V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3 Kajian Kesesuaian Calon Taman Hutan Raya (TAHURA)
5.3.5 Analisis Terhadap Indikator yang digunakan untuk Tiap Kriteria dalam Mengkaji Kesesuaian Calon Taman Hutan Raya (TAHURA)
5.3.5.1 Kriteria Ekologi/Biofisik (w 1IB = 0,5454)
Pendapat para responden ahli yang berhasil diwawancarai terkait dengan rencana perubahan pengelolaan kawasan hutan lindung Nanggala (KHLN) menjadi kawasan konservasi kategori TAHURA menghasilkan bobot yang relatif sama untuk kedua aspek atau kriteria penilain yang digunakan. Kriteria ekologi/biofisik diberi bobot tertinggi 0,5454 sedangkan kriteria sosial-ekonomi- budaya 0,4546. Menurut mereka aspek ekologi menjadi penting untuk diperhatikan terkait dengan fungsi pokok kawasan sebagai perlindungan hidroorologis dengan komposisi tutupan lahannya yang masih bagus serta habitat ceba (Macaca tonkena) yang ada di dalamnya. Hal ini juga sejalan dengan alasan yang mendasari perubahan pengelolaan hutan lindung di Lampung menjadi TAHURA dimana potensi vegetasi dan satwa dalam kawasan perlu dipertahankan untuk kepentingan konservasi plasma nutfah dalam pengembangan pendidikan, penelitian, ilmu pengetahuan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.
Kriteria biofisik yang digunakan berdasarkan hasil analisis dengan metode rangking mempunyai bobot tertinggi dengan komposisi urutan berdasarkan indikator penilaian yang digunakan. Indikator potensi potensi sumber air (w11)
0,1643, indikator potensi vegetasi-satwa dan habitatnya (w12) 0,1503, indikator
kelerengan/slope(w13) 0,1294 dan indikator curah hujan (w1 4) 0,1014.
a. Indikator potensi sumber air (w11= 0,1643)
Potensi sumber air menyangkut keberadaan dan kapasitas produksi air yang dihasilkan oleh satu atau beberapa sumber air yang terletak dalam suatu kawasan. Kawasan hutan sebagai suatu ekosistem mempunyai fungsi hidroorologis yang juga dapat diartikan sebagai penyumbang jasa lingkungan tepatnya jasa hidrologis (Soenaryoet al. 2005).
Jasa hidrologis (terkait fungsi air) jika dihubungkan dengan keberadaannya, maka fungsi air secara umum akan terkait dengan berbagai kegiatan kehidupan masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan, misalnya air minum, sanitasi lingkungan, pertanian, industri, ekosistem dan sebagainya (Ramdan et al. 2004). Oleh karena itu sistem sumber daya air diatur untuk memenuhi perubahan terhadap kebutuhan air pada saat ini dan masa depan tanpa terjadi kerusakan lingkungan, sehingga diperlukan suatu pengelolaan sumberdaya air yang berkelanjutan (Loucks 2000). Pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan merupakan pengelolaan air yang besifat multidimensional mengenai hubungan antara sumberdaya alam, sosial dan sistem ekonomi yang simultan dalam penggunaan dan pengelolaan air (Flint 2003).
Berdasarkan data PDAM (2007), maka diketahui ada dua titik mata air yang telah mereka kelola di Kecamatan Tondon dan Nanggala yakni mata air Pedamaran dan mata air Indo Kombong (Gambar 19). Kedua mata air tersebut menjadi satu dengan nama mata air Wairede. Kapasitas produksi rata-rata mata air ini mencapai 6,25 liter/detik dengan kapasitas produksi tertinggi saat musim hujan 10 liter/detik dan terendah saat musim kemarau 2,5 liter/detik. Produksi mata air Wairede ini adalah yang terbesar jika dibandingkan dengan 22 mata air dengan sistem grafitasi yang sama yang dikelola oleh PDAM di Kabupaten Tana Toraja (Tabel 24). Jika kapasitas produksi Wairede rata-rata (6,25 lt/detik atau 540 m3/hari) dan harga air standar PDAM saat ini Rp 600-/m3, maka nilai air dari mata air Wairede saja akan mencapai Rp. 118.260.000-/tahunnya.
