• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penampil Perempuan dalam Musik Metal Und

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penampil Perempuan dalam Musik Metal Und"

Copied!
177
0
0

Teks penuh

(1)

PENAMPIL PEREMPUAN DALAM MUSIK

METAL

UNDERGROUND:

SEBUAH KAJIAN KRIMINOLOGI

BUDAYA DAN FEMINIS

SKRIPSI

I GUSTI NGURAH ADITIA TJANDRA ASMARA 1106082501

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN KRIMINOLOGI

(2)

PENAMPIL PEREMPUAN

DALAM MUSIK

METAL

UNDERGROUND

: SEBUAH KAJIAN KRIMINOLOGI

BUDAYA DAN FEMINIS

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana

I GUSTI NGURAH ADITIA TJANDRA ASMARA

1106082501

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PROGRAM STUDI KRIMINOLOGI

(3)
(4)
(5)

Terimakasih terbesar peneliti panjatkan kepada Yesus Kristus yang telah memberikan peneliti tuntunan, kekuatan, dan kesabaran selama proses penulisan skripsi ini dan karena kasih karunia-Nya pula peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih juga peneliti ucapkan kepada berbagai pihak yang sudah membantu peneliti dari awal sampai akhir proses penyelesaian skripsi ini, antara lain:

- Dr. Iqrak Sulhin, S.Sos., M.Si., selaku pembimbing skripsi yang dengan sabar menyediakan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membimbing saya dari awal hingga akhir pengerjaan skripsi ini. Terima kasih telah menjadi pembimbing yang sangat bersahabat.

- Herlina Permata Sari, S.Sos., M.Crim., selaku penguji ahli, Dra. Mamik Sri Supatmi, M.Si., selaku ketua sidang, serta Drs. Eko Hariyanto, M.Si., selaku sekretaris sidang. Terimakasih untuk waktu dan kritik yang membangun sehingga skripsi ini menjadi lebih baik.

- Seluruh Dosen dan Staff Departemen Kriminologi yang banyak sekali memberikan pemahaman, ilmu, serta bantuan selama saya belajar di jurusan ini.

- Teman-teman Psychotic Angels, yaitu Chumi, Chacha, Onenk, dan juga Iniz, yang bersedia direpotkan oleh saya untuk menjadi subjek penelitan dalam skripsi ini. Terima kasih atas waktu, cerita, dan pengalaman yang telah kalian bagikan.

- Febrianto Dwi Tama, saudaranya Endah yang karena obrolan isengnya bersama Endah membuahkan bantuan yang sangat besar untuk penyelesaian skripsi ini. Terima kasih untuk informasinya mengenai band Psychotic Angels. Terima kasih juga kepada Endah Larasati yang terus memberikan bantuan, dukungan, dan semangat kepada saya.

(6)

ini.

- Rekan-rekan wepreventcrime; Albert, Tua, Kahfi, Yanu, Abram, Agra, Luthfi, Meiki, Bagas, Kaspo, Drasup, Zikri, Ucup, Akbar, Aldi, Rayhan, Ghasani, Sabrina, Marie, Yumna, Uli, Konep, Luna, Cyane, Seren, Oji, Didit, dan yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima kasih atas kebersamaannya. Kalian adalah calon-calon pembesar Kriminologi di masa depan.

- Kepada Tua Maratur Naibaho dan Yanuar Permadi, yang tidak hanya menjadi rekan selama magang, tetapi juga telah menjadi teman terbaik saya. Terima kasih telah menjadi orang-orang garis terdepan yang mau mendengarkan keluh-kesah saya dengan sangat sabar, serta memberikan bantuan ketika saya sedang mengalami kesusahan dalam hal apa pun. Kalian telah mengajarkan saya tentang apa itu sahabat.

- Terima kasih kepada Ibu Tuti Martuti Asih Sairin, pahlawan yang nyata

dalam hidup saya, yang telah dengan sabar merawat dan mendidik saya hingga sekarang ini. Kepada I.G.N. Eltarianda B.T dan I.G.N. Citra Dharma A., kedua abang saya, dan I.G.A. Maria L. Erika, adik yang sangat saya sayangi dan kasihi. Terima kasih untuk semua dukungan, kepercayaan, nasihat, canda, tawa, kehangatan, dan segalanya yang membuat saya kembali semangat ketika rasa malas datang.

- Terakhir, skripsi ini saya dedikasikan untuk Papa saya tercinta, I.G.N. Virgiandhy. Hanya dua kata yang bisa saya katakan: terima kasih.

Depok, 18 Januari 2016

(7)
(8)

Nama : I Gusti Ngurah Aditia Tjandra Asmara Program Studi : Kriminologi

Judul Skripsi : Penampil Perempuan dalam Musik Metal Underground: Sebuah Kajian Kriminologi Budaya dan Feminis

Skripsi ini membahas tentang perempuan yang memutuskan untuk menjadi penampil di dalam musik metal underground sebagai upaya counter-culture terhadap sistem kebudayaan yang patriarkis. Penelitian ini menggunakan dimensi analisa culture as crime dalam kajian kriminologi budaya mengingat terdapat praktik di dalam kebudayaan metal yang dilihat sebagai praktik-praktik yang menyimpang karena dianggap tidak sesuai dengan moralitas yang ada di masyarakat dominan. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan kajian teori feminis radikal-libertarian dan feminis sosialis sebagai dasar dalam memaknai upaya yang dilakukan perempuan sebagai bentuk counter-culture. Sebuah band dengan personel keseluruhannya yang adalah perempuan menjadi subyek dalam penelitian ini, yakni Psychotic Angels. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi kasus feminis dan critical social science guna memaknai keputusan perempuan untuk menjadi penampil di dalam musik metal underground sebagai upaya counter-culture.

(9)

Name : I Gusti Ngurah Aditia Tjandra Asmara Study Program : Criminology

Title : Female Performer in Metal Underground Music: A Cultural Criminology and Feminist Study

This thesis discusses about the choices that women made to be a performer in metal underground music as a way to make counter-culture to the patriarchy culture. This thesis using the culture as crime dimension analysis in cultural criminology because there are so many aspect in metal music culture that people view it as a forms of deviance that does not analogous with the dominant morality in society. This thesis also using radical-libertarian feminist and socialist feminist theory as a core to understand the way the women use to do counter-culture. The subject of this research is a full women personel band, named Psychotic Angels. This thesis using the qualitative methods with feminist case study and critical social science perspective to understand the women choices to be a metal underground music performer in order to do counter-culture.

(10)

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

UCAPAN TERIMA KASIH ... iv

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vi

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xii

GLOSARIUM ... xiii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusah Masalah ... 8

1.3. Pertanyaan Penelitian ... 9

1.4. Tujuan Penelitian ... 9

1.5. Signifikansi Penelitian ... 9

1.5.1. Signifikansi Akademis ... 9

1.5.2. Signifikansi Praktis ... 10

1.6. Sistematika Penulisan ... 10

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 12

2.1. Kerangka Konseptual ... 12

2.1.1. Musik Metal Underground di Indonesia ... 12

2.1.2. Kebudayaan ... 14

2.1.3. Patriarki ... 16

2.1.4. Counter-culture ... 18

2.1.5. Metal Panic... 19

2.1.6. Penyimpangan ... 20

2.1.7. Stigma ... 22

2.1.8. Sistem Seks/Gender dan Ketidaksetaraan Gender ... 22

2.1.9. Kekerasan Simbolik ... 24

2.2. Kerangka Teoritis ... 25

2.2.1. Kriminologi Budaya ... 26

2.2.2. Culture as Crime ... 28

2.2.3. Kriminologi Feminis... 30

2.3. Kajian Literatur ... 33

2.3.1. Musik Metal dan Gender ... 33

2.3.2. Perempuan dan Musik ‘Keras’ ... 35

2.4. Review Penelitian Sebelumnya ... 37

2.5. Skema Analisis ... 40

BAB III. METODE PENELITIAN ... 41

3.1. Pendekatan Penelitian ... 41

3.2. Tipe Penelitian ... 42

(11)

BAB IV. TEMUAN DATA LAPANGAN ... 48

4.1. Psychotic Angels: Transformasi dari Emo menuju Metal... 48

4.2. Cerita Tentang Iniz ex Psychotic Angels ... 53

4.3. Pengalaman Subyek Selama Bermusik Metal ... 57

4.3.1. Respon Keluarga... 58

4.3.2. Respon Metalheads dan Sesama Musisi Metal Lainnya ... 64

4.3.3. Pengalaman di dalam Lingkungan dan Skena Musik Metal ... 69

4.4. Pandangan Subyek Mengenai Gender dalam Musik Metal ... 74

4.5. Silent: Tentang Pembuktian Diri ... 81

BAB V. ANALISIS DATA ... 83

5.1. Ketidaksetaraan Gender di dalam Musik Metal Underground sebagai Dampak Sistem Patriarki yang Crosscultural ... 84

5.2. Culture as Crime, Metal Panic, dan Stigma Terhadap Penampil Perempuan91 5.3. Penampil Perempuan dalam Musik Metal Underground: Sebuah Counter-culture ... 95

BAB VI PENUTUP ... 100

5.1. Kesimpulan ... 100

5.2. Saran ... 101

(12)
(13)

B

Black metal: Band Black metal masih cenderung bermain Thrash metal. Pada awal 80-an sampai 90-an, Black metal sangat berkembang di daerah Skandinavia oleh band di atas tadi. Jenis musik metal ini juga termasuk jenis metal underground. Lirik dinyanyikan dengan vibra di tenggorokan, bernuansa kikir, setan yang mengingatkan kepada penyiksaan, dan ini sudah menjadi standar band-band Black Metal. Lirik sering mengambil kata-kata yang berbau setan, penyembahan berhala, dewa-dewa kuno, tema gaib yang mengutuk agama Kristen (Anti Kristus). Dalam aksinya sering kali mempertunjukkan meminum darah segar membuat guna suara menjadi lebih serak atau hanya sebagai atribut aliran musik tersebut

D

Death metal: Death metal adalah sebuah sub-genre dari musik heavy metal yang berkembang dari thrash metal pada awal 1980-an. Beberapa ciri khasnya adalah lirik lagu yang bertemakan kekerasan atau kematian, ritme gitar rendah

(downtuned rhythm guitars), perkusi yang cepat, dan intensitas dinamis.

