2015)

Selanjutnya, dengan terjun ke dalam musik metal, Chumi, Chacha, dan Onenk, memiliki keinginan untuk menunjukkan kepada khalayak bahwa mereka sebagai perempuan juga bisa berkarya di dalam musik metal dan memiliki skill yang tidak kalah dengan musisi laki-laki. Selain itu, Psychotic Angels ini muncul sebagai gebrakan dari pandangan lama mengenai skena musik metal yang menganggap musik metal merupakan musik para lelaki. Dan juga muncul sebagai suguhan alternatif terhadap skena musik metal di Bogor, khususnya.

“Yang pertama sih kita nunjukkin kalo kita ini cewek semua punya skill.”

(Wawancara bersama Onenk, 6 November 2015)

“Secara nggak langsung sih iya. Karena memang dasarnya waktu bikin band ini kan kita mikirnya kenapa kita nggak bikin yang cewek semua ya, awalnya sih kita pasti nggak pede, anjir bawain metal lagi nih. Bisa nggak ya? Bisa nggak ya? Kayak gitu. Eee, tapi setelah dijalanin kan bisa, kita tunjukin juga gitu.” (Wawancara bersama Chumi, 11 Oktober 2015)

“Yang mau dibawa sih sebenernya ya itu, kita emang pengen buktiin kalo ya kita cewek-cewek pun juga bisa main musik metal, nggak kalah sama band-band cowok gitu. Ya pengen orang kenal lagu kita, pesan-pesan dari lirik yang kita bawakan juga bisa sampe, gitu…” (Wawancara bersama

Dalam dokumen Penampil Perempuan dalam Musik Metal Und (Halaman 64-69)