Penyediaan air minum masyarakat merupakan prioritas pertama yang perlu dilakukan dalam penatagunaan sumberdaya air di suatu wilayah (pasal 29, ayat 2 UU Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air). Hoekstra (1998) dalam Sanim (2003) menyebutkan bahwa peningkatan kebutuhan air minum berkaitan dengan dinamika pertumbuhan penduduk, sehingga proyeksi kebutuhan air minum dihitung dengan mempertimbangkan laju pertumbuhan penduduk di wilayah tersebut dan konsumsi air minum rata-rata.
Khusus untuk pelayanan jasa air minum di tingkat pedesaan, maka pemenuhan kebutuhan air oleh PDAM untuk Kecamatan Tondon dan Nanggala merupakan yang terbesar. Berdasarkan data PDAM Tahun 2007 menunjukkan bahwa dari jumlah penduduk 20.944 jiwa yang di Kecamatan Tondon dan Kecamatan Nanggala sebanyak 17,45% atau 3.655 jiwa yang bisa terlayani kebutuhan air minumnya (Tabel 32). Selain itu pada pinggir jalan poros yang membelah KHLN dan menghubungkan kota Palopo dengan kota Rantepao ditemukan banyak mata air kecil dan beberapa sungai kecil dengan air yang mengalir sampai di pinggir-pinggir jalan raya. Jenis tanaman Monochoria vaginalis adalah satu indikasi tumbuhan air yang banyak ditemukan di kawasan hutan lindung Nanggala(Gambar 6).
Selain sumber mata air, maka sumber air lain yang dipertimbangkan dalam kajian ini adalah potensi sungai dan situ yang ada di kedua wilayah kecamatan diantaranya situ Lengke’ dan sungai Nanggala yang dipergunakan oleh masyarakat setempat untuk pengairan sawah serta tempat merendam kerbau.
Terkait dengan kajian kesesuaian yang dikaji, maka diketahui ada tiga jenis sumber air yang terletak menyebar dan dapat ditemui di Lembang Tandung Nanggala, Lembang Nanna Nanggala dan Lembang Nanggala, Kecamatan Nanggala yakni potensi sungai, mata air dan situ. Potensi sumber air ini mengindikasikan pentingnya fungsi perlindungan untuk menjaga kelestarian KHLN dengan perolehan skor (x1) adalah77,5.
Gambar 19 Peta hidrologi sebagai potensi sumber air di Kecamatan Tondon dan Kecamatan Nanggala
b. Indikator potensi vegetasi, satwa dan habitatnya (w12= 0,1503)
Penutupan vegetasi alam memainkan peranan penting dalam mangatur perilaku sistem drainase air, terutama “efek spons” yang menyekap air (air hujan) untuk ditahan oleh hutan dan padang rumput alam, sehingga mengalir keluar lebih lambat dan merata ke dalam sistem sungai, mengurangi kecenderungan banjir pada periode hujan lebat dan melepaskan air terus menerus selama periode rumah tangga. Fungsi kawasan dapat menjadi hilang jika vegetasi kawasan tangkapan di dataran tinggi menjadi rusak (MacKinnonet al.1990dalamAmir 1993).
Lebih lanjut, Acreman (2004) berpendapat bahwa sebatang pohon di hutan alam dapat memompa air + 2,5 juta galon air ke atmosfer sepanjang daur hidupnya, didaur dan tidak hilang dari hutan. Lebih lanjut dicontohkan oleh Acreman bahwa akibat pengurangan vegetasi alami di Sahel, Afrika menyebabkan curah hujan berkurang hampir 22% antara bulan Juni dan Agustus serta musim hujan yang tertunda hampir setengah bulan.