Doom metal: Doom metal adalah bentuk dari musik heavy metal yang sangat khas, mempunyai tempo yang sangat lamban, stem gitar yang rendah dan suara gitar lebih tebal atau lebih berat dari suara genre metal yang lainnya.

E

EP: Extended play (EP) atau Album mini adalah rekaman yang mengandung lebih dari satu singel tapi terlalu pendek untuk menjadi album. Biasanya, sebuah Album mini memiliki 4-7 lagu. Format EP banyak digunakan di dunia punk rock oleh band yang belum terkenal dan ingin menerbitkan album dengan biaya rendah. Hal ini lantas ditiru oleh berbagai band metal dan alternatif, terutama dari underground.

G

(14)

sebagai vokal 'Beauty and the Beast'). Lirik-liriknya kebanyakan bernuansa pagan, kemuraman, kegelapan.

Grindcore: Grindcore adalah sebuah lairan musik yang muncul pada awal hingga pertengahan 1980-an. Musik ini adalah gabungan dari beberapa musik ekstrem: death metal, musik industrial, musik bising, dan beberapa variasi hardcore punk Growl: Growl memiliki arti ‘geraman’. Teknik growl hanya berbeda sedikit dengan teknik scream. Growl juga dikenal dengan nama “Scream Rendah”. Jika teknik scream mengeluarkan suara dengan keras dan terbuka, teknik growl juga mengeluarkan suara dengan keras akan tetapi mulut harus berbentuk pelafalan huruf “O“ pada setiap kata yang diucapkan. Perbedaan teknik scream dan growl hanya terletak pada bentuk mulut, jika teknik scream mulut terbuka jika teknik growl mulut berbentuk seperti pelafalan huruf “O“.

Grunge: Grunge, sering kali disebut juga Seattle sound, adalah sebuah sub genre dari rock alternatif yang muncul pada pertengahan 1980-an di negara

Amerika Washington, khususnya di wilayah Seattle. Terinspirasi oleh punk rock, heavy metal dan indie rock, grunge umumnya dikenali melalui suara distorsi gitar yang berat dan lirik melankonis atau apatistik.

H

Hardcore: Hardcore adalah istilah generik yang digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang lebih ekstrem daripada versi biasanya.

I

Idealisme: Idealisme berasal dari kata ide yang artinya adalah dunia di dalam jiwa, jadi pandangan ini lebih menekankan hal-hal bersifat ide, dan merendahkan hal-hal yang materi dan fisik; hidup atau berusaha hidup menurut cita-cita, menurut patokan yg dianggap sempurna.

(15)

Musik Underground: Musik underground merupakan bermacam-macam jenis aliran subgenre musik yang biasanya mengembangkan suatu cabang kebudayaan (subkultur) meskipun tanpa permintaan pasar khalayak ramai dan bukan sesuatu hal yang komersil.

N

Nu metal: Nu metal (disebut juga new metal / nü metal / neo metal / aggro metal) adalah genre musik yang mirip dengan musik grunge dan alternative metal dikombinasikan dengan musik funk, hip-hop. Musik ini merupakan subgenre dari heavy metal.

P

Punk: Punk merupakan subkultur yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat

berarti jenis musik atau genre yang lahir pada awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun kadang-kadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.

R

(16)

diartikan mengeluarkan suara dengan keras, sama halnya dengan berteriak. Akan tetapi, pada teknik scream memiliki nafas yang agak berat.

Skena: Skena merupaka terjemahan kasar dari istilah inggris “scene”. Scene dalam artian skena dalam istilah musik diartikan sebagai panggung.

T

(17)

1.1. Latar Belakang

Setiap manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang tidak akan lepas dari pergolakan-pergolakan hidup yang ada di dalam setiap perjalanan hidupnya. Pergolakan hidup tersebut dapat berupa emosi terhadap sesuatu yang dialami seseorang tersebut dan juga dapat berupa kritik-kritik terhadap sesuatu yang salah terkait dengan idealisme yang dimiliki olehnya. Dan manusia akan selalu berusaha untuk meluapkan segala pergolakan emosi dan kiritik tersebut, dengan

berbagai cara, untuk mendapatkan kelepasan dan kelegaan setelahnya atau hanya sekadar untuk menyampaikan ke orang lain mengenai apa yang sedang

dirasakannya. Ekspresi pergolakan hidup tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara, dan salah satunya adalah melalui seni. Melalui seni segala emosi dan perasaan yang ada di dalam diri manusia terekspresikan ke dalam suatu karya dengan nilai estetika di dalamnya.

Seni dianggap sebagai bagian yang penting dalam kehidupan dan kebudayaan manusia. Seiring dengan perkembangan peradabannya, kehidupan dan kebudayaan manusia bertumbuh dan berkembang tidak lepas dari seni di dalamnya. Mengacu pada Oxford Dictionaries, seni diartikan sebagai ekspresi atau penerapan keterampilan kreatif dan imajinasi manusia, menghasilkan karya untuk dihargai terutama untuk kecantikan atau kekuatan emosionalnya.1 Graham (2005) merujuk pada Suzanne K. Langer yang mengatakan bahwa seni merupakan sebuah kreasi dari bentuk-bentuk simbolik dari perasaan manusia. Lebih jauh lagi, Graham (2005) juga merujuk pada Hegel yang membedakan seni menjadi lima bentuk, antara lain lukis, pahat, persajakan, musik, dan juga arsitektur. Hegel juga menambahkan pembedaan seni dan perhitungan-perhitungan yang berbeda dari sifat dan nilai dari seni itu sendiri memiliki kepentingan filosofis di dalamnya (dalam Graham, 2005).

1http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/art#art (diaskes pada 17 September

(18)

Sebagaimana bentukan seni yang lainnya, Bryson (1996) menjelaskan bahwa musik telah lama disadari sebagai bagian yang penting dari perkembangan kehidupan dan kebudayaan manusia. Kekuatan simbolik dan kekuatan ritual di dalamnya digunakan untuk menjelaskan kohesi sosial dan resistensi kultural. Lebih jauh lagi, Bryson juga mengatakan bahwa musik merupakan sebuah medium kultural dan komunikatif yang penting (Bryson, 1996). Musik memiliki peranan penting di dalam ritual-ritual penyembahan terhadap dewa-dewa sejak zaman kuno hingga terus berkembang ke dalam ritual-ritual keagamaan yang modern. Musik merupakan bentukan seni yang unik. Melalui musik seseorang dapat mengekspresikan luapan hati, emosi, dan juga idealismenya. Belakangan ini, musik sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat luas. Seiring pada perkembangannya, musik tidak lagi hanya digunakan untuk mendukung berjalannya ritual-ritual keagamaan, melainkan juga telah menjadi kebutuhan sekuler. Musik yang telah menjadi kebutuhan sekuler tersebut menunjukkan bagaimana tidak terbatasnya kebutuhan manusia akan musik.

Musik dapat dikatakan sebagai yang paling istimewa dari bentuk-bentuk

seni yang lainnya. Ketika seni fotografi dapat menggantikan seni lukis atau seni filem dapat menggantikan seni teater, tidak ada yang dapat menggantikan pengalaman dari mendengarkan musik. Musik secara unik menyediakan struktur-struktur yang luas dari nada yang terorganisasi kepada kita dalam artian kita bisa mengeksplorasi pengalaman manusia darinya, dan dalam nada musikal yang konvensional, kekayaan tersebut meningkat dengan adanya kemungkinan pertunjukkan yang penuh tafsir di dalamnya (Graham, 2005).

