• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kriteria dan Indikator

Dalam dokumen Strategi Pengembangan KPH dan Perubahan (Halaman 179-181)

9 Penilaian Kinerja

9.3 Kriteria dan Indikator

Panduan pemantauan kinerja pembangunan dan pengelolaan KPH terdiri dari dua tahapan penilaian, yaitu:

9.3.1 Tahapan pertama: Pembangunan KPH

Tahapan pembangunan KPH adalah tahapan pembangunan dan pengembangan KPH berdasarkan tipologi, sebagai prakondisi untuk melaksanakan tahapan berikutnya. Tahapan penilaian kinerja

dilakukan berdasarkan capaian secara periodik. Misalnya, tahapan pembangunan berdasarkan tahun (tahun ke-1 s/d tahun ke-5) dimana pada tahun ke-5 kondisi ideal yang di inginkan telah tercapai. Pada setiap tahapan penilaian menghasilkan rekomendasi berupa saran dan upaya untuk segera diperbaiki ke arah yang lebih baik. Ada proses capaian periodik pembangunan KPH dalam bentuk skor atau persentase (%) pada setiap tahapan berdasarkan tahun pembangunan.

Proses penilaian pembangunan KPH dapat dilakukan terhadap 3 kriteria dan 12 indikator, yaitu; 1. Kriteria wilayah; Kepastian dan pengakuan

wilayah KPH berdasarkan proses (1) penetapan wilayah, (2) pemantapan kawasan hutan, dan (3) proses tata hutan. Proses ini dilalui dengan proses tata batas yang berinteraksi dengan berbagai kepentingan yang ada di dalamnya, termasuk kesepakatan dan persetujuan antara pemegang izin, instansi terkait, dan masyarakat adat/lokal, dengan institusi pembentukan KPH. Ketiga komponen proses tersebut menjadi indikator utama dalam melakukan penilaian.

2. Kriteria kelembagaan; Setelah melalui proses pemantapan wilayah, perlu mempersiapkan infrastruktur, sarana dan prasana yang mendukung pembentukan dan beroperasinya KPH. Proses yang dilalui adalah (1) penyiapan organisasi yang mandiri, (2) sosialisasi dan penyiapan perangkat regulasi yang terintegrasi dengan tata hubungan tugas dan fungsi antara pusat dan daerah, (3) penyiapan SDM yang kompeten dan profesional dibidangnya, (4) penyiapan sarana dan prasarana pendukung, dan (5) sinergitas penganggaran antara Pusat dan Daerah serta dana-dana lain yang tidak mengikat untuk keberlangsungan operasional KPH. Kelima proses ini sebagai indikator utama dalam penilaian.

3. Kriteria Rencana; Penyiapan rencana stategis pengelolaan wilayah KPH baik itu rencana pengelolaan jangka panjang maupun rencana pengelolaan jangka pendek. Hal ini perlu dilakukan untuk menjamin keberlangsungan dan pengawasan kinerja wilayah pengelolaan

KPH. Proses yang harus dilalui adalah dengan menyiapkan (1) Rencana Jangka Panjang (RJP), (2) Rencana Jangka Pendek (RJPendek), dan (3) Rencana Bisnis. Ketiga jenis rencana tersebut (4) Disosialisasikan dan dapat diakses secara mudah oleh publik. Keempat proses ini menjadi indikator utama dalam penilaian.

9.3.2 Tahapan kedua: Fungsionalisasi KPH

Fungsionalisasi KPH adalah tahapan memfungsikan KPH sesuai dengan ruang lingkup tugas pokok dan fungsi organisasinya. KPH mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan hutan sesuai dengan fungsi hutannya berdasarkan peraturan perundangan-undangan. Dalam melaksanakan tugas tersebut, KPH menyelenggarakan fungsi: (a) Pelaksanaan pengelolaan hutan di wilayahnya yang meliputi tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan, pemanfaatan hutan, penggunaan kawasan hutan, rehabilitasi hutan dan reklamasi, perlindungan hutan dan konservasi alam; (b) Penjabaran kebijakan kehutanan nasional, provinsi dan kabupaten/kota bidang kehutanan untuk diimplementasikan di wilayahnya sesuai peraturan perundang-undangan; (c) Pelaksanaan pemantauan dan penilaian atas pelaksanaan kegiatan pengelolaan hutan di wilayahnya; dan (d) Pembukaan peluang investasi guna mendukung tercapainya tujuan pengelolaan hutan di wilayahnya.