Beberapa potensi vegetasi hasil eksplorasi para ahli tanaman dari Kebun Raya Eka Bali pada Tahun 2002, berhasil menemukan 64 jenis anggrek (25 marga) diantaranya Arundina graminifolia, Phalaenopsis sp, Phaius flavus dan Paphiopedilumsp serta beberapa jenis non anggrek 49 suku, 56 marga, 106 jenis yang juga berpotensi sebagai tanaman hias seperti Begonia sp, Vaccinium sp, Cordyline sp, Rhododendron sp (danga-danga), dan Medinilla sp. Jenis Rhododendronsp merupakan salah satu jenis tanaman hias koleksi terbaru untuk Kebun Raya Eka Bali. Artinya jenis ini merupakan vegetasi yang khas. Rhododendron sp juga hanya ditemukan tumbuh pada tanah miring, agak terlindung pada ketinggian 900 m diatas permukaan laut (Penditet al.2002).
Potensi lain yang berhasil ditemukan di Hutan Lindung Nanggala II adalah adanya 60 jenis tanaman obat-obatan yang dikategorikan kedalam jenis rumput, semak, perdu, pohon, liana dan benalu dengan potensi spesies 7.815 individu/ha untuk habitus pohon dan 2.773,3 individu/ha untuk habitus selain pohon. Kategori rumput merupakan jenis tumbuhan yang sering digunakan masyarakat untuk obat dan pengobatan (96,7%), salah satu contohnya adalah rea/mimic/alang-alang (Imperata cylindrical), bagian yang sering dimanfaatkan adalah akar, batang dan daun menyatu dalam satu kesatuan. Jenis tumbuhan obat
tradisional yang merupakan tumbuhan dengan jumlah individu terbanyak ditemukan di HL Nanggala adalah “sualang” atau narang-narang atau Gleicenia sp (LPPM 2003). Beberapa jenis tanaman obat dan kegunaannya ditunjukkan padaLampiran 1.
Berdasarkan hasil analisis vegetasi dalam kawasan hutan lindung Nanggala (KHLN) pada bulan Juni dan Juli 2008, maka diperoleh nilai INP tertinggi baik pada tingkat pohon, tiang dan pancang adalah jenis ”asa” (Castanopsis buruana) masing-masing dengan nilai INP berturut-turut 48,40%, 39,93% dan 42,23%. Jenis ”asa”, ”kole” dan ”pali’” tidak banyak ditebang masyarakat karena merupakan salah satu habitat yang disukai lebah (terutama tabuan wani) yang sering diambil madunya oleh masyarakat setempat. Hampir pada semua tingkatan strata vegetasi yang dinilai dalam analisis vegetasi ketiga jenis ini selalu mendominasi (Lampiran 2).
Sedangkan untuk tingkat anakan ditemukan jenis ”kole” yang mempunyai INP tertinggi yakni 16,78% kemudian anakan ”asa” dan ”lada-lada” dengan nilai INP yang sama yakni 15,18%. Jenis yang mendominasi dalam KHLN adalah jenis ”asa” (Tabel 37).
Tabel 37 Kondisi 5 vegetasi pohon yang dinilai
No Indikator Variabel Ket Jenis Jumlah (pohon) 1 Vegetasi 1. Asa 2. Kole 3. Pali’ 4. Betau 5. Uru 49 13 16 10 62 b, c b, c b, c b, c b, c Sumber: personal judgement
Kelima jenis tanaman diatas dipilih berdasarkan jenis dominan yang ditemukan setelah dilakukan analisis vegetasi. Berdasarkan hasil identifikasi diketahui bahwa setiap jenis vegetasi tersebut termasuk dalam dua kategori penilaian yakni jenis yang terancam punah (b) karena kegunaannya atau ketergantungan masyarakat terhadap jenis ini sangat tinggi (c), maka potensi vegetasi di Kecamatan Tondon dan Kecamatan Nanggala mendapatskor 60.