(19)

ini adalah tidak perlu menunggu keputusan dari perusahaan rekaman major label untuk memproduksi musik mereka (Dumas, 2001), yakni dengan melakukan segala proses produksi musik mereka secara indie (independen). Melalui etika D.I.Y, semua musik, label-label rekaman, seni yang diciptakan, fanzines, dan pertunjukkan-pertunjukkan dilakukan bersama oleh para seniman dan fans yang sering kali dapat saling bertukar tempat. Etika tersebut telah membudaya dan diterapkan secara turun temurun oleh anak muda penggiat musik-musik underground. Menurut peneliti, hal tersebut juga telah menjadi counter-culture terhadap budaya musik mainstream.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh Jeremy Wallach (2005), perkembangan pergerakkan musik underground di Indonesia tidak lepas dari pergerakan demokrasi yang ada di Indonesia sendiri, di mana pemuda-pemuda memiliki peran yang penting di dalamnya. Wallach menambahkan bahwa pergerakan musik underground di Indonesia dapat dibagi ke dalam empat genre (jenis) dasar, yakni punk, hardcore, metal, dan alternatif. Punk menjadi kategori yang paling tua. Musik metal Indonesia, di lain sisi, terus berkembang dalam

menanggapi perkembangan pesat dan fragmentasi gaya pada subgenre-subgenre dari undergrounddi dalam komunitas metal “ekstrem” internasional seperti death metal, black metal, dan grindcore. Musik hardcore, yang mula-mula berkembang dari musik punk Amerika Serikat pada tahun 1980-an, merupakan genre tersendiri

di Indonesia yang dapat terbagi menjadi “old school” dan “new school”. Musik hardcore di Indonesia dikenal dengan lirik-lirik politisnya yang eksplisit dan salah satu dari genre underground pertama yang bereksperimen dengan menuliskan lagu dengan blak-blakan, dengan bahasa Indonesia sehari-hari daripada dengan

bahasa Inggris. Selain itu masih ada musik alternatif atau rock “indie” (Wallach, 2005).

(20)

Ujung Berung, Bandung Timur. Ujung Berung Rebels merupakan salah satu penggagas lahirnya etos kerja yang independen dalam bermusik di kota Bandung. Komunitas ini berpengaruh dalam tumbuh kembangnya band-band underground seperti Burgerkill, Jasad, Funeral, Forgotten, dan juga Beside.2

Keberadaan musik underground di Indonesia sendiri meskipun telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, pada kenyataannya adalah musik yang masih termarjinalkan di dalam masyarakat Indonesia. Hal tersebut dikarenakan permainan dan musikalitas dari musik underground sering dianggap asal-asalan dan lebih kepada menciptakan sebuah kekacauan nada daripada sebuah harmonisasi nada. Selain itu, lirik-lirik yang keras dan penuh dengan umpatan di dalamnya juga menjadi salah satu alasan mengapa musik jenis ini termarjinalkan. Padahal lirik-lirik tersebut tercipta karena memang “kritik” adalah tema yang diusung oleh musik underground itu sendiri.

Marjinalisasi terhadap musik underground, kemudian, tidak hanya sebatas dikarenakan permainan musik yang bising, penyampaian lirik dengan vokal yang tidak jelas, dan lirik yang penuh dengan umpatan saja. Marjinalisasi terhadapnya

semakin meningkat dikarenakan pilihan gaya dari para musisi dan penikmat musik underground yang dianggap berbeda dari masyarakat kebanyakan. Gaya yang tidak lazim –rambut gondrong, rambut runcing dengan warna mencolok, pakaian hitam-hitam, jaket kulit, celana jeans robek-robek, tattoo yang memenuhi tubuh, aksesoris tindikan, dan lainnya– membuat mereka dianggap berbeda

dengan masyarakat kebanyakan, yang memilih gaya yang “normal”. Padahal inti

dari pilihan gaya tersebut adalah sebagai penanda penolakan terhadap kemapanan. Gaya tersebut, kemudian, dipahami bukan hanya sebagai sebuah abstraksi samar yang menujukkan bentuk atau mode, melainkan sebagai sebuah elemen konkrit dari identitas personal atau kelompok, yang mendasarkan pada praktik-praktik kehidupan sosial sehari-hari (Ferrell et. al., 2004).

Jeff Ferrell (2004) mengatakan bahwa permasalahan mengenai gaya juga menjadi kajian di dalam kriminologi karena gaya merupakan perantaraan di mana praktik-praktik hukum yang tidak adil dapat terjadi. Para ahli hukum membaca

2

(21)

dan memberi reaksi terhadap gaya-gaya subkultural sebagai noda dari kriminalitas yang sebelumnya dan sebagai prediktor dari kejahatan di masa mendatang (Ferrell et. al., 2004). Sesuai dengan pemikiran Ferrell tersebut, penegak hukum melihat bagaimana gaya dari masyarakat komunitas underground yang berbeda dan dianggap penuh kebrutalan tersebut, yang pada rezim Soeharto pilihan gaya

seperti itu di cap sebagai preman dan merupakan “penyakit” masyarakat. Oleh

karena itu, mereka sering kali mendapatkan aturan hukum yang diskriminatif karena dianggap sebagai kelompok yang membahayakan. Hal tersebut berpengaruh juga kemudian pada penilaian negatif masyarakat terhadap musik

underground, yang kemudian secara satu sisi menganggap musik tersebut adalah musik para pemberontak, orang bar-bar, generasi yang penuh kekerasan.

Lebih jauh lagi, proses marjinalisasi dari keberadaan musik underground di Indonesia sendiri meluas hingga tataran politik. Musik underground diberikan

cap “pemberontak” terhadap pemerintah karena idealisme mereka dalam bermusik yang dianggap melawan keteraturan yang telah dibuat oleh pemerintahan di Indonesia. Terkait dengan idealisme musisi underground di Indonesia, ketika

banyak musisi mainstream yang selalu waspada dalam merilis musik yang terlalu tajam secara politik, bahkan sejak pasca jatuhnya rezim Soeharto, para musisi underground telah berani dalam melampiaskan kritik mereka terhadap politik Indonesia (Wallach, 2005). Musik underground, kemudian, dikarakteristikan

sebagai musik “perjuangan melawan rezim”, dan mereka termarjinalisasi oleh media, industri musik mainstream, dan juga negara (Baker, 2011).

(22)

tersebut memakai kata “kerusuhan” untuk menjelaskan peristiwa kelam tersebut.3

Pada kenyataannya, permasalahan utamanya dari peristiwa tersebut bukanlah adanya kerusuhan, melainkan tidak memadainya fasilitas gedung konser untuk menampung jumlah penonton konser. Peristiwa yang memilukan tersebut seakan menjadi alat pembenaran dari penegak hukum untuk mengatakan bahwa komunitas musik underground merupakan sekelompok kriminal dengan gaya subkultur yang sama, yang suatu saat dapat menjadi ancaman bagi masyarakat.

Seiring dengan perkembangan dari pergerakan musik underground yang cukup pesat di Indonesia, alunan-alunan musik dan lirik-lirik yang cenderung keras yang ada di dalam musik underground tidak membuat musik ini hanya milik masyarakat laki-laki, melainkan juga masyarakat perempuan. Tidak hanya sebagai penikmat, melainkan juga sebagai penampil serta ikut andil dalam perkembangan dari musik underground itu sendiri di Indonesia. Melihat pada perkembangan musik itu sendiri, Schmutz dan Faupel (2010) mengatakan perempuan memang sejak lama tidak memiliki tempat yang baik di dalam pasar musik populer, ketika laki-laki telah menduduki lokasi-lokasi yang lebih sentral, seperti peran dalam

posisi produksi dan pembuat keputusan dalam bermusik. Hal tersebut tidak lepas dari nilai-nilai patriarki yang ada berdampingan dengan kehidupan bermasyarakat sejak dahulu (Schmutz dan Faupel, 2010).

Namun demikian, peneliti melihat keberadaan perempuan dalam musik underground itu sendiri tidak lepas dari kontroversi dan perdebatan di dalamnya. Perdebatan mengenai keberadaan perempuan di dalam masyarakat musik underground lebih dari sekedar perdebatan mengenai “keabsahan” musik underground itu sendiri di tengah-tengah masyarakat, melainkan juga mengenai bagaimana musik underground yang selama ini dipandang sebagai musiknya laki-laki, musik yang kuat dengan nilai-nilai maskulin di dalamnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa penampil dan penikmat musik underground memang didominasi oleh laki-laki (Arnett, 1996). Keagresifan yang muncul dari permainan nada-nada dan lirik-lirik dari musik underground membuat masyarakat berkesimpulan bahwa musik dengan aliran seperti ini memang musiknya laki-laki.

3http://news.liputan6.com/read/154646/konser-beside-rusuh-sepuluh-orang-tewas (diakses

(23)

Musik underground adalah dunianya laki-laki yang menciptakan perilaku hipermaskulin dalam budaya yang secara sosial menuntut mereka untuk agresif dan penuh dengan pemberontakan. Hubungan antara musik dan perilaku agresif telah mendapatkan perhatian yang serius di dalam literatur dan penelitian mengenai musik dan perilaku. Terdapat beberapa bukti penelitian yang menunjukkan bahwa paparan terhadap musik heavy metal dapat meningkatkan pikiran dan perilaku yang agresif (Roberts dan Mattern, 2014). Sedangkan, secara sosial perempuan lebih dituntut untuk menjadi pasif (Tong, 2009), karenanya, ketika ada perempuan yang masuk ke dalam masyarakat musik underground tersebut, khususnya yang mengambil bagian sebagai performer, mereka dianggap

‘aneh’ dengan pilihan mereka dalam berseni dan berbudayanya. Pandangan aneh tersebut kemudian terus condong ke arah pandangan yang negatif dari masyarakat, yang kemudian terus berkembang menjadi sebuah stigma terhadap para penampil perempuantersebut.