Sejalan dengan lingkup tugas pokok dan fungsi KPH tersebut, dengan mempertimbangkan isu- isu penting dalam rangka pengelolaan hutan di tingkat tapak, maka penilaian kinerja pada tahapan fungsionalisasi KPH dapat dilakukan terhadap 5 kriteria dan 15 indikator, yaitu;

1. K r i t e r i a P e n g e l o l a a n H u t a n ; Penyelenggaraan pengelolaan hutan dapat dibagi menjadi dua kategori, pertama, pengelolaan hutan di wilayah tertentu atau wilayah tidak dibebani izin, dan kedua, pengelolaan hutan yang dilakukan oleh pemegang izin. Secara garis besar pengelolaan hutan mencakup kegiatan (1) tata hutan dan penyusunan rencana pengelolaan hutan, (2) pemanfaatan hutan/penggunaan kawasan,

(3) rehabilitasi dan reklamasi, dan (4) perlindungan hutan dan konservasi. Indikator penilaian kinerja pengelolaan hutan di wilayah tertentu digunakan untuk menilai capaian dari empat jenis kegiatan tersebut. Sedangkan indikator kinerja KPH untuk pengelolaan hutan oleh pemegang izin adalah (5) pelaksanaan pemantauan, evaluasi, dan pengendalian yang profesional dan dapat dipertanggungjawabkan terhadap pelaksanaan pengelolaan hutan oleh pemegang izin. KPH berkewajiban menyiapkan dokumen perencanaan dan realisasi terhadap indikator diatas sebagai dasar penilaian kinerja.

2. Kriteria Peningkatan Investasi; Peningkatan ekonomi melalui kegiatan pemanfaatan dan/ atau penggunaan kawasan hutan diwilayah KPH sebagiannya menjadi tanggung jawab KKPH. Sebagai lembaga publik KPH perlu (1) menyiapkan prakondisi untuk meningkatkan investasi, (2) melakukan sosialisasi dan promosi, dan (3) melakukan fasilitasi dalam proses kerja sama dan perizinan. Untuk itu perlu menyiapkan rencana dan realisasi serta dokumen pendukung lainnya sebagai dasar penilaian kinerja.

3. K r i t e r i a P e n d a y a g u n a a n d a n Pemberdayaan Masyarakat; Untuk menjamin keberlangsungan pengelolaan hutan, KPH perlu (1) memiliki dan melaksanakan mekanisme partisipasi, (2) fasilitasi investasi, dan (3) hak akses masyarakat adat/lokal, dalam rangka meningkatkan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat adat/lokal. Partisipasi masyarakat dapat didorong dan dilakukan pada seluruh rangkaian kegiatan pengelolaan hutan; fasilitasi investasi pada kegiatan pemanfaatan hutan; sedangkan hak akses berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar dan sosial budaya masyarakat adat/lokal.

4. Kriteria Penyelesaian Sengketa Kehutanan;

Sengketa kehutanan menjadi sangat penting diselesaikan untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang bebas dari konflik, adil dan lestari. Oleh karena itu unit KPH harus (1) memiliki mekanisme, dan (2) melaksanakan identifikasi, 160

Penilaian Kinerja Pembangunan KPH

mediasi, dan resolusi konflik dengan mengakomodasikan prakarsa dari para pihak. Kesiapan KPH dalam mengimplementasikan indikator tersebut menjadi indikator utama dalam penilaian kinerja.

5. Kriteria Pelayanan Publik; Organisasi KPH sebagai lembaga pengelola hutan di tingkat tapak juga bertugas melakukan pelayanan publik, baik yang bersifat administratif maupun berupa penyediaan barang/jasa. Oleh karena itu KPH perlu (1) memiliki mekanisme dan standar pelayanan publik dalam lingkup tupoksinya, dan (2) melaksanakan pelayanan publik secara adil, profesional, dapat dipertanggungjawabkan, dan transparan.

Penyusunan rekomendasi dilakukan berdasarkan kriteria dan indikator yang dikembangkan secara berjenjang. Rumusan rekomendasi disusun untuk perbaikan kinerja KPH, dapat juga digunakan sebagai masukan perbaikan kinerja Pemerintah dan pihak terkait dalam menyempurnakan kebijakan dan regulasi yang sudah ada. Tahapan penilaian indikator disusun berdasarkan prioritas tahapan perencanaan strategis tahunan yang telah disusun.

Dalam dokumen Strategi Pengembangan KPH dan Perubahan (Halaman 179-181)