Sedangkan indikator potensi satwa yang ada dalam kawasan hutan berdasarkan hasil pengamatan diketahui satwa ini hanya dapat dideteksi dari hasil
identifikasi suara dan bekas cakaran, makanan dan tempat bermain yang ditemui (Tabel 38).
Tabel 38 Kondisi 2 satwa yang dinilai
No Indikator
Variabel
Ket
Jenis Jumlah(ekor)*
1 Satwa 1. Ceba /Macaca tonkeana
2. Ayam hutan
5 -10 10-20
a, b b, c Keterangan: * merupakan estimasi jumlah saat wawancara dengan masayarakat dan Polhut yang
bertugas di pos penjagaan kehutanan di Kaleakan
Habitatceba(Macaca tonkeana) dan ayam hutan terletak pada ketinggian 1.000 sampai dengan 1.300 meter diatas permukaan laut. Kondisi habitatnnya masih baik karena terletak jauh dari pemukiman penduduk dan dekat dengan pos penjagaan kehutanan di Kaleakan. Dalam habitatcebaini ditemui sumber air dan tempat bermain yang masih aman (Lampiran 3).
Selain itu berdasarkan informasi masyarakat, KHLN juga merupakan habitat yang sangat baik untuk beberapa jenis lebah madu. Kebenarannya terlihat dari banyaknya masyarakat yang menjual madu meski dalam jumlah kecil di sepanjang jalan menuju Palopo maupun sepanjang jalan cabang lainnya yang ada di dalam atau berbatasan dengan KHLN. Ada dua jenis lebah yang umumnya diambil madunya oleh masyarakat:
a. ”Tabuan wani”. Menurut informasi masyarakat yang biasa mengambil madu, jenis lebah ini umumnya membuat sarang dengan menggantung di dahan pohon diantaranya pohon asa (Castanopsis buruan), kole, bala tampo, bongli (Aralia sp) dan balole (Ficus sp) . Warna badan tabuan wanihitam dengan ukuran badan lebih besar dibanding lebah yang kedua (tabuan merang). Produksi madu tabuan wani, kualitasnya lebih baik daripada jenis produksi madu lebah yang kedua sehingga harganya pun lebih mahal Rp. 30.000- sampai dengan Rp. 35.000- untuk setiap 500 ml.
b. ”Tabuan merang”. Jenis lebah ini yang biasa dibudidayakan masyarakat. Warna badannya kuning kecoklat-coklatan dengan ukuran lebih kecil. Harga 500 ml madunya Rp. 20.000- sampai dengan Rp. 30.000- .
Jenis tanaman sebagai sumber pakan yang ditemui banyak tumbuh di sekitar KHLN adalah jenis “kantirrik” (Spatodea campanulata) dan kaliandra atau Calyandra sp(Gambar 20).
Jenis satwa lainnya adalah belibis, karapuak, burinti dan kaluppini yang merupakan jenis endemik Toraja dengan habitat yang terletak pada ketinggian 800 sampai dengan 1.400 meter diatas permukaan laut. Berdasarkan hasil penelitian jenis ini sangat liar dan tidak dapat diamati dalam jarak dekat. Saat berkunjung ke situ Lengke’ dari jauh terlihat beberapa ekor belibis (+ 10 ekor) namun saat didekati, mereka langsung terbang masuk kedalam semak dan hutan di sekitarnya.
Gambar 20 Jenis pakan lebah madu yang ditemukan di dalam dan di sekitar KHLN.