Tanggapan aneh dari masyarakat terhadap keberadaan perempuan di dalam musik underground tersebut juga tidak lepas dari bagaimana perempuan

yang berada di dalam lingkungan komunitas underground, kemudian, memutuskan untuk memilih gaya yang dianggap maskulin oleh masyarakat. Masyarakat Indonesia memang hingga saat ini masih memandang segala sesuatunya dengan pandangan yang ter-gender-kan. Pilihan perempuan untuk bergaya maskulin tersebut dipandang oleh masyarakat sebagai penyimpangan terhadap bentukan perempuan yang seharusnya di masyarakat. Hal tersebut jelas sangat merugikan karena pada dasarnya pilihan berseni, pilihan bermusik, dan juga pilihan menentukan gaya adalah pilihan bebas, yang seharusnya tidak terdikotomi oleh gender. Akan tetapi pada kenyataannya, masyarakat seakan lebih setuju kalau keberadaan perempuan di dalam dunia musik itu harus tetap di dalam batas bagaimana seharusnya perempuan bertindak dan, kembali lagi, bagaimana perempuan seharusnya berpenampilan atau memilih gayanya dalam berseni.

(24)

Raisa, Agnes Monica, Gita Gutawa, Anggun C. Sasmi, dan lainnya, yang lebih dapat diterima oleh masyarakat Indonesia karena pilihan bermusik mereka dan pilihan gaya mereka diangap tepat dan sesuai garis menurut masyarakat. Hal tersebut sebenarnya juga tidak lepas dari bagaimana selera masyarakat terhadap aliran musik tertentu itu sendiri. Masyarakat mayoritas yang lebih dapat menerima musik-musik populer dibandingkan dengan musik-musik underground membuat para penampil perempuan yang memilih berkiprah di dunia musik underground menjadi semakin teranak-tirikan. Mereka dianggap aneh karena pilihan berseninya, yang dianggap salah jalur oleh masyarakat.

1.2. Perumusan Masalah

Musik underground yang mengusung kritik sosial dan ekspresi kemarahan ini, melalui pandangan masyarakat awam, cenderung dinilai ke arah yang negatif. Pandangan serta penilaian yang cenderung negatif yang diterima oleh para penggiat musik underground tersebut tidak terlepas dari bagaimana pembentukan

image terhadap mereka yang dilakukan oleh tekanan-tekanan dari budaya dominan yang ada. Budaya dominan yang dilegalisasi oleh kekuatan negara dan

didukung oleh masyarakat luas memarjinalisasi dan cenderung mengkriminalisasi penggiat musik underground tersebut (Wallach, 2005; Baker, 2011), yang kemudian dianggap sebagai sebuah subkebudayaan menyimpang. Selain itu, pembentukan image negatif tersebut juga tidak lepas dari peran media massa, terutama media-media massa yang kontra terhadap budaya anak muda.

Lebih lanjut lagi, pendikotomian segala aspek kehidupan yang berbasis gender disadari hanyalah sebuah ciptaan dan konstruksi dari budaya dominan yang dianut oleh masyarakat kebanyakan. Dengan kaca mata budaya dominan,

individu yang tidak “bekerja” sesuai dengan konstruksi budaya dominan yang ada

(25)

masyarakat yang terkungkung dengan pemikiran budaya dominan yang berkembang. Pertama adalah tekanan terkait pandangan budaya dominan terhadap musik underground itu sendiri, dan yang kedua terkait pada pandangan budaya dominan terhadap bentukan perempuan itu sendiri.

1.3. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah dilakukan, peneliti menyimpulkannya ke dalam pertanyaan:

1. Bagaimana pandangan penampil perempuan di dalam musik metal

underground terhadap penilaian masyarakat tentang dirinya?

2. Bagaimana keberadaan penampil perempuan di dalam musik metal

underground serta pandangan masyarakat tentang dirinya dalam perspektif Kriminologi Budaya dan Feminis?

1.4. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan keberadaan penampil perempuan di dalam musik metal underground ketika dilihat berdasarkan perspektif Kriminologi Budaya dan juga perspektif Feminis. Selain itu, penelitian

ini juga hendak menjelaskan keberadaan penampil perempuan di dalam musik metal underground dengan menggunakan kajian kriminologi budaya untuk memperlihatkan bahwa pilihan perempuan untuk menjadi penampil di dalam musik metal underground merupakan bentuk kampanye perlawanan terhadap konstruksi budaya dominan (baca: patriarki) mengenai perempuan di masyarakat indonesia. Penelitian ini, dengan melakukan pendekonstruksian pemahaman masyarakat umum terkait penampil perempuan dalam musik metal underground, juga berusaha menunjukkan bahwa musik metal underground dipilih oleh penampil perempuan sebagai bentuk social movement.

1.5. Signifikansi Penelitian 1.5.1. Signifikansi Akademis

(26)

kriminologi budaya dan feminis dalam melihat fenomena penampil perempuandi dalam musik metal underground.

1.5.2. Signifikansi Praktis

Signifikansi praktis dari penelitian ini adalah penelitian diharapkan dapat memberikan suatu perubahan persepsi masyarakat umum terkait dengan penampil perempuandi dalam musik metal underground di Indonesia. Sehingga masyarakat umum tidak dengan mudah memberikan label negatif kepada para penampil perempuandalam musik metal underground tersebut.

1.6. Sistematika Penulisan Bab I – Pendahuluan

Bab ini berisikan latarbelakang dan perumusan masalah yang menjadi dasar peneliti dalam melakukan penelitian mengenai keberadaan penampil perempuan di dalam musik metal underground. Selain itu, bab ini juga berisi pertanyaan, tujuan, dan signifikansi dari penelitian yang dilakukan.

Bab II – Tinjauan Pustaka

Bab ini menjelaskan konsep-konsep penting dan juga teori yang

membantu peneliti dalam memahami dan menganalisis permasalahan yang diangkat.

Bab III – Metode Penelitian

Bab ini berisikan metode penelitian yang digunakan dalam proses pengumpulan data, juga mengenai pendekatan penelitian, tipe penelitian, dan juga teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini.

Bab IV – Temuan Data Lapangan

Bab ini berisikan uraian temuan data yang telah peneliti dapatkan dari proses pengumpulan data. Temuan data ini merupakan dasar dalam mengkaji dan menganalisis lebih jauh permasalahan penelitian.

Bab V – Analisis Data

(27)

Bab VI – Penutup

(28)

2.1. Kerangka Konseptual

2.1.1. Musik Metal Underground di Indonesia

Secara singkat, jika melihat dari sejarah perkembangannya, musik heavy metal dapat dikatakan mulai muncul pada akhir tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, yakni ketika muncul band-band seperti Black Sabbath, Judas Priest, Led Zeppelin, dan Deep Purple di tanah Britania (Walser, 1993; Bennet, 2001; Kahn-Harris, 2007; Hecker, 2012;). Akan tetapi, musik heavy metal juga dihubungkan dengan band-band musik rock Amerika seperti Iron Butterfly, Steppenwolf, atau Blue Cheer (Weinstein, 2000; Walser, 1993). Generasi-generasi pertama dalam musik heavy metal sering kali disebut dengan “classic” metal, dimana subgenre glam merupakan yang paling lumrah saat itu. Musik heavy metal terus berkembang hingga awal-awal tahun 1980-an hingga 1990-an, dan pada era ini musik metal juga memunculkan pergerakan dan perubahan dalam permainan musik dan dalam gayanya. Subgenre baru yang bermain dengan lebih keras, lebih

cepat, dan agresif ke tingkat yang ekstrem, yang karenanya biasa disebut

“extreme”, “speed”, atau juga “thrash” metal (Kahn-Harris, 2007; Hecker, 2012; Walser, 1993; Klypchak, 2007). Era ini ditandai dengan munculnya band-band seperti Metallica, Slayer, Megadeth, dan Anthrax, yang disebut-sebut sebagai

“The Big Four” musik metal (Walser, 1993) dan menjadi band-band metal yang paling berpengaruh terhadap semua band-band metal di dunia.

Munculnya subgenre thrash metal ini disadari selain karena adanya keinginan bermain musik yang lebih cepat dan keras, juga karena penolakan

terhadap gaya yang terlalu banyak riasan wajah dan “glam”, bahkan terlalu girly, yang diusung oleh band-band heavy metal sebelumnya (Klypchak, 2007: 58). Perubahan gaya terjadi secara signifikan di era ini, yang pada era Motley Crue atau David Bowie gaya yang ditampilkan terlalu glam dan penuh make-up,

(29)

panggung-panggung yang besar, serta bergerak dalam aktivitas yang subkultural dibanding dalam indentitas yang ter-mediamassa-kan (Walser, 1993: 14). Musik thrash juga melahirkan berbagai macam genre extreme metal lainnya, seperti death metal yang memainkan ‘riff-riff’ gitar dengan lebih “gelap”, dan grindcore yang dipengaruhi juga oleh punk (Kahn-Harris, 2007: 2-3). Hingga tahun 1990-an musik metal terus mengalami perkembangan, sebagai mana yang dikatakan oleh Hecker (2012) bahwa metal merupakan sesuatu yang dinamis. Seterusnya bermunculan subgenre-subgenre lainnya, seperti doom metal, black metal,hingga

nu metal (Kahn-Harris, 2007: 3-5).

Di Indonesia, perkenalan anak-anak muda dengan musik metal dimulai dengan hadirnya media musik anak muda MTV saat itu (Wallach, 2008). Dan ketika berbicara musik metal di Indonesia, generasi thrash bisa dikatakan adalah yang paling berpengaruh karena ketika pertama kali anak-anak muda di Indonesia mulai terpapar dengan MTV sekitar pertengahan tahun 1990-an, thrash metal memang sedang berjaya. Metallica, Slayer, Megadeth, dan Anthrax menjadi pengaruh utama dalam munculnya band-band metal di Indonesia. Musik metal di

Indonesia kemudian lebih digerakan secara bawah-tanah (underground), yang lebih menawarkan kepada anak-anak muda otonomi yang lebih besar dari pengawasan orang dewasa yang dominan (Wallach, 2008: 226). Disebutkan juga oleh Wallach (2008) bahwa dalam skena musik underground ini penampil perempuan sangatlah sedikit, dan umumnya hanya diturunkan sebagai peran-peran pendukung saja. Sayangnya tidak dijelaskan lebih jauh oleh Wallach dalam

tulisannya mengenai ‘peran-peran pendukung’ tersebut.

Wallach (2008) juga menjelaskan bagaimana istilah “bawah-tanah” atau

“underground” itu digunakan dalam jenis musik yang ada di Indonesia. Bermula pada awal tahun 1990-an, istilah “underground” digunakan di Indonesia untuk menggambarkan sebuah kelompok dari beberapa subgenre musik rock terkait dengan metode dalam memproduksi dan mendistribusikan obyek-obyek kulturalnya. Musik underground terdiri dari beberapa aliran, antara lain, punk,

hardcore, death metal, grindcore, brutal death, hyperblast, black metal, grunge,

(30)

berhubungan dengan ideologi independen “do-it-yourself” yang menolak perusahaan rekaman major label dan juga untuk merayakan otonomi hasilnya sendiri, idealisme, komunitas, dan perlawanan terhadap tekanan-tekanan komersial (Wallach, 2008: 37).

Berbicara mengenai skena musik underground di Indonesia, Wallach (2005) berpendapat bahwa pergerakan musik underground di Indonesia memiliki hubungan dengan pergerakan demokrasi di Indonesia, di mana anak muda memainkan peran yang krusial. Keberadaan musisi underground di Indonesia merupakan sebuah bentuk perlawanan terhadap praktik perpolitikan Orde Baru. Pada masa kepemimpinan Suharto selama 32 tahun di Indonesia, kebebasan bersuara masyarakat sangatlah terkungkung, khususnya ketika mengkritik rezim. Beberapa novelis dan musisi penting yang mengkritik rezim kemudian ditangkap dan dipenjarakan pada masa ini. Ketika banyak musisi dan produser musik

mainstream yang berhati-hati dalam mengeluarkan musik yang terlalu tajam secara politik, para seniman underground telah dengan tegas mengkritik politik di Indonesia (Wallach, 2005: 18-19).

2.1.2. Kebudayaan

Berbagai disiplin ilmu selalu berusaha untuk mengonseptualisasikan kebudayaan dengan makna yang berbeda-beda, oleh karenanya konsep kebudayaan pun menjadi kategori yang ambigu, terbaur, dan mudah menguap, penuh dengan kebingungan analitik terhadapnya (Hecker, 2012). Jika merujuk pada Koentjaraningrat (2009), dalam buku Pengantar Ilmu Antropologi, kebudayaan dimaknai sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Melalui definisi tersebut, dapat dimengerti bahwa hampir seluruh

tindakan manusia merupakan “kebudayaan” karena hanya sedikit tindakan

manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang tidak perlu dibiasakan dengan belajar. Lebih jauh lagi, Koentjaraningrat membedakan kebudayaan ke dalam tiga wujud, yakni (Koentjaraningrat, 2009: 150):

(31)

2. Kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.

3. Kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Kemudian, sebagai pengertian alternatif dari “kebudayaan” secara

sosiologis dan antropologis yang tradisional, Ann Swidler menggambarkan kebudayaan juga sebagai kebiasaan, keterampilan dan gaya dari masyarakat, yang

digunakan sebagai ‘alat’ untuk membangun ‘strategi-strategi bertindak’ (Garrison, 2000: 143).

Jeff Ferrell, Keith Hayward, dan Jock Young (2008), dalam bukunya

Cultural Criminology: An Invitation, merujuk pada Zygmunt Bauman, di mana Bauman membedakan dua wacana mengenai budaya, yakni sudah berlangsung lama dan nampaknya bertentangan secara diametris. Yang pertama

mengonseptualisasi ‘budaya sebagai aktivitas dari jiwa yang menjelajah bebas,

tempat dari kreativitas, hasil ciptaan, self-critique dan self-transcendence’,

menimbulkan pikiran ‘keberanian untuk memecahkan horizon yang telah

ditentukan, untuk melangkah di atas batas-batas yang dijaga secara rapat’. Yang

kedua melihat kebudayaan sebagai ‘sebuah alat dari rutinisasi dan kontinuitas –

hamba dari tatanan sosial’, sebuah budaya yang berpegang pada ‘keajegan dan

pola –dengan kebebasan dari yang namanya “pelanggaran norma” dan

“penyimpangan”’ (Ferrell, Hayward, Young, 2008:3-4). Konsep budaya yang pertama disadari cocok ke dalam tradisi teori subkultural sebagaimana yang dikembangkan oleh Albert Cohen (1955) dan yang lainnya, dan konsep budaya yang kedua dilihat lebih masuk ke dalam wewenang antropologi sosial ortodoks, fungsionalisme Parsonian dan sosiologi kulturan post-Parsonian (Ferrell, Hayward, Young, 2008:4).

(32)

sebuah proses pembentukan makna dan juga sebagai sistem atau pola dari makna-makna yang terbagikan (Hecker, 2012: 14).

Dalam konteks penelitian ini, peneliti memberi perhatian lebih pada konsep yang ketiga mengenai kebudayaaan, yakni melihat kebudayaan sebagai sebuah proses pembentukan makna. Kajian kebudayaan yang melihat kebudayaan sebagai proses pembentukan makna ini menginvestigasi bagaimana orang mengikatkan makna terhadap realitas. Kebudayaan merupakan sesuatu yang terbagikan secara kolektif dan, karenanya, memungkinkan setiap anggota di dalam kelompok yang sama dapat berkomunikasi dan memahami satu sama lain (Hecker, 2012: 15).

Perspektif yang melihat kebudayaan sebagai sebuah proses pembentukan makna ini juga menjadi dasar dari kajian kriminologi budaya dalam memaknai

konsep kebudayaan. Dalam ranah kriminologi budaya, konsep ‘kebudayaan’

dipahami sebagai perihal pembentukan makna dan identitas secara kolektif; dengan jalan demikian, pemerintah dapat mengklaim otoritasnya, dan makna

mengenai “si penjahat”, baik sebagai orang maupun sebagai persepsi, menjadi

hidup dan tumbuh (Ferrell, Hayward, Young, 2008: 2). Ferrell, Hayward, dan Young (2008) juga mengatakan bahwa kebudayaan merupakan pencarian terhadap makna, dan makna dari pencarian itu sendiri; budaya menampakkan kemampuan dari seseorang untuk bertindak bersama melewati waktu, untuk menghidupkan objek-objek di sekitarnya dengan sesuatu yang penting dan implikasi di dalam objek tersebut, bahkan hingga objek-objek terendah seperti, misalnya, bandana atau ikat kepala dari anggota sebuah gang. Kebudayaan menunjukkan semacam penampilan publik yang terbagikan, sebuah proses negosiasi publik, tetapi hal yang ditampilkan tersebut dapat berupa sebuah persetujuan atau pemberontakan, dan negosiasi tersebut dapat berupa sebuah konflik kekerasan atau kepatuhan (Ferrell, Hayward, Young, 2008: 4).

2.1.3. Patriarki

Zillah R. Eisenstein (1979), dalam buku Capitalist Patriarchy and The

(33)

karenanya, patriarki merupakan penataan masyarakat secara hierarkis oleh laki-laki (Eisentein 1979: 17). Sistem patriarkal terpelihara melalui pernikahan dan keluarga, melalui pembagian kerja dan masyarakat berdasarkan jenis kelamin (Eisenstein, 1979: 17). Kemudian, Eisenstein (1979) mengatakan bahwa pembagian kerja dan masyarakat berdasarkan jenis kelamin memperlihatkan pembagian heirarkis yang paling mendasar di dalam masyarakat antara peran-peran maskulin dan feminin, di mana hal tersebut merupakan mekanisme penguasaan yang mendasar untuk budaya yang patriarkis. Penstrukturan masyarakat melalui pemisahan seksual tersebut membatasi aktivitas, pekerjaan, hasrat, dan aspirasi dari perempuan (Eisentein, 1979: 18). Eisenstein (1979), kemudian, menyebutkan bahwa seks merupakan sebuah kategori status dengan implikasi-implikasi politis di dalamnya.