Berdasarkan hasil penilaian, maka skor untuk keberadan satwa dan habitatnya adalah 60 karena kedua jenis satwa masing-masing memenuhi 2 indikator penilaian yakni: Jenis Macaca tonkeanamerupakan satwa yang khas (a) dan terancam punah (b), sedangkan jenis ayam hutan merupakan satwa yang terancam punah (b) dan mempunyai fungsi kegunaan (c) untuk konsumsi masyarakat.
c. Indikator kelerengan/slope(w13= 0,1294)
Indikator kelerengan sangat penting untuk diperhatikan dalam pengelolaan hutan terutama untuk kawasan dengan fungsi pokok sebagai areal perlindungan hidroorologis. Dalam calon TAHURA ditemui karakteristik lereng yang beragam. Mulai dari datar sampai bergelombang dan berbukit-bukit. Jurang terjal kadang
ditemui dalam kawasan hutan ini. Kondisi ini merupakan hal menarik dan menjadi tantangan tersendiri bagi wisatawan saat melakukan hiking maupun wisata pendidikan ke situ Lengke’ dan calon arboretum yang merupakan areal silvikultur intensif di Lembang Nanna Nanggala.
Lereng juga merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi tingkat erosi tanah. Faktor lereng yang mempengaruhi tingkat erosi tanah adalah tingkat kemiringan dan panjang lereng. Semakin miring lereng, aliran permukaan (run off)juga semakin cepat dan daya angkut tanah juga menjadi tinggi sehingga erosi meningkat. Hal ini juga berlaku untuk panjang lereng. Semakin panjang lereng, air yang terkumpul akan semakin banyak sehingga daya angkut tanah juga menjadi tinggi sehingga akan meningkatkan erosi juga.
Komposisi lereng tertinggi di dalam kedua wilayah kecamatan berturut- turut curam 35,75%, datar 29,75%, landai 26,75%, agak curam 7,40% dan sangat curam 0,35% (Tabel 39danGambar 10).
Tabel 39 Hasil interpretasi komposisi 5 kelas lereng
Lereng (%) Keterangan Luas Skor (x3) Total skor
(Ha) (%) 0 – 8 8 – 15 15 – 25 25 – 45 > 45 Datar Landai Agak curam Curam Sangat curam 3.446,936 3.099,500 857,157 4.142,996 40,630 29,75 26,75 7,40 35,75 0,35 10 32,5 55 77,5 100 1,1290 4,2050 7,1170 10,0280 12,9400 Jumlah 11.587,263 100,00 - -
Sumber : Hasil analisis Peta Kelas Lereng
Berdasarkan data tersebut diatas, maka dapat diketahui skor untuk indikator kelerengan atau slope (x3) bervariasi dengan skor tertinggi 100 pada areal seluas 40,630 ha dan sekaligus menjadi skor terpilih.
d. Indikator curah hujan (w14= 0,1014)
Informasi curah hujan dalam calon TAHURA penting untuk diketahui, terkait dengan fungsi lindung kawasan hutan serta potensi vegetasi, satwa dan habitatnya. Hasil pencatatan penakar curah hujan di Kecamatan Nanggala menunjukkan curah hujan rata-rata bulanan di Kecamatan Tondon dan Kecamatan Nanggala selama 10 tahun terakhir 369 mm/bulan dengan rata-rata jumlah hari hujan bulanan 13 hari hujan sehingga intensitas hujan hariannya dikategorikan tinggi + 28,39 mm/hari hujan (Gambar 12). Jumlah bulan basah sebanyak 11
bulan yang terjadi pada bulan Januari, Februari, Maret, Arpil, Mei, Juni, Juli, Agustus, Oktober, Nopember, Desember (Tabel 23).
Curah hujan yang tinggi merupakan salah satu indikasi keberadaan tutupan lahan yang baik di suatu kawasan. Menurut pendapat Acreman (2004) sebatang pohon di hutan alam dapat memompa air + 2,5 juta galon air ke atmosfer sepanjang daur hidupnya, didaur dan tidak hilang dari hutan. Lebih lanjut dicontohkan oleh Acreman bahwa akibat pengurangan vegetasi alami di Sahel Afrika menyebabkan curah hujan berkurang hampir 22% antara bulan Juni dan Agustus serta musim hujan yang tertunda hampir setengah bulan.
Berdasarkan data hasil penelitian, maka skor untuk indikator curah hujan (x4)adalah77,5.