Lebih jauh lagi, Eisenstein (1979) juga menegaskan bahwa patriarki merupakan konsep yang crosscultural meskipun ia teraktualisasi secara berbeda pada masyarakat yang berbeda dengan cara melembagakan hierarki seksual. Garis-garis dalam peran sosial mungkin berbeda-beda dalam setiap masyarkat

yang berbeda tetapi kekuasaan tetap terletak pada laki-laki (Eisenstein, 1979: 24). Sylvia Walby (1991) mendefinisikan patriarki sebagai sebuah sistem struktur-struktur dan praktik-praktik sosial di mana laki-laki mendominasi, mengopresi, dan mengeksploitasi perempuan. Lebih lanjut, menurut Walby, patriarki perlu dikonseptualisasikan ke dalam level-level abstaksi yang berbeda. Setidaknya level abstraksi patriarki terdiri dari enam struktur (Walby, 1991: 20), yaitu (1) mode produksi patriarkal, (2) relasi-relasi patriarkal dalam pengupahan kerja, (3) relasi-relasi patriarkal dalam Negara, (4) kekerasan oleh laki-laki, (5) relasi-relasi patriarkal dalam seksualitas, dan (6) relasi-relasi patriarkal dalam institusi-institusi kultural.

(34)

penting dalam masyarakat tersebut untuk mencapai kekuasaan (Lerner, 1986: 239).

George B. Vold, Thomas J. Bernard, dan Jeffrey B. Snipes (1998), dalam bukunya Theoretical Criminology, merujuk pada Kate Millet yang berpendapat bahwa patriarki merupakan bentuk dominasi yang paling fundamental di dalam setiap masyarakat. Patriarki termantapkan dan terawat melalui sosialisasi peran

seks dan penciptaan “indetitas gender”, yang melaluinya baik laki-laki dan perempuan menjadi percaya bahwa laki-laki superior di dalam berbagai bidang (Vold, Bernard, Snipes, 1998: 278). Berdasarkan pada identitas gender tersebut, laki-laki cenderung untuk mendominasi perempuan dalam interaksi-interaksi personalnya, dan terus meluas hingga ke seluruh lembaga dan organisasi dalam masyarakat yang lebih luas (Vold, Bernard, Snipes, 1998).

Selanjutnya, Chris Weedon juga mengatakan bahwa istilah patriarki merujuk pada relasi-relasi kuasa di mana kepentingan-kepentingan perempuan tersubordinasi oleh kepentingan-kepentingan laki-laki (dalam Gamble, 2006: 3). Relasi-relasi kuasa tersebut terjadi dalam banyak bentuk, dari pembagian kerja

berdasarkan jenis kelamin hingga pada norma-norma yang terinternalisasi mengenai femininitas. Kekuasaan patriarkal berada pada pemaknaan sosial yang diberikan kepada perbedaan seksual secara biologis (Gamble, 2006).

2.1.4. Counter-culture

Micah L. Issitt (2011) membuat sebuah pembedaan penting antara istilah

“subculture” dan “counter-culture”. Subculture umumnya didefinisikan sebagai setiap kelompok kultural yang berbeda dalam sebuah kebudayaan yang lebih besar, sedangkan counter-culture lebih merupakan sebuah jenis dari subkultur yang dicirikan dengan adanya perkembangan ideologi, estetika, atau kepercayaan-kepercayaan lainnya yang secara langsung bertentangan dengan kebudayaan yang lebih besar (Issitt, 2011: xiii). Gagasan counter-culture memiliki tujuan untuk

dapat “menghancurkan sistem” dan memasang sebuah sistem yang baru dan lebih

baik, selain itu juga berupaya menggantikan kepercayaan-kepercayaan yang tumbuh di dalam kebudayaan yang mainstream (Issitt, 2011).

(35)

dari konsep counter-culture ini adalah adanya unsur konflik-nilai di dalamnya. Counter-culture menolak norma-norma dan nilai-nilai yang menyatukan kebudayaan dominan sedangkan subculture menemukan cara dalam mengiyakan kebudayaan nasional dan orientasi nilai fundamental dari kebudayaan dominan; inilah yang menjadi perbedaan fundamental di antara keduanya (Roberts, 1978).

Counter-culture berkepentingan dalam menciptakan masyarakat yang lebih baik, tetapi tidak dengan cara pembaharuan legislatif atau dengan perlawanan yang menggunakan kekerasan terhadap kebudayaan dominan (Roberts, 1978). Lebih jauh lagi, Roberts (1978) juga menjelaskan bahwa teori pembaharuan dalam counter-culture adalah dengan menyediakan sebuah pandangan alternatif, dan masyarakat dominan bisa saja berubah dengan secara sukarela. Dengan menetapkan sesuatu yang lebih baik, dengan menyediakan pilihan kultural, para pemikir counter-culture berharap masyarakat dominan akan

“melihat cahayanya” dan mengadopsi cara hidup yang lebih humanistis. Karena

pendekatannya yang menyediakan model alternatif tersebut, istilah

counter-culture mengimplikasikan nilai-nilai kelompok yang berdasarkan sebuah ideologi

konstruktif yang mendefinisikan “masyarakat yang baik” (Roberts, 1978: 121 -122).

Melihat pembedaan istilah “subkultur” dan “counter-culture” yang dilakukan oleh Issitt (2011) yang telah dijelaskan sebelumnya, dapat dipahami bahwa subkultur hanya merujuk pada bentukan kebudayaannya, sedangkan counter-culture juga meliputi adanya “aksi” dan “tujuan” di dalamnya. Jadi, dalam konteks penelitian ini, peneliti menganggap keputusan perempuan untuk masuk ke dalam kultur metal underground yang dianggap sebagai domain dari laki-laki tidak lagi secara dangkal dipahami sekadar sebagai keinginannya untuk masuk ke dalam sebuah subkultur –yang lebih dimaknai secara negatif–, melainkan sebuah upaya counter-culture terhadap sistem budaya patriarkal yang masih dipegang teguh oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia, yang telah menjalar ke berbagai lapisan dan bidang kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

2.1.5. Metal Panic

(36)

kejahatan satanis (Weinstein, 2000; Walser, 1993; Bennet, 2001; Wallach, 2005; Klypchak, 2007; Kahn-Harris, 2007; Hecker, 2012). Heavy metal mendorong adanya moral panic di seluruh belahan dunia. Banyak sekali pernyataan, tuntutan, dan tuduhan yang menyalahkan heavy metal telah menggoda anak-anak muda ke dalam Satanisme, penghinaan pada Tuhan, bunuh diri, kekerasan, perbuatan seksual yang tidak wajar, obat-obatan terlarang, dan juga penyalahgunaan alkohol (Hecker, 2012: 23). Hecker (2012), kemudian, mengadopsi konsep moral panic menjadi metal panic untuk menjelaskan reaksi sosial yang timbul dari munculnya musik heavy metal.

Weinstein (2000) menuliskan bagaimana musik heavy metal juga dikatakan mengedepankan nilai-nilai satanis seperti kebengisan, penyalahgunaan obat terlarang, kenakalan, depresi, kekerasan, kegaduhan dan kekacauan, serta kesuraman. Hal seperti ini menimbulkan kepanikan terhadap musik metal karena memiliki potensi pengaruh yang buruk terhadap anak-anak. Klypchak (2007) menambahkan bahwa kelompok-kelompok konservarif di luar subkultur metal bereaksi tidak baik terhadap pembawaan lirik dan video metal mengenai

seksualitas yang eksplisit, konsumsi alkohol dan obat terlarang, dan kekerasan. Para pemimpin keagamaan juga menyuarakan keprihatinan mereka terhadap tanda-tanda satanis dan hedonisme yang dibawa oleh metal.

Di Indonesia, pada pertengahan tahun 1990-an moral panic juga pernah ditimbulkan oleh pemberitaan-pemberitaan media nasional arus-utama terhadap musik black metal yang “satanis” (Wallach, 2005). Selain itu, muatan-muatan ideologis dan politis yang terkandung dalam lirik-lirik lagu metal juga menyebabkan band-band metal sering kali mendapatkan “serangan-serangan” dari oposisi. Konsekuensi dari kepanikan moral yang timbul di masyarakat di luar subkultur metal ini membuat band-band metal harus menghadapi masalah utama mereka yakni penyensoran terhadap lirik-lirik mereka (Walser, 1993; Weinstein, 2000; Klypchak, 2007; Wallach 2005; Kahn-Harris, 2007, Hecker, 2012) karena dianggap memberontak terhadap batasan-batasan sosial dan moral.

2.1.6. Penyimpangan

Konsep “penyimpangan” di dalam penelitian ini akan digunakan untuk

(37)

metal underground melihat kebudayaan metal underground, khususnya dalam melihat keberadaan perempuan dalam kebudayaan metal underground tersebut.

Singkatnya, adalah untuk menangkap “perspektif orang luar”. Becker (1963), dalam buku Outsiders: Studies in the Sociology of Deviance, menjelaskan bahwa seluruh kelompok sosial membuat aturan-aturan dan berusaha untuk menegakkannya. Aturan-aturan sosial tersebut mendefinisikan situasi-situasi dan bermacam-macam perilaku yang sesuai dengan aturan tersebut, kemudian

menetapkan beberapa tindakan sebagai “benar” dan melarang yang lainnya yang ditetapkan sebagai “salah”. Ketika ada tindakan yang tidak sesuai dengan setiap

aturan sosial yang ada, maka tindakan tersebut akan disebut sebagai

“menyimpang” (Becker, 1963).

Mengenai penyimpangan itu sendiri, Becker memiliki pendapat demikian:

“…social groups create deviance by making the rules whose

infraction constitutes deviance, and by applying those rules to

particular people and labeling them as outsiders…” (Becker, 1963: 9)

(terjemahan bebas: kelompok sosial menciptakan penyimpangan dengan membuat aturan-aturan di mana pelanggaran terhadapnya merupakan penyimpangan, dan dengan mengaplikasikan aturan-aturan tersebut kepada orang tertentu dan melabelnya sebagai outsider)

Dari pernyataan tersebut di atas Becker mencoba menjelaskan bagaimana penyimpangan itu sendiri diciptakan oleh masyarakat. Kemudian, Becker menegaskan kembali bahwa penyimpangan bukanlah mengenai kualitas yang terletak pada perilaku, melainkan pada interaksi antara seseorang yang melakukan suatu tindakan dan mereka yang memberikan respon terhadapnya.

Goerge B. Vold, Thomas J. Bernard, dan Jeffrey B. Snipes (1998), dalam buku Theoretical Criminology, juga menjelaskan bahwa tindakan tertentu didefinisikan dan diproses sebagai penyimpangan atau kriminal tergantung pada makna dari tindakan tersebut yang diberikan oleh agen-agen dari masyarakat yang lebih luas. Masyarakat mendefinisikan penyimpangan dengan mengumumkan

(38)

dan kemudian berusaha untuk meminimalisasi atau mengeliminasi perilaku-perilaku tersebut (Vold, Bernard, Snipes, 1998: 227). Selain itu, terkadang perilaku menyimpang juga diimajinasikan dan dilekatkan pada indvidu-individu tertentu (1998: 228).

2.1.7. Stigma

Goffman (1963) menggunakan istilah stigma untuk menunjuk pada sebuah

atribut yang “ditempelkan” pada individu atau kelompok, yang

mendiskreditkannya secara mendalam. Sebuah atribut yang menstigmatisasi satu macam golongan dapat menegaskan kesamaan atau kebiasaan yang sama pada yang lainnya dalam golongan yang sama. Stigma, kemudian, dikatakan sebagai sebuah hubungan yang khusus antara atribut dan stereotype karena ada atribut-atribut penting yang terdapat hampir di mana pun di dalam masyarakat yang sifatnya mendiskreditkan.

Goffman juga membedakan stigma menjadi tiga macam. Pertama, stigma yang berhubungan dengan cacat tubuh seseorang. Kedua, stigma yang berhubungan dengan cela dari karakter individu, misalnya stigma yang diberikan

kepada penderita kelainan mental, narapidana, homoseksual, pengangguran, dan perilaku politik yang radikal. Ketiga adalah stigma yang berkenaan dengan ras, bangsa, dan agama, hal tersebut menjadi stigma yang dapat ditransmisikan melalui garis silsilah dan secara sama mengontaminasi seluruh anggota dalam keluarga. Orang yang terstigma, kemudian, tidak dipandang sebagai manusia. Melalui asumsi tersebut orang-orang yang “normal” melakukan berbagai macam diskriminasi terhadap orang yang terstigma, dengan tanpa berpikir lebih jauh, sehingga mereduksi berbagai kesempatan hidup orang yang terstigma tersebut (Goffman, 1963).

2.1.8. Sistem Seks/Gender dan Ketidaksetaraan Gender

(39)

biologi laki-laki dan perempuan (seperti kromosom, anatomi, dan hormon) sebagai dasar untuk mengkonstruksikan satuan indentitas dan perilaku gender maskulin dan feminin yang dijalankan untuk menguasakan laki-laki dan melemahkan perempuan (Tong, 2009: 51). Tong (2009) menambahkan bahwa dalam proses memenuhi tugas tersebut, masyarakat patriarkal meyakinkan dirinya bahwa konstruksi kultural tersebut entah bagaimana adalah “alamiah” dan oleh

karenanya “normalitas” dari seseorang bergantung pada kemampuan mereka

untuk menampilkan indentitas dan perilaku gender yang secara kultural dihubungkan dengan jenis kelamin biologis mereka.

Hingga kini seks dan gender sering kali dipahami sebagai sesuatu yang tumpang-tindih, didefinisikan secara tidak berbeda, sehingga masyarakat pun sering salah dalam menggunakan isitilah gender. Jika melihat dari perspektif sosiologis, seks dan gender merupakan dua konsep yang jelas berbeda. Istilah seks digunakan untuk menggambarkan kehadiran dari karakteristik-karakteristik seksual ketubuhan, seperti vagina, payudara, atau penis, dan seseorang yang mempunyai payudara dan vagina adalah perempuan, yang tidak memiliki ciri

tersebut adalah laki-laki (Britton, 2011: 12). Sedangkan menurut Britton (2011), istilah gender merujuk pada atribut-atribut dan perilaku-perilaku yang diharapkan oleh individu, lembaga sosial, dan masyarakat secara sosial dan psikologis terhadap mereka yang dicap sebagai perempuan atau laki-laki, dan kita merujuk ciri-ciri tersebut sebagai femininitas atau maskulinitas.

Selain itu, penempatan seks di dalam interaksi sehari-hari juga disadari sebagai hasil dari proses sosial (Britton, 2011). Kita melihat pada tanda-tanda, seperti ciri-ciri tubuh atau pakaian, dalam menetapkan seseorang pada

kategori-kategori yang ‘tepat’ (Britton, 2011: 13). Oleh karena itu, Britton (2011)

(40)

atau feminin (Britton, 2011: 14). Karenanya, Britton (2011) berpendapat bahwa gender bukanlah bawaan, melainkan dicapai melalui pertunjukan dan tampilan dari sifat dan perilaku maskulin dan feminin. Aspek performatif dari gender inilah yang memungkinkan adanya perempuan yang bertindak maskulin, dan sebaliknya (Britton, 2011).

Matthis et al (2004), dalam buku Dialogues on Sexuality, Gender, and Psychoanalysis, merujuk pada Robert Stoller yang mengatakan bahwa seks adalah hasil biologikal, sedangkan gender adalah hasil sosial dan psikologis. Dikatakan pula bahwa maskulinitas dan femininitas sulit untuk diberikan batasan karena kedua konsep tersebut bukan ada dari dirinya sendiri, melainkan bergantung pada interpretasi budaya mengenai kelelakian dan keperempuanan (Matthis et al. 2004: 84).

Lebih jauh lagi, Leigh Krenske dan Jim McKay (2000), dalam karyanya

‘Hard and Heavy’: Gender and Power In A Heavy Metal Music Subculture, menjelaskan bahwa relasi gender dan identitas gender bukanlah hasil ‘alami’ dari biologi atau produk dari sosialisasi sex-role yang ‘tepat’, melainkan lebih kepada praktik-praktik yang terinstitusionalisasikan yang semua dari kita ‘boleh atau

harus lakukan’. Melihat hal tersebut, laki-laki menguasai institusi-institusi sosial yang paling kuat dan nilai-nilai mereka dipandang lebih tinggi daripada perempuan, sehingga perempuan secara berkelanjutan harus ‘melakukan’ gender dengan kondisi yang dirugikan (Krenske dan McKay, 2000: 287).

2.1.9. Kekerasan Simbolik

Pierre Bourdieu (2001), dalam bukunya Masculine Domination, menggunakan istilah kekerasan simbolik untuk merujuk pada “…a gentle violence, imperceptible and invisible even to its victims, exerted for the most part

through the purely symbolic channels of communication and cognition (more

precisely, misrecognition), recognition, or even feeling.” (Bourdieu, 2001: 2-3). Dari pernyataan tersebut dapat dilihat bahwa Bourdieu menggunakan istilah

“kekerasan simbolik” bukan untuk merujuk pada kekerasan yang dapat dirasakan –lebih tepatnya menimbulkan kesakitan– secara fisikal, melainkan yang lebih

(41)

Berdasarkan rumusan di atas, ketidaksetaraan gender, kemudian, dapat dipahami sebagai bentuk kekerasan simbolik. Clare Chambers (2008), dalam bukunya Sex, Culture, and Justice: The Limits of Choice, menjelaskan bahwa ketidaksetaraan gender dikatakan sebagai kekerasan simbolik karena perempuan (dan laki-laki) mematuhinya dengan kerelaan, dengan tanpa membutuhkan pemaksaan secara sengaja atau secara paksa, dan karena efeknya adalah untuk menciptakan gambaran-gambaran normatif simbolik mengenai perilaku tergenderkan yang ideal (Chambers, 2008: 51-52).

2.2. Kerangka Teoritis

Penelitian ini, dalam melakukan analisisnya, akan menggunakan dua jenis kajian, yakni Kriminologi Budaya dan kajian Feminis. Kedua kajian tersebut dapat dikatakan masuk dalam pergerakan posmodernisme. Vold, Bernard, dan Snipes (1998) mengatakan posmodernisme memandang bahwa pemikiran modernism telah membawa kita kepada meningkatnya opresi ketimbang kepada sebuah tindakan yang memerdekakan, dan inilah yang menjadi pusat perhatian dari para pemikir posmodernisme. Para pemikir posmodernisme meresponnya

dengan membuka struktur-struktur dominasi dalam masyarakat sebagai upaya untuk pencapaian pembebasan yang lebih besar. Posmodernisme juga menguji hubungan antara agen-agen kemanusiaan dan bahasa dalam membentuk makna, identitas, kebenaran, keadilan, kekuasaan, dan pengetahuan. Hubungan tersebut dikaji melalui analisis wacana, yang menginvestigasi bagaimana arti dan makna adalah sesuatu yang terkonstruksi (Vold, Bernard, Snipes, 1998: 271-272). Mustofa (2010) juga mengatakan bahwa aliran pemikiran posmodern sendiri merupakan hasil otokritik terhadap pemikiran kriminologi kritis yang mendefinisikan kejahatan secara ideologis semata-mata sebagai definisi yang dibuat oleh penguasa, dan pengabaiannya terhadap realitas kejahatan jalanan yang menimbulkan korban terutama perempuan (Mustofa, 2010: 145).

(42)

sumber dari kejahatan itu sendiri. Posmodernisme merujuk pada sekumpulan pemikiran yang muncul pada periode skeptisisme yang intens pada ilmu pengetahuan. Para ahli pemikiran posmodern pada dasarnya tidak setuju dengan adanya kebenaran obyektif. Menurut mereka, semua pengetahuan itu bersifat subyektif, terbentuk oleh pandangan-pandangan personal, kultural, dan politis. Pemikiran posmodernis percaya bahwa pengetahuan dan kebenaran itu

“terkonstruksi secara sosial”, yang berarti tidak ada realitas yang independen

diluar dari pikiran-pikiran dan praktik-praktik dari mereka yang menciptakan dan menciptakan kembali realitas tersebut (Henry dan Lanier, 2004).

Posmodernisme mengacu pada beragam tema yang luas yang relevan dengan berbagai disiplin ilmu, termasuk seni, arsitektur, sastra, dan sosiologi (Madfis, 2014). Kriminologi posmodern mengadopsi keprihatinannya dengan bahasa, simbol, dan pengetahuan dari gerakan posmodern yang lebih besar. Aplikasi kriminologis dari posmodernisme terdiri dari beragam konsep dan teori. Dengan demikian, masukan ini berfungsi untuk mengekspos beberapa kesamaan, perbedaan, dan masalah yang luas di antara karya kontemporer pada kriminologi

posmodern melalui survey singkat dari literatur, dengan fokus khusus pada teori-teori konstitutif, chaos, dan semiotik tentang kejahatan (Madfis, 2014).

2.2.1. Kriminologi Budaya

(43)

mengeksplorasi dinamika kebudayaan dari berbagai aspek yang terjalin dengan praktik kejahatan dan kontrol terhadapnya dalam masyarakat kontemporer; juga menekankan pada pemusatan makna dan representasi di dalam konstruksi kejahatan sebagai suatu aktivitas yang berlangsung cepat, perjuangan sebuah subkultur, dan isu-isu sosial (Ferrell et al, 2004).

Guna lebih memperjelas mengenai kajian kriminologi budaya, Jeff Ferrell, bersama dengan Keith Hayward dan Jock Young (2008), lebih jauh lagi, menjelaskan bahwa kriminologi budaya mengeksplorasi berbagai cara di mana kekuatan-kekuatan budaya terjalin dengan praktik kejahatan dan pengendalian kejahatan dalam masyarakat kontemporer. Kriminologi budaya menekankan pada pentingnya makna, representasi, dan kekuasaan dalam konstruksi terhadap kejahatan. Menurut pandangan mereka, kajian ini memiliki banyak kegunaan dan kriminologi kritis penting untuk bergerak di atas gagasan-gagasan yang sempit mengenai kejahatan dan peradilan pidana untuk memasukkan tampilan-tampilan simbolis dari pelanggaran hukum dan pengendalian terhadapnya, berbagai perasaan dan emosi yang muncul dalam kejadian-kejadian kriminal, dan

(44)

174). Mustofa (2010) juga menambahkan bahwa terdapat kecenderungan kuat bahwa media massa di dalam melakukan pemberitaan mengenai kejahatan telah tidak proporsional yang dikarenakan konstruksi masalah kejahatan yang dilakukan oleh pejabat publik.

Kriminologi budaya dikatakan sebagai pedoman hybrid atau campuran (Ferrell, 1999: 397) karena dibangun dari berbagai pemikiran, seperti kajian sosiologi interaksionis, teori-teori kritis, kajian kultural, dan juga kajian posmodern. Analisis kriminologi budaya terbagi ke dalam empat dimensi yang

saling berhubungan. Dimensi yang pertama dan kedua adalah “crime as culture”

dan “culture as crime”. Area yang ketiga membaurkan dinamika dari media dalam mengkonstruksi realitas dari kejahatan dan pengendalian kejahatan dengan berbagai macam cara; yang keempat mengeksplorasi politik sosial dari kejahatan dan budaya dan politik intelektual dari kriminologi budaya (Ferrell, 1999: 402-403). Dari keempat dimensi analisis yang terdapat di dalam kriminologi budaya, penelitian ini menggunakan dimensi analisis culture as crime.

2.2.2. Culture as Crime

Gagasan culture as crime menunjukkan rekonstruksi dari usaha kultural sebagai usaha kriminal, misalnya melalui pelabelan terhadap produk-produk budaya populer oleh publik sebagai sesuatu yang kriminogenik, atau kriminalisasi terhadap para penghasilnya yang disalurkan melalui media atau hukum (Ferrell, 1999: 404). Ferrell (1999) mencontohkan band-band punk dan heavy metal, dan perusahaan-perusahaan rekaman, para distributor, toko-toko penjualan karya yang tergabung di dalamnya, telah menghadapi kasus-kasus yang saru/tidak nyata, gugatan-gugatan secara perdata atau pidana, target razia tinggi oleh polisi, dan campur tangan dari polisi dengan konser-konser mereka. Kasus seperti tersebut berada di dalam lahan kriminologi budaya karena target dari kriminalisasinya

bersifat “kultural”, karenanya kriminalisasi terhadapnya itu sendiri berkembang

sebagai sebuah proses kultural. Dari hal tersebut, kriminologi budaya

(45)

dan definisi tersebut bergantung pada penguasa. Kejahatan, kemudian, menjadi wacana dari kekuasaan. Kultur dari kehidupan sehari-hari ‘menyampaikan’ segala tindakan kita pada pintu dari ekspresi-ekspresi dominan terkait keputusan benar dan salah, dengan demikian hal tersebut menjadi awal dari proses kriminalisasi (Presdee, 2000). Kriminalisasi kulltural tersebut umumnya dilakukan terhadap kebudayaan-kebudayaan populer.

Lebih jauh lagi, Ferrell (1999) mengatakan bahwa kriminalisasi dalam konteks di atas disadari berisfat politis. Kriminalisasi kontemporer terhadap

kebudayaan populer muncul sebagai bagian dari “perang budaya” yang lebih luas

yang dilancarkan oleh para konservatif politis dan para pembangkang kebudayaan (Ferrell, 1999: 406). Kriminalisasi kultural dalam hal ini memaparkan hubungan yang belum merupakan sebuah kesatuan antara gaya dan simbol subkuktural dengan konstruksi dan rekonstruksi yang termediasi tersebut sebagai kriminal atau kriminogenik (Ferrell, 1999). Ferrell (1999) menambahkan sebagai proses yang sebagian besar dilakukan dalam kalangan publik, kriminalisasi kultural memiliki sumbangan pada persepsi dan kepanikan populer, dan karenanya lebih jauh lagi

akan menimbulkan marjinalisasi. Dan jika berhasil, menurut Ferrell (1999), hal tersebut akan membangun sebuah derajat ketidaksenangan/kegelisahan sosial yang merendahkan wajah dari kebudayaan populer dan ke dalam praktiknya di kehidupan sehari-hari. Berdasar pada pemaparan kriminologi budaya tersebut, dimensi analisis culture as crime disadari sangat penting digunakan sebagai upaya penangkapan makna dari setiap tindakan yang terdapat dalam sebuah kebudayaan metal underground. Keberadaan musik metal underground itu sendiri masih termarjinalisasi, baik oleh media (Arnett, 1996), industri musik mainstream, dan juga negara (Baker, 2011). Berbagai citra kekerasan, pemberontakan, satanis, dan lainnya yang muncul di dalam kebudayaan metal underground dianggap dan

dinyatakan sebagai sesuatu yang “buruk” sehingga kebudayaan tersebut

Gambar

Tabel 3.1. Metode Penelitian

Referensi

Dokumen